Out of Africa merupakan sebuah teori yang menyakini bahwa cikal bakal manusia modern (Homo sapiens) di seluruh dunia berasal dari Afrika. Teori Out of Africa hingga kini masih diterima secara luas oleh para ahli paleoantropologi dan arkeologi di seluruh dunia. Out of Africa merupakan sebuah teori yang sangat mungkin dan relevan untuk menjelaskan mengapa spesies manusia di seluruh dunia memiliki kode DNA yang sama.

Makhluk hidup yang memiliki kode DNA yang sama, memungkingkan untuk dapat saling membuahi dan memiliki keturunan. Dengan demikian, manusia dari Ras Mongoloid (yang banyak terdapat di Asia) dapat memiliki keturunan dari perkawinan dengan manusia Ras Kaukasoid (yang banyak terdapat di Eropa). Teori Out of Africa pula yang dapat dengan relevan menjelaskan bahwa manusia modern bukanlah kelanjutan evolusi dari kera berjalan tegak walaupun mereka memiliki kekerabatan yang dekat dengan manusia.

Teori Evolusi Darwin dan Out of Africa

Perkembangan teori Out of Africa bermula di awal abad 19. Terjadi perdebatan di antara para ilmuwan antropologi tentang beberapa konsep perkembangan manusia. Ilmu antropologi merupakan salah satu ilmu yang mulai berkembang secara signifikan di awal abad 17, seiring dengan kebangkitan dan eksplorasi benua-benua baru oleh orang-orang Eropa.
Di benua-benua baru, orang Eropa banyak mendapati keragaman hayati maupun keragaman kebudayaan. Ilmu lain yang turut berkembang adalah biologi dan arkeologi. Melalui ketiga ilmu inilah, bayangan orang Eropa tentang makhluk-makhluk aneh di seberang lautan yang telah menjadi mitos selama berabad-abad berangsur-angsur hilang.

Pada 1871, Charles Darwin pernah memublikasikan gagasannya tentang monogenesis dalam The Descent of Man, and Selection in Relation to Sex. Buku tersebut merupakan buku kedua Darwin tentang teori evolusi. Buku pertama adalah The Origin of Species  yang terbit pada tahun 1859. The Descent of Man merupakan buku yang membahas lebih dalam tentang evolusi manusia, termasuk di dalamnya perkembangan psikologi manusia, perkembangan perilaku, keragaman ras manusia, perbedaan sekskualitas, peran wanita yang lebih dominan dalam pemilihan pasangan, dan hubungan antara teori evolusi dengan kehidupan sosial.

Darwin berpendapat bahwa manusia merupakan perkembangan dari hewan yang lain (dalam klasifikasi makhluk hidup, manusia masuk dalam Kerajaan/Kingdom Hewan). Darwin membandingkan struktur anatomi hewan dengan struktur anatomi tubuh manusia. Pengamatan Darwin dimulai dari saat struktur tubuh masih berwujud embrio. Walaupun demikian, cara penelitiaan dan pendapat Darwin ini mendapat tentangan dari Russel Walace, seseorang yang justru membantu Darwin dalam penyusunan buku The Origin of Species.

Dalam buku The Descent of Man, Darwin berspekulasi bahwa manusia diturunkan dari kera yang masih memiliki otak kecil, namun sudah dapat berjalan tegak. Tangan dari kera kecil tersebut telah dapat digunakan untuk keperluan selain berjalan. Dalam pikiran Darwin, kera yang dimaksud mungkin berasal dari Afrika.

Mengapa kera Afrika? Ternyata, objek penelitian Darwin adalah kera Afrika (mungkin simpanse/Pan sp) yang berada di Kebun Binatang London. Dari pengamatan terhadap kera Afrika, Darwin beranggapan bahwa mungkin sekali nenek moyang manusia modern berasal dari Afrika mengingat di Afrika terdapat simpanse dan gorila, dua hewan yang memiliki kekerabatan sangat dekat dengan manusia modern. Anggapan ini merupakan lanjutan dari teori evolusinya, yang menyatakan bahwa mungkin sekali suatu spesies yang masih hidup di suatu wilayah (terutama dari kelas Mamalia) memiliki kekerabatan yang dekat dengan salah satu spesies yang berevolusi di wilayah tersebut.

