Sebuah teks atau wacana merupakan sarana untuk menyampaikan ide dan gagasan kepada orang lain. Oleh karena itu, teks tersebut harus dapat dipahami dengan baik oleh pembaca. Teks yang baik adalah teks yang pesan di dalamnya dapat disampaikan dengan jelas dan mudah kepada pembaca.

Pesan di dalam teks merupakan pikiran dan informasi dari penulis. Untuk dapat menyampaikan pesan tersebut, maka penulis perlu menyampaikannya dalam sebuah paragraf yang baik sesuai dengan pola pengembangan paragraf yang dapat dipahami oleh pembaca. Oleh karena itu, perlu dipahami cara mengungkapkan pikiran dan informasi dalam sebuah paragraf.

Berdasarkan jenis penalarannya, paragraf dibedakan menjadi paragraf induktif dan deduktif. Kedua jenis paragraf ini harus dipahami untuk dapat mengungkapkan pikiran dan informasi dalam sebuah paragraf secara efektif dan efisien.

Ciri-ciri Paragraf Berpola Induktif dan Deduktif

Penalaran induktif adalah proses penalaran yang bertolak dari peristiwa-peristiwa yang sifatnya khusus menuju pernyataan umum. Paragraf berpola induktif memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

  1. Letak kalimat utama di akhir paragraf.
  2. Diawali dengan uraian atau penjelasan bersifat khusus dan diakhiri dengan pernyataan umum.
  3. Paragraf induktif diakhiri dengan kesimpulan.

Sedangkan penalaran deduktif adalah proses penalaran yang bertolak dari peristiwa-peristiwa yang sifatnya umum menuju pernyataan khusus. Paragraf berpola deduktif memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

  1. Letak kalimat utama di awal paragraf.
  2. Diawali dengan pernyataan umum disusul dengan uraian atau penjelasan khusus.
  3. Diakhiri dengan penjelasan.

Mengungkapkan Pikiran dan Informasi dengan Pola Pengembangan Paragraf

Selain dengan pola penalaran induktif dan deduktif seperti yang dijelaskan sebelumnya, mengungkapkan pikiran dan informasi dalam bentuk paragraf dapat dilakukan dengan berbagai pola pengembangan. Pola pengembangan paragraf terdiri atas pola generalisasi, analogi, dan sebab-akibat.

1. Generalisasi

Pola pengembangan generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fakta atau gejala khusus yang diamati, kemudian ditarik kesimpulan umum tentang sebagian atau seluruh gejala yang diamati tersebut. Jadi, generalisasi merupakan pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian besar gejala yang diamati. Di dalam pengembangan karangan, generalisasi perlu ditunjang atau dibuktikan dengan fakta-fakta, contoh-contoh, data statistik, dan sebagainya yang merupakan spesifikasi atau ciri sebagai penjelasan lebih lanjut.

Contoh:

Pemerintah mendirikan sekolah sampai ke pelosok. Puskesmas didirikan di mana-mana. Lapangan kerja baru diciptakan. Pembangunan rumah ibadah diperbanyak atau dibantu pemerintah. Memang menjadi tugas pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

2. Analogi

Pola pengembangan analogi adalah proses penalaran yang berdasarkan pada pembagian dan terhadap sejumlah gejala khusus yang memiliki kesamaan, kemudian ditarik kesimpulan.

Contoh:

Secara tak sengaja Amara mengetahui bahwa pensil Steadler 4B menghasilkan gambar vinyet yang memuaskan hatinya. Pensil itu sangat lunak dan menghasilkan garis-garis hitam dan tebal. Oleh karena itu, selama bertahun-tahun ia selalu memakai pensil itu untuk membuat vinyet, tetapi ketika ia berlibur di rumah nenek di sebuah kota kecamatan ia kehabisan pensil. Ia mencari di toko-toko di kota itu tidak ada. Akhirnya, daripada tidak dapat mencoret-coret ia memilih merek lain yang sama lunaknya dengan Steadler 4B. “Ini tentu akan menghasilkan vinyet yang bagus juga,” putusnya.

