Pernahkah Anda mendengar satu bait lagu “orang bilang tanah kita tanah surge.  Tongkat, batu dan kayu jadi tanaman”? Lagu tersebut menceritakan kepada kita tanah sebagai tempat pertumbuhan tanaman dan lebih khusus lagi diperuntukkan bagi tanah Indonesia yang sangat subur sehingga apapun yang ditanam akan tumbuh dengan subur. Kesuburan tanah memang merupakan kebanggaan tersendiri bagi bangsa di wilayah tropis utamanya Negara Indonesia. Tetapi isu terakhir memperlihatkan bahwa tanah di bumi pertiwi sudah mulai tercemar dan mengandung zat-zat yang berbahaya.

Pencemaran tanah merupakan suatu keadaan dimana bahan kimia buatan manusia masuk ke dalam tanah sehingga mengubah lingkungan alami tanah. Biasanya bentuk pencemaran yang terjadi disebabkan karena kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri; penggunaan pestisida; terjadinya kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah; masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan-lapisan sub-permukaan; air limbah dari tempat pembuangan sampah (TPA) serta limbah industri yang langsung dibuang ke tanah tanpa memperdulikan dampak lingkungan (illegal dumping).

Dikatakan sebagai pencemar jika zat-zat tersebut jumlahnya melebihi batas normal, keberadaannya pada saat yang tidak tepat. Zat pencemar tanah dapat merusak untuk sementara tetapi dapat pula merusak dalam jangka panjang. Zat-zat pencemar tanah secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut:

Limbah Domestik

Yang termasuk dalam limbah domestik adalah limbah yang berasal dari sampah rumah tangga, hotel, restoran, rumah sakit, dan sebagainya. Limbah dilihat dari wujudnya ada dua yaitu limbah cair dan padat. Adapun limbah padat seperti kaleng, botol, dll dan limbah cair seperti sisa deterjen, tinja, dll.  Beberapa sampah ada yang bisa terurai dan ada yang tidak bisa diurai oleh dekomposer. Sampah yang mudah terurai disebut sampah organik, seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, sisa kayu, kotoran manusia atau binatang ternak dan sebagainya sedangkan yang tidak dapat diurai seperti detergen, sabun, dll.

Dampak yang Ditimbulkan
Beberapa dampak yang ditimbulkan oleh limbah domestik yaitu:

a. Kesehatan

Sampah adalah sarang berkembangnya lalat, bakteri patogen dan mikroorganisme lainnya yang dapat berbahaya bagi kesehatan manusia. Banyak penyakit muncul dengan keberadaan sampah yang berserakan dan tidak teratur seperti diare, disentri, penyakit kulit, dan sebagainya.

b. Estetika

Kekurangan terbesar Negara Indonesia adalah penanganan sampah domestik yang sampai sekarang belum maksimal. Masih banyak sampah domestik yang berserakan, baik di tempat pembuangan sampah atau tempat sampah buatan yang biasanya ditempatkan di pinggir jalan atau sebelah jembatan. Fenomena ini menghasilkan pemandangan yang tidak nyaman dan jauh dari unsur keindahan.

Limbah Peternakan

Limbah peternakan merupakan limbah yang masuk ke dalam tanah yang berasal dari aktivitas peternakan. Limbah yang paling sering ditemui dari kegiatan peternakan adalah kotoran ternak. Meskipun banyak yang dapat memanfaatkan kotoran ternak menjadi gas tetapi limbah ini dapat mengganggu secara estetika.

Sifat-sifat fisik dari kotoran binatang ternak, diantaranya:

a. Berbagai bentuk limbah ternak

Limbah ternak memiliki beberapa bentuk yaitu padat, cair, dan gas. Limbah ternak dalam bentuk padat seperti feses, sisa pakan, isi rumen dan perut, ternak mati dll. Limbah ternak dalam bentuk cair seperti: urin, air cucian ternak sedangkan yang dalam bentuk gas: NH3, H2S, CH4, dan sebagainya yang berkaitan dengan bau.

b. Jumlah Limbah

Jumlah limbah biasanya diperkirakan berdasarkan jumlah susu yang dihasilkan ternak. Setiap kilogram susu yang dihasilkan ternak perah berarti ternak tersebut menghasilkan 2 kg limbah padat (feses).

c. Kandungan limbah ternak

Kandungan limbah ternak antara lain:

1. Feses kambing mengandung Natrium dan Kalium lebih besar dua kali dari pada kotoran sapi.

2. Feses babi juga dua kali lebih banyak mengandung fosfor dibandingkan kotoran sapi.

3. Dalam urin mengandung Kalium dan Natrium yang lebih banyak dari feses padatan yaitu Kalium lima kali lebih banyak sedang kandungan N adalah dua kali lebih banyak.

