Wawancara atau interview adalah suatu cara untuk mengumpulkan data dengan mengajukan pertanyaan langsung kepada narasumber. Orang yang melakukan wawancara disebut dengan pewawancara atau interviewer. Sedangkan orang yang diwawancara disebut narasumber. Narasumber berfungsi sebagai informan, yaitu orang yang memberikan informasi kepada pewawancara.

Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi dari narasumber. Biasanya narasumber merupakan seseorang yang berkompeten dalam suatu bidang. Misalnya, wawancara masalah ekonomi kepada ahli ekonomi, masalah politik kepada politisi, dan lain-lain. Namun, ada pula wawancara yang dilakukan kepada seseorang tanpa melihat kompetensinya di bidang apapun, misalnya wawancara kepada pengunjung kebun binatang mengenai pendapatnya tentang tempat yang dikunjunginya.

Agar wawancara menghasilkan sebuah informasi yang berguna, maka perlu wawancara dipersiapkan dengan baik. Wawancara yang baik dapat terwujud dengan menyiapkan pertanyaan wawancara sebaik mungkin. Setelah dilakukan proses wawancara, maka hasil wawancara perlu ditulis agar menjadi sebuah infromasi yang bermanfaat.

Menyiapkan Pertanyaan Wawancara

Sebelum melakukan wawancara, perlu dipersiapkan terlebih dahulu daftar pertanyaan yang akan diajukan pada saat wawancara. Hal ini diperlukan agar wawancara berlangsung dengan baik dan fokus pada topik yang akan dibicarakan. Daftar pertanyaan wawancara yang baik harus mengandung rumusan 5W + 1H, yaitu what (apa), who (siapa), where (di mana), when (kapan), why (mengapa), dan how (bagaimana).

Unsur what (apa) menyangkut pada topik utama wawancara, yaitu hal utama yang akan dibahas. Unsur who (siapa) menyaran kepada orang-orang yang terlibat di dalam topik yang dibicarakan. Sedangkan where (di mana) dan when (kapan) meliputi unsur waktu dan tempat yang berhubungan dengan topik yang dibicarakan. Unsur why (mengapa) menyangkut alasan-alasan dan sebab-akibat yang berkaitan dengan topik yang dibicarakan. Sedangkan unsur how (bagaimana) menjelaskan lebih detail topik yang dibicarakan.

Meskipun demikian, pewawancara tidak perlu terpaku pada daftar pertanyaan yang disediakan. Pewawancara dapat mengeksplorasi pertanyaan lainnya yang masih berhubungan dengan topik. Bahkan, pewawancara yang cermat dapat membuat pertanyaan secara spontan dari jawaban yang diberikan narasumber.

Transkripsi Hasil Wawancara

Saat melakukan wawancara, pewawancara harus mencatat atau merekam seluruh wawancara yang dilakukan. Hal tersebut perlu dilakukan agar semua informasi yang diterima dari narasumber dapat diterima secara utuh dan lengkap. Pada saat mencatat wawancara yang dilakukan, pewawancara dapat menulis poin-poin penting dalam wawancara tanpa harus menulis secara detail dan sama persis dengan apa yang diucapkan narasumber.

Berbeda dengan mencatat, wawancara yang direkam menggunakan alat perekam akan membantu memudahkan pewawancara menyimpan hasil wawancara yang dilakukan. Hasil rekaman dapat diulang berkali-kali hingga pewawancara dapat betul-betul memahami isi wawancara. Setelah menyimak hasil wawancara yang direkam, pewawancara harus memindahkan informasi yang diterima secara lisan tersebut ke dalam tulisan. Proses ini dinamakan dengan transkripsi.

Menulis Hasil Wawancara

Proses terakhir dari kegiatan wawancara adalah menulis hasil wawancara yang dilakukan. Hal ini bertujuan agar hasil wawancara dapat dibaca oleh khalayak sebagai suatu informasi yang bermanfaat. Hasil wawancara dalam bentuk tulisan ini dapat ditemukan di berita, artikel, esai, dan lain-lain di dalam media massa.

Hasil wawancara dapat ditulis dalam dua bentuk, yaitu bentuk dialog dan narasi. Wawancara dalam bentuk dialog merupakan penulisan hasil wawancara apa adanya. Bentuk dialog meliputi pertanyaan pewawancara dan jawaban narasumber. Hasil wawancara dalam bentuk dialog biasanya diawali dengan paragraf pembuka atau pengantar wawancara.

Sedangkan hasil wawancara yang ditulis dalam bentuk narasi (paragraf) membutuhkan kemampuan tersendiri. Hasil wawancara yang ditulis dalam bentuk narasi harus mencakup semua aspek informasi yang penting dari sebuah wawancara. Narasi harus disajikan dengan menarik agar informasi yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik.

Baik disajikan dalam bentuk dialog atau narasi, hasil wawancara yang baik harus memperhatikan hal-hal berikut.

  1. Kata-kata yang diucapkan narasumber hendaknya ditulis apa adanya. Hal ini akan membuat hasil wawancara menjadi terasa hidup, seolah-olah narasumber langsung bercerita kepada setiap pembaca.
  2. Kejadian-kejadian, keterangan-keterangan, dan pendapat-pendapat harus disampaikan dengan jelas dan sesuai dengan apa yang diucapkan narasumber.
  3. Wawancara menjadi efektif  jika tujuan pewawancara jelas, yaitu untuk memberi informasi, hiburan, bimbingan praktis, atau laporan.
  4. Hasil wawancara sebaiknya tidak sekadar menyajikan informasi yang berkenaan dengan topik saja, melainkan diselingi dengan deskripsi tentang tempat, waktu, suasana, latar belakang pribadi narasumber, dan lain-lain yang membuat hasil wawancara menjadi lebih menarik.