Menstruasi biasanya dialami oleh perempuan mulai usia 8 hingga 13 tahun dan berlanjut hingga terhenti pada usia 45 hingga 55 tahun. Usia awal mengalami menstruasi dikenal dengan usia baligh bagi perempuan dan usia ketika menstruasi terhenti dikenal sebagai menopause. Menstruasi atau haid adalah proses luruhnya endometrium (dinding rahim bagian dalam).

Lapisan endometrium ini dimaksudkan untuk melekatkan embrio. Jika tidak ada embrio yang melekat, lapisan ini akan meluruh karena banyaknya pembuluh darah pada lapisan ini maka peluruhan ini mengakibatkan banyaknya darah yang keluar. Darah keluar melewati serviks lalu menuju vagina. Proses menstruasi ini terjadi secara periodik. Jarak antara satu proses menstruasi dengan menstruasi berikutnya disebut sebagai satu siklus menstruasi.

Tidak semua perempuan memiliki siklus menstruasi yang sama, tetapi rata-rata siklusnya berkisar selama 28 hari. Siklus pertama mestruasi adalah hari pertama mendapatkan menstruasi. Ada empat fase menstruasi, yaitu:

Fase pertama

Fase ini disebut juga fase menstruasi, yaitu ketika ovum tidak dibuahi oleh sperma yang menyebabkan korpus luteum berhenti memproduksi hormon estrogen dan progesteron. Menurunnya kadar hormon estrogen dan progesteron ini mengakibatkan ovum terlepas dari endometrium dan diikuti oleh robek serta meluruhnya endometrium. Akibatnya, terjadilah pendarahan. Fase ini berlangsung sekitar lima hari. Selama menstruasi, darah yang keluar berkisar 50 hingga 150 cc.

Fase kedua

Fase ini dikenal sebagai fase pra-ovulasi atau fase poliferasi. Pada fase ini, hipotalamus mengeluarkan hormon gonadrotopin (hormon pembebas). Keluarnya hormon ini menyebabkan hipofise terpacu untuk mengeluarkan Follicle-Stimulating Hormone (FSH) atau folikel yang menstimulasi hormon. Hormon yang distimulasi adalah estrogen. Jadi, FSH ini memacu folikel agar menjadi matang serta merangsangnya untuk mengeluarkan hormon estrogen. Keluarnya hormon estrogen mengakibatkan poliferasi (pembentukan kembali) dinding endometrium yang sebelumnya telah luruh.

Meningkatnya kadar hormon estrogen ini juga mendorong serviks untuk menghasilkan lendir yang memiliki sifat basa. Lendir dengan suasana basa yang kental ini fungsinya agar lingkungan vagina yang mulanya dominan dengan suasana asam menjadi netral. Suasana yang netral pada vagina dimaksudkan agar bisa mendukung kehidupan sperma.

Fase ketiga

Dikenal juga dengan fase ovulasi. Misalkan, seorang perempuan memiliki siklus menstruasi sekitar 28 hari, maka fase ovulasi pada perempuan itu akan terjadi pada hari ke-14. Kadar hormon estrogen yang semakin meningkat akan menghambat pengeluaran FSH, lalu hipofise akan mengeluarkan LH (Luternizing hormone). Meningkatnya kadar LH akan merangsang pelepasan oosit sekunder dan folikel. Kejadian ini dikenal dengan proses ovulasi.

Fase keempat

Fase ini merupakan fase pasca ovulasi. Fase ini berlagsung selama 14 hari menjelang siklus menstruasi berikutnya. Panjang siklus menstruasi setiap perempuan memang tidak sama. Namun, fase pasca ovulasi ini biasanya selalu sama, yaitu 14 hari menjelang fase menstruasi berikutnya. Folikel yang telah matang (Folikel de Graaf) setelah melepaskan oosit sekunder akan berkerut dan berubah menjadi korpus luteum. Korpus luteum ini menghasilkan hormon progesteron, walaupun masih menghasilkan hormon estrogen, tetapi tidak sebanyak ketika masih berbentuk folikel.

Hormon progesteron mendukung kinerja hormon estrogen yang mempertebal lapisan endometrium serta menumbuhkan pembuluh-pembuluh darah pada lapisan ini. Hal itu agar lapisan endometrium siap pada saatnya nanti untuk menyambut dan melekatkan embrio jika terjadi pembuahan (fertilisasi) dan kehamilan. Jika pembuahan tidak terjadi, maka korpus luteum akan berubah menjadi korpus albikan dan produksi hormon progesteron dan estrogen akan menyusut. Menyusutnya produksi kedua hormon itu menyebabkan kadar hormon yang rendah, akibatnya terjadilah menstruasi (berulang ke fase pertama).

