Islam mengajarkan kemudahan. Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam bersifat progresif. Artinya, isi kandungan Al-Qur’an pada dasarnya sesuai dengan perkembangan peradaban manusia. Dalam Al-Qur’an, terdapat hukum syari’ah yang pada kemudian hari dihapuskan dan digantikan dengan hukum syari’ah yang baru. Hal ini wajar adanya karena kebutuhan yang dituntut tiap-tiap umat berbeda satu sama lain. Suatu hal yang sesuai untuk umat pada suatu masa belum tentu sesuai untuk umat pada masa yang berbeda. Berkaitan dengan hal tersebut, artikel ini akan mengulas tentang nasikh dan mansukh. Berikut ini ulasan lengkapnya.

Pengertian Nasikh dan Mansukh

Secara bahasa, nasikh dan mansukh berasal dari kata nasakh yang memiliki banyak arti ataumakna. Nasakh digunakan untuk arti izalah (menghilangkan) seperti yang terdapat dalam Surat Al-Haj ayat 25 yang berbunyi sebagai berikut.

Nasakh dapat juga berarti al-tabdil, yaitu menggantikan seperti yang terdapat dalam Surat An-Nahl ayat 101.

Nasakh berarti memindahkan atau mengutip (al-naql) sebagaimana tertera dalam Surat Al-Jatsiyah ayat 29:

Kata nasakh berarti 'memindahkan sesuatu dari tempat awal ke tempat lain'. Ditilik dari sudut pandang istilah, nasakh berarti menghapuskan hukum syari’ah dengan khitab (dalil hukum) syari’ah yang lain. Secara etimologis, pengertian nasikh dan mansukh menurut para ulama Mutaqaddimin (Ulama yang hidup pada masa Rasul dan sahabat, periode tabi’in abad 1 H sampai abad 2 H dan periode tabi’in abad 2 H sampai abad 3 H), yaitu sebagai berikut.

  • Penghapusan atau pembatalan hukum yang telah ditetapkan terdahulu akibat turunnya ketetapan hukum yang baru (yang datang kemudian).
  • Adanya pengecualian terhadap hukum yang ketentuannya bersifat umum oleh hukum yang ketentuannya bersifat khusus yang diturunkan kemudian.
  • Penjelasan yang datang kemudian untuk ketetapan hukum yang belum jelas yang datang terdahulu.

Sementara itu, pengertian nasikh dan mansukh menurut para ulama Mutaakhirin (ulama yang hidup pada sesudah abad 3 H, yaitu dari abad 4 H sampai abad 12 H), yaitu hukum mengenai ketentuan sesuatu hal yang diturunkan kemudian untuk membatalkan hukum mengenai ketetentuan sesuatu hal yang diturunkan pada masa dahulu dan telah habis masa berlakunya.

Menurut beberapa ulama, ayat-ayat yang bertentangan dalam Al-Qur’an dan tidak dapat dilakukan tindakan kompromi. Artinya, ada nasakh dalam Al-Qur’an. Sementara itu, menurut sebagian ulama lainnya, ayat dalam Al Qur’an yang terlihat bertentangan sesungguhnya dapat dikompromikan. Karena itulah, tidak nasakh dalam Al-Qur’an. Pendapat lain menurut Imam Syafi’i dan mayoritas ulama lainnya mengakui keberadaan nasakh dalam Al-Qur’an berdasarkan pada ayat berikut ini.

Sementara, sebagian ulama yang menolak keberadaan nasakh menyatakan pendapat bahwa sesungguhnya Surat Al-Baqarah ayat 106 ditujukan untuk kaum Yahudi yang melakukan perbuatan pengingkaran terhadap Al-Qur’an. Hukum yang terdapat pada kitab-kitab terdahulu digantikan dengan hukum yang ada dalam Al-Qur’an. Sementara itu, mansukh adalah hukum yang dihapuskan atau diangkat atau dihilangkan. Misalnya dalam hukum mawaris, menghapuskan atau menghilangkan (nasakh) hukum wasiat kepada orangtua dan kerabat (mansukh)\

Syarat dan Jenis Nasikh

Nasakh memiliki beberapa persyaratan yang harus dimiliki, yaitu sebagai berikut.

  • Hukum mengenai ketentuan sesuatu hal yang di-mansukh adalah hukum syara’.
  • Dalil yang digunakan untuk menghapus dalil hukum sebelumnya adalah dalil hukum (khitab) syar’i.
  • Dalil hukum (khitab) yang dihapus atau dihilangkan atau diangkat tidak dibatasi atau terikat oleh waktu tertentu.

Nasakh pun memiliki bermacam-macam jenis, yaitu nasakh antara Al-Qur’an dan Al-Qur’an. Lalu, ada juga nasakh Al-Qur’an dengan Sunnah. Nasakh jenis ini terbagi menjadi dua yaitu sebagai berikut.

