Raja dalam artikel ini menggunakan tanda koma di atas, berbeda dengan raja. Apabila raja memiliki pengertian seorang pemimpin atau pembesar dalam satu negara, berbeda dengan perngertian tentang raja’. Raja berasal dari bahasa Arab yang berarti harapan, sedangkan pengertian raja’ menurut syariat Islam adalah harapan kepada Allah SWT. Raja’ dimaksudkan sebagai penantian dan harapan terhadap adanya keridhaan dan rahmat dari Allah SWT.

Setiap hamba-Nya hanya boleh berharap akan ridha dan rahmat dari Allah semata, bukan kepada sesama makhluk. Harapan kepada Allah SWT tentu saja harus disertai dengan kualitas dari perilaku dan akhlak yang terpuji.

Pengertian Raja'

Raja’ merupakan salah satu akhlak terpuji atau akhlakul qarimah terhadap Allah SWT. Pengharapan akan ridha dan rahmat dari Allah membuat seorang hamba berlomba berbuat kebaikan dan berperilaku sholeh sesuai tuntunan dan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Hukum atau aturan dan tuntunan Allah tersebut telah jelas tercantum dalam Alquran dan Hadis.

Manfaat Raja'

Harapan seorang makhluk terhadap Sang Khalik merupakan sifat yang sangat bermanfaat bagi makhluk tersebut. Harapan untuk mendapatkan rahmat dari Allah SWT akan  membawa pengaruh yang besar kepada diri seorang manusia, yaitu:

a. Mempertebal Keimanan

Seseorang yang berharap keridhaan Allah semata akan semakin mempertebal keimanan di dalam hatinya. Keimanan bahwa sesungguhnya Allah SWT memang ada dan menguasai segala sendi kehidupan manusia. Keimanan inilah yang menuntun seorang manusia untuk berbuat baik dan beramal saleh sepanjang hidup mereka. Kesempatan untuk menikmati dunia dimanfaatkan dengan amalan-amalan terpuji dan menjauhi segala larangan-Nya.

b. Mendekatkan Diri pada Allah

Raja’ bisa membuat seseorang merasa dekat dengan Allah SWT. Dekat dalam arti yang sesungguhnya, seperti selalu merasakan kehadiran-Nya dalam setiap urat nadinya. Dekat sehingga selalu berperilaku sesuai tuntunan Allah tanpa siapa pun yang mengawasinya. Dikarenakan merasa bahwa Allah selalu melihat amal perbuatannya, sehingga tak pantas rasanya untuk menyia-nyiakan hidup dengan berbuat keburukan yang tentunya tak disukai oleh Allah SWT.

c. Mengenal Diri Sendiri

Mengenal diri sendiri dikatakan sebagai penemuan konsep diri pada seseorang. Seorang yang telah cukup dewasa akan mengetahui konsep diri mereka sehingga langkah yang ditempuh dalam mengarungi kehidupan selalu penuh dengan perhitungan dan kepatuhan terhadap ketentuan Allah SWT. Pengenalan diri ini akan terbentuk dengan baik tatkala seseorang merasa raja’, yaitu perasaan berharap yang sangat terhadap ridha Allah semata.

Dengan memiliki rasa raja’ maka seseorang akan semakin meningkatkan kualitas ibadah dan amalannya dari hari ke hari. Kualitas ibadah dan amal saleh inilah yang menjadi bukti dari matangnya konsep diri seseorang. Bahwa apa yang akan dilakukan sudah terbayang dan tertuntun dengan jelas sesuai dengan hukum Allah SWT. Mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala yang dilarang-Nya.

d. Optimis Menjalani Kehidupan

Optimis merupakan sikap semangat dan mengharapkan hal terbaik terjadi dalam setiap kehidupan yang dijalani. Optimis terbentuk karena adanya sifat raja’, yaitu mengharapkan adanya ridha dan rahmat dari Allah SWT. Dengan menharapkan kebaikan dari Allah tentu saja tumbuh adanya prasangka baik kepada Allah SWT. Prasangka bahwa Allah akan menurunkan dan memberikan hal terbaik dalam setiap langkah hamba-Nya.

Kebalikannya dengan sikap pesimis yang cenderung dekat dengan kemalasan dan sikap putus asa. Sikap pesimis membuat seseorang menjadi berburuk sangka kepada Allah. Padahal dengan mengembangkan sikap buruk sangka kepada Allah tersebut maka berbagai kerugian dan keburukan justru akan menghadang.

Seseorang yang pesimis menjadi sangat khawatir apa yang dilakukannya tak akan membuahkan hasil atau gagal, khawatir akan kalah, akan merugi, dan akan mendapat musibah. Kekhawatiran tersebut membuat seseorang yang pesimis enggan untuk berusaha sesuai kemampuannya dan memasrahkan hasilnya kepada ridha dan rahmat Allah semata. Sungguh sangat merugi orang yang hanya mengandalkan sikap tersebut tanpa mau berusaha dengan semaksimal mungkin.

e. Dinamis Menjalani Kehidupan

Sifat dinamis didapatkan oleh seseorang yang raja’ karena mengharapkan rahmat Allah semata. Dinamis artinya rajin bekerja, giat untuk berusaha demi pencapaian hasil optimal dalam kehidupan mereka. Usaha yang disertai doa dan prasangka baik bahwa Allah akan menurunkan ridha dan rahmat-Nya kepada kita akan terasa ringan dan menyenangkan. Tak ada beban dan kekhawatiran akan adanya kegagalan atau keburukan.

Dikarenakan sudah memasrahkan semua kepada Allah SWT, kita hanya tinggal menunggu hasil akhirnya, tanpa adanya rasa khawatir. Usaha dan bekerja, tak pernah tinggal diam, terus tumbuh, dan menuju ke arah kualitas diri yang lebih baik dari sebelumnya merupakan cerminan manusia yang mampu menjalankan sikap raja’.

