Kita tidak akan pernah mampu membayangkan bagaimana perasaan Rasulullah saat pertama kalinya wahyu diturunkan kepada beliau. Saat Malaikat Jibril menyampaikan wahyu yang diturunkan Allah Swt, Rasulullah terkejut dan ketakutan ketika ditampakkan sosok Malaikat Jibril. Beliau pun merasa berat dalam menerima wahyu tersebut sehingga Jibril harus mengulangi wahyu tersebut berkali-kali hingga Rasulullah sanggup untuk menerimanya. Nah,. artikel ini akan mengulas lebih jauh tentang Nuzulul Qur'an. Berikut ini ulasan lengkapnya.

Pengertian Nuzulul Qur’an

Dalam ayat-ayat Al-Qur’an, sering kita menemukan kata-kata seperti nuzul (نزول) yang berarti 'turun', inzal (إنزال) yang berarti 'menurunkan', tanazzul (تنزّل) yang berarti 'hal turun', tanzil (تنزيل) yang berarti 'proses penurunan', dan munazzal (منزّل) yang berarti 'yang diturunkan'. Arti kata yang telah disebutkan tadi merupakan makna dasar atau harfiah. Untuk memahaminya lebih lanjut, kita harus mengurai makna secara etimologis.

Menurut Az-Zarqani, kata nuzul di-ta’wil-kan dengan kata i’lam yang bukan lagi bermakna perpindahan Al-Qur’an dari atas ke bawah atau dari Allah Swt kepada para penghuni langit dan bumi. Akan tetapi, bermakna pemberitahuan dan penyampaian ajaran yang terkandung dalam Al-Qur’an. Secara etimologis, Asbabun Nuzul berarti sebab musabab yang melatarbelakangi sesuatu. Oleh karena itu, Asbabun Nuzul didefinisikan sebagai sesuatu hal yang menjadi sebab diturunkannya suatu ayat Al-Qur’an yang bertujuan untuk menjelaskan status hukum suatu peristiwa atau pertanyaan.

Berdasarkan tarikh Islam, wahyu Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw pada 17 Ramadhan. Ketika itu, Nabi Muhammad sedang menyepi (khalwat) di Gua Hira yang terletak 2 kilometer dari Kota Mekkah. Nabi Muhammad menerima wahyu pertama pada usia 40 tahun. Selanjutnya, wahyu-wahyu berikutnya diturunkan oleh Allah Swt kepada Rasulullah selama 22 tahun 2 bulan 2 hari.

Menurut para ulama, malam kemuliaan berarti malam Lailatul Qadr. Wahyu yang pertama diturunkan adalah surah Al Alaq ayat 1-5.

Cara Turunnya Wahyu Al-Qur’an

Dilihat dari sudut pandang filosofis dan teologis, Nuzulul Qur’an atau proses turunnya Al Qur’an melalui 3 tahapan, yaitu sebagai berikut.

1. Al-Qur’an Diiturunkan Sekaligus ke Lauh Mahfuzh oleh Allah Swt

Lauh Mahfuzh merupakan Ummu al-Kitab, Kitabbim Maknuun, dan Kitabbim Mubiin. Lauh Mahfuzh adalah tempat seluruh hukum, ketetapan, dan kepastian Allah Swt bagi alam semesta. Makna kata ‘tempat’ di sini bukanlah seperti yang ada dalam akal pikiran manusia, yaitu berbentuk seperti buku dalam alam manusia. Perwujudan yang sebenarnya dari Lauh Mahfuzh bersifat ghaib. Dalam ayat-ayat Al-Qur’an, manusia hanya diberikan sedikit gambaran bahwa Lauh Mahfuzh adalah induk kitab yang bertugas untuk mengatur dan memelihara alam semesta.

2. Al-Qur’an Diturunkan Sekaligus dari Lauh Kahfuzh ke Bait Al ‘izzah (Langit Dunia) pada Malam Lalatul Qadr

Al-Qur’an diturunkan pada malam kemuliaan, yaitu pada malam Laylatul Qadr. Malam Laylatul Qadr merupakan malam yang dipenuhi kemuliaan dan kebesaran karena pada malam inilah wahyu Al Qur’an pertama kali diturunkan.

Malam yang diberkahi adalah malam saat wahyu pertama kali diturunkan, yaitu malam tanggal 17 Ramadhan.

