Menulis adalah salah satu keterampilan berbahasa. Menulis dapat dilatih dengan membiasakan diri. Hal tersebut dapat dimulai dengan berlatih menulis karya-karya sederhana, termasuk karya sastra. Di antara karya sastra yang mudah untuk ditulis adalah cerita pendek (cepen) karena relatif lebih pendek dibanding karya lainnya.

Cerpen merupakan salah satu karya sastra berbentuk prosa. Cerpen merupakan karangan naratif yang mengisahkan sepenggal kisah kehidupan tokohnya. Sesuai namanya, isi cerpen cenderung pendek, tidak seperti novel. Meski tidak ada batasan yang pasti, namun para ahli sastra menyebutkan panjang cerpen tidak melebihi 20 halaman. Dengan demikian, banyak yang menyebut bahwa cerpen dapat habis dibaca dalam satu kali duduk.

Isi cerpen yang pendek juga disebabkan konflik atau kejadian yang dibangun di dalamnya hanya sedikit, bahkan hanya terdiri atas satu konflik. Selain itu, di dalam cerpen juga tidak terdapat perubahan nasib pada tokohnya. Hal tersebut berbeda dengan novel yang terdiri atas banyak konflik dan biasanya menyebabkan perubahan nasib pada tokohnya.

Oleh karena itu, menulis cerpen relatif lebih mudah dibanding menulis karya prosa lainnya karena isinya yang lebih singkat. Namun demikian, perlu diperhatikan langkah-langkah menulis cerpen berikut sehingga dapat tercipta sebuah cerpen yang baik dan enak dibaca.

Langkah-langkah Menulis Cerpen

Setiap orang memiliki cara dan langkah-langkah tersendiri dalam menulis cerpen. Hal tersebut dinamakan dengan proses kreatif. Bahkan para penulis profesional pun memiliki proses kreatif yang berbeda satu sama lain. Hal tersebut menandakan bahwa dalam menulis cerpen, banyak proses yang dapat dipilih. Hal terpenting adalah bahwa proses kreatif tersebut menunjang seseorang dalam menciptakan karya sebaik mungkin.

Namun demikian, terdapat langkah-langkah menulis cerpen yang pada umumnya dimiliki setiap penulis profesional. Langkah-langkah tersebut perlu diperhatikan para penulis pemula atau seseorang yang ingin hendak menulis cerpen. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut.

 

1. Menetapkan Niat dan Motivasi

Seperti halnya memulai suatu aktivitas, sebelum menulis cerpen harus disiapkan niat yang kuat dan motivasi yang mantap. Dengan niat yang kuat, maka kesulitan dalam menulis tidak akan menjadi hambatan atau membuat putus asa. Bagi pemula, niat yang kuat perlu dimiliki agar menyadari bahwa menulis cerpen itu tidak sesulit yang dibayangkan namun tidak semudah membalik telapak tangan. Artinya, bahwa menulis itu mudah, namun pada prosesnya akan ditemui banyak kesulitan. Maka, hambatan tersebut tidak akan menyurutkan pemula untuk terus mencoba.

Banyak motif yang dimiliki seseorang saat menulis cerpen, misalnya untuk kepentingan akademik (tugas sekolah), hobi semata, prestise atau materi (penulis), dan lain-lain. Namun, apa pun bentuk motifnya diperlukan motivasi yang mantap agar cerpen yang dibuat tidak sekadar tulisan hambar yang tidak seorang pun minat membacanya.

2. Menentukan Tema

Setelah memantapkan niat, saatnya kita menulis. Hal yang pertama kali dilakukan adalah menentukan tema cerpen yang akan dibuat. Tema adalah ide yang mendasari sebuah cerita. Tema biasanya datang karena inspirasi. Inspirasi muncul karena tersedia pengetahuan dan pengalaman di dalam pikiran atau otak. Oleh karena itu, inspirasi muncul dari kejadian (peristiwa) yang dialami atau wawasan pengetahuan yang luas.

