Metode penelitian wajib diketahui oleh setiap orang yang ingin melakukan penelitian, termasuk dalam penelitian sastra. Meskipun penelitian sastra jauh berbeda dengan jenis penelitian lain seperti science dan sosial conflict, namun bukan berarti penelitian yang menggunakan karya sastra sebagai objek utamanya dapat dianggap remeh. Untuk menganalisis karya sastra, kritikus sastra harus terlebih dahulu mengetahui metode, teori, dan teknik penelitian guna menghasilkan analisis keusastraan yang valid.

Metodologi dan pemahaman digunakan untuk melihat unsur-unsur implisit karya sastra dengan menggunakan tiga komponen utama, yaitu pengarang, pembaca, dan peneliti. Ketiga aspek tersebut sangat penting dalam penganalisisan karya sastra. Karya-karya sastra tidak pernah terlepas dari pengarang yang merangkumkan pandangan dan pengalamannya ke dalam karya sastra, pembaca yang menanggapi hadirnya karya sastra tersebut, dan peneliti merupakan kelompok yang melakuan analisis terhadap hal-hal yang berkaitan dengan karya sastra tersebut.

Metode penelitian sastra meliputi cara-cara atau langkah-langkah yang sistematis dalam memecahkan suatu rumusan masalah. Metode juga seringkali disebut-sebut sebagai alat untuk menyederhanakan masalah sehingga dapat dijelaskan dalam susunan yang lebih mudah untuk dipahami. Dalam kajian kasusastraan terdapat beberapa metode yang dapat digunakan oleh kritikus sastra guna menyeruak nilai-nilai implisit yang terdapat dalam karya sastra tersebut. Pada bagian berikut kita akan melihat metode-metode penelitian apa saja yang dapat digunakan dalam penganalisissan karya sastra.

Metode Intuitif

Seperti kata dasarnya, metode intuitif memang merupakan metode penelitian yang menggunakan intuisi sebagai alat untuk menganalisis sastra. Intuitif adalah kemampuan dasar manusia untuk melihat unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra dengan menggunakan pikiran dan perasaan sebagai media untama untuk menafsirkan. Metode ini hadir pada masa Neo-Platonisme yang digunakan sebagai landasan untuk memahami suatu konsep kebudayaan dengan melihat keseimbangan antara individu dengan alam semesta. Meskipun metode ini telah lama terbentuk, namun penggunaan metode ini masih menjadi salah satu teori yang sering digunakan hingga saat sekarang ini. Bahkan, tidak jarang para kritikus sastra yang dengan sengaja menyarankan penggunaan teori ini untuk kemudian dimanfaatkan dalam metode-metode modern yang sekarang ini semakin berkembang pesat.

Metode Hermeneutika

Teori hermeneutika ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan dunia filsafat, selain itu metode ini juga merupakan metode yang paling sering digunakan dalam proses penelitian karya sastra dan penafsiran dan penerjemahan kitab. Teori ini sudah digunakan sejak zaman Plato dan Aristoteles, maka tidak salah jika teori ini juga disebut-sebut sebagai teori yang paling tua dalam kesusastraan dunia. Awalnya teori ini digunakan sebagai alat untuk menafsirkan kitab suci, namun lama kelamaan hermeneutika ini kemudian mulai disejajarkan dengan istilah istilah interpretasi dan pemahaman.

Hermeneutika yang notabenenya dianggap sebagai suatu metode penafsiran agama, kemudian lantas juga digunakan sebagai metode penelitian sastra karena para pakar sastra beranggapan bahwa sastra merupakan contoh tulisan yang paling dekat hubungannya dengan agama, bahkan pada teks keagamaan terdapat nilai-nilai seni kesusastraan.

Sastra dinilai sebagai salah satu hasil karya manusia yang memiliki ruang-ruang kosong yang kemudian dapat diisi dengan berbagai penafsiran. Penilaian metode hermeneutik ini juga bukanlah metode yang dilandasi oleh azas benar atau salahnya suatu penafsiran karya sastra, namun lebih cenderung kepada optimal atau tidaknya penafsiran yang dilakukan oleh peneliti sastra terhadap objek sastra yang dianalisisnya. Keragaman interpretasi yang dihasilkan oleh metode hermeneutik inilah yang kemudian hari sering menimbulkan kekayaan makna yang terdapat di dalam karya sastra, karena tiap individu dapat menafsirkan sebuah teks dengan penilaian yang berbeda.

Metode Kualitatif

Metode ini pada dasarnya hampir sama dengan metode hermeneutika yang sudah dijelaskan sebelumnya, teori ini sama-sama melakukan penafsiran terhadap karya sastra dan kemudian menjelaskannya secera deskriptif. Namun bedanya, jika dalam metode hermeneutika para penetiti sastra tidak dibatasi dalam melakukan penafsiran terhadap unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra, maka dalam metode kualitatif peneliti selain melakukan penafsiran juga harus memperhatikan data-data faktual yang berkaitan dengan karya sastra tersebut.

Metode ini sering disebut sebagai multimetode, karena tidak hanya terfokus pada teks itu sendiri, tetapi juga pada keadaan sosial dan unsur-unsur kebudayaan yang mempengaruhi karya sastra tersebut. Titik berat metode penelitian kualitatif pada karya sastra memfokuskan pandangannya terhadap makna dan pesan yang terkandung dalam karya tersebut, di mana proses merupakan faktor yang lebih dipentingkan dibandingkan dengan hasil yang akan didapatkan lewat penelitian yang dilakukan. Dalam metode kualitatif, subjek dan objek tidak memiliki jarak sehingga peneliti dapat melakukan interaksi langsung terhadap karya sastra yang akan dianalisis, hasil penelitian yang didapat akan lebih bersifat terbuka karena metode ini lebih menggunakan kerangka penelitian sementara.

