Laos adalah negara Asia Tenggara yang berada di tengah-tengah negara Asia lain seperti Myanmar, Republik Rakyat Tiongkok, Vietnam, Kamboja dan Thailand. Sebuah survei yang dilakukan Belgia menemukan artefak batu dan tengkorak di sebelah utara Laos. Suvei ini menghasilkan teori tentang keberadaan pemukiman manusia sejak abad 4000 SM.
Pada tahun 1353, negeri Laos dikuasai oleh bangsa Khmer yang datang dari Angkor. Setelah itu dikuasai bangsa Thai dari Sukhothai. Kerajaan kuno yang mendominasi Negara Laos adalah Kerajaan Nanzhao. Kemudian pada abad ke 14, muncullah Kerajaan Lan Xang. Lalu pada abad ke 18, Thailand berhasil menguasai kerajaan tersebut.

Laos Pada Zaman Prasejarah

Kelompok-kelompok etnis yang berbeda merupakan penduduk yang mendiami negara Laos. Setengah populasi penduduk Laos berasal dari etnis Lao atau Lao Lum. Etnis Lao sendiri masih memiliki hubungan kerabat dengan penduduk di wilayah timur laut Thailand. Etnis ini awalnya datang dari wilayah dataran sungai Mekong yang mendiami Vientiane dan Luang Prabang.
Laos atau Lan Xang merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Raja Bayinnaung, raja ketiga Dinasti Toungoo di Burma (Myanmar). Saat Dinasti Toungoo mengalami perpecahan, Laos berhasil memerdekan wilayahnya dari Burma di bawah kepemimpinan raja Nokeo Koumane.  Raja Nokeo Koumane menjadi raja di Vientiane pada tahun 1591.

Seorang pangeran bernama Fa Ngum mendirikan sebuah kerajaan pada pertengahan abad ke 14.  Kerajaan itu dinamainya Lan Xang yang berarti seribu gajah. Pada abad ke 15, Lan Xang mengalami pergolakan politik internal kerajaan. Saat itulah, pasukan Vietnam menginvasi Lan Xang.

Akhirnya Lan Xang terbebas dari pengaruh Vietnam berkat keberhasilan raja Vixun. Vixun membawa sebuah patung Buddha emas yang dinamakan Phra bang. Patung Buddha inilah yang dikemudian hari menjadi simbol kekuasaan etnis Lao. Raja Vixun dikenal sebagai pelindung agama Buddha, sastra, musik dan seni tari.

Pada abad ke 16, kerajaan Lan Xang dipimpin oleh raja Xetthathirat. Pada masa itu, Lan Xang mengalami penyerangan yang dilakukan oleh kerajaan Burma namun berhasil dipatahkan. Kemudian ia memindahkan ibukota kerajaan ke Vientiane yang lebih memiliki sistem pertahanan yang baik daripada di lokasi ibukota sebelumnya.

Di Vientiane, ia membangun stupa Luang yang megah. Pada puncak kejayaannya, raja Xetthathirat yang ambisius menginvasi Kamboja namun mendadak menghilang. Meninggalkan kerajaannya yang akhirnya diinvasi Burma.

Pengaruh Bangsa Asing

Kerajaan Lao kembali berjaya pada masa pemerintahan raja Surinyavongsa. Pada awal masa pemerintahannya, datanglah seorang pedagang Belanda dan seorang misionaris ke Vientiane. Kedua orang asing tersebut terperangah akan kemegahan Vientiane dan jumlah biksunya. Vientiane berkembang menjadi pusat studi agama Buddha pada masa itu. Ketika raja Surinyavongsa wafat tanpa meninggalkan keturunan, Lan Xang pecah menjadi 3 kerajaan yaitu Louangphrabang, Vientiane dan Champasak. Namun ketiga kerajaan tersebut berhasil dikuasai kerajaan Siam.

Bangsa Eropa kembali mendatangai wilayah Laos pada masa pemerintahan Soulinga-Vongsa. Van Vuysthof  tiba di Vientiane dengan dalih untuk berdagang. Dilanjutkan dengan kedatangan seorang misionaris Jesuit bernama Father Giovanni-Maria Leria pada tahun 1642 dalam rangka menyebarkan misi agamanya di Vientiane, namun ia gagal karena Laos sangat didominasi agama Buddha.

Kedatangan bangsa Eropa di wilayah Vientiane pada masa itu banyak yang mengalami kegagalan. Hal ini disebabkan antara lain karena faktor geografis yang menyebabkan sulitnya membuka lalu lintas perdagangan di Vientiane dan penganut Buddha meberikan reaksi keras terhadap penyebaran agama Kristen di Vientiane.