3. Sebab-Akibat

Pola pengembangan analogi adalah proses penalaran yang dimulai dengan mengemukakan fakta yang berupa sebab dan sampai pada kesimpulan yang merupakan akibat.

Contoh:

Bangsa Jepang suka berkelompok. Kepentingan perorangan ada, tetapi kalau kepentingan bersama membutuhkan, maka kepentingan bersama didahulukan. Dengan demikian, antara kepentingan perorangan dan kepentingan berjalan serasi. Oleh karena itu, untuk melakukan sesuatu secara bersama dan secara terkoordinasi, bagi bangsa Jepang sudah berjalan dengan sendirinya.

Ciri-ciri Paragraf yang Baik

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa wacana adalah media untuk mengungkapkan pikiran dan informasi. Maka, untuk dapat menyampaikan pesan sesuai yang diharapkan maka wacana tersebut harus tersusun atas paragraf-paragraf yang baik.  Paragraf merupakan seperangkat kalimat yang berkaitan erat antara kalimat satu dengan kalimat yang lain. Kalimat-kalimat tersebut disusun menurut aturan tertentu sehingga makna yang dikandungnya dapat dibatasi, dikembangkan, dan diperjelas.

Berikut ini adalah ciri-ciri atau karakteristik paragraf yang baik.

  1. Setiap paragraf mengandung makna, pesan, pikiran, atau ide pokok yang relevan dengan ide pokok keseluruhan karangan.
  2. Dalam setiap paragraf hanya ada satu pokok pikiran.
  3. Pada umumnya, paragraf dibangun oleh sejumlah kalimat.
  4. Paragraf adalah satu kesatuan ekspresi pikiran.
  5. Paragraf adalah kesatuan yang koheren dan padu.
  6. Kalimat-kalimat dalam paragraf tersusun secara logis dan sistematis.

Menyusun Paragraf Kohesif dan Koheren

Paragraf adalah satu kesatuan ekspresi yang terdiri atas seperangkat kalimat yang digunakan oleh penulis sebagai alat untuk menyatakan dan menyampaikan ide dan gagasannya kepada pembaca. Oleh karena itu, menyusun paragraf yang kohesif dan koherensif berarti harus memenuhi kriteria ciri-ciri paragraf yang baik seperti yang dijelaskan pada penjelasan sebelumnya. Untuk memenuhi karakteristik tersebut, langkah-langkah menyusun paragraf yang baik adalah sebagai berikut.

  1. Menentukan kalimat topik,
  2. Menentukan kalimat penjelas,
  3. Menentukan kalimat-kalimat pengembang,
  4. Menentukan kalimat kesimpulan.

Alat Penanda Kohesi dan Koherensi

Untuk dapat menyusun sebuah paragraf yang kohesif dan koherensif, diperlukan alat penanda atau pemarkah kohesi dan koherensi. Alat penanda tersebut dalam paragraf dapat berupa kata dan kelompok kata. Penanda-penanda tersebut antara lain sebagai berikut.

  1. Penanda hubungan kelanjutan, misalnya: dan, lagi, serta, lagi pula, dan tambahan lagi.
  2. Penanda hubungan urutan waktu, misalnya: dahulu, kini, sekarang, sebelum, setelah, sesudah, kemudian, sementara itu, dan sehari kemudian.
  3. Penanda klimaks, misalnya: paling, se-nya, dan ter-.
  4. Penanda perbandingan, misalnya: sama, seperti, ibarat, bak, dan bagaikan.
  5. Penanda kontras, misalnya: tetapi, biarpun, walaupun, dan sebaliknya.
  6. Penanda ilustrasi, misalnya: umpama, contoh, dan misalnya.
  7. Penanda sebab-akibat, misalnya: karena, sebab, dan oleh karena.
  8. Penanda kesimpulan, misalnya: kesimpulan, ringkasnya, garis besarnya, dan rangkuman.