Berbeda dengan seseorang yang statis, diam, enggan bergerak, enggan berusaha hanya karena ketakutan akan kegagalan yang akan dihadapi. Prasangka buruk tersebut sama dengan berprasangka buruk kepada Allah SWT. Perlu baginya menumbuhkan sikap raja’ agar lebih bersemangat dalam menjalankan kehidupannya. Sifat statis hanya akan mendatangkan kerugian.

f. Kritis pada Lingkungan

Dengan adanya harapan yang mendalam terhadap ridha dan rahmat dari Allah SWT semata maka seseorang bisa berpikir jernih dalam mengantisipasi segala yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Menganalisis dengan tajam segala hal yang menjadikan pengaruh bagi umat muslim. Memiliki sikap yang tepat dan cepat dalam mengantisipasi berbagai masalah sosial.

Kritis sendiri ada dua macam jenisnya, yaitu kritis yang buruk dan kritis yang baik. Kritis yang buruk mendasarkan kritis pada usaha untuk menjatuhkan orang lain atau lembaga tertentu. Sementara itu, kritis yang baik mendasarkan pada usaha untuk memperbaiki dan membangun. Kritis yang baik dilandasi oleh hukum dan ketentuan dari Allah SWT. Segala hal yang tidak sesuai dengan hukum dan ketentuan dari Allah wajib untuk dikritisi. Agar semua sendi kehidupan umat Islam menjadi kokoh maka perlu untuk mendasarkan diri pada ketentuan Allah SWT semata. Oleh karenanya, sebelum memberikan penilaian maka tentu saja seseorang perlu mengetahui dengan sepaham-pahamnya tentang hukum-hukum Allah.

Aplikasi Raja'

1. Berserah Diri pada Allah

Mengharapkan ridha dan rahmat Allah bukan sesekali membiarkan segala hal terjadi dengan sendirinya tanpa adanya usaha yang optimal dari diri kita masing-masing. Bagaimana hendak mengharap ridha dan rahmat, sedangkan kita sendiri masih jauh dari Allah SWT.

Maka dari itu, solusinya adalah dengan mengharapkan ridha dan rahmat Allah, terutama adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selalu mengingat dan berdzikir kepada Allah SWT, menjalankan segala perintah-Nya serta menjauhi segala yang menjadi larangan-Nya. Raja’ adalah sikap mengharap yang sangat terhadap Allah SWT yang sangat kita cintai. Menumbuhkan kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya merupakan syarat mutlak tumbuhnya sikap raja’ di dalam hati setiap umat Islam. Sebab berharap tanpa syarat terlebih dahulu mencintai Allah sama dengan tamniyyan atau berangan semata.

2. Menyatukan Hati

Raja’ bukan lantas berharap dan memasrahkan semua kepada Allah SWT tanpa adanya usaha lahir dari manusianya sendiri. Adanya hati yang ikhlas dan penuh harap terhadap ridha dan rahmat Allah menumbuhkan keyakinan akan adanya pertolongan di setiap hal yang dilakukan dan datang hanya dari Allah SWT semata. Keyakinan tersebut yang membuat usaha nyata kemudian menjadi lebih mantap dan ringan dirasa.

Adanya keyakinan bahwa Allah selalu bersama kita karena kita sungguh mencintai-Nya. Menumbuhkan adanya semangat dalam melakukan usaha, belajar, bekerja, dan beramal saleh sehingga berhasil sesuai harapan dan keinginan. Keberhasilan yang sesuai dengan harapan dan dimanfaatkan demi kebaikan, mendapatkan ridha dan rahmat dari Allah agar manfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan sesama muslim.

Semua keimanan yang dipelihara dan terus disiram dengan usaha dan kebaikan yang nyata akan menumbuhkan manfaat terlebih di kemudian hari saat seseorang telah meninggalkan alam fana. Penantian panjang dan adanya pemeliharaan terhadap sikap raja’ tersebut sungguh satu akhlak yang terpuji dan perlu dipelihara. Allah SWT berfirman:

“Orang-orang yang beriman, dan berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka inilah yang benar-benar mengharapkan rahmat Allah.” (QS. Al-Baqarah ayat 218).

Maka dari itu, bukanlah raja’ apabila tidak disertai dengan keimanan yang kuat dan berhijrah dari keburukan menuju kebaikan hanya karena Allah semata.

3. Keinginan Mendapat Ridha

Allah SWT adalah Zat Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Takut kepada-Nya adalah menjaga agar Dia selalu sayang kepada kita. Bukan takut dalam artian menganggap Allah mengerikan, tetapi takut jika Dia berpaling dari kita. Berharap dengan sungguh-sungguh karena keinginan untuk selalu diberi ridha dan rahmat inilah yang membuat diri seseorang menjadi luluh dan hanya menyembah sujud kepada Allah SWT semata. Di sinilah sikap raja’ yang akan menjauhkan diri seseorang dari siksa api neraka.

Seperti sabda Rasulullah SAW yang artinya:

“Seorang hamba Allah diperintahkan untuk masuk ke neraka pada hari Kiamat, maka ia pun berpaling maka ditanya Allah SWT (padahal Ia Maha Mengetahui): ‘Mengapa kamu menoleh?’ Ia menjawab: ‘Saya tidak berharap seperti ini’. Allah berfirman: ‘Bagaimana harapanmu?’ Jawabnya: ‘Engkau mengampuniku’. Maka firman Allah: ‘Lepaskan dia’.”

Semoga kita semua termasuk dalam golongan umat yang memiliki sifat raja'.