Ernst Haeckel, seorang ahli biologi Jerman ternyata tidak sependapat dengan Darwin. Haeckel berpendapat  justru perilaku manusia lebih erat dengan primata dari Asia Tenggara (mungkin orang utan/Pongo sp). Pendapat Haeckel ini memang menarik karena hubungan kekerabatan manusia (Homo sapiesns) dengan orang utan ternyata tidak jauh. Manusia dan orang utan masih satu famili Hominidae. Kode DNA keduanya pun memiliki tingkat kesamaan hingga 96,4%. Demikian dengan simpanse yang masih termasuk dalam famili Hominidae dan memiliki tingkat kesamaan kode DNA dengan manusia hingga 94%.

Out of Africa merupakan istilah yang dikemukakan oleh Darwin berdasarkan hasil pengamatannya terhadap kera Afrika. Teori evolusi memang dapat diterima oleh banyak ilmuwan, namun konsep evolusi manusia dan konsep Out of Africa yang dicetuskan darwin masih sangat spekulatif. Kerangka yang telah ditemukan saat The Descent of Man terbit adalah kerangka Neandethal dari Eropa (tahun 1856, ditemukan di Jerman oleh Johan Carl Fuhlott). Konsep Out of Africa perlahan mulai menguat ketika beberapa temuan kerangka manusia purba ditemukan di wilayah Afrika beberapa puluh tahun kemudian.

Penelitian Genetika Untuk Mengungkap Asal-Usul Manusia Modern

Perkembangan teknologi mikrobiologi dan penentuan penanggalan berdasar sisa karbon (carbon dating) memungkinkan para ilmuwan meneliti kode DNA dari beberapa kerangka yang telah ditemukan. Pada tahun 1987,  Allan Wilson, Rebecca Cann, dan Mark Stoneking mempublikasikan hasil penelitian mereka yang berfokus pada mitochondrial DNA (mtDNA), yaitu gen yang duduk di sel tapi tidak dalam inti, dan diwariskan dari ibu ke anak. Hasil penelitian mereka adalah  "Mitochondrial Eve" hypothesis. Sampel mtDNA diambil dari beberapa kerangka yang ditemukan di Afrika.

Dari perbandingan mtDNA yang ada diteliti, Wilson dkk dapat memperkirakan waktu dan tempat manusia modern berevolusi untuk pertama kalinya. Sampel mtDNA yang diteliti juga diperbandingkan dengan sampel mtDNA simpanse. Ternyata mtDNA manusia lebih beragam daripada simpanse. Wilson juga menyimpulkan bahwa ras manusia modern berkembang dari suatu populasi dimana spesies yang lebih tua yaitu Homo neandertals dan Homo erectus telah punah sebelumnya. Wilson, dkk. membandingkan mtDNA dari berbagai ras manusia saat ini. Wilson dkk menyimpulkan bahwa seluruh manusia modern sangat mungkin sekali berasal dari seorang wanita, yang diberi istilah “ibu yang beruntung” (lucky mother), yang berasal dari Afrika dan hidup kurang lebih 150.000 tahun yang lalu.

Seorang ilmuwan dari Jerman, yaitu G. Brauer memublikasikan hasil dari analisis morfologi beberapa kerangka yang ditemukan di Afrika dan Eropa. Dari hasil analisis morfologi ini, ia mengembangkan sebuah hipotesa Afro-Eruopean-sapiens, disebut juga dengan African hybridization and replacement model. Brauer berpendapat, pada masa Pleistosin tengah (126.000 – 781.000 tahun yang lalu) dan Pleitosin atas (11.700 – 126.000 tahun yang lalu) terjadi proses evolusi pada Homo sapiens purba (archaic Homo sapiens) yang menghasilkan Homo sapiens. Proses ini berlangsung di Afrika.

Disebut sebagai Afro-European-Sapiens karena diperkirakan Homo sapiens yang telah berevolusi di Afrika ini merupakan juga nenek moyang dari Homo sapiens yang ada di Eropa. Homo sapiens yang berasal dari Afrika  diperkirakan bermigrasi ke Eropa melalui Timur Tengah dengan jalur dari dari Afrika Utara sub Sahara, menuju ke daerah sekitar Tanduk Afrika dekat Hulu Sungai Nil, dan kemudian menyeberangi Laut Merah untuk kemudian sampai di Timur Tengah. Atau bisa juga dari Afrika utara langsung menuju Palestina.