Setiap orang pasti memiliki pengalaman hidup, baik yang terjadi sehari-hari atau tersimpan di dalam memori karena terjadi di masa lalu. Pengalaman bukan berarti kejadian yang dialami diri sendiri saja, melainkan kejadian atau peristiwa hidup yang dialami orang lain yang kita lihat dan dengar. Selain itu, wawasan yang luas diperoleh dengan cara mencarinya di lingkungan sekitar kita, termasuk membaca. Membaca beragam jenis bacaan dapat membuat kita kaya akan pengetahuan. Salah satu bacaan penting yang harus dibaca penulis pemula adalah cerpen karangan penulis profesional agar dapat melihat aspek-aspek penting yang menarik di dalamnya. Kedua aspek tersebut (pengalaman dan wawasan) merupakan sumber inspirasi yang membuat kita mendapatkan tema cerpen dengan mudah.

Tema yang baik adalah tema yang menarik untuk dibaca dan memberikan kesan tersendiri bagi pembaca, seperti menyenangkan, mengharukan, menyedihkan, dan perasaan lainnya. Tema memang dapat diambil berdasarkan kejadian sehari-hari, namun bukan merupakan kejadian yang secara rutin terjadi setiap hari, seperti jatuh cinta, kecelakaan, kematian, pertengkaran, dan lain-lain.

3. Menentukan Sasaran Pembaca

Setelah menentukan tema, perlu ditentukan pula sasaran pembaca dari cerpen yang akan dibuat. Hal ini berkaitan dengan gaya bahasa dan cerita yang akan digunakan dalam cerpen yang dibuat. Berdasarkan batasan usianya, sasaran pembaca cerpen adalah anak-anak, remaja, dewasa, ibu-ibu, dan lain sebagainya. Ada pula sasaran pembaca yang dibedakan menurut gender (perempuan dan laki-laki), agama, dan lain-lain. Namun demikian, ada pula cerpen yang ditulis untuk pembaca umum tanpa batasan usia dan gender.

Pembedaan sasaran pembaca disebabkan karena setiap cerpen memiliki karakteristik tersendiri. Misalnya, cerpen untuk anak-anak memiliki karakteristik tersendiri, yaitu mengandung unsur moral dan pendidikan yang kuat dan tertulis secara eksplisit. Berbeda dengan cerpen untuk pembaca dewasa biasanya pesan moral yang dikandung tidak ditulis secara eksplisit agar tidak terkesan menggurui. Cerpen remaja biasanya memiliki tema-tema dengan kehidupan ala remaja, seperti yang biasa terlihat dalam cerita teenlit atau cerita khas remaja perkotaan dengan segala pergaulannya. Berbeda dengan cerpen religius yang biasanya dipenuhi dengan pesan-pesan keagamaan.

4. Mulai Menulis

Setelah menentukan tema dan sasaran pembaca, saatnya menulis. Proses inilah yang menuntut ketekunan dan kecermatan. Pada prosesnya, kita dituntut untuk dapat mengembangkan imajinasi yang dirangkai melalui kata-kata. Pada saat menulis, kita harus telah menyiapkan kerangka pembangun cerpen yang akan ditulis. Kerangka pembangun tersebut biasa disebut dengan unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.

Unsur intrinsik cerpen yang perlu diperhatikan adalah adanya tokoh dengan beragam karakter penokohannya, adanya alur, sudut pandang yang digunakan penulis, dan lain sebagainya. Unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen akan dibahas pada poin berikutnya.

Karena merupakan karya sastra fiksi maka cerpen bersifat fiktif atau berdasarkan khayalan semata. Maka, penulis cerpen dituntut untuk dapat mengolah imajinasinya agar cerpen yang dibuat terasa hidup dan terjadi di kehidupan nyata. Namun demikian, fiksi bukan berarti cerpen tidak dapat diambil dari kisah nyata. Banyak cerpen yang ditulis berdasarkan kisah nyata, namun pada pengolahannya tetap tidak sepenuhnya sama dengan kehidupan nyata, bahkan dibumbui unsur imajinasi.

5. Membaca Kembali dan Merevisi jika Terdapat Kekurangan

Setelah selesai menulis, cerpen yang telah dibuat harus dibaca kembali. Hal tersebut berguna untuk menyunting (editing) sederhana tulisan yang telah dibuat. Menyunting cerpen yang telah dibuat terdiri atas pengecekan penulisan (mungkin terdapat salah penulisan atau pengetikan), ejaan, atau isi secara keseluruhan. Setelah menyunting, maka cerpen tersebut perlu direvisi jika masih terdapat kekurangan. Hal tersebut dapat dilakukan secara berulang-ulang hingga menghasilkan cerpen yang mendekati sempurna.