Kotoran binatang merupakan sampah organik yang bisa diuraikan oleh mikroorganisme menjadi unsur hara yang dapat menyuburkan tanah. Tetapi jika kotoran atau feses ini yang ada dalam tanah bercampur dengan air kemudian menguap maka zat dari kotoran ternak seperti, NH3, H2S yang ada di air akan berpindah ke udara kemudian menghasilkan bau yang tidak sedap.

Dampak yang Ditimbulkan

Meskipun dapat menyuburkan tanah, limbah ternak juga memiliki dampak buruk, diantaranya:

a. Gangguan Kesehatan

Timbunan feses pada permukaan tanah dapat menjadi sarang lalat dan dapat menjadi penyebab penularan penyakit, seperti disentri, diare, dll. Selain itu timbunan feses ini juga dapat menimbulkan penyakit yang terkait dengan tikus (penyakit pes).

b. Menurunnya estetika lingkungan

Timbunan feses yang bau, kotor dan berserakan di atas tanah akan menjadikan lingkungan tidak indah untuk dipandang mata. Beberapa peternakan dijadikan sebagai tempat belajar atau pariwisata dan jika limbahnya tidak dikelola dengan baik maka peternakan bisa menjadi tempat yang dijauhi oleh masyarakat.

Limbah Pertanian

Sumber limbah pertanian berasal dari pestisida yaitu pembunuh hama. Pestisida didefinisikan sebagai segala jenis zat kimia atau bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk beberapa tujuan yaitu:

a. Membebaskan atau mencegah tanaman dari hama dan penyakit yang merusak tanaman serta hasil-hasil pertanian.

b. Menghilangkan rerumputan yang mengganggu pertumbuhan tanaman.

c. Mengatur pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian pada tanaman.

d. Mencegah hama-hama luar pada hewan piaraan dan ternak yang akan mengganggu tanaman.

e. Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad-jasad renik dalam rumah tangga, bangunan, dan alat-alat pengangkutan serta binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.

Tujuan tersebut jika dilihat secara lansung bertujuan untuk membantu kehidupan manusia tetapi pada kenyataannya tidak semua pestisida tersebut tepat sasaran. Beberapa pestisida justru membunuh organisme yang bermanfaat bagi manusia.
Pestisida dikelompokkan berdasarkan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) sasarannya yakni Insektisida, Akarisida, Moluskisida, Rodentisida, Bakterisida, Herbisida, Fungisida, dan lain-lain. Misalnya insektisida digunakan untuk mengendalikan hama berupa serangga, bakterisida digunakan untuk mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan bakteri, dan lain sebagainya.

Insektisida umumnya merupakan senyawa hidrokarbon terklorinasi, atau organoklor, dan senyawa-senyawa organofosfor. Dikloro Difenil Trikloroetana (DDT) adalah Salah satu jenis insektisida yang tergolong senyawa hidrokarbon terklorinasi. DDT merupakan zat yang berbahaya bagi lingkungan dengan 2 sifat yang dimilikinya. Sifat buruk DDT adalah sebagai berikut:

a. DDT bersifat apolar

DDT sangat mudah menembus kulit karena sifatnya tak larut dalam air tapi sangat larut dalam lemak. 

b. Sifat DDT sangat stabil dan persisten

DDT sangat stabil sehingga sukar terurai dan cenderung bertahan dalam lingkungan hidup. DDT masuk dalam rantai makanan (foodchain) melalui bahan lemak jaringan makhluk hidup dan itu sebabnya DDT bersifat bioakumulatif dan biomagnifikatif.

Dengan sifat DDT yang stabil dan persisten, maka senyawa ini bertahan sangat lama di dalam tanah, bahkan dapat terikat dengan bahan organik dalam partikel tanah.

