Metode yang digunakan dalam penelitian dialektologi dibagi ke dalam tiga tahapan, yaitu tahap penyediaan data, tahap analisis data, dan tahap penyajian hasil analisis data.

Tahap penyediaan data, langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan daerah pengamatan yang akan diambil. Langkah lanjutannya untuk penyediaan data digunakan metode cakap yaitu pengumpulan data lingual dengan melakukan percakapan antara peneliti dengan penutur sebagai narasumber. Teknik dasar metode ini adalah teknik pancing (elisitasi), dan teknik lanjutannya adalah teknik cakap semuka, teknik rekam, dan teknik catat.

Berkaitan dengan metode cakap, teknik cakap semuka, teknik catat, dan teknik rekam cukup ideal karena peneliti dapat secara langsung mengetahui kondisi geografis daerah pengamatan. Begitu pula dengan teknik catat, peneliti dapat langsung mencatat realisasi fonem-fonem tertentu dengan langsung memperhatikan organ wicara narasumber yang menghasilkan bunyi-bunyi tertentu. Selanjutnya, teknik rekam digunakan untuk mendukung pelaksanaan teknik catat, yaitu pengecekan kembali data-data yang telah dicatat dengan rekaman yang dihasilkan dengan alat rekam.

Tahap analisis catat, untuk menentukan unsur-unsur bahasa yang berbeda digunakan metode padan intralingual dengan teknik dasar hubung banding intralingual dan teknik lanjutan hubung banding. Realisasi metode ini dilakukan dengan cara pengaidahan data, dan tabulasi data. Metode yang digunakan dalam analisis yaitu penentuan isolek sebagai bahasa, dialek, atau subdialek adalah metode dialektometri dan metode berkas isoglos.

Metode leksikostatistik adalah metode pengelompokan bahasa yang dilakukan dengan menghitung persentase perangkat kognat (cognate). Metode dialektometri merupakan ukuran statistik yang digunakan untuk melihat berapa jauh perbedaan dan persamaan yang terdapat pada tempat-tempat yang diteliti dengan membandingkan sejumlah bahan yang terkumpul. Penghitungan dialektometri dapat dilakukan dengan segitiga antardaerah pengamatan dan permutasi antardaerah pengamatan.

Tahap terakhir hasil analisis data, penelitian ini menggunakan metode informal dan metode formal. Dalam metode ini kaidah-kaidah dapat disajikan dengan cara perumusan menggunakan kata-kata biasa, termasuk penggunaan terminologi yang bersifat teknis, dan perumusan dengan menggunakan tanda atau lambang.

Dialektologi merupakan ilmu tentang dialek (dialecte); atau cabang dari linguistik yang mengkaji perbedaan-perbedaan isolek dengan memperlakukan perbedaan tersebut secara utuh. Sebagai cabang dari linguistik, maka dengan sendirinya dialektologi dalam kajiannya selalu bertumpu pada konsep-konsep yang dikembangkan dalam linguistik. Konsep-konsep tersebut dimanfaatkan dalam kerangka deskripsi perbedaan unsur-unsur kebahasaan di antara daerah pengamatan dalam penelitian.

Deskripsi perbedaan unsur kebahasaan mencakup semua bidang yang termasuk dalam kajian linguistik, yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan leksikon. Deskripsi perbedaan linguistik yang akan dibahas adalah deskripsi unsur kebahasaan yang dikaji dalam penelitian ini, yaitu perbedaan fonologi dan leksikon.

Perbedaan fonologi perlu dibedakan dengan perbedaan leksikon mengingat dalam penentuan isolek sebagai bahasa, dialek, atau subdialek dengan menggunakan dialektometri. Pada tataran leksikon, perbedaan-perbedaan fonologi (termasuk morfologi) dianggap tidak ada.

Mahsun (1995: 24) menyatakan bahwa leksem-leksem yang merupakan realisasi dari satu makna terdapat di antara daerah-daerah pengamatan itu ditentukan sebagai perbedaan fonologis apabila:

  1. Perbedaan yang terdapat pada kata-kata yang menyatakan makna yang sama itu muncul secara teratur atau merupakan korespondensi.
  2. Perbedaan di antara leksem-leksem yang menyatakan makna yang sama itu berupa variasi jika perbedaan itu hanya terjadi pada satu atau dua bunyi.

