Berdasarkan periodisasi sastra yang digagas Rahmat Djoko Pradopo, kesusastraan Indonesia modern dimulai pada pada tahun 1920. Sejak saat itu, periode tertentu yang melahirkan karya sastra disebut dengan angkatan. Angkatan tersebut dimulai dengan angkatan Balai Pustaka pada tahun 1920. Pada saat itu, corak karya sastra masih dipengaruhi oleh karya sastra Melayu.

Karya sastra yang penting dalam angkatan 20–30-an, antara lain novel-novel Azab dan Sengsara, Sitti Nurbaya, Katak Hendak Jadi Lembu, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, maupun Layar Terkembang. Azab dan Sengsara merupakan novel pertama pada angkatan 20-an sekaligus menjadi novel pertama di Indonesia. Sementara itu, puncak novel angkatan 20-an adalah Sitti Nurbaya. Sedangkan puncak angkatan 30-an adalah novel Layar Terkembang.

Karya sastra pada angkatan tersebut memang didominasi oleh novel. Novel-novel pada angkatan 20-an masih menceritakan kebiasaan, adat, dan etika pada saat itu. Kebiasaan adalah aktivitas atau kegiatan yang biasa dikerjakan seseorang atau masyarakat di dalam novel tersebut, seperti pada novel Layar Terkembang. Di dalam novel angkatan 20-an juga banyak diceritakan berbagai aturan atau adat yang lazimnya harus dituruti dan dilakukan sejak zaman dahulu, seperti perjodohan dan lain sebagainya. Hal tersebut dapat dilihat pada novel Katak Hendak Jadi Lembu dan Sitti Nurbaya.

Seiring berkembangnya zaman dan periode sastra dari satu angkatan ke angkatan lainnya, novel pada setiap periode memiliki ciri khas tersendiri. Untuk dapat mengidentifikasi novel-novel pada setiap angkatan, perlu diketahui terlebih dahulu unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel pada angkatan 20—30-an dan masa kini.

Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel Indonesia Angkatan 20—30-an

Ciri-ciri unsur intrinsik novel pada angkatan 20–30-an adalah sebagai berikut.

  1. Gaya bahasa yang digunakan masih berupa perumpamaan klise, pepatah, dan peribahasa. Contoh pada kutipan berikut.

Alangkah elok parasnya anak perawan ini, tatkala berdiri sedemikian! Seakan-akan dagang yang rawan, yang bercintakan sesuatu, yang tak mudah diperolehnya. Pipinya sebagai pauh dilayang, yang kemerah-merahan warnanya kena bayang baju dan payungnya, bertambah merah rupanya, kena panas matahari. Apabila ia tertawa, cekunglah kedua pipinya, menambahkan manis rupanya; istimewa pula karena pada pipi kirinya ada tahi lalat yang hitam. Pandangan matanya tenang dan lembut, sebagai janda baru bangun tidur. Hidungnya mancung, sebagai bunga melur, bibirnya halus, sebagai delima merekah, dan di antara kedua bibir itu kelihatan giginya, rapat berjejer, sebagai dua baris gading yang putih. Dagunya sebagai lebah bergantung, dan pada kedua belah cuping telinganya kelihatan subang perak, yang bermatakan berlian besar, yang memancarkan cahaya air embun. Di lehernya yang jenjang, tergantung pada rantai emas yang halus, sebuah dokoh hati-hati, yang bermatakan permata delima. (Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai, Marah Roesli, Balai Pustaka, 1988)

  1. Sebagian besar novel pada angakatan ini menggunakan alur lurus.
  2. Pusat pengisahan menggunakan metode sudut pandang orang ketiga. Contoh pada kutipan berikut.

