Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang cenderung lebih pendek daripada prosa dan drama. Meski demikian, puisi dianggap karya sastra yang paling sulit ditulis karena kata-kata yang diungkapkan dalam puisi harus mengandung arti yang sangat dalam dengan nada dan irama yang sesuai.

Selain itu, puisi dianggap sulit untuk ditulis. Penulis puisi harus dapat bermain-main dengan kata dan rasa serta mengolahnya dengan penuh makna. Hal tersebut disebabkan komponen puisi yang tidak sesederhana komponen bentuk karya sastra lainnya, yaitu prosa dan drama. Gaya bahasa yang digunakan lebih banyak menggunakan kiasan, tidak seperti prosa dan drama yang seringkali menggunakan bahasa yang lugas dan denotatif. Untuk dapat menulis sebuah puisi, maka perlu dipahami terlebih jenis-jenis puisi dan aspek-aspek yang harus ada di dalam sebuah puisi berikut.

Jenis-jenis Puisi

Ditinjau dari bentuk dan isinya, puisi dapat dibedakan menjadi berikut.

  1. Puisi epik, yakni suatu puisi yang di dalamnya mengandung cerita kepahlawanan, baik kepahlawanan yang berhubungan dengan legenda, kepercayaan, maupun sejarah. Puisi epik dibedakan menjadi folk epic, yakni jika nilai akhir puisi itu untuk dinyanyikan, dan literary epic, yakni jika nilai akhir puisi itu untuk dibaca, dipahami, dan diresapi maknanya.
  2. Puisi naratif, yakni puisi yang di dalamnya mengandung suatu cerita, menjadi pelaku, perwatakan, setting, maupun rangkaian peristiwa tertentu yang menjalin suatu cerita. Jenis puisi yang termasuk dalam jenis puisi naratif ini adalah balada yang dibedakan menjadi folk ballad dan literary ballad. Ini adalah ragam puisi yang berkisah tentang kehidupan manusia dengan segala macam sifat pengasihnya, kecemburuan, kedengkian, ketakutan, kepedihan, dan keriangannya. Jenis puisi lain yang termasuk dalam puisi naratif adalah poetic tale, yaitu puisi yang berisi dongeng-dongeng rakyat.
  3. Puisi lirik, yakni puisi yang berisi luapan batin individual penyairnya dengan segala macam endapan pengalaman, sikap, maupun suasana batin yang melingkupinya. Jenis puisi lirik umumnya paling banyak terdapat dalam khazanah sastra modern di Indonesia. Misalnya, dalam puisi-puisi Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, dan lain-lain.
  4. Puisi dramatik, yakni salah satu jenis puisi yang secara objektif menggambarkan perilaku seseorang, baik lewat lakuan, dialog, maupun monolog sehingga mengandung suatu gambaran kisah tertentu. Dalam puisi dramatik dapat saja penyair berkisah tentang dirinya atau orang lain yang diwakilinya lewat monolog.
  5. Puisi didaktik, yakni puisi yang mengandung nilai-nilai kependidikan yang umumnya ditampilkan secara eksplisit.
  6. Puisi satirik, yaitu puisi yang mengandung sindiran atau kritik tentang kepincangan atau ketidakberesan kehidupan suatu kelompok maupun suatu masyarakat.
  7. Romance, yakni puisi yang berisi luapan rasa cinta seseorang terhadap sang kekasih.
  8. Elegi, yakni puisi ratapan yang mengungkapkan rasa pedih dan kedukaan seseorang.
  9. Ode, yakni puisi yang berisi pujian terhadap seseorang yang memiliki jasa ataupun sikap kepahlawanan.
  10. Hymne, yakni puisi yang berisi pujian kepada Tuhan maupun ungkapan rasa cinta terhadap bangsa dan tanah air.

Aspek yang Diperhatikan Saat Menulis Puisi

  1. Bait, yakni satuan yang lebih besar dari baris yang ada dalam puisi. Bait merujuk pada kesatuan larik yang berada dalam rangka mendukung satu kesatuan pokok pikiran, terpisah dari kelompok larik (bait) lainnya. Dalam puisi, keberadaan bait sebagai kumpulan larik tidaklah mutlak. Bait-bait dalam puisi dapat diibaratkan sebagai suatu paragraf karangan yang paragraf atau baitnya telah mengandung pokok-pokok pikiran tertentu.
  2. Rima, menyangkut pengulangan bunyi yang berselang, baik di dalam larik puisi maupun pada akhir larik sajak yang berdekatan.
  3. Irama, yakni paduan bunyi yang menimbulkan unsur musikalitas, baik berupa alunan tinggi-rendah, panjang-pendek, dan kuat-lemah yang keseluruhannya mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana, serta nuansa makna tertentu. Timbulnya irama itu, selain akibat penataan rima, juga akibat pemberian aksentuasi dan intonasi maupun tempo sewaktu melaksanakan pembacaan secara oral.
  4. Ragam bunyi meliputi euphony, cacophony, dan onomatope.