Kerangka-kerangka yang ditemukan di daerah Afrika sub Sahara hingga Timur tengah memang mengarah pada kesimpulan adanya migrasi Homo sapiens karena perkiraan usia kerangka yang berurutan. Dimulai dari kerangka Omo 1 dan Omo 2 yang ditemukan oleh Richard Leakey di Ethiopia (pada 1967). Keduannya diperkirakan berusia 190.000 tahun. Kemudian Tim White menemukan kerangka Herto remains yang berusia 160.000 tahun, juga di Ethiopia (1997). Kerangka Herto Remains ini merupakan spesies Homo sapiens idaltu.

Selanjutnya, empat kerangka spesies Homo sapiens ditemukan di Maroko (1991) dan diperkirakan berusia 160.000 tahun. Kerangka yang lebih muda berusia 90.000 – 100.000 tahun ditemukan di Israel pada 1930 oleh R. Neuville M Stekelis. Kerangka ini dinamakan Qafzeh 6. Beberapa kerangka yang ditemukan berikutnya  di Israel ternyata memilki kisaran usia yang hampir sama atau lebih muda dari Qafzeh 6, yaitu kerangka Qafseh IX (90.000 – 100.000 tahun), Qafzeh VI (90.000 – 100.000 tahun), Skhul V (80.000 – 120.000 tahun), Skhul IX (80.000 – 120.000 tahun). Keempat kerangka tersebut ditemukan oleh T. McCwon dan H. Movius Jr pada tahun 1933.

Di antara temuan kerangka beberapa spesies Homo sapiens, ternyata di Israel ditemukan pula kerangka Homo neanderthalensis. Perkiraan usia kerangka ini adalah 120.000 tahun. Ditemukan oleh Arthur Jelinek pada 1967 dan dinamakan Tabu C1. Adanya temuan kerangka Homo neanderthalensis di Israel yang memiliki usia tidak jauh dari kerangka Homo sapiens menguatkan dugaan kemungkinan terjadinya hibridasi antara Homo sapiens dan Homo neanderthalensis, dan bisa juga populasi Homo sapiens yang meningkat menyebabkan Homo neandherthalensis terdesak. Konsep ini oleh Brauer disebut African hybridization and replacement model.

Migrasi

Teori Out of Africa didukung oleh penemuan kerangka-kerangka Homo sapiens di beberapa tempat yang tersebar di seluruh dunia. Berdasar perkiraan usia masing-masing kerangka, para ahli dapat menyusun suatu kronologi perkembangan Homo sapiens. Bukanlah suatu kebetulan jika tempat-tempat penemuan kerangka Homo sapiens tersebut disusun secara kronologis, ternyata membentuk suatu alur yang berurutan. Nampaknya alur berurutan ini mengindikasikan alur migrasi Homo sapiens ketika keluar dari Afrika hingga menyebar ke seluruh dunia.

Homo sapiens diperkirakan mulai bermigrasi dari Afrika utara menuju Afrika selatan sekitar 120.000 tahun yang lalu. Homo sapiens juga mulai bermigrasi keluar dari Afrika menuju daerah Israel sekitar 100.000 tahun yang lalu, seperti yang telah disebutkan oleh Brauer dalam konsep Afro-European-Sapiens dan African hybridization and replacement model. Sekitar 70.000 hingga 50.000 tahun yang lalu, migrasi Homo sapiens telah mencapai Jazirah Arab dan sekitar Timur Tengah lainnya. Lalu, 50.000 hingga 30.000 tahun yang lalu migrasi Homo sapiens telah sampai ke Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Australia.

Kurang lebih sekitar 70.000 tahun yang lalu, sekelompok Homo sapiens telah sampai di daerah Jazirah Arab. Sebelumnya mereka bergerak dari daearh Afrika bagian timur, atau yang sekarang disebut sebagai Tanduk Afrika (Etiopia, Somalia, dan Sudan). Berdasarkan kronologi usia kerangka yang ditemukan, mungkin sekali migrasi ini adalah gelombang pertama dari pergerakan “Out of Africa”. Namun bukti artefak alat-alat batu yang ditemukan di Uni Emirat Arab justru mengindikasikan bahwa telah ada Homo sapiens 100.000 hingga 125.000 tahun yang lalu.

Mungkin hanya ada beberapa Homo sapiens saja yang benar-benar meninggalkan Afrika, dan kemudian beberapa kelompok Homo sapiens ini menyebar ke seluruh dunia. Dari sekitar maksimal 5000 jumlah populasi yang ada di Afrika, mungkin hanya sekitar 150 hingga maksimal 1000 orang yang meninggalkan Afrika menuju Timur Tengah.