Gadis berdua itu adik dan kakak, hal itu terang kelihatan pada air mukanya. Meskipun muka yang tua, yang tegap perawakannya, agak bulat sedikit dan muka yang muda agak kepanjang-panjangan oleh karena ramping dan kecil badannya, garis mulut, hidung, dan teristimewa mata keduanya nyata membayangkan persamaan yang hanya terdapat pada orang berdua bersaudara. Tuti yang tertua antara dua saudara itu, telah dua puluh lima tahun usianya, sedang adiknya Maria baru dua puluh tahun. Mereka ialah anak Raden Wiriaatmaja, bekas wedana di daerah Banten, yang pada ketika itu hidup dengan pensiunnya di Jakarta bersama-sama kedua anaknya itu. Maria masih murid H.B.S. Carpentier Alting Stichting kelas penghabisan dan Tuti menjadi guru pada sekolah H.I.S. Arjuna di Petojo. (Layar Terkembang, Sutan Takdir Alisjahbana, Balai Pustaka, 1989)

  1. Bersifat didaktik, yakni pengarang memberi nasihat secara eksplisit di dalam cerita. Contoh pada kutipan berikut.

Ketahuilah olehmu, Samsu, walaupun di dalam dunia ini dapat kita memperoleh kesenangan, kesukaan, kekayaan, dan kemuliaan, akan tetapi dunia ini adalah mengandung pula segala kesusahan, kesengsaraan, kemiskinan, dan kehinaan yang bermacam-macam rupa dan bangunnya, tersembunyi pada segala tempat, mengintip kurbannya setiap waktu, siap akan menerkam, barang yang dekat kepadanya. (Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai, Marah Roesli, Balai Pustaka, 1988)

  1. Sebagian besar novel bercorak romantis.

”Nur! Bagiku, asal bersama-sama dengan engkau, tiadalah aku akan mengantuk dan lelah. Biarpun sampai pagi kita begini saja, maulah aku; itulah kehendak hatiku. Tak dapatlah kukatakan bagaimana perasaan dalam kalbuku waktu ini; tak dapat kuceritakan betapa senang hatimu malam ini, melainkan Tuhanlah yang lebih mengetahuinya. Telah lama kucita-citakan pertemuan yang sedemikian ini; baru sekarang kuperoleh, sebagai kata pantun komidi: Tinggi-tinggi si matahari, akan kerbau terlambat. Sekian lama aku mencari, baru sekarang aku mendapat. Sungguhpun kebesaran dan kesenangan hatiku ini takkan seberapa lama, tetapi tak mengapa, karena sekarang kuketahuilah sudah, bahwa engkau pun cinta padaku. Kini tiadalah syak dan wasangka lagi aku akan meninggalkan kota Padang ini, untuk menjelang negeri orang, Nurbaya!” kata Samsu pula, sambil memeluk Nurbaya. (Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai, Marah Roesli, Balai Pustaka, 1988)

Sedangkan ciri-ciri unsur ekstrinsik novel pada angkatan 20-30-an adalah sebagai berikut.

  1. Masalah yang biasa diangkat kebanyakan tentang adat, terutama adat kawin paksa.
  2. Pertentangan paham antara kaum tua yang konservatif dengan kaum muda yang lebih modern. Contoh pada kutipan berikut.

Pangkalnya dari Hanafi juga. Ia berkata ”kaum muda”. Pakaian mempelai secara yang masih dilazimkan sekarang di negerinya, yaitu pakaian secara zaman dahulu, disebutkannya ”anak komidi Stambul”. Jika ia dipaksa memakai secara itu, sukalah ia urung saja, demikian katanya dengan pendek. Setelah timbul pertengkaran di dalam keluarga pihaknya sendiri akhirnya diterimalah, bahwa ia memakai ’smoking’ yaitu jas hitam, celana hitam dan berompi dan berdasi putih. Tapi waktu hendak menutup kepalanya sudah berselisih pula. Dengan kekerasan ia menolak pakaian destar saluk, yaitu pakaian orang Minangkabau. Bertangisan sekalian perempuan, meminta supaya ia jangan menolak tanda keminangkabauan yang satu itu, yaitu selama beralat saja. Jika peralatan sudah selesai, bolehlah ia memakai sekehendak hatinya pula. Hanafi tetap menolak kehendak orang, ia tidak hendak menutup kepala, karena lebih gila pula dari komidi, bila memakai destar, saluk dengan baju smoking dan dasi. Setelah ibunya sendiri hilang sabarnya dan memukul-mukul dada di muka anak yang ’terpelajar’ itu, barulah Hanafi menurutkan kehendak orang banyak, sambil mengeluh dan teringat akan badannya yang sudah … ’tergadai’. (Salah Asuhan, Abdul Moeis, Balai Pustaka, 2004)