Penelitian dialektologi bersifat diakronis. Karena pembicaraan secara diakronis dimungkinkan dapat dilakukan jika telah tersedia bahan (hasil) yang bersifat sinkronis. Dengan demikian, ancangan teoretis yang digunakan dalam analisis data berupa ancangan sinkronis dan ancangan diakronis.

Metode Penelitian Kuantitatif (Dialektometri)

Metode penelitian kuantitatif, adalah metode yang menekankan pada faktor pengukuran obyektif terkait fenonema sebuah kebahasaan. Fenomena kebahasaan dijelaskan dalam beberapa komponen masalah, seperti variabel dan indikator. Masing-masing variabel, diukur dengan cara memberi simbol-simbol angka yang berbeda berdasarkan kategori informasi dari variabel tersebut.

Tujuan utama metode ini adalah menjelaskan suatu masalah dengan mengeneralisasikannya. Generalisasi merupakan kenyataan yang terjadi pada suatu realita mengenai masalah yang diperkirakan akan terjadi pada populasi tertentu. Generalisasi dihasilkan melalui metode perkiraan yang berlaku secara umum dalam statistika induktif.

Metode perkiraan dilakukan melalui pengukuran terhadap kenyataan yang lingkupnya lebih terbatas, atau disebut juga “sample”. Yang diukur dalam sebuah penelitian sebenarnya adalah bagian kecil dari sebuah populasi atau disebut juga “data”. Penelitian kuantitatif melakukan eksplorasi lebih lanjut juga menemukan fakta lalu menguji teori yang timbul dari data tersebut.

Metode dialektometri digunakan untuk membagi daerah penelitian ke dalam daerah dialek. Yang dimaksud dengan dialektometri adalah ukuran statistik yang digunakan untuk melihat seberapa jauh perbedaan yang terdapat pada tempat-tempat yang diteliti dengan membandingkan sejumlah unsur yang terkumpul dari tempat tersebut.

Selanjutnya metode ini telah digunakan oleh para peneliti dialektologi untuk membagi daerah bahasa ke dalam daerah dialek, subdialek, atau untuk melihat perbedaan tingkat wicara. Untuk penelitian bahasa-bahasa di Indonesia, metode ini telah digunakan antara lain oleh Ayatrohaedi (1978), Nothofer (1980), Medan (1986), Lauder (1990), Danie (1991), dan Nadra (1997). Walaupun terdapat ketidakpuasan akan metode tersebut, namun, sejauh ini tampaknya metode dialektometri itu dianggap masih mampu melakukan pemilahan bahasa secara objektif.

Rumus metode dialektometri adalah sebaga berikut

S x 100 = d %

n

S = jumlah beda dengan titik pengamatan lain

n = jumlah peta yang diperbandingkan

d = presentase jarak unsur-unsur kebahasaan antartitik pengamatan

Hasil yang diperoleh yang berupa presentase jarak unsur-unsur kebahasaan di antara titik-titik pengamatan itu, selanjutnya digunakan untuk menentukan hubungan antartitik pengamatan dengan kriteria sebagai berikut:

  • 81% ke atas: dianggap perbedaan bahasa
  • 51% hingga 80%: dianggap perbedaan dialek
  • 31%hingga 50%: dianggap perbedaan subdialek
  • 21% hingga 30%: dianggap perbedaan wicara
  • Di bawah 20%: dianggap tidak ada perbedaan

Penghitungan dialektometri dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu: (a) segitiga antardesa/antartitik pengamatan dan (b) permutasi satu titik pengamatan terhadap semua titik pengamatan lainnya. Perhitungan berdasarkan segitiga antartitik pengamatan dilakukan dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

  1. Titik pengamatan yang dibandingkan hanya titik-titik pengamatan berdasarkan letaknya masing-masing mungkin melakukan komunikasi secara langsung.
  2. Setiap titik pengamatan yang mungkin berkomunikasi secara langsung dihubungkan dengan sebuah garis sehingga diperoleh segitiga-segitiga yang beragam bentuknya.
  3. Garis-garis pada segitiga dialektometri tidak boleh saling berpotongan; pilih salah satu kemungkinan saja dan sebaiknya pilih yang berdasarkan letaknya lebih dekat satu sama lain.