Mengenai alur keluar dari Afrika, para ilmuwan menawarkan dua model, yaitu model alur migrasi menyeberangi Laut Merah, dimana titik paling dekat antara daratan Afrika dan daratan Asia terletak tidak jauh dari wilayah Tanduk Afrika. Model kedua adalah model alur migrasi dari Afrika Utara melewati Pegunungan Sinai dan sampai di Israel sebagai daerah Asia yang pertama dipijak. Model yang kedua ini sangat mungkin mengingat frekuensi temuan kerangka Homo sapiens di Israel lebih banyak daripada yang ditemukan di Jazirah Arab. Secara kronologi perkiraan usia, kerangka-kerangka yang ditemukan di Israel juga lebih muda dan tidak terlalu terpaut jauh dari kerangka-kerangka yang ditemukan di Maroko.

Dua model alur migrasi Homo sapiens keluar dari Afrika sebenarnya dapat diterima seluruhnya. Bisa juga dua model alur migrasi ini adalah dua cabang awal dari Out of Africa. Model pertama, yang sejalan dengan konsep Afro-European-Sapiens kiranya dapat untuk menjelaskan asal-usul Homo sapiens yang sekarang mendiami Eropa, Asia Kecil, Asia Timur dan Kepulauan Jepang, hingga Amerika Utara dan Amerika Selatan. Sementara itu, model kedua adalah alur migrasi yang mengikuti pesisir, mulai dari Jazirah Arab, Asia Selatan, Semenanjung Malaya, hingga Kepualauan Indonesia, dan berakhir di Australia.

Punahnya Homo Neanderthalensis dan Homo Erectus

Pembahasan teori Out of Africa tidak dapat dilepaskan dari beberapa spesies manusia yang telah ada sebelum Homo sapiens, terutama Homo neanderthalensis dan Homo erectus. Keberadaan dua spesies ini di bumi ada di beberapa tempat. Beberapa kerangka bemiliki usia yang lebih tua dan bahkan ada yang hampir sama dengan saat Homo sapiens muncul pertama kali.
Homo neanderthalensis dan Homo erectus pernah hidup satu zaman dengan Homo sapiens. Bahkan kerangka Homo erectus paling muda, berumur 27.000 atau hingga 53.000 tahun yang lalu, ditemukan di Indonesia. Ini merupakan suatu hal yang menarik, mengingat sekitar 50.000 tahun yang lalu Homo sapiens kemungkinan telah bermigrasi hingga Australia, termasuk melewati kepulauan Indonesia.

Homo neanderthalensis hampir ditemukan di seluruh daratan Eropa, namun kemudian punah. Kerangka Homo neanderthalensis yang paling muda berumur sekitar 30.000 tahun. Mungkin sekali Homo neanderthalensis mengalami proses kepunahan sejak 30.000 hingga 25.000 tahun yang lalu.

Para ilmuwan menawarkan tiga sebab kepunahan spesies neanderthalensis. Sebab pertama adalah karena perubahan iklim, sebab kedua adalah karena persinggungan dengan Homo sapiens (African hybridization and replacement model), dan yang ketiga karena bencana letusan gunung berapi sekitar 40.000 tahun yang lampau di Eropa. Ketiga sebab ini bisa menjadi saling terkait maupun berdiri sendiri. Namun suatu pandangan umum dari punahnya neanderthalensis bisa jadi karena spesies neanderthalensis tidak lebih unggul dari Homo sapiens karena Homo sapiens pun mengalami juga perubahan iklim dan bencana letusan gunung berapi yang sama di Eropa.

Punahnya Homo erectus tidak dapat dipastikan secara umum, mengingat luasnya cakupan wilayah tempat ditemukannya kerangka Homo erectus, di samping pula terdapat rentang waktu yang cukup panjang 1.800.000 hingga 27.000 ribu tahun yang lalu, saat Homo erectus masih ada di bumi. Namun, para ilmuwan meyakini bahwa Homo erectus masuk dalam suatu rantai evolusi manusia purba hingga menjadi manusia modern, walau tidak secara langsung berevolusi menjadi Homo sapiens (terdapat rantai evolusi yang putus, yang sering disebut “missing link” antara Homo erectus dan Homo sapiens).