  1. Latar kedaerahan yang masih kuat. Contoh pada kutipan berikut.

Kira-kira pukul satu siang, kelihatan dua orang anak muda, bernaung di bawah pohon ketapang yang rindang, di muka sekolah Belanda Pasar Ambacang di Padang, seolah-olah mereka hendak memperlindungkan dirinya dari panas yang memancar dari atas dan timbul dari tanah, bagaikan uap air yang mendidih. Seorang dari anak muda ini, ialah anak laki-laki, yang umurnya kira-kira 18 tahun. Pakaiannya baju jas tutup putih dan celana pendek hitam, yang berkancing di ujungnya. Sepatunya sepatu hitam tinggi, yang disambung ke tas dengan kaus sutera hitam pula dan diikatkan dengan ikatan kaus getah pada betisnya. Topinya topi rumput putih, yang biasa dipakai bangsa Belanda. Di tangan kirinya ada beberapa kitab dengan sebuah peta bumi dan dengan tangan kanannya dipegangnya sebuah belebas, yang dipukul-pukulkannya ke betisnya. (Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai, Marah Roesli, Balai Pustaka, 1988)

Unsur-unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel Angkatan Masa Kini

Setelah memahami unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik yang menjadi ciri khas novel pada angkatan 20—30-an, berikut unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel pada angkatan angkatan masa kini sebagai perbandingan.

Ciri-ciri intrinsik novel masa kini adalah sebagai berikut.

  1. Alur yang digunakan cenderung berbelit-belit.
     
  2. Gaya bahasa bebas. Contoh pada kutipan berikut.
    Ketika sang kakek–ayah dari ayah–mengetahui bahwa bayi yang dalam kandungan akan diberi nama Sapari kalau laki-laki dan Sapariah kalau perempuan, kakek keberatan dengan kata ‘sapar’. Katanya, Sudah pasti anak itu lahir tidak di bulan Sapar!” Dengan malu-malu sang calon ayah menjawab,Memang tidak diambil dari bulan lahirnya. Tapi bulan jadinya.” Ayah itu lalu menghitung dengan jarinya dan mengucapkan dengan mulutnya, ”Sapar, Mulud, Bakda-Mulud, Jimawal, ….” kemudian tersenyum sedikit-sedikit dan semakin lebar, mengetahui bahwa anaknya thok-cer, sebab di bulan Sapar juga ia mengawinkan anaknya. (Mantra Pejinak Ular, Kuntowijoyo, Kompas, 2000)
     
  3. Pusat pengisahan menggunakan metode sudut pandang orang ketiga.
    Ketika Abu Kasan Sapari berumur satu tahun, datang kakek-nenek dari pihak ibu dengan dokar yang dibawanya dari desa. Dokar itu berbunyi cring-cring-cring, kudanya besar, sehat, dokarnya penuh hiasan, menandakan pemiliknya orang kaya. Dengan penuh harap mereka turun, kedatangan mereka bermaksud menagih janji: mereka berhak memelihara anak itu setelah berumur setahun …. (Mantra Pejinak Ular, Kuntowijoyo, Kompas, 2000).

Sedangkan ciri-ciri ekstrinsik novel masa kini adalah sebagai berikut.

  1. Mengeksploitasi kehidupan manusia sebagai individu.
     
  2. Mengemukakan kehidupan yang absurd atau mustahil.
     
  3. Digunakannya latar kebudayaan lokal. Contoh pada kutipan berikut.
    Kakek itu adalah juru kunci makam Ronggowarsito di Desa Palar, Klaten. Makam itu sebenarnya sebuah kompleks, karena di situ juga dikuburkan orang-orang besar Surakarta. Ia mewarisi pekerjaan dari ayahnya, ayahnya dari ayahnya, dan seterusnya. Orang yang menjadi juru kunci pertama masih saudara dekat dengan Ronggowarsito. Dengan demikian Abu Kasan Sapari dapat mengaku masih sedarah dengan Sang Pujangga Terakhir. (Mantra Pejinak Ular, Kuntowijoyo, Kompas, 2000).
     
  4. Mengemukakan tuntutan atas hak-hak asasi manusia.