Pengertian Lembaga Sosial

Apakah lembaga sosial itu? Lembaga sosial adalah antara lain berupa institusi sosial atau disebut pula dengan istilah pranata sosial. Di Indonesia istilah pranata sosial diperkenalkan pertama kali oleh Prof. Koentjaraningrat yang kemudian banyak digunakan oleh para ahli antropologi. Sedangkan para ahli dan kajian sosiologi lebih banyak menggunakan istilah lembaga sosial.

Pranata dan lembaga memiliki pengertian dan makna yang berbeda. Pranata adalah sistem norma dan aturan-aturan mengenai bagaimana suatu aktivitas masyarakat yang berpedoman terhadap kebudayaan, sedangkan lembaga adalah organisasi yang bergerak melaksanakan aktivitas tersebut (wujud dari pranata sosial).

Terdapat beberapa definisi dari para ahli sosiologi mengenai pengertian lembaga sosial, di antaranya:

  • Paul B Horton dan Chester L. Hunt, menyatakan bahwa lembaga sosial adalah sistem norma untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan, yang oleh masyarakat dipandang penting, atau berupa kebiasaan dan tata kelakuan yang berkisar pada kegiatan pokok manusia.
  • Menurut Bruce J. Cohen, lembaga sosial merupakan sistem pola sosial yang tersusun rapi dan secara relatif bersifat permanen (tetap, bertahan lama) serta mengandung perilaku tertentu yang kokoh dan terpadu demi pemuasan kebutuhan pokok manusia.
  • Sedangkan menurut Prof. Koentjaraningrat lembaga sosial adalah satuan sistem norma khusus yang menata serangkaian tindakan berpola untuk keperluan khusus manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

Ketiga definisi di atas sudah cukup mewakili dan menggambarkan mengenai lembaga sosial yang ada. Adapun inti dari ketiga definisi lembaga sosial tersebut adalah:

  • Lembaga sosial adalah lembaga yang kegiatannya berkaitan dengan kebutuhan pokok manusia di dalam kehidupan bermasyarakat. Kebutuhan tersebut berupa material (kebendaan), sosial, mental dan spiritual.
  • Lembaga sosial merupakan suatu organisasi yang bersifat tetap, karena menangani kebutuhan manusia yang bersifat tetap pula.
  • Lembaga sosial adalah organisasi yang terstruktur dan tersusun, artinya terdiri atas pola tingkah laku, peranan dan pembagian tugas secara sosial dengan interrelasi yang bersifat tetap.
  • Lembaga sosial merupakan cara yang mengatur bagaimana individu, kelompok bertindak, bersifat mengikat yang diharapkan tidak melakukan tindakan penyimpangan yang dapat mengganggu keamanan dan kestabilan masyarakat. Sesorang akan dianggap menyimpang apabila melakukan tindakan-tindakan yang melanggar norma, adat istiadat dan peraturan secara hukum.

Fungsi Lembaga Sosial

Dengan tujuan tersebut, lembaga sosial memiliki fungsi sebagai berikut:

  1. Memberikan pedoman bagaimana seharusnya bersikap dan bertingkahlaku di masyarakat.
  2. Untuk menjaga ketertiban dan keutuhan masyarakat, Lembaga sosial sudah siap dengan berbagai macam aturan dan kaidah sosial yang harus dipatuhi agar terpenuhi kebutuhan hidupnya,
  3. Menjadi pegangan masyarakat untuk mengadakan pengendalian sosial.

Ciri Lembaga Sosial

Lembaga-lembaga sosial memiliki ciri-ciri umum, menurut ahli Gillin dan Gillin, dikemukakan ciri-ciri lembaga sosial sebagai berikut:

