Fasis berasal dari bahasa Italia fascio yang mempunyai arti ikatan ranting pohon. Ikatan ranting pohon mempunyai filosofi sebagai satu kesatuan antara rakyat dengan pemerintah yang kokoh dan sangat solid sehingga sangat sulit untuk dihancurkan. Jika sebatang ranting terpisah dari ikatannya maka akan sangat mudah untuk dipatahkan, namun apabila ranting-ranting tersebut disatukan dalan satu ikatan maka akan sulit untuk mematahkannya. Filosofi ini semakna dengan sebatang lidi yang diikat menjadi sapu lidi meskipun dalam tujuan yang berbeda.
    
Filosofi ikatan ranting pohon muncul pada zaman Kekaisaran Romawi. Ketika itu, pejabat pemerintahan disimbolkan dengan ranting-ranting pohon yang memiliki makna sebagai kesatuan yang kuat dan tidak dapat dipisahkan untuk mempertahankan kekaisaran Romawi dari serangan musuh. Sedangkan filosofi sapu lidi muncul di Indonesia tepatnya di Jawa Barat, memiliki makna sebagai satu kesatuan yang sangat solid untuk melakukan kerja sama membangun negara (bergotong royong).

Dengan demikian, kata fasis dapat diartikan sebagai satu kesatuan antara rakyat dengan pemerintah yang bersatu padu menyatukan kekuatan untuk membentuk bangsa dan pemerintahan yang kuat dan absolut.

Fasisme

Fasisme dapat didefinisikan sebagai suatu Faham atau ideologi yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai nasionalisme atau nasionalisme militan, bersifat absolut, otoriter, dan menganggap rendah bangsa-bangsa lain di dunia. Negara-negara yang mempunyai faham fasisme dalam menjalankan pemerintahannya cenderung bersifat otoriter, militerisme, dan rasialis sehingga hal ini memberikan peluang kepada negara-negara tersebut untuk melakukan imperalis kepada negara-negara lain.

Faham fasisme mulai muncul ketika Perang Dunia I berakhir. Faham ini berkembang di negara-negara yang tidak menyukai faham liberal yang notabene pada Perang Dunia I merupakan faham yang dianut oleh negara-negara sekutu. Selain tidak menyukai faham liberal, negara-negara fasis sangat antidemokrasi. Negara-negara fasis menjalankan pemerintahan secara diktator dan sangat mengutamakan kepentingan negara di atas segala-galanya sehingga tidak menghargai kepentingan pribadi atau perseorangan.

Adapun contoh negara-negara yang mempunyai Faham fasisme dan membahayakan negara-negara lain adalah Jerman, Italia, dan Jepang. Suatu negara dikatakan sebagai negara fasis apabila mempunyai unsur-unsur sebagai berikut.

a. Pemerintahan bersifat diktator

Dalam hal ini hanya ada penguasa tunggal sehingga tidak diperlukan adanya oposisi sebagai pihak yang mengawasi jalannya pemerintahan. Negara tidak mengakui dan menghargai kepentingan pribadi tanpa kecuali. Setiap perbedaan dianggap sebagai pemberontakan yang harus dihilangkan dengan menggunakan kekerasan dan militerisme. Rakyat ditabukan bahkan diharamkan untuk bersikap kritis dan berpendirian.

b. Nasionalisme militan

Penguasa dan rakyatnya memiliki jiwa nasionalisme yang berlebihan sehingga menganggap bahwa bangsanya merupakan bangsa yang lebih baik daripada bangsa-bangsa lain. Semangat nasionalisme yang berlebihan bahkan cenderung mengarah kepada rasialis dan mengarah kepada tindakan-tindakan imperialis kepada negara-negara lain.

c. Antidemokrasi

Keantian terhadap demokrasi merupakan alasan utama berdirinya negara fasis. Selain antidemokrasi, negara fasis juga tidak menyukai adanya liberalisme yang sangat memberikan kebebasan kepada individu.

d. Cenderung melakukan imprialis

Adanya doktrin nasionalisme militan dapat menumbuhkan semangat chauvinisme. Chauvinisme merupakan rasa cinta tanah air yang berlebihan dengan mengagungkan bangsa sendiri dan merendahkan orang lain. Semangat nasionalisme militan dan chauvinisme dapat menumbuhkan semangat imperialisme. Hal ini sudah dibuktikan oleh Jerman, Jepang, dan Italia pada Perang Dunia II.