Ragam Bunyi dalam Puisi

Ragam bunyi di dalam puisi terdiri atas euphony, cacophony, dan onomatope. Euphony adalah salah satu ragam bunyi yang mampu menuansakan suasana keriangan, vitalitas, maupun gerak. Bunyi euphony umumnya berupa bunyi-bunyi vokal. Kata-kata yang mengandung sesuatu yang menyenangkan umumnya mengandung bunyi vokal, seperti tampak pada kata "gembira", "bernyanyi", "berlari", dan lain-lain.

Berkebalikan dengan bunyi euphony, bunyi cacophony adalah bunyi yang menuansakan suasana ketertekanan batin, kebekuan, kesepian, ataupun kesedihan. Jika bunyi euphony umumnya terdapat dalam bentuk vokal, bunyi cacophony umumnya berupa bunyi-bunyi konsonan yang berada di akhir kata. Bunyi konsonan itu dapat berupa bunyi bilabial, seperti nampak pada larik-larik ketika tubuh kuyup dan pintu tertutup.

Sedangkan onomatope merupakan kata untuk mewakili tiruan bunyi. Misalnya kokok ayam, auman harimaun, dan lain sebagainya. Onomatope digunakan untuk dapat menegaskan pelukisan bunyi di dalam puisi.
Peranan bunyi dalam puisi meliputi hal-hal berikut:

  1. Untuk menciptakan nilai keindahan lewat unsur musikalitas atau kemerduan;
  2. Untuk menuansakan makna tertentu sebagai perwujudan rasa dan sikap penyairnya;
  3. Untuk menciptakan suasana tertentu sebagai perwujudan suasana batin dan sikap penyairnya.

Majas dalam Puisi

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menulis puisi adalah penggunaan majas atau gaya bahasa. Beberapa majas yang biasanya digunakan dalam puisi adalah sebagai berikut.

  1. Metafora, yakni pengungkapan yang mengandung makna secara tersirat untuk mengungkapkan acuan makna yang lain selain makna sebenarnya, misalnya, "cemara pun gugur daun" mengungkapkan makna “ketidakabadian kehidupan".
  2. Metonimia, yakni pengungkapan dengan menggunakan suatu realitas tertentu, baik itu nama orang, benda, atau sesuatu yang lain untuk menampilkan makna-makna tertentu. Misalnya, "Hei! Jangan kaupatahkan kuntum bunga itu". "Kuntum bunga" di situ mewakili makna tentang remaja yang sedang tumbuh untuk mencapai cita-cita hidupnya.
  3. Anafora, yakni pengulangan kata atau frase pada awal dua larik puisi secara berurutan untuk penekanan atau keefektifan bahasa.
  4. Oksimoron, yaitu majas yang menggunakan penggabungan kata yang sebenarnya acuan maknanya bertentangan. Misalnya: kita mesti berpisah. Sebab sudah terlampau lama bercinta.

Citraan dalam Puisi

Aspek lain yang penting diperhatikan saat menulis puisi adalah penggunaan citraan. Citraan atau pengimajian adalah gambar-gambar dalam pikiran dan bahasa yang menggambarkannya. Setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji (image). Adapun gambaran pikiran adalah sebuah efek dalam pikiran yang sangat menyerupai, yang dihasilkan oleh penangkapan kita terhadap sebuah objek yang dapat dilihat oleh mata (indra penglihatan). Jika dilihat dari fungsinya, citraan atau pengimajian lebih cenderung berfungsi untuk mengingatkan kembali apa yang telah dirasakan.

Ada beberapa jenis citraan yang dapat ditimbulkan puisi, yakni sebagai berikut.

1. Citraan Penglihatan

Citraan penglihatan ditimbulkan oleh indra penglihatan (mata). Citraan ini merupakan jenis yang paling sering digunakan penyair. Citraan penglihatan mampu memberi rangsangan kepada indra penglihatan sehingga hal-hal yang tidak terlihat menjadi seolah-olah terlihat.

Contoh:
Perahu Kertas
Karya: Sapardi Djoko Damono
Waktu masih kanak-kanak Kau membuat perahu kertas
dan kau
layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan perahumu
bergoyang menuju lautan.


2. Citraan Pendengaran

Citraan pendengaran berhubungan dengan kesan dan gambaran yang diperoleh melalui indra pendengaran (telinga). Citraan ini dapat dihasilkan dengan menyebutkan atau menguraikan bunyi suara, misalnya dengan munculnya diksi sunyi, tembang, dendang, suara mengiang, berdentum-dentum, dan sayup-sayup.