Adanya pencemaran DDT di lingkungan sebagai akibat dari penggunaan pestisida secara berlebihan. DDT dalam jumlah besar dilepaskan ke lingkungan baik ke udara, tanah atau air ketika disemprotkan pada tanaman dan hutan untuk mengendalikan serangga. DDT dilepaskan ke lingkungan dalam bentuk partikulat yang mungkin sebagai cairan (aerosol) atau padatan. DDT kuat meresap ke dalam tanah maupun tinggal di permukaan. Senyawa ini kemudian diserap oleh beberapa tanaman dan binatang atau orang-orang yang makan tanaman tersebut sebagai konsumen tertinggi.
Dampak yang ditimbulkan

Adanya limbah pertanian terutama DDT dapat berdampak pada:

a. Penipisan cangkang telur

Melimpahnya DDT dapat menyebabkan penipisan cangkang telur. DDT mengganggu kemampuan kelenjar untuk mengeluarkan kalsium karbonat ke telur berkembang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sejak adanya DDT, ketebalan kulit telur tetap 10-12 % lebih tipis dari sebelumnya.

b. Membunuh organisme

Keberadaan DDT selain menjadi racun bagi berbagai macam binatang selain serangga, juga DDT beracun untuk beberapa spesies amfibi, terutama dalam tahap larva. DDT juag merupakan racun reproduksi spesies burung tertentu, dan menjadi alasan utama penurunan jumlah populasi dari elang botak, dan elang pemburu.

c. Kesehatan

DDT digolongkan sebagai "racun moderat" dan oleh WHO sangat berbahaya. Senyawa ini dapat menyebabkan diabetes karena dapat merusak organ pankreas sehingga terjadi penurunan hormon insulin. Selain itu keberadaan DDT juga menyebabkan perkembangan dan toksisitas reproduksi seperti kelahiran prematur, berbahaya bagi ibu yang menyusui, keguguran, penyebab dari kretinisme. Selain itu juga dapat mengganggu fungsi tiroid.

Penyakit lainnya yang dapat muncul akibat DDT adalah kanker hati, pankreas, payudara, leukemia, testis, dan sistem limfatik (yaitu non-Hodgkin Limfoma).

Limbah Industri

Limbah industri mengandung sumber pencemar yang berbahaya seperti logam-logam berat seperti merkuri (Hg), kadnium (Cd), seng (Zn), Silodiena(Si), timah hitam (Pb), yang dapat mencemari tanah. Zat tersebut jika masuk ke dalam tanah akan menyebabkan kematian bagi mikroorganisme yang berperan penting terhadap kesuburan tanah.

Merkuri (air raksa) dan siklodiena dikenal dapat menyebabkan kerusakan ginjal, dan bisa jadi tidak bisa diobati. PCB dan siklodiena terkait pada keracunan hati dan Organofosfat dan karmabat menyebabkan ganguan pada saraf otot. Beberapa gangguan kesehatan seperti sakit kepala, pusing, letih, iritasi mata dan ruam kulit jika dipapar untuk paparan bahan kimia tersebut. Lebih jelasnya untuk dosis yang besar, pencemaran tanah dapat berujung pada kematian.

Limbah Radioaktif

Limbah radioaktif dihasilkan dari ledakan nuklir seperti yang pernah terjadi di Fukushima Jepang yang menjadi suatu malapetaka bagi masyarakat setempat. Zat radioaktif yang dipancarkan telah mencemari lahan pertanian sehingga berbahaya untuk digunakan. Zat radioaktif dapat mengganggu kesehatan manusia bahkan dapat merusak gen manusia.

Dampak Pencemaran Tanah terhadap Ekosistem

Masuknya zat pencemar di dalam tanah dapat menyebabkan perubahan metabolisme tanaman yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan hasil pertanian. Penurunan hasil pertanian ini menyebabkan pengaruh berkelanjutan pada konservasi tanaman di mana tanaman tidak mampu menahan lapisan tanah dari erosi. Peristiwa erosi sangat merugikan manusia bahkan beberapa telah menelan korban nyawa.

Dampak pencemaran tanah terhadap ekosistem ditinjau dari musnahnya spesies primer pada rantai makanan. Perubahan kimiawi tanah dapat timbul dari adanya bahan kimia beracun dan berbahaya bahkan pada dosis yang rendah sekalipun. Adanya perubahan ini menyebabkan perubahan metabolisme dari mikroorganisme endemik dan antropoda yang hidup di lingkungan tanah tersebut. Sebagai akibatnya bisa menghilangkan beberapa spesies primer dari rantai makanan dan berpengaruh langsung pada predator atau tingkatan lain dari rantai makanan tersebut.