Negara-negara Fasis

Italia

Italia merupakan salah satu negara yang terlibat pada peristiwa Perang Dunia I dan termasuk ke dalam salah satu negara yang menang dalam perang. Hal ini disebabkan pada peristiwa Perang Dunia I, Italia termasuk ke dalam kelompok Triple Entente atau blok sekutu yang menang perang bersama dengan Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Rusia, Serbia, Yunani, dan Australia. Menurut isi perjanjian Versailes bahwa pihak yang kalah perang dalam hal ini negara-negara yang tergabung dalam kelompok Triple Alliance atau blok sentral yang terdiri atas Jerman, Turki Raya, Austria, dan Bulgaria, harus membayar kekalahan dan kerugian perang.

Italia seharusnya mendapatkan pergantian kerugian yang ditimbulkan akibat Perang Dunia I, namun hal tersebut tidak terjadi dikarenakan kondisi keuangan negara-negara yang tergabung ke dalam blok sentral atau Triple Alliance sangat buruk, sehingga tidak memungkinkan untuk mengganti kerugian perang. Hal ini menyebabkan kondisi keuangan dan perekonomian Italia semakin buruk sehingga memperparah merajalelanya tingkat kemiskinan dan pengangguran. Kondisi keamanan negarapun semakin mengkhawatirkan, kerusuhan, penjarahan, dan perampokan semakin meningkatkan angka kriminalitas yang tajam.

Negara Italia hampir tidak sanggup menghadapi kondisi negara yang semakin kacau (crowded), hingga pada tahun 1922 munculah Benito Andrea Amilcare Mussolini (Benito Mussolini) dengan Partai Fascio De Combatimento (Partai Fasis) yang sebagian besar anggotanya merupakan veteran-veteran Perang Dunia I. Partai Fasis mempropagandakan faham fasisme dengan ultranasionalisme atau nasionalisme militan agar bangsa Italia mampu bangkit dari keterpurukan dan dapat menjadi negara yang besar dan kuat. Partai Fasis akhirnya bisa menguasai pemerintahan dan mengangkat Benito Mussolini sebagai Perdana Menteri Italia yang diberi gelar II Duce atau Sang Pemimpin.

Benito Mussolini senantiasa mengingatkan bangsa Italia bahwa pada masa Imperium Romawi, Italia merupakan sebuah negara yang besar dan jaya. Benito Mussolini terus mengembangkan fasisme dengan cara-cara sebagai berikut.

• Membangkitkan semangat Italia Irredenta atau Italia Raya seperti pada masa Imperium Romawi dengan mempersatukan bangsa Italia dalam semangat chauvinisme dan nasionalime militan.
• Memperkuat dan memperbesar angkatan perang untuk memperluas wilayah kekuasaan.
• Menguasai Laut Tengah dengan anggapan Mare Nostrum atau Laut Kita.
•  Melakukan tindakan-tindakan imperialis dengan menyerang dan mengasai Ethiopia dan Albania.
• Melakukan kerja sama dengan Jerman.
• Membantu pemerintahan Jenderal Franco di Spanyol.

Usaha-usaha Benito Mussolini dalam membangkitkan semangat nasionalisme fanatik tersebut ternyata memberikan keberhasilan, meskipun pada akhirnya mengundang kekhawatiran bagi bangsa-bangsa di dunia karena mengancam keamanan dan kedaulatan bangsa-bangsa lain di dunia.  

Jerman

Berbeda dengan Italia, Jerman merupakan negara yang tergabung ke dalam Triple Alliance (blok sentral) dalam Perang Dunia I sehingga diwajibkan membayar segala kerugian yang terjadi pada Perang Dunia I kepada negara-negara yang menang perang Triple Entente (blok sekutu). Namun, kondisi keuangan Jerman tidak memungkinkan, bahkan kondisi perekonomian di dalam negeri Jerman sangat buruk. Tidak jauh dengan negara Italia, pengangguran dan angka kriminalitas meningkat tajam sehingga memperparah keadaan. Keadaan ini menimbulkan rasa benci dan keinginan untuk balas dendam dalam jiwa bangsa Jerman kepada negara-negara yang tergabung dalam blok sekutu.

Keterpurukan Jerman mulai bangkit ketika Adolf Hitler dinobatkan menjadi pemimpin Partai Pekerja Nasionalis Sosialis Jerman (Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei) atau yang lebih dikenal dengan nama NSDAP atau NAZI.  Partai Nazi mengembangkan faham yang di dalamnya mengajarkan semangat chauvinisme dan sangat mengangungkan bangsa Jerman sebagai bangsa keturunan dari ras Arya yang dikenal agung dan mulia, berbeda dengan bangsa-bangsa lainnya yang dianggapnya sebagai keturunan bangsa-bangsa yang primitif.

Selain itu, Partai Nazi mengobarkan semangat balas dendam kepada bangsa yahudi dan komunis, karena mereka beranggapan bahwa bangsa yahudi dan komunislah yang berada di belakang kemenangan blok sekutu pada Perang Dunia I. Selain itu, Partai Nazi juga mengampanyekan penolakan terhadap isi perjanjian Versailes karena dianggap sebagai penindasan dan perampokan paksa atas lepasnya beberapa wilayah kekuasaan Jerman di Eropa dan Afrika. Partai Nazi pun kembali menegaskan bahwa yang berada di balik perjanjian tersebut adalah bangsa yahudi dan komunis yang ingin menghancurkan bangsa Jerman.

Propaganda Adolf Hitler berhasil membangkitkan semangat bangsa Jerman untuk bersatu membangun kembali kebesaran bangsa Jerman dan ingin menjadikan Jerman sebagai Lord of the Earth atau tuan di muka bumi. Hingga pada tahun 1933 Partai Nazi menjadi partai yang berkuasa di Jerman dan Hitler diangkat menjadi perdana menteri. Hitler pun merangkap jabatan sebagai presiden pada tahun 1934 dikarenakan presiden Jerman pada saat itu Hindenburg meninggal dunia. Hitler memimpin Jerman dengan diktator yang bersifat absolut dan totaliterisme yaitu faham yang berprinsip bahwa semua diutus oleh negara dan rakyat sama sekali tidak mempunyai kebebasan.

Adolf Hitler kemudian menetapkan beberapa kebijakan untuk mewujudkan Jerman Raya. Beberapa kebijakan tersebut antara lain sebagai berikut.

• Menolak isi Perjanjian Versailes, bahkan isi perjanjian tersebut dianggap sebagai upaya blok sekutu untuk menghancurkan Jerman.

• Membangun angkatan perang yang besar dan kuat.

• Mengobarkan semangat anti yahudi dan komunis.

• Membuat Poros Roberto, yaitu jalinan kerja sama politik dan militer antara Jepang, Italia, dan Jerman.

• Membentuk dinas polisi rahasia atau Gestapo yang berfungsi untuk menangkap, bahkan membunuh lawan-lawan politik Hitler.

• Mengobarkan semangat chauvinisme.

• Bertekad membentuk Eropa Raya, dengan Jerman sebagai pemimpinnya.

Jepang

Berbeda dengan Jerman dan Italia, kedua negara tersebut muncul sebagai negara fasis dengan berlatar belakang Perang Dunia I. Sedangkan kemunculan Jepang sebagai negara fasis berawal dari adanya Restorasi Meiji. Adapun Restorasi Meiji sendiri muncul sebagai akibat adanya kekecewaan bangsa Jepang kepada Keshogunan Tokugawa yang dianggap lemah kepada bangsa asing, seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Rusia dengan cara membuka pelabuhan untuk perdagangan bangsa-bangsa tersebut.

Selain itu, bangsa Jepang juga merasa kecewa terhadap kekaisaran karena kaisar dianggap sebagai simbol yang hanya duduk diam di dalam istana. Sedangkan urusan pemerintahan semuanya diserahkan kepada shogun sebagai pemimpin pemerintahan tertinggi di Jepang. Kekecewaan-kekecewaan tersebut telah melahirkan banyaknya berbagai pemberontakan kepada kaisar yang mengarah kepada timbulnya perang saudara dan munculnya campur tangan bangsa asing di Jepang.

Ketegangan berakhir setelah adanya penyerahan kekaisaran dari Tokugawa kepada Kaisar Meiji pada tahun 1866 yang mengakhiri pemerintah secara militer dan otoriter Keshogunan Tokugawa. Restorasi Meiji membuka jalan kepada Jepang untuk menuju kepada zaman baru yang lebih baik. Kekaisaran Meiji kembali mengobarkan semangat bangsa Jepang dengan mengangkat kembali ajaran Hakko Ichiu.

Ajaran Hakko Ichiu pertama kali ditemukan oleh Kaisar Jimmu sekitar abad 660 SM. Hakko Ichiu mempunyai arti delapan penjuru bawah satu yang artinya dunia itu terdiri atas delapan penjuru yang merupakan keluarga besar dan menempakan Jepang adalah pemimpinnya. Dalam ajaran Hakko Ichiu diajarkan bahwa bangsa Jepang merupakan keturunan dewa yang paling murni dan paling kuat sehingga paling berhak memimpin dunia.

Pada Masa Kekaisaran Meiji Ajaran Hakko Ichiu telah dimodifikasi dan dipropagandakan dengan situasi pada saat itu, yang intinya antara lain sebagai berikut.

• Jepang adalah pusatnya dunia dan Kaisar adalah pemimpinnya. Kaisar adalah dewa di dunia yang merupakan perwujudan dari Amiterasu Omikami (Dewi Matahari).

• Jepang dilindungi oleh kekuatan Kami (dewa) secara utuh sehingga Jepang merupakan negara yang kuat, istimewa, dan lebih baik dari negara-negara lain di dunia. Dengan demikian Jepang mempunyai hak dan kewajiban untuk menyatukan bangsa-bangsa di dunia menjadi satu keluarga dan menempatkan Jepang sebagai pemimpinnya.

Ajaran Hakko Ichiu berhasil mengobarkan semangat bangsa Jepang menjadi bangsa yang ultranasionalis (nasionalisme militan). Selain itu, Jepang pun berhasil menjadi negara industri yang kuat dan mampu bersaing dengan negara-negara maju di Eropa dan Amerika. Meskipun sangat disayangkan, kemajuan industri tersebut memicu tumbuhnya faham fasisme dan militerisme yang mengarah kepada imperialisme.

Perdana Menteri Tanaka (1927) merupakan perdana Menteri Pertama Jepang yang mempelopori Jepang menjadi negara fasis pada saat Kaisar Hirohito berkuasa. Pada saat itu, Kaisar Hirohito menetapkan beberapa kebijakan untuk memperbesar dan memperkuat negara Jepang, yaitu sebagai berikut.

• Mengagungkan semangat bushido
• Menyingkirkan tokoh-tokoh politik yang antimiliter
• Melakukan perluasan wilayah kekuasaan ke negara-negara terdekat seperti Cina, Korea, dan Manchuria.
• Memodernisasi angkatan perang.

Berdasarkan kebijakan tersebut, Perdana Menteri Tanaka memerintahkan tentara Jepang untuk melakukan invasi ke Mongol dan Manchuria, meskipun akibatnya Perdana Menteri Tanaka harus mengundurkan diri pada tahun 1928.

Kebijakan Perdana Menteri Tanaka kemudian dilanjutkan oleh Perdana Menteri Hideki Tojo (1941) yang merupakan perdana menteri ke-40. Perdana Menteri Hideki Tojo memulai pemerintahannya dengan mengusai dan mengembangkan militer di seluruh Jepang. Perdana Menteri Hideki Tojo dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas keterlibatan Jepang dalam Perang Dunia II. Hal ini disebabkan pada masa pemerintahannya Jepang dilegalkan bergabung ke dalam blok sentral (triple alliance) bersama Jerman dan Sekutu, termasuk pemberian izin melakukan serangan ke Peral Harbour yang menyebabkan pecahnya Perang Dunia II di kawasan Asia dan Pasifik.

Nah, setelah menyimak uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa berkembangnya faham fasisme telah menyebabkan lahirnya negara-negara fasis yang mengancam dan membahayakan kedaulatan negara-negara di dunia. Berkembangnya Faham fasisme pada negara-negara tersebut telah terpahat dalam sejarah sebagai titik api yang mengobarkan Perang Dunia II.