Pengertian Miqot

Miqot merupakan batas untuk memulai pelaksanaan ibadah haji atau umroh. Apabila selama ini kita hanya mengenal miqot sebagai batas penggunaan pakaian ihram dan berniat sebelum melakukan ibadah haji atau umroh, sesungguhnya miqot sendiri mengandung dua makna krusial, yaitu:

  • Miqot Zamani

Miqot zamani adalah ketentuan tentang batas waktu dalam penanggalan Hijriyah untuk mengerjakan ibadah haji. Miqot zamani bagi para jamaah haji jatuh pada 1 Syawal sampai menjelang terbit fajar di tanggal 10 Dzulhijjah. Jadi setelah bulan Syawal, setiap yang ingin berhaji bisa memulai pelaksanaan ibadah haji mereka. Hanya memang untuk hari-hari wukuf di Arafah, mabit, dan melempat jumroh telah ditentukan waktunya sesuai dengan contoh haji Rasulullah Muhammad SAW.

  • Miqot Makani

Miqot makani merupakan batas tempat memulai untuk berihram bagi para jamaah haji dan umroh. Miqot makani ini merupakan daerah yang berada di luar tanah haram, yaitu di luar wilayah Mekkah Al Mukaromah.

Miqot makani dimaksudkan sebagai tempat melaksanakan niat haji atau umrah kemudian berihram, menggunakan pakaian dan mulai melaksanakan ketentuan serta menjauhi larangan berihram.

Letak miqot makani telah diatur oleh Rasulullah Muhammad SAW sesuai dengan sabda beliau dari riwayat Abdullah bin Umar r.a yang artinya:

Tambahan tentang letak miqot juga diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas r.a, bahwa Rasulullah Muhammad SAW bersabda, yang artinya:

Masjid dan Daerah yang Bisa Digunakan sebagai Awal Miqot

  • Masjid Tan’im

Merupakan masjid yang disebut dengan nama lain Masjid Sayyidah ‘Aisyah r.a, istri Rasulullah Muhammad SAW dan ummu al mu’minin. Masjid Tan’im terletak sekitar 7,5 km di sebelah utara Masjidil Haram. Masjid ini masuk ke tanah halal atau kita boleh berihram dan mengucapkan niat haji atau umroh di tanah ini. Masjid Tan’im ini merupakan masjid tempat miqot yang paling dekat dengan Masjidil Haram. Masjid Tan’im dibangun pada saat ‘Aisyah r.a hendak umroh dalam rangkaian pelaksanaan Haji Wada’ sekitar tahun 9 H saat bulan Dzulhijjah. Saat itu Aisyah r.a didampingi oleh kakaknya Abdurrahman bin Abu Bakar r.a.

  • Masjid Ji’ranah

Merupakan masjid yang terletak sekitar 24 km dari Masjidil Haram. Nama Ji’ranah diambil dari salah seorang wanita pada masa pembangunannya yang terkenal tidak pandai. Air sumur pada Masjid Ji’ranah ini dikenal dengan rasa khas yang menyegarkan. Sampai saat ini banyak orang yang suka membawa air dari Masjid Ji’ranah untuk bekal di perjalanan. Di depan masjid banyak masyarakat setempat yang berjualan aksesori dari batu, mulai tasbih hingga cincin dan gelang.
Saat Rasulullah Muhammad SAW berada di Masjid Ji’ranah turunlah firman Allah SWT, yang artinya:

Dari firman Allah di atas, ada kata “korban”. Korban yang dimaksud di sini ialah menyembelih binatang korban sebagai pengganti dari pekerjaan wajib haji yang ditinggalkan atau tidak dikerjakan; dapat juga dikategorikan sebagai denda karena melanggar hal-hal yang dilarang di dalam pelaksanaan ibadah haji.

  • Dzul Hulaifah atau Bir Ali

Merupakan miqot berihram untuk penduduk Madinah atau siapa saja yang melewati arahnya. Dzul Hulaifah disebut juga dengan Abyar Ali (Bir Ali). Penduduk Indonesia biasanya melaksanakan miqot di sini. Letaknya berada di sebelah utara Mekkah sekitar 410 km. Kalau dari Masjid Nabawi di Madinah letaknya lebih dekat yaitu sekitar 10 km saja.

Masjid Bir Ali ini adalah masjid yang dijadikan sebagai tempat miqot penduduk Madinah. Jamaah haji asal Indonesia yang datang di kloter awal (menuju Madinah terlebih dahulu) biasanya miqot di masjid ini.

Dalam sejarah yang tertulis pula pada HR Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah Muhammad SAW berangkat ke Mekkah dari Madinah, beliau singgah di Masjid Dzul Hulaifah atau Bir Ali ini untuk shalat. Kemudian ketika kembali dari Mekkah nabi bermalam dan shalat di masjid tersebut.

  • Qarn al-Manazil

Merupakan tempat miqot bagi penduduk Najd, yaitu penduduk sekitar Teluk yang melewatinya. Mereka datang melalui jalan Riyadh-Thaif. Masjid Wadi Mahram merupakan masjid di dekat Masjid al Saili al Kabir. Jarak antara masjid tersebut sekitar 76 km dari Masjidil Haram.

Di daerah Qarn al-Manazil ini riwayatnya Rasulullah SAW bertemu dengan Malaikat Jibril a.s. Pertemuan tersebut terjadi pada tahun 10 H sekitar 619 M. Saat itu Rasulullah SAW pulang dari Thaif dan tampak sedih atas perlakuan penduduk Mekkah dan Thaif kepada beliau.

Saat Rasulullah Muhammad SAW tiba di Qarn al-Manazil, pada waktu itu Malaikat Jibril a.s datang dan mengatakan kepada nabi, yang artinya:

Sesaat kemudian malaikat penjaga gunung itu memanggil Rasulullah SAW  dan mengucapkan salam, lalu berkata, “Hai Muhammad, apa yang engkau inginkan. Jika engkau ingin aku menimpakan atas mereka dua gunung ini (yaitu Gunung Kubais dan Gunung Qaiqu’an, keduanya disebut “al-Akhsyaban”), aku akan lakukan.”

Namun apa jawaban Rasulullah Muhammad SAW, beliau bersabda, yang artinya.

”Aku malah mengharap agar Allah menjadikan anak cucu mereka orang yang menyembah-Nya, mengesakan-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu.”

  • Dzat Irq

Merupakan miqot bagi penduduk Iraq dan siapa saja yang melewatinya. Miqot ini ditetapkan oleh Rasulullah SAW menurut riwayat ‘Aisyah r.a.

  • Yalamlam

Merupakan tempat miqot penduduk Yaman dan penduduk lain yang melewatinya. Jarak miqot ini sekitar 100 km dari sebelah selatan Kota Mekkah dan 130 km dari Masjidil Haram.

  • Juhfah

Merupakan miqot penduduk Mesir, Syria, dan orang-orang yang datang dari arah sana. Letaknya di sebelah barat Masjidil Haram yang berjarak sekitar 187 km.