Cerita pendek (cerpen) adalah salah satu jenis karya sastra berbentuk prosa. Cerpen adalah cerita yang mengisahkan sepenggal kehidupan tokoh dan biasanya hanya berfokus pada satu konflik yang dibangun. Cerpen merupakan karya sastra yang mudah ditemukan, baik di media cetak, seperti koran, majalah, buletin, maupun di buku antologi cerpen.

Ciri-ciri cerpen adalah sebagai berikut:

  1. Memiliki satu jalan cerita yang menjadi fokus utama;
  2. Konflik yang terjadi sedikit, bahkan hanya cukup satu;
  3. Bersifat padu, singkat, dan intensif, yakni ceritanya singkat, tidak berbelit-belit, serta tidak melibatkan tokoh yang banyak dalam konflik yang rumit; dan
  4. Isinya lebih pendek dari novel, yaitu tidak lebih dari 5.000 kata. Ada yang menyebut bahwa cerpen dapat habis dibaca dalam satu kali duduk karena isinya yang pendek dan singkat.

Cerpen dapat ditemukan dengan mudah di koran, majalah, dan internet. Kumpulan cerpen yang telah dibukukan dinamakan antologi cerpen. Selain itu, saat ini terdapat cerita yang hampir mirip dengan cerpen namun ditulis lebih singkat, bahkan tidak melebihi 1.000 kata. Cerita tersebut biasa disebut fiksi mini (flash fiction). Meskipun ditulis secara singkat, fiksi mini tetap memiliki cerita yang utuh.

Nilai-nilai dalam Cerpen

Sebagai suatu karya sastra, cerpen tidak terlepas dari unsur-unsur yang membangunnya dari dalam (intrinsik) maupun dari luar (ekstrinsik). Unsur-unsur intrinsik cerpen meliputi tema, amanat, alur, sudut pandang, tokoh dan penokohan, serta latar. Sedangkan unsur ekstrinsik meliputi nilai-nilai yang terkandung di dalam cerpen tersebut.

Nilai-nilai yang terkandung di dalam cerpen terdiri atas berbagai aspek. Nilai-nilai tersebut bersatu di dalam cerpen, baik secara eksplisit maupun implisit. Nilai-nilai tersebut dapat diketahui melalui narasi, dialog, deskripsi latar, tokoh, dan lain sebagainya. Nilai-nilai tersebut terdiri atas nilai agama (religius), nilai moral, nilai sosial, dan nilai budaya.

1. Nilai Agama

Nilai agama adalah nilai-nilai dalam cerpen yang berkaitan dengan aturan atau ajaran yang bersumber dari agama tertentu. Nilai agama dapat diketahui melalui deskripsi tokoh dengan ciri fisik atau simbol-simbol agama tertentu, kutipan atau dalil yang berasal dari kitab suci, atau penggambaran nilai-nilai kehidupan yang dilandasi ajaran agama yang universal, seperti kejujuran, kebaikan, dan lain-lain.

Contoh nilai agama dapat dilihat pada kutipan cerpen berikut:

Karti segera bersujud sebagai ungkapan syukurnya. Tidak disangka, ia akan mendapat berkah yang tak terduga. Selama ini, ia hanya bekerja sesuai kewajibannya tanpa mengharapkan apapun dari Pak Kusumo, majikan barunya. Namun, Karti tidak pernah lelah berdoa dalam setiap sembahyangnya, berdoa agar ia bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci. Hingga doanya terjawab melalui Pak Kusumo.

Pada kutipan cerpen tersebut, terdapat nilai agama yang dapat diambil. Nilai agama meliputi sikap Karti yang selalu rajin berdoa dan tidak lupa bersyukur ketika mendapatkan berkah.

2. Nilai Moral

Nilai moral yaitu nilai-nilai dalam cerpen yang berkaitan dengan akhlak, perangai, atau etika. Nilai moral dapat digambarkan melalui deskripsi tokoh, hubungan antartokoh, dialog, dan lain-lain. Nilai moral dalam cerpen dapat berupa nilai moral yang baik atau buruk.