Bangsa Perancis menguasai Laos setelah memenangkan pertempuran dalam perang Vietnam-Perancis. Ekspansi Perancis ini menjadikan Vietnam, Laos dan Kamboja ke dalam wilayah protektorat Perancis. Untuk mengantisipasi invasi Perancis, sebagian besar wilayah Laos sengaja dikosongkan. Tanggal 20 Januari 1893, Laos jatuh ke tangan Perancis.

Pada tahun 1940, Perancis diserang oleh Jerman pada Perang Dunia II. Seluruh wilayah Asia Tenggara diinvasi tentara Jepang. Paska Perang Dunia II dengan kalahnya Jepang, Perancis kembali ingin menguasai Laos namun mendapat penolakan keras. Laos memproklamirkan kemerdekaannya pada 1 September 1945 dan mendapat tantangan dari Perancis yang mengirimkan pasukannya ke Laos.

Paska Perang Dunia II, bangsa-bangsa Barat berusaha menanamkan kekuasaannya kembali di Asia Tenggara namun mengalami penolakan dari masing-masing negara. Seperti yang terjadi di Laos. Pihak sekutu yaitu Perancis, Amerika dan Inggris mengadakan konferensi di Jenewa untuk membicarakan masalah Korea dan Indo-China, yang dihadiri oleh Cina, Uni Sovyet, Vietnam Selatan, Republik Sosialis Vietnam (Vietmin), Kamboja, Laos, Korea Utara dan Korea Selatan. Kemerdekaan penuh Laos, Kamboja dan Vietnam diputuskan pada Konferensi Jenewa itu. Di Laos terdapat 3 ideologi yaitu komunis, nasionalis dan poros tengah. Ketiga ideologi tersebut tidak saja menimbulkan perpecahan namun juga menimbulkan pergolakan politik dan kudeta.

Pada tahun 1975,  kelompok komunis Laos pimpinan Pathet Lao melakukan kudeta terhadap pemerintahan Raja Savang Vatthana. Pathet Lao mendapat dukungan Uni Soviet dan kaum komunis Vietnam, sedangkan Raja Savang Vatthana didukung oleh Amerika dan Perancis. Pathet Lao mengganti nama Laos menjadi Republik Demokratik Rakyat Laos yang berlangsung hingga saat ini. Karena Pathet Lao pro-komunis, ia menjalin kerjasama dengan Vietnam yang juga menganut komunis.

Laos Pada Era Modern

Partai Revolusioner Rakyat Laos (LPRP) merupakan partai politik pertama dan satu-satunya di Laos. Negara dikepalai oleh Presiden dengan masa jabatan 5 tahun yang dipilih oleh parlemen. Presiden akan memilih seorang perdana menteri yang telah disetujui parlemen untuk mengepalai pemerintahan. Pada bulan Maret 1991, diputuskanlah perubahan jangka panjang dalam struktur ekonomi Laos yaitu dengan membuka kesempatan untuk penanaman modal asing dan swasta, persaingan pasar bebas dan lainnya.

Pertumbuhan ekonomi di beberapa kota di Laos seperti Vientiane, Luang Prabang, Pakxe, dan Savannakhet cukup tinggi. Namun di sebagian besar wilayah lain masih minim fasilitas seperti jalur transportasi, terbatasnya jaringan komunikasi, belum meratanya jaringan listrik dan lain-lain. Perkembangan ekonomi yang cukup signifikan berhasil dicapai Laos setelah mendapat bantuan finansial dari IMF.

Bidang-bidang sumber pendapatan ekonomi baru mulai mendapat perhatian seperti pertambangan tembaga, emas dan produk tambang lain, pariwisata, bidang pemrosesan makanan dan bidang lainnya. akhir tahun 2004, hubungan Laos dan Amerika Serikat mengalami peningkatan terutama di bidang ekspor-impor.

Agama yang mayoritas dianut oleh masyarakat Laos adalah Buddha Theravada. Selain itu juga terdapat sebagian kecil penganut Islam di Laos. Pengaruh Islam dibawa oleh para pedagang Cina dari Yunnan yang biasa disebut Chin Haw. Komunitas muslim Laos mendiami wilayah perbukitan dan dataran tinggi.

Para pendatang dari Asia Selatan dan muslim Kamboja mendominasi penganut Muslim Laos. Kaum muslim Kamboja melarikan diri ke Laos saat rezim Khmer yang berkuasa melakukan gerakan pembersihan massal terhadap etnis Cham, penganut muslim Kamboja. Pada masa kerajaan kuno, ibukota Laos adalah Luang Prabang. Barulah pada tahun 1563, raja Xetthathirat memindahkan ibukota ke Vientiane (Vieng Chan).

Semoga penjelasan singkat mengenai negara Laos ini dapat dijadikan informasi tambahan bagi pembaca.