Contoh:
Penerbangan Terakhir”
Karya: Taufik Ismail
Maka menangislah ruh bayi itu keras-keras
Kedua tangan yang alit itu seperti kejang-kejang
Kakinya pun menerjang-nerjang
Suaranya melengking lalu menghiba-hiba


3. Citraan Perabaan

Citraan perabaan atau citraan tactual adalah citraan yang dapat dirasakan oleh indra peraba (kulit). Pada saat membacakan atau mendengarkan larik-larik puisi, kita dapat menemukan diksi yang menyebabkan kita merasakan rasa nyeri, dingin, atau panas karena perubahan suhu udara.

Contoh:
Blues untuk Bonie
Karya: W.S Rendra
Sembari jari-jari galak di gitarnya
Mencakar dan mencakar
Menggaruki rasa gatal di sukmanya


4. Citraan Penciuman

Citraan penciuman atau pembauan disebut juga citraan olfactory. Dengan membaca atau mendengar kata-kata tertentu, kita seperti mencium bau sesuatu. Citraan atau pengimajian melalui indra penciuman ini akan memperkuat kesan dan makna sebuah puisi. Perhatikan kutipan puisi berikut yang menggunakan citraan penciuman.

Contoh:
Pemandangan Senjakala
Karya: W.S Rendra
Senja yang basah meredakan hutan terbakar
Kelelawar-kelelawar raksasa datang dari langit kelabu tua
Bau mesiu di udara, Bau mayat. Bau kotoran kuda.


5. Citraan Pencicipan atau Pencecapan

Citraan pencicipan disebut juga citraan gustatory, yakni citraan yang muncul dari puisi sehingga kita seakan-akan mencicipi suatu benda yang menimbulkan rasa asin, pahit, asam, manis, atau pedas. Berikut contoh larik-larik puisi yang menimbulkan citraan pencicipan atau pencecapan.

Contoh:
Pembicaraan
Karya: Subagio Sastrowardojo
Hari mekar dan bercahaya:
yang ada hanya sorga. Neraka
adalah rasa pahit di mulut
waktu bangun pagi


6. Citraan Gerak

Dalam larik-larik puisi, kamu pun dapat menemukan citraan gerak atau kinestetik. Yang dimaksud citraan gerak adalah gerak tubuh atau otot yang menyebabkan kita merasakan atau melihat gerakan tersebut. Munculnya citraan gerak membuat gambaran puisi menjadi lebih dinamis.

Contoh:
Mimpi Pulang
Karya: Nuning Damayanti
Di sini aku berdiri, berteman angin
Daun-daun cokelat berguguran
Meninggalkan ranting pohon oak yang meranggas
Dingin mulai mengigit telingaku
Kuperpanjang langkah kakiku
Menyusuri trotoar yang seperti tak berujung
Di antara beton-beton tua yang tidak ramah mengawasiku
Gelap mulai merayap menyusul langkah kakiku
Ah, Gott sei dank! di sana masih ada burung-burung putih
itu

Langkah-langkah Menulis Puisi

Setelah memahami aspek-aspek yang harus ada di dalam sebuah puisi, maka selanjutnya adalah mulai menulis sebuah puisi dengan langkah-langkah berikut.

  1. Menentukan tema
    Tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair melalui puisinya. Tema yang sering digunakan dalam puisi misalnya ketuhanan (religius), kemanusiaan, cinta, patriotisme, perjuangan, kegagalan hidup, penyesalan, alam, keadilan, kritik sosial, demokrasi, perjuangan, keindahan alam, dan kesetiakawanan. Tema puisi juga bisa berasal dari pengalaman atau peristiwa yang pernah dilakukan.
  2. Menuliskan apa yang ada dalam hati sejelas mungkin.
    Karena puisi adalah ungkapan perasaan dan jiwa, maka hal terpenting adalah mengungkapkan kata-kata yang ada di dalam benak saat menulis. Namun, kata-kata tersebut harus tetap sesuai dengan tema yang dipilih. Kata-kata yang digunakan dapat bermakna denotasi ataupun konotasi. Dapat pula ditambahkan majas, ungkapan, atau peribahasa.
  3. Mengembangkan pilihan kata yang sudah dipilih ke dalam larik-larik yang beraturan.
    Kemudian kata-kata yang telah diungkapkan disusun membentuk larik-larik yang saling berhubungan. Larik-larik disusun menjadi bait. Puisi dapat tersusun ata s bait-bait atau tidak berbait sama sekali.
  4. Susunlah larik-larik puisi menjadi bait dengan memperhatikan rima atau persamaan bunyi!
    Rima yang digunakan dapat berupa eufoni atau kakofoni. Eufoni berarti bunyi merdu yang dihasilkan vokal dalam satu larik. Sebaliknya, kakofoni berarti bunyi merdu yang dihasilkan oleh konsonan dalam satu larik.