Contoh nilai moral yang baik dapat dilihat pada kutipan cerpen berikut:

Meskipun baru satu minggu Pak Kusumo tinggal di lingkungan barunya, ia sudah mengunjungi hampir semua warga di sana untuk bersilaturahmi. Meskipun Pak Kusumo tinggal di rumah mewah bekas keluarga Pak Raja yang terkenal sangat sombong dan tidak pernah berbaur dengan warga sekitar.

Pada kutipan cerpen tersebut, terdapat nilai moral yang baik, yaitu akhlak Pak Kusumo yang digambarkan sangat baik, ramah, dan penuh sopan santun kepada warga sekitar yang menjadi tetangganya.

Dulu, rumah mewah itu dihuni keluarga Pak Raja, pengusaha tekstil keturunan India. Pak Raja dan istrinya sama sekali tidak mengenal tetangga. Bahkan, anak tunggalnya yang belakangan diketahui bernama Miranti terkenal sangat sombong jika melewati warga sekitar. Dia tidak pernah senyum, mengucapkan kata permisi, bahkan suka membentak siapa pun yang menghalangi jalannya saat dia mengendarai mobilnya.

Pada kutipan tersebut, terdapat nilai moral yang buruk, yaitu perangai keluarga Pak Raja yang tidak mau mengenal tetangganya. Selain itu, ada juga tokoh Miranti yang digambarkan bersifat sombong kepada warga sekitar.

3. Nilai Sosial

Nilai sosial adalah nilai-nilai yang berkenaan dengan tata pergaulan antarindividu di dalam masyarakat. Nilai sosial ditunjukkan dengan penggambaran hubungan antartokoh di dalam masyarakatnya, baik melalui narasi maupun dialog.

Contoh nilai sosial di dalam cerpen dapat dilihat pada kutipan berikut:

Karti merasa sangat beruntung mendapat majikan seperti Pak Kusumo dan istrinya. Meskipun dia pembantu, tapi Pak Kusumo tidak pernah menganggapnya lebih rendah. Jika seluruh keluarga makan, ia pun ikut makan. Jika melihat Karti sedang dalam kesulitan, maka tidak segan-segan Bu Kusumo melakukan sendiri pekerjaannya tanpa meminta bantuan.

Pada kutipan tersebut, nilai sosial ditunjukkan melalui hubungan antara Pak Kusumo dan Bu Kusumo sebagai majikan dengan Karti sebagai pembantunya. Pak Kusumo digambarkan sebagai majikan yang baik dan tidak pernah menganggap rendah posisi pembantu rumah tangga seperti Karti.

4. Nilai Budaya

Nilai budaya adalah nilai-nilai yang berkenaan dengan kebiasaan, tradisi, atau adat-istiadat yang berlaku pada suatu daerah. Nilai budaya biasanya ditunjukkan dengan penggambaran adat-istiadat, kebiasaan yang berlaku di tempat para tokoh, bahasa dan gaya bicara tokoh yang mencerminkan bahasa tertentu, nilai-nilai yang hanya berlaku di tempat tinggal tokoh tersebut, dan lain-lain.

Seperti tak mau lekas ditinggalkan, ibu begitu bahagia menyambut kehadiranku. Kata bapak, puncak perayaan tabot. Maka, ibu berdandan dari pagi dan menyuruhku lekas mandi. Beliau ingin aku menemaninya menyaksikan tabot dibuang ke laut sebagai tanda bahwa 10 Muharram telah tiba. Dibuang jauh-jauh segala marabahaya, lantas ibu akan tenang melepas kepergianku besok.

Pada kutipan cerpen di atas, nilai budaya ditunjukkan dengan adanya penggambaran tradisi tabot, yaitu tradisi yang biasa dilakukan masyarakat Bengkulu menyambut bulan Muharram.