Siklus menstruasi akan terus terjadi berulang-ulang dan hanya terhenti sementara bila terjadi kehamilan, setelah proses kelahiran siklus ini akan terulang lagi. Pada suatu saat, siklus menstruasi akan mengalami ketidakberaturan. Peristiwa ini terjadi menjelang masa menopouse, biasanya berkisar pada usia 45 hingga 50 tahun. Dan, siklus menstruasi benar-benar akan terhenti pada masa menopouse, mulai pada usia antara 50 – 55 tahun.

Suatu saat, seorang perempuan akan mengalami masa menopouse dan tidak lagi menghasilkan sel telur. Hal ini terjadi disebabkan oleh terdegradasinya semua oosit primer yang telar dibentuk. Masa-masa awal menopouse memberikan berbagai dampak psikologis bagi seorang perempuan, di antaranya mudah marah, mudah tersinggung, mudah merasa cemas, cepat merasa letih, dan napas menjadi pendek. Satu di antara delapan orang perempuan akan mengalami gangguan psikologis yang berlebihan hingga memerlukan terapi dan pertolongan ahli medis.

Ketika seorang perempuan berada pada masa menopouse, indung telurnya berhenti memproduksi sel telur, produksi hormon estrogen dan progesteron pun akan terhenti. Hal ini menimbulkan efek lain, yaitu mudah terserang pengeroposan tulang (osteoporosis) atau mudah terkenan serangan jantung. Efek-efek ini juga berlaku bagi perempuan yang karena suatu hal indung telurnya harus diangkat. Hal ini juga menunjukkan bahwa indung telur beserta hormon-hormon yang diproduksi di sekitarnya bukan hanya berhubungan dengan menstruasi atau kehamilan.

Seperti halnya proses metabolisme dan kerja tubuh lainnya, menstruasi pun tak luput dari berbagai gangguan. Gangguan pada menstruasi dibedakan menjadi:

1.  Kelainan siklus

Amenorea, yaitu kondisi tidak terjadinya menstruasi pada perempuan. Kondisi ini normal jika terjadi pada masa sebelum pubertas, masa kehamlan, setelah melahirkan dan masa menopouse. Ada dua jenis amenorea, yaitu Amenorea primer dan Amenorea sekunder.

Amenorea primer terjadi jika tidak terjadi menstruasi pada perempuan berusia 16 tahun, penyebabnya, antara lain Terlambatnya pubertas, gagalnya fungsi indung telur, rahim dan vagina tidak tumbuh (Agenesis uterovaginal), susunan saraf pusat terganggu. Jika rahim dan vagina normal, terjadi penyumbatan oleh himen imperforata (selaput dara). Gejala yang terlihat biasanya adalah karena tidak tumbuhnya organ seksual sekunder, seperti tidak tumbuhnya payudara atau rambut pubis yang tidak tumbuh.

Amenorea sekunder terjadi apabila tidak mengalami menstruasi selama tiga siklus atau enam siklus setelah sebelumnya mengalami siklus menstruasi normal. Penyebabnya ada dua kategori, yaitu penyebab normal dan tidak normal.

Penyebab normal antara lain kehamilan, pasca kehamilan, masa menyusui, efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi. Sementara itu, penyebab tidak normal antara lain penggunaan obat-obatan, depresi dan stress, obesitas, diet berlebihan, olah raga berlebihan, kekurangan nutrisi, gangguan pada hipotalamus dan hipofisis, penyakit kronis, gangguan pada indung telur

Gejalanya adalah jika seorang perempuan tiba-tiba tidak mengalami menstruasi padahal sebelumnya terjadi dan normal. Jika disebabkan oleh penyakit maka gejalanya sesuai dengan penyakit yang dialami.

2.  Oligomenorea

Oligomenorea merupakan suatu kondisi siklus menstruasi yang lebih panjang dari 35 hari dengan perdarahan yang sama. Penderita kelainan ini akan mengalami menstruasi lebih jarang dari biasanya, tetapi siklusnya tidak terhenti sampai 3 kali berturut-turut. Oligomenorea terjadi biasanya karena ketidakseimbangan hormonal pada aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium. Oligomenorea sering terjadi setelah 3-5 tahun pertama haid atau beberapa tahun menjelang menopouse. Selain hal-hal tadi, oligomenorea juga bisa disebabkan oleh:

  • Gangguan ovarium, seperti: Policistic Ovarium Syndrome (PCOS),
  • Depresi dan stress,
  • Sakit kronis,
  • Gangguan makan (bulimia, anorexia nervosa),
  • Diet berlebihan,
  • Olah raga berlebihan (pada atlit),
  • Terdapatnya tumor yang melepaskan estrogen,
  • Anomali pada struktur serviks dan rahim sehingga menstruasi terhambat, dan
  • Konsumsi obat-obatan tertentu

Kelainan oligomenorea pada umumnya tidak mengganggu, tetapi jika sudah melebihi tiga bulan dan mempengaruhi kesuburan sebaiknya menghubungi dokter.

3.  Polimenorea

Kondisi ketika siklus menstruasi lebih pendek dari 21 hari. Penderitanya bisa mengalami menstruasi lebih dari dua kali dalam sebulan dengan jumlah perdarahan yang sama dan polanya teratur.

Seperti halnya kelainan amenorea dan oligomenorea, penyebab polimenorea pun kurang lebih sama, hanya gangguan hormon menyebabkan terganggunya proses ovulasi atau menyebabkan siklus suatu menstruasi menjadi lebih pendek sehingga menstruasi menjadi lebih sering.

Polimenorea bisa sembuh dengan sendirinya. Akan tetapi, jika berlanjut harus segera menghubungi dokter karena dapat menyebabkan gangguan kesuburan, sulit mendapat keturunan, dan bisa menimbulkan hemodinamik tubuh karena pendarahan yang terlalu sering.

Berikut ini kelainan berdasarkan banyaknya darah yang keluar atau lamanya pendarahan:

4.  Hipermenorea atau menoragia

Hipermenorea atau menoragia merupakan suatu kondisi menstruasi dengan pendarahan yang keluar lebih banyak dari kondisi normal dan disertai darah yang membeku atau lebih lama hingga lebih dari 8 hari. Gejala yang biasanya terjadi, antara lain:

  • Mengganti pembalut lebih sering, sampai beberapa kali dalam sehari
  • Pada malam hari pembalut harus dipakai dobel
  • Menstruasi lebih dari 8 hari
  • Darah yang keluar disertai gumpalan
  • Terlalu banyak darah yang keluar hingga memicu anemia

Penyebab hipermenorea atau menoragia, antara lain:

Hipermenorea disebabkan kelainan organik seperti:

  • Infeksi saluran reproduksi
  • Penyakit kelainan pembekuan darah (koagulasi)
  • Disfungsi organ (misal: kanker) yang menyebabkan menurunnya hormon estrogen dan gangguan pembekuan darah.
  • Kelainan hormon endokrin (kelenjar tiroid, kelenjar adrenal, tumor pituitari, siklus anovulasi, PCOS, obesitas)
  • Kelainan anatomi rahim (mioma uteri, polip endometrium, hiperplasia endometrium, kanker serviks)
  • Iatrogenik (penggunaan IUD, hormon steroid, kemoterapi, konsumsi obat anti inflamasi dan koagulan)

5.  Hipomenorea

Hipomenorea merupakan kondisi pendarahan menstruasi yang lebih pendek dari biasanya. Penyebab kuarangnya kesuburan endometrium akibat kekurangan gizi, penyakit kronis, atau gangguan hormon.

6.  Pendarahan di luar menstruasi (metroragia)

Pendarahan di luar menstruasi adalah pendarahan yang tidak ada hubungannya dengan menstruasi, sering terjadi di antara dua siklus menstruasi dengan sedikit darah yang keluar atau hanya berupa bercak. Ada dua jenis metroragia, yaitu:

  • Karena kehamilan yang disebabkan oleh keguguran (abortus) atau bisa pula kehamilan ektopik.
  • Bukan akibat kehamilan yang disebabkan oleh luka yang sulit sembuh, peradangan, gangguan hormonal. Selain itu, dapat pula disebabkan oleh pendarahan fungsional, yaitu pendarahan anovulatoar. Karena psikis, neurogen, ovarial (tumor/polikistik pada ovarium), hypofiser, gangguan gizi, metabolik, penyakit akut atau kronis. Dan, Pendarahan ovulator karena hipertensi, kelainan peluruhan endometrium, korpus luteum persisten, kelainan darah, penyakit kronis atau akut.