  • Nasakh antara Al-Qur’an dengan hadits ahad (yang memerlukan penyelidikan dan pembuktian lebih menyeluruh). Namun, para ulama menyatakan bahwa ayat Al-Qur’an (bersifat yakin) tidak bisa di-nasakh oleh hadits ahad (bersifat dugaan). Tidak mungkin menghapus atau menghilangkan sesuatu yang bersifat jelas (ma’lum) dan menggantikannya dengan sesuatu yang bersifat belum jelas atau dugaan semata (maznun).
  • Nasakh Al-Qur’an dengan hadits Mutawatir. Dalam satu riwayat, Imam Malik, Imam Abu Hanifan, dan Imam Ahmad, memperbolehkan jenis nasakh ini karena menurut mereka kedua-duanya merupakan wahyu.

Berkaitan dengan nasakh Al-Qur'an dengan hadits Mutawatir,  Surat An-Najm ayat 3-4 menjadi acuannya.

Jenis nasakh ini ditolak oleh Imam Syafi’i dan berpatokan pada Al-Qur’an  Surat Al-Baqarah ayat 6:

Nasakh Al Qur’an dengan Sunnah contohnya adalah mengenai kiblat. Dalam sunnah ditetapkan menghadap ke Baitul Makdis, namun dalam Al-Qur’an tidak ada ketetapan seperti itu. Ketetapannya di-nasakh-kan oleh ketetapan dalam Al-Qur’an yang menetapkan untuk menghadap ke Masjidil Haram. Namun, nasakh jenis ini juga ditolak oleh Imam Syafi’i yang berpendapat bahwasanya sesuatu hal yang ditetapkan dalam Sunnah juga akan didukung oleh Al-Qur’an, karena antara Al-Qur’an dan Sunnah sejalan dan tidak memiliki pertentangan.

Jenis yang lainnyanya adalah nasakh Sunnah dengan Sunnah, yaitu terdiri atas empat bentuk nasakh.

  • Nasakh hadits Mutawatir dengan hadits mutawatir.
  • Nasakh hadits ahad dengan hadits ahad.
  • Nasakh hadits ahad dengan hadits mutawatir.
  • Nasakh hadits mutawatir dengan hadits ahad.

Ketiga jenis nasakh hadits yang disebutkan pertama diperbolehkan, sedangkan bentuk keempat masih menjadi perdebatan di kalangan ulama.

Jenis-jenis Nasakh dalam Al-Qur’an

Nasakh dalam Al-Qur’an ada 3 macam, yaitu sebagai berikut.

  • Nasakh tilawah ditilik dari segi bacaan dan hukum. Bacaan dan hukum yang memuat ketentuan lama sudah tidak ada, dalil hukumnya telah dihapus, dan digantikan dengan dalil hukum yang baru.
  • Nasakh hanya pada hukumnya, bacaannya tetap. Tulisan dan bacaan tetap ada, namun dalil hukumnya tidak diamalkan lagi, telah dihapus, dan diganti dalil hukum yang baru.
  • Nasakh tilawah (bacaan) hukumnya tetap.

Manfaat atau Faedah Ilmu Nasikh dan Mansukh

Ilmu Nasikh dan Mansukh memiliki beberapa manfaat, yaitu sebagai berikut.

  • •Mampu meningkatkan keimanan bahwa Allah Swt adalah Sang Maha Menentukan segala sesuatu. Bahwa Allah SWT tidak terikat pada ketetapan dan ketentuan logis manusia.
  • Hukum-hukum nasakh dan mansukh adalah demi kemashlahatan umat manusia. Hal ini menunjukkan bahwa Allah Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Penyayang dan Maha Pengasih.
  • Bertujuan untuk memelihara kemaslahatan hamba-Nya.
  • Agar perkembangan proses dan pembentukan syari’at (tasyri’) menjadi sempurna dengan adanya perkembangan dakwah Islam serta tak terlepas dengan perkembangan kondisi umat Islam.
  • Merupakan suatu bentuk ujian untuk seorang mukallaf (umat muslim yang memiliki kewajiban untuk mematuhi perintah dan larangan Allah Swt).

Al-Qur’an merupakan mukjizat bagi semesta alam. Bahkan, Al-Qur’an melahirkan banyak ilmu yang bersumber dari dirinya sendiri. Semua ilmu tersebut tak kalah pentingnya jika dibandingkan disiplin ilmu lainnya. Karena melalui ilmu Al-Qur’an (‘Ulumul Qur’an), umat muslim akan dapat memahami dan memaknai Al-Qur’an dengan sebaik-baiknya. Intisari dari Al-Qur’an tidak saja bermanfaat bagi kehidupan spiritual, tetapi juga bagi perkembangan peradaban manusia. Hal ini dikarenakan Al-Qur’an diturunkan ke dunia untuk membawa rahmatan lil ‘alamin.

Semoga penjelasan yang disampaikan bermanfaat bagi Anda.

Loading...