6. Memublikasikan Cerpen

Apabila cerpen telah selesai dibuat dan direvisi, maka hal terakhir yang perlu dilakukan adalah memublikasikan cerpen tersebut kepada orang lain. Karya yang baik adalah karya yang mendapat apresiasi dari pembaca, baik berupa pujian atau kritik. Selain itu, dengan memublikasikan cerpen, maka kita akan mengetahui kekurangan dan kelebihan cerpen yang kita buat untuk diperbaiki atau ditingkatkan di kemudian hari.

Unsur Pembangun Cerpen

Seperti dibahas sebelumnya, pada saat menulis cerpen, maka perlu dipersiapkan kerangka pembangun cerpen tersebut. Meski tidak diperinci dalam sebuah tulisan (outline), setidaknya kerangka tersebut telah ada dalam pikiran, baik sebelum menulis maupun saat proses menulis. Dengan demikian, saat menulis cerpen, kita dapat mengeksplorasi tulisan sesuai dengan kerangka tersebut.

Kerangka pembangun cerpen sebenarnya sama dengan unsur-unsur pembangun cerpen. Unsur-unsur tersebut dibagi menjadi unsur pembangun dari dalam (intrinsik) dan unsur pembangun dari luar (ekstrinsik). Kedua unsur tersebut merupakan unsur yang penting dalam sebuah cerpen yang baik. Maka dari itu, perlu dipahami terlebih dahulu mengenai kedua unsur tersebut sebagai berikut.

Unsur Intrinsik

Unsur intrinsik merupakan unsur pembangun dari dalam karya sastra itu sendiri. Unsur ini berkaitan dengan struktur cerpen yang saling berkaitan sehingga menghasilkan kesatuan karya yang utuh. Unsur intrinsik terdiri atas unsur berikut.

  • Tema. Tema adalah gagasan utama yang mendasari sebuah cerita.
  • Latar (setting). Latar merupakan keterangan tempat, waktu, dan suasana yang mendasari sebuah cerita. Latar pada umumnya terbagi atas latar waktu, latar tempat, dan latar suasana.
  • Tokoh dan Penokohan. Tokoh adalah individu yang diciptakan pengarang yang mengalami peristiwa dan lakuan di dalam cerita. Sedangkan penokohan adalah pelukisan tokoh cerita, baik fisik maupun watak tokoh tersebut.
  • Alur. Alur adalah urutan atau rangkaian cerita. Berdasarkan jenis waktunya, alur terbagi atas alur maju (progresif), alur mundur (flash back), dan alur campuran.
  • Sudut pandang (point of view). Sudut pandang adalah cara pengarang menempatkan posisinya dalam sebuah cerira. Sudut pandang dibagi menjadi tiga macam, yaitu sudut pandang orang pertama (akuan), sudut pandang orang ketiga terbatas (diaan-terbatas), dan sudut pandang orang ketiga mahatahu (diaan-mahatahu). Sudut pandang diaan-terbatas yaitu posisi pengarang menjadi subjek pencerita dengan berfokus pada salah seorang tokoh seolah dia adalah tokoh tersebut, sedangkan sudut pandang diaan-mahatahu yaitu posisi pengarang sebagai subjek pencerita yang serbatahu akan nasib semua tokohnya.
  • Gaya Bahasa. Gaya bahasa adalah cara pengarang mengungkapkan ide, gagasan, dan perasaan yang diolah sedemikian rupa sehingga tercipta sebuah kesan bagi pembaca.
  • Amanat. Amanat adalah ajaran moral atau pelajaran yang dapat diambil dari sebuah cerita.

2. Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik adalah unsur pembangun dari luar karya sastra. Unsur ini tidak berhubungan dengan struktur di dalam karya sastra. Unsur ekstrinsik merupakan aspek-aspek di luar karya, seperti biografi, kondisi sosial, psikologi, dan budaya pengarang yang mempengaruhi karya yang dihasilkannya.