Sebelum berbicara mengenai pragmatik, mari kita menyinggung seberapa penting bahasa bagi kehidupan kemasyarakatan. Dalam kehidupan manusia, bahasa merupakan faktor yang paling penting karena sarana berhubungan sosial dan aktivitas sosial yang menyampaikan ekspresi, informasi, dan komunikasi. Sebagai manusia, kita amat bergantung pada penggunaan bahasa sehingga tidak heran ada yang menyatakan “di mana ada manusia, di situ ada bahasa”.

Bahasa merupakan sisem lambang bunyi yang bersifat arbitrer. Arbitrer adalah dapat digunakan sekelompok anggota masyarakat untuk berinteraksi serta mengidentifikasi diri. Sementara itu, sistem lambang bahasa menyiratkan bahwa lambang bahasa yang baik berupa frasa, klausa, kalimat dan wacana, memiliki makna tertentu dan berbeda, yang bisa berubah pada keadaan atau situasi tertentu, dan mungkin bisa memiliki makna yang berbeda.

Karena selalu saja ada masalah dalam sebuah bahasa, maka kita bisa terjebak pada suasana kebahasaan yang tidak efektif. Suatu kondisi bahasa yang mengakibatkan penutur bahasa mengalami kesalahpahaman dalam suasana dan konteks tuturannnya. Dan dalam hal inilah pragmatik dibutuhkan.

Lalu, apa pengertian pragmatik? Pragmatik adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari pemahaman akan bahasa. Ini karena seorang penutur dituntut untuk tidak saja mengetahui makna kata dan hubungan gramatikal antar kata tersebut. Akan tetapi, hal itu pun bisa juga menarik kesimpulan yang akan menghubungkan apa yang dikatakan dengan apa yang diasumsikan, atau apa yang telah dikatakan sebelumnya.

Istilah pragmatik ini diperkenalkan oleh seorang filosof yang bernama Charless Morris pada 1938. Awalnya, ia membicarakan bentuk umum ilmu tanda (yang belakangan dinamai semiotik. Menurutnya, semiotik memiliki tiga bidang kajian, yaitu sintaksis (syintax), semantik (semantics), dan pragmatik (pragmatics). Sintaksis merupakan kajian lingustik yang mengkaji hubungan formal antartanda. Semantik adalah kajian linguistik tentang hubungan tanda dengan orang yang menginterpretasikan tanda tersebut (atau mempelajari makna sebuah kata).

Dalam perkembangannya, istilah pragmatik mengalami penyempitan makna. Dalam hal ini seorang filosof sekaligus ahli logika yang bernama Carnap mengatakan bahwa apabila di dalam suatu penelitian terdapat rujukan yang konkret terhadap pembicara atau dalam istilah yang lebih umum, terhadap pengguna bahasa, maka dia menetapkan bahwa penelitian tersebut berada dalam bidang kajian pragmatik.

Seiring waktu berjalan, pragmatik diartikan menjadi pengertian demi pengertian yang bisa dijabarkan sebagai kajian ilmu yang mempelajari hubungan antara bahasa dan konteksnya terhadap pemahaman kebahasan. Artinya, untuk memahami bahasa, seorang penutur harus mengetahui dan memahami makna kata dan hubungan gramatikal antarkata.

Dalam pragmatik, ada dua hal yang menjadi titik perhatian, yakni penggunaan bahasa dan konteks tuturan. Penggunaan bahasa maksudnya berhubungan dengan fungsi bahasa. Mengingat, dalam penggunaan bahasa, kita sering bertanya, untuk apakah bahasa digunakan. Fungsi bahasa itu bisa dikategorikan menjadi enam, yaitu:

  1. Menyampaikan informasi faktual dan mencari informasi faktual.
  2. Mengekspresikan diri dan media mengubah sikap.
  3. Meminta orang lain untuk melakukan sesuatu.
  4. Untuk sosialisasi.
  5. Membangun wacana.
  6. Meningkatkan keefektifan komunikasi.