Sekali lagi penelitian genetika memberikan kontribusi yang luar biasa dalam penelusuran asal-usul manusia modern di bumi. Walau telah mendiami bumi dalam cakupan wilayah yang luas sebelum dan hingga hampir bersamaan dengan Homo sapiens, ternyata Homo neanderthalensis dan Homo erectus tidak memberikan/mewariskan unsur genetika pada Homo sapiens. Jadi manusia modern (Homo sapiens) bukanlah keturunan dari manusia neanderthal maupun Homo erectus. Hasil penelitian genetika inilah yang semakin menguatkan bahwa manusia modern memang berasal-usul dari Afrika.

Manusia modern di Indonesia

Sebelum ditempati oleh manusia modern Homo sapiens, Indonesia ternyata lebih dahulu ditempati spesies manusia lain yang lebih tua, yaitu Homo erectus. Memang tidak ditemukan kerangka Homo sapiens yang berusia 20.000 hingga 50.000 tahun (beberapa kerangka Homo sapiens yang ditemukan memiliki usia 10.000 atau mungkin lebih muda). Namun, kepulauan Indonesia dianggap dilintasi oleh migrasi Homo sapiens dari salah satu cabang utama yang berakhir di Australia. Mereka kini adalah orang-orang Aborigin yang memilki beberapa kemiripan dengan orang-orang Afrika, pun demikian dengan orang-orang yang mendiami kepulauan Pasifik termasuk pula Papua.

Melalui teori Out of Africa, para ilmuwan paleoantropologi dan arkeologi jelas dapat membantan pendapat M. Yamin yang mengatakan bahwa manusia Indonesia berasal dari Indonesia sendiri. Penemuan beberapa kerangka Homo erectus, yang pada kuarter kedua abad 20 merupakan suatu hal yang luarbiasa, merupakan dasar dari pendapat M. Yamin. Namun, seiring penemuan-penemuan rangka Homo erectus dan Homo sapiens di tahun-tahun selanjutnya, asal-usul manusia di Indonesia menjadi lebih terang dan ternyata menjadi bagian dari proses migrasi besar manusia.

Lalu, mengapa ciri-ciri fisik (terutama warna kulit dan postur tubuh) orang-orang Papua berbeda dengan orang-orang di Sumatera maupun Kalimantan. Orang papua termasuk dalam Ras Negroid (ras yang sama dengan orang-orang Afrika), dan masuk dalam bangsa Melanesia. Sedang orang-orang Sumatera maupun Kalimantan (dan juga Jawa dan Sulawesi) termasuk dalam Ras Mongoloid, dan masuk dalam bangsa Melayu.

Munculnya orang-orang yang mendiami Indonesia bisa disebut bergelombang. Gelombang pertama merupakan migrasi Homo sapiens yang termasuk dalam salah satu cabang utama migrasi Out of Africa. Homo sapiens dari migrasi cabang utama mempunyai morfologi yang sangat mirip dengan Homo sapiens yang ada di Afrika. Gelombang selanjutnya adalah gelombang migrasi dari cabang yang lebih kecil. Kelompok Homo sapiens ini bermigrasi dari daerah Asia Timur bagian selatan (mendekati Asia Tenggara). Mungkin sekali pada kisaran 9.000 hingga 7.000 tahun yang lalu. Homo sapiens yang dari migrasi ini masuk dalam Ras Mongoloid. Ras Mongoloid juga tersebar hingga Amerika Utara (Bangsa Eskimo) dan Amerika Selatan.

Para migran gelombang dua ini tidak lagi berkebudayaan batu, namun mungkin sekali telah mengenal sistem bercocok tanam dan peralatan logam. Manusia-manusia dari gelombang kedua ini diperkirakan juga membawa kebudayaan pertanian padi (Oryza sativa), suatu tanaman pangan utama Ras Mongoloid.

Tampaknya memang benar pendapat bahwa nenek moyang orang Indonesia berasal dari Asia Timur bagian selatan (mendekati Asia Tenggara). Namun pendapat ini sangat tidak lengkap mengingat telah ada orang-orang Ras Negroid di Papua yang lebih dahulu mendiami bagian timur Kepulauan Indonesia. Orang-orang Papua ternyata memang keturunan langsung dari orang-orang Afrika yang mulai bermigrasi meninggalkan Afrika sekitar 120.000 tahun yang lalu. Melalui penelusuran asal-usul manusia di Indonesia, kita berharapa dapat mengetahui dan memahami penyebab keragaman manusia-manusia di Indonesia.