  • Lembaga sosial adalah suatu organisasi yang memiliki pola perilaku serta pemikiran yang dapat dilihat dari aktivitas kemasyarakatan, contohnya profesi yang terdapat di masyarakat menunjukkan perilaku yang dapat pula dijadikan karakter atau ciri lembaga tempat ia bekerja.
  • Orang beranggapan suatu lembaga sosial harus mampu dipertahankan, karena lembaga sosial memiliki tingkat kekekalan yang dianggap sebagai kumpulan-kumpulan norma yang memang seharusnya dipertahankan. Misalnya suatu sistem kepercayaan bisa menjadi lembaga sosial, setelah ia melewati dan konsisten dalam waktu yang lama.
  • Lembaga sosial memiliki tujuan-tujuan tertentu. Tujuan suatu lembaga sosial melalui proses kesepakatan bersama, namun pada kenyataannya tujuan tidak sejalan dengan fungsinya, contohnya lembaga ekonomi yang memiliki tujuan untuk menyejahterakan rakyatnya, namun masih ada yang berpihak kepada pemilik modal saja.
  • Lembaga sosial memiliki dan menggunakan alat-alat agar tujuannya tercapai, misalnya industri yang menggunakan mesin untuk memproduksi barang.
  • Lembaga sosial memiliki lambang atau simbol tertentu yang menjadi penanda lembaga tersebut. Lambang tersebut memiliki arti atau nilai-nilai filosofis, tujuan dan fungsi lembaga. Lambang lembaga-lembaga sosial bisa berupa gambar atau biasa disebut dengan logo, tulisan, tipografi atau gabungan dari gambar dan tulisan.
  • Untuk menjalankan fungsinya, lembaga sosial memiliki tradisi baik secara tertulis maupun tidak tertulis, contohnya pada lembaga ekonomi, terdapat aturan tertulis mengenai peraturan jual beli, peraturan pendistribusian, dan lain sebagainya. Di dalam lembaga keluarga terdapat aturan tidak tertulis bagaimana seharusnya pembagian tugas di dalamnya dan negara membuat aturan mengenai hak dan kewajiban keluarga yang tertulis dalam UU perkawinan.

Tipe Lembaga Sosial

Di masyarakat terdapat beberapa jenis lembaga sosial, yang bisa dibedakan dari berbagai macam sudut. Berikut adalah tipe-tipe lembaga sosial menurut Gilllin dan Gillin, yang dibagi berdasarkan:

1. Dari perkembangannya lembaga sosial dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

  • Creative institutions adalah lembaga sosial yang tidak sengaja hadir dan berkembang di masyarakat, disebut juga pranata primer, contohnya: perkawinan, agama, hak kepemilikan dan lain sebagainya.
  • Enacted institutions adalah lembaga yang secara sengaja dibentuk dengan maksud untuk mencapai tujuan tertentu, contohnya lembaga pendidikan, lembaga yang menangani masalah hutang-piutang.

2. Dari sudut pandang sistem nilai yang berlaku di masyarakat, dikenal dua jenis lembaga sosial, yaitu:

  • Basic institutions adalah lembaga sosial yang krusial, kehadirannya berfungsi untuk memelihara dan mempertahankan ketertiban di masyarakat, contohnya  lembaga keluarga, lembaga pendidikan (sekolah, perguruan tinggi), negara dan lain sebagainya.
  • Subsidiary institution adalah lembaga sosial yang berkaitan dengan sesuatu atau hal yang dianggap kurang atau tidak penting, contohnya rekreasi.

3. Dari sudut tanggapan, penerimaan atau penolakan masyarakat lembaga sosial dibagi dua, yaitu:

  • Approved atau sanctioned institutions adalah lembaga sosial yang mendapat respon postif, diterima oleh masyarakat, contohnya sekolahan, rumah sakit, perusahaan dagang dan lain sebagainya.
  • Unsactioned institutions, adalah lembaga sosial yang direspon negative, mendapat penolakan dari masyarakatnya, contohnya kelompok-kelompok perusuh, gank motor, pencopet, perampok dan lain sebagainya.

4. Dari sudut pandang proses penyebarannya, dikenal dua jenis lembaga sosial, yaitu:

  • General institutions adalah lembaga sosial yang dikenal di seluruh dunia, contohnya lembaga agama.
  • Restricted institutions adalah lembaga sosial yang hanya dikenal oleh sebagian masyarakat tertentu, misalnya lembaga agama islam, Kristen, Hindu atau Budha.

5. Dari sudut pandang fungsinya, lembaga sosial dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

  • Operative institutions adalah lembaga sosial yang memiliki fungsi untuk menghimpun, mengelola pola dan tata cara yang diperlukan dengan maksud agar tujuan bisa tercapai, contohnya industry, perdagangan dan lain sebagainya.
  • Regulative institutions adalah lembaga yang memiliki tujuan untuk memantau dan mengawasi adat istiadat atau kelakuan yang sedang terjadi di masyarakat, contohnya lembaga hukum, seperti pengadilan, kepolisian dan lain sebagainya.

Di kehidupan bermasyarakat kita tentu akan bersinggungan dengan lembaga sosial. Ada lima jenis lembaga sosial yang dapat kita jumpai dan hadir di kehidupan sehari-hari, yaitu lembaga keluarga, lembaga agama, lembaga politik, lembaga pendidikan dan lembaga ekonomi. Mengenai kelima jenis lembaga tersebut akan dibahas secara terpisah dengan rinci pada artikel selanjutnya.