3. Al-Qur’an Dturunkan Bertahap atau Berangsur-angsur dari Bait Al ‘izzah Melalui Perantara Malaikat Jibril kepada Rasulullah

Beberapa ayat Al-Qur’an diturunkan dengan memiliki Asbabun Nuzul, yaitu jika ada pertanyaan yang dilontarkan oleh seseorang atau untuk membenarkan tindakan Nabi Muhammad saw atau karena ada peristiwa yang melatarbelakanginya. Namun, banyak juga ayat Al-Qur’an yang diturunkan tanpa memiliki Asbabun Nuzul berupa pertanyaan dan peristiwa.

Tata Cara Turunnya Wahyu kepada Nabi Muhammad Saw

Seperti yang kita ketahui bahwa wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril. Dalam proses turunnya wahyu dari Jibril kepada Rasulullah, keduanya memiliki jenis wujud yang berbeda. Oleh karena itu, ada dua pendapat mengenai ini. Berikut ini pendapatnya.

  • Rasulullah yang berada dalam bentuk manusia, beralih ke dalam bentuk malakiyah dan mengambil wahyu dari Malaikat Jibril dalam bentuk malakiyah.
  • Malaikat Jibril bertukar wujud dan mengambil bentuk manusia, lalu menyampaikan kalam Allah Swt kepada Rasulullah.

Dari kedua pendapat ini, pendapat yang diterima secara luas adalah pendapat kedua. Dalam terjemah kitab Al-Itqon Fi Ulumul Qur‘an, para jumhur ulama mengemukakan bahwa ada tata cara dalam proses turunnya wahyu, yaitu sebagai berikut.

  • Saat Malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad saw seperti gemerincing lonceng.
  • Wahyu Kalamullah dihembuskan oleh Malaikat Jibril ke dalam dada Nabi Muhammad saw.
  • Saat menurunkan wahyu, Malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad saw dalam bentuk manusia.
  • Malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad saw saat beliau sedang terlelap tidur.
  • Saat Nabi Muhammad saw sadar dan terbangun, barulah Malaikat Jibril mengajak beliau berbicara.

Hikmah Diturunkannya Wahyu kepada Nabi Muhammad SAW secara Bertahap atau Berangsur-angsur

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Kalamullah diturunkan kepada Nabi Muhammad secara berangsur-angsur. Apakah hikmah yang terkandung di proses Nuzulul Qur’an ini? Terutama karena Al-Qur’an adalah kitab yang paling mulia hingga kandungan isinya tidak akan habis digali sampai akhir zaman.
Menurut As-Sakhawi dalam buku Jamlul Qurra’, dikemukakan bahwa hikmah diturunkannya Kalamullah secara sekaligus ke Lauh Mahfuzh dan ke bait Al ‘izzah (langit dunia) merupakan suatu bentuk pengagungan terhadap Al-Qur’an dan pengagungan terhadap manusia yang akan menerima wahyu tersebut. Suatu bentuk pemuliaan dan penghormatan terhadap kedudukan para keturunan Adam di hadapan malaikat. Selain itu, untuk mengumumkan kepada seluruh penghuni langit bahwa Al-Qur’an merupakan kitab terakhir yang akan diturunkan kepada nabi penutup yang diutus kepada umat manusia. Oleh karena itu, saat menurunkan Surat Al An’am, Allah Swt mengirimkan 77.000 malaikat untuk mengiringi surat ini.

Kenapa Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad saw? Hal ini disebabkan kandungan Al-Qur’an melebihi kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Selain itu, ada beberapa hikmah yang terkandung dalam proses ini, yaitu sebagai berikut.

  • Agar hati Rasulullah menjadi lebih kuat dan kokoh dengan diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur.
  • Akan memudahkan kaum muslimin yang ketika itu buta huruf sehingga mereka akan secara bertahap pula dalam mempelajari, menghafal, dan menjelaskan makna ayat-ayat Al-Qur’an serta mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
  • Proses Nuzulul Qur’an secara bertahap ini juga merupakan bagian dari sunatullah yang berlaku, yaitu segala sesuatu harus terjadi dari hal kecil menjadi hal besar, dari jumlah yang sedikit menjadi banyak, dan lain-lain. Segala sesuatu terjadi secara bertahap untuk melancarkan proses penerimaan dan menghasilkan manfaat yang diharapkan.

Al-Qur’an diturunkan ke dunia untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin dan sebagai penyempurna terhadap kitab-kitab sebelumnya. Diturunkannya Al-Qur’an secara bertahap sedikit banyak menguntungkan umat manusia agar seluruh hukum, ketetapan, informasi, dan hikmah yang terkandung di dalamnya dapat diterima secara baik dan diimplementasikan dalam kehidupan dengan sebenar-benarnya. Maha Besar Allah.

Semoga penjelasan yang disampaikan bermanfaat bagi Anda.