Metode Analisis Isi

Menurut para ahli metode analisis isi pertama kali digunakan pada 1926 di Negara Paman Sam, Amerika Serikat, meskipun sebenarnya metode ini telah digunakan jauh-jauh sebelumnya. Penggunaan teori ini membantu para peneliti sastra untuk melihat bentuk isi komuniskasi dan isi laten yang terdapat dalam karya sastra yang akan dianalisis dengan melihat aspek-aspek makna dan kebahasaan, baik verbal maupun yang non-verbal dalam karya sastra yang akan dianalisis.

Metode analisis isi ini tidak semata-mata hanya terpaku pada penelitian struktur kebahasaan yang terdapat dalam karya sastra saja, tetapi juga berkaitan dengan masalah-masalah yang terdapat di dalam karya sastra seperti masalah-masalah sosial budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya sehingga metode ini dapat digunakan sebagai alat penelitian yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif.

Metode ini juga menggunakan tahapan penafsiran sebagai tahapan utama penelitian sastra yang akan dilakukan. Proses penafsiran inilah yang kemudian akan menentukan fokus perhatian penelitian yang akan dikembangkan. Selain itu, metode ini berfungsi untuk menjelaskan isi komunikasi dan isi interaksi simbolik yang terdapat dalam karya sastra dan peristiwa komunikasi.

Metode Formal

Formal jika diartikan menurut istilah kebahasaan bisa dimaknai sebagai bentuk atau wujud. Metode formal bisa diartikan sebagai metode penelitian yang melihat wujud sastra berupa unsur-unsur dan sifat-sifat teks dalam karya sastra. Metode ini sangat erat kaitannya dengan pendekatan struktralisme dan pendekatan lain yang memanfaatkan tanda dan lambang dalam pembangunan sebuah karya sastra.

Metode ini memungkinkan peneliti untuk melakukan analisis terhadap unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra sehingga kita dapat melihat hubungan dari unsur-unur karya sastra tersebut secara total. Unsur-unsur yang dimaksudkan dalam metode ini meliputi unsur-unsur intrinsik dan unsur-unsur ekstrinsik, konkret dan formal, makro dan mikro. Selain itu, dalam penggunaan metode penelitian ini, seorang kritikus sastra harus benar-benar memperhatikan hakikat dan genre dari karya satra yang akan diteliti. Perbedaan hakikat dan genre dari sebuah karya sastra juga akan diikuti oleh perbedaan wujud dari karya sastra itu sendiri.

Metode Dialektika

Metode yang telah digunakan sejak zaman Plato ini diperkenalkan kembali oleh Hegel, yang kemudian menjelaskan bahwa metode dialektika ini pada hakikatnya dilandasi oleh tiga mekanisme kerja yang meliputi thesis, antithesis, dan sinthesis. Hegel bukanlah satu-satunya yang mengembangkan teori dialektika, karena Karl Marx juga disebut-sebut sebagai salah satu teoris yang juga ikut mengembangkan metode dialektika. Karl Marx menggunakan metode ini sebagai dasar pengembangan teori pertentangan kelas dalam sosial masyarakat, berbeda dengan Hegel yang lebih bersifat dialektika spiritual. Prinsi-prinsip dasar metode ini juga hampir sama dengan metode hermeneutik, terutama dalam aspek eksplorasi penafsiran dan makna.

Dalam metode dialektika, setiap fakta sastra dikelompokkan sebagai thesis, yang kemudian dianalisis dengan melalukan negasi. Pengingkaran terhadap thesis kemudian akan membentuk antithesis yang bernilai fakta yang lebih tinggi, yaitu dalam bentuk sinthesis yang dapat berubah kembali menjadi thesis. Dengan siklus penelitian yang seperti lingkaran setan tersebut, pemahaman terhadap karya sastra dapat terjadi secara terus menerus tanpa berhenti.

Metode Deskriptif Analisis

Metode ini merupakan penggabungan dua metode yang saling tidak bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Teori ini berupaya untuk mendeskripsikan fakta-fakta yang ditemukan dalam karya sastra dan kemudian menganalisis data-data tersebut hingga terbentuk suatu kesatuan penelitian yang komplit. Dengan kata lain, metode ini berusaha menguraikan fakta-fakta yang terdapat dalam karya sastra dan kemudian diikuti dengan pemahaman-pemahaman yang berasal dari luar karya sastra tersebut.

Metode-metode di atas merupakan metode dasar yang menjadi dasar penelitian keusastraan. Penggunaan metode penelitian ini kemudian disesuaikan dengan teori kesusastraan yang akan digunakan dalam penelitian kesusastraan. Penggunaan metode yang tidak tepat, tentunya tidak akan memaksimalkan hasil penelitian yang dihasilkan, bahkan jika mungkin penelitian yang kita lakukan dapat kemudian dianggap gagal. Sebagai seorang kritikus sastra, kita tidak semata-mata hanya harus menguasai teori analisis sastra saja, karena teori tanpa metode peneltian yang tepat hanya akan percuma. Dengan mengetahui bagaimana peranan metode, jenis-jenis dan fungsinya, kita tentu akan dapat membangun sebuah penelitian yang valid dan objektif.