Penghitungan dengan cara atau teknik permutasi dilakukan pertama kali oleh Goebl. Dalam perhitungan ini satu titik pengamatan dihitung jarak kosakatanya dengan semua titik pengamatan lainnya. Perhitungan ini membutuhkan banyak waktu sehingga kurang mendapat tanggapan dan cenderung dilupakan.

Penerapan dialektometri, baik dengan teknik segitiga antartitik pengamatan maupun dengan teknik permutasi, dilakukan dengan berpegang pada prinsip-prinsip umum sebagai berikut:

  1. Apabila pada sebuah titik pengamatan digunakan lebih dari satu bentuk untuk satu makna, dan salah satu di antaranya digunakan pula di titik pengamatan lain yang diperbandingkan maka antartitik pengamatan itu dianggap tidak ada perbedaan.
  2. Apabila antartitik pengamatan yang dibandingkan itu, salah satu di antaranya tidak memiliki bentuk sebagai realisasi dari satu makna tertentu, maka dianggap ada perbedaan.

Di samping metode dialektometri, ada juga yang menggunakan metode leksikostatistik untuk pengelompokan titik pengamatan dalam daerah dialek, yaitu dengan cara menghitung presentase kekognatan antartitik pengamatan. Namun, metode ini kurang relevan untuk penelitian dialek sebab dasar penggunaannya adalah mencari presentase kekerabatan (persamaan), bukan mencari perbedaan seperti yang dilakukan dalam dialektologi. Persamaan yang dimaksud adalah persamaan dari segi sejarah atau berasal dari bahasa induk yang sama (kognat).

Metode Kualitatif

Metode penelitian kualitatif adalah metode yang lebih menekankan pada aspek pemahaman secara mendalam terhadap suatu masalah daripada melihat permasalahan untuk penelitian generalisasi. Metode penelitian ini lebih suka menggunakan teknik analisis mendalam ( in-depth analysis ), yaitu mengkaji masalah secara kasus per kasus karena metodologi kualitatif yakin bahwa sifat suatu masalah satu akan berbeda dengan sifat dari masalah lainnya. Tujuan dari metodelogi ini bukan suatu generalisasi tetapi pemahaman secara mendalam terhadap suatu masalah. Penelitian kualitatif berfungsi memberikan kategori substantif dan hipotesis penelitian kualitatif.

Untuk memahami metode kualitatif dalam dialektologi, kita mengenal rekonstruksi yang dihasilkan dari penelitian terhadap variasi dan korespondensi. Misalnya kita meneliti bahasa purba, yang dimaksud dengan rekonstruksi bahasa purba (protobahasa adalah rakitan teoritis yang dirancang dengan cara merangkaikan sistem bahasa-bahasa/dialek-dialek yang memiliki hubungan kesejarahan melalui rumusan kaidah-kaidah secara sangat sederhana). Rekonstruksi bahasa purba ini dilakukan dengan cara seksama melalui perbandingan data yang dikumpulkan dari sejumlah titik pengamatan yang mencerminkan unsur bahasa purba tersebut.

Dengan adanya rekonstruksi bahasa purba dapat diketahui apakah bahasa-bahasa / dialek-dialek modern yang digunakan penutur sekarang mengalami retensi atau inovasi. Yang dimaksud dengan inovasi adalah perubahan yang terjadi dalam dialek/bahasa yang diteliti, sedangkan yang dimaksud dengan retensi adalah bentuk-bentuk atau unsur-unsur bahasa purba yang dicerminkan dalam dialek/bahasa yang modern.

Rekonstruksi bahasa purba dalam kajian dialektologi mempunyai perbedaan dengan rekonstruksi bahasa purba dalam kajian linguistik historis komparatif. Rekonstruksi bahasa purba dalam kajian dialektologi bertolak dari data subdialek-subdialek/dialek-dialek dalam suatu bahasa, sedangkan rekonstruksi bahasa purba dalam linguistik historis komparatif bertolak dari data bahasa-bahasa yang diasumsikan berasal dari bahasa induk yang sama.

Rekonstruksi bahasa purba dalam dialektologi perlu dilakukan karena hal itu berkaitan dengan persoalan berikut:

  • Penelusuran subdialek/dialek atau daerah titik pengamatan yang inovatif dan konservatif
  • Hubungan antara subdialek/dialek yang satu dengan subdialek/dialek yang lain
  • Hubungan subdialek-subdialek/dialek-dialek dengan bahasa induk yang menurunkan subdialek-subdialek/dialek-dialek itu.