Sementara, konteks tuturan meliputi enam dimensi yang bisa dipaparkan sebagai berikut:

  1. Tempat, waktu, atau setting. Misalnya, ketika bertutur tempat yang melatarbelakanginya adalah di penjara, di sekolah, di perpustakaan, di mal, di restoran, di toilet, di kamar, di ruang tamu, dan sebagainya.
  2. Memiliki pengguna bahasa atau partisipan. Misalnya, yang melakukan tuturan adalah seorang murid dengan seorang seorang guru, seorang santri dengan seorang ustad, seorang mahasiswa dengan seorang dosen, seorang penjaja seks komersil dengan seorang lelaki kesepian, dan sebagainya.
  3. Memiliki topik pembicaraan atau konten. Misalnya, bertutur masalah seni, masalah politik, masalah seks, masalah kriminal, masalah hukum, masalah cinta, dan lain-lain.
  4. Memiliki tujuan, seperti bertutur untuk bertanya, mengkritik, memuji, menyuruh, meminta bantuan, menjawab, berkilah, dan lain-lain.
  5. Memiliki nada yakni tuturan yang bernada marah, humor, lemah lembut, ketus, tegas, ironi, sarkasme, dan lain-lain.
  6. Memiliki media atau saluran seperti tatap muka atau bicara empat mata dalam seminar, melalui SMS, melalui telepon, melalui Yahoo Messenger, melalui inbox Facebook, melalui e-mail, atau melalui tangan.

Konteks memahami atau menghasilkan ujaran ini bertujuan untuk membangun prinsip-prinsip kerja sama dan sopan santun dalam berkomunikasi agar komunikasi berjalan efektif.  Konteks itu sendiri terkait erat dengan budaya, yang berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Apa yang dianggap sebagai topik pembicaraan yang wajar oleh masyarakat Korea misalnya, mungkin dianggap sebagai topik pembicaraan yang absurd oleh masyarakat Indonesia, atau sebaliknya. Oleh karena itu, pengertian pragmatik pada prinsipnya memberikan kerangka umum tentang bagaimana berkomunikasi secara tepat dan efektif dengan menggunakan bahasa sebagai medianya.

Itulah sebabnya, ada yang dikenal sebagai pragmatik umum (general pragmatics) yakni pragmatik yang mengacu pada kajian tentang kondisi umum penggunaan bahasa untuk komunikasi. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa prinsip kerja sama dan sopan santun dalam berkomunikasi berlaku secara berbeda-beda dalam setiap masyarakat.

Sebagai ilustrasi, membicarakan pesta ulang tahun yang penuh dengan kegembiraan dengan teman-temannya pada saat menjenguk orang sakit keras di rumah sakit, hal ini secara konteks tuturan jelas tidak tepat. Sementara itu, pragmalinguistik kurang lebih sama dengan ketepatan bentuk. Hal ini mengacu pada sejauh mana makna bahasa direpresentasikan ke dalam bentuk verbal atau nonverbal yang sesuai dengan konteks pembicaraan. Ini terkait erat dengan dengan tata bahasa yang sesuai dengan konteks pembicaraan.

Sebagai contoh, seorang mahasiswa  yang berterima kasih kepada dosennya dengan hanya mengucapkan trims atau thanks. Atau memanggil guru/dosen hanya dengan menggunakan kata sapaan “Bos”. Hal seperti ini tentu tidaklah sopan. Bukankah seharusnya mengucapkan terima kasih kepada dosen dan menggunakan kata sapaan “bapak atau ibu”?

Atau  contoh lain yang lebih tepat pemakaian adalah kata ganti “bos” boleh digunakan ketika berinteraksi dengan konsumen jika kita adalah seorang penjual. Sebagai seorang penjual atau SPG/ SPB yang memiliki tugas melayani konsumen, kita dituntut untuk berusaha akrab. Misalnya, dengan menyebut calon konsumen dengan sapaan “kakak” meskipun bukan kakak kita.

Seorang pemerhati linguistik, Jenny Thomas (1983) dalam artikelnya yang berjudul “Cross Cultural Failure”, ia mencoba membahas kegagalan pragmalinguistik dan kegagalan sosiopragmatik. Menurutnya, kegagalan pragmalinguistik pada dasarnya berkaitan dengan masalah bahasa yang disebabkan oleh berbagai macam perbedaan penyandian fungsi bahasa, sedangkan kegagalan sosiopragmatik berkenaan dengan prilaku bahasa yang disebabkan oleh kurangnya pengertian lintas budaya (Cross Culture).

Oleh karena itu, apabila ada orang Indonesia yang mengajukan pertanyaan kepada orang Arab yang baru pertama kali ditemuinya dengan pertanyaan “Hal ‘indak al fulus?” (Apakah Anda punya uang?) misalnya, maka orang itu dianggap telah gagal berkomunikasi dalam kaitannya dengan aspek sosio-pragmatik, bukan pada aspek pragmalinguistik karena secara tata bahasa kalimat di atas tidak salah. Dalam contoh di atas, bukan bahasanya yang salah, tetapi pertanyaannya yang kurang tepat karena kurang sesuai dengan konteks dan situasi tutuannya.