Setiap orang pasti mempunyai pengalaman di dalam hidupnya. Dengan pengalaman, kita bisa belajar menjadi yang lebih baik. Contoh paling sederhana dengan belajar dari pengalaman adalah jika suatu saat kita ceroboh tidak meneliti buku yang akan dibawa ke sekolah, sampai sekolah buku tersebut tidak ada. Dan kamu kena hukuman dari guru. Dari pengalaman tersebut, kita bisa belajar untuk bersikap hati-hati dalam segala hal.

Banyak yang bisa dilakukan untuk menceritakan pengalaman. Misalnya saja dengan dibuat buku biografi. Maka tak jarang banyak muncul buku-buku biografi yang bercerita tentang kisah perjalanan seseorang untuk mencapai tahap tertentu. Kisah perjalanan seseorang dari nol sampai menjadi sukses. Buku biografi juga bisa menjadi kenangan untuk mengenang jasa-jasa orang yang mereka anggap pantas untuk dibukukan.

Kita sendiri juga bisa bercerita mengenai pengalaman. Pengalaman yang paling mengesankan memang susah untuk dilupakan. Bahkan kadang kita ingin menuliskan atau menceritakan pengalaman tersebut kepada orang lain. Ketika menuliskan pengalaman kita menggunakan buku harian. Buku harian adalah buku yang dipakai untuk mencatat peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian yang dialami seseorang setiap harinya. Kejadian atau peristiwa itu ada yang menyenangkan, menyedihkan, atau mungkin menggelikan. Secara umum, penulisan pengalaman pada buku harian tidak memiliki format baku. Akan tetapi, ada beberapa hal yang hendaknya ditulis saat menceritakan pengalaman di buku harian, yaitu waktu (hari/tanggal), kejadian/ peristiwa, ungkapan perasaan pribadi.

Pengalaman sendiri bukan berarti pengalaman dari kita sendiri. Namun juga bisa dari pengalaman orang lain. Pengalaman orang lain, boleh jadi lebih mengesankan dibanding dengan pengalaman diri sendiri.

Pengalaman tidak selamanya menyenangkan, bahkan kadang bisa menyedihkan. Pengalaman orang yang mengalami kecelakaan hebat, tentu saja pengalaman yang menyedihkan. Dan bisa sekaligus menjadi pengalaman yang mengesankan karena mendengar perjuangannya untuk selamat dari kecelakaan maut, kemudian hidup dalam keterbatasan.

Ketika menceritakan pengalaman kepada orang lain, juga ada hal-hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan. Hal-hal tersebut adalah:

1. Kesesuaian isi dengan pokok-pokok cerita

Ketika bercerita tentu saja pendengar akan mendengar keseluruhan isi. Bukan setengah atau bagian awalnya saja. Oleh karenanya, sangat penting, isi cerita dari awal sampai akhir sesuai. Ini dimaksudkan agar pendengar tetap bisa memahami cerita secara keseluruhan, dan tidak setengah-setengah, kemudian menjadi tidak paham. Jika pada awalnya meceritakan perjuanganmu seorang diri hingga mendapat predikat juara dan mendapat beasiswa. Pada akhir cerita menceritakanmu dan ibumu yang menjahit bersama-sama. Tentu saja cerita tersebut  menjadi tidak sinkron.

2. Pelafalan

Pelafalan kerap kali dilupakan orang ketika membaca ataupun berbicara. Bahkan cenderung orang berbicara dengan cepat tanpa memperhatikan jelas tidaknya pelafalan kata demi kata. Pelafalan juga ada hubungannya dengan berkomunikasi dengan baik kepada orang lain. Jika kita mampu berbicara dengan jelas dan dengan pelafalan yang baik pula, orang lain dapat menerima dengan jelas apa yang kita katakan. Dengan demikian tidak akan terjadi salah komunikasi. Termasuk dalam bercerita. Jangan biarkan orang salah dengar apa yang telah kita ucapkan, hanya karena tidak memperhatikan pelafalan.

3. Intonasi

Intonasi, tinggi rendahnya nada juga merupakan kelebihan tersendiri jika mampu melakukan hal ini dengan baik. Intonasi yang tepat juga akan membuat cerita kita lebih menarik. Ketika bercerita tentang kesedihan, volume suara agak direndahkan, menandakan jika kita sedang bersedih waktu itu.

4. Dengan ekspresi yang sesuai dengan yang dibacakan atau diceritakan

Ekspresi erat kaitannya dengan intonasi. Karena intonasi dan ekspresi selaras. Jika menceritakan tentang kesedihan dengan muka yang sedih, intonasinya pun akan jauh berubah daripada ketika menceritakan tentang pengalaman yang lucu, dan bisa membuat tertawa-tawa.

5. Penghayatan

Setiap cerita yang dihayati seperti mempunyai nyawa tersendiri. Karena mampu membuat orang seakan-akan berada di posisi tersebut.

Menceritakan pengalaman bukan tanpa tujuan. Setiap cerita mempunyai tujuan dan manfaat tersendiri. Jika menceritakan tentang kesedihan melihat penderitaan teman yang pagi hari harus berjualan koran terlebih dahulu, dan sore hari setelah pulang sekolah menjadi pemulung. Semua itu untuk membayar uang sekolah. Dengan menceritakan pengalaman tersebut, bisa membuat orang lain tergerak untuk membantu. Selain itu dari menceritakan pengalaman yang mengesankan tentang orang cacat yang berhasil memperoleh juara, hal tersebut membuat orang lain menjadi bersemangat untuk meraih cita-citanya.

Di bawah ini ada dua cerita pengalaman yang lucu dan yang mengharukan. Dua cerita ini bisa dijadikan contoh bagaimana menceritakan pengalaman.

Contoh Satu

Suatu hari sekolah kami mengadakan acara di aula sekolah. Saya tidak tahu dengan pasti ada acara apa. Yang jelas, saya bersama dengan teman-teman saya tidak diikutkan dalam pelajaran dan memasuki gedung aula. Di dalam gedung aula, sudah ada kepala sekolah, guru-guru dan beberapa orang polisi. Ternyata dari kepolisian menggelar acara sosialisasi berkendara dengan baik dan aman.

Murid yang mengikuti acara tersebut pun juga banyak, perwakilan dari semua kelas. Setelah acara penyampaian materi ada acara tanya jawab. Pertanyaan pertama, adalah pertanyaan dari kakak kelas, mengenai surat ijin mengemudi atau yang sering disebut dengan SIM. Dengan polosnya, dan dengan semangat, kakak kelas bertanya kepada polisi, “Pak, kalau saya pakai motor kan SIM saya sim C, kemudian ayah saya pakai mobil SIMnya SIM A. Kalau pilot pesawat itu SIMnya SIM apa pak?

Baru saja teman saya menyelesaiakan pembicaraan, salah satu teman menyeletuk. Pak, kalau pesawat, kalau mau ada razia SIM bagaimana cara memberhentikan pesawatnya? Kontan saja seluruh teman-teman, polisi, dan guru-guru tertawa mendengar dua pertanyaan lucu tersebut.

Cerita Dua

I Wayan Paramartha adalah seorang tukang servis jam di daerah pasar kesatrian Amlapura. Dia memang bukan sosok artis yang terkenal ataupun tersohor di kalangan masyarakat. Sosok I Wayan Paramartha tinggal di Lingkungan Batan Ha 2, Amlapura. I Wayan Paramartha adalah sosok penyandang cacat kaki yang semangat juangnya tinggi. Walaupun dia seorang yang cacat tetapi dia tidak hanya mau berpangku tangan apalagi menjadi peminta-minta.

Dia berusaha untuk mencari nafkah untuk memenuhi kehidupannya. Setiap hari dia selalu setia menanti pelanggan yang ingin memperbaiki jam yang rusak. Dia pun selalu dengan senang hati menerima pelanggannya tersebut walaupun dengan upah yang tidak seberapa. Tetapi dia selalu bersyukur dengan apa yang ia dapat. Karena dengan upah yang sedikit tersebut beliau dapat memenuhi kebutuhannya. Upah yang sedikit adalah berkah karena ia dapatkan dari hasil keringatnya sendiri tanpa belasan dari orang lain.

I Wayan Paramartha pernah mengharumkan nama Indonesia pada umumnya dan nama Bali pada khususnya dalam Olimpiade Penyandang Cacat di Kobe, Jepang dalam pertandingan bulu tangkis. Dia  meraih medali emas pada tahun 1989. Pada saat itu dia berusia sekitar 35 tahun. Hal ini sangat membanggakan I Wayan Paramartha, karena dengan keterbatasan fisik dia mampu mengharumkan nama Indonesia yang belum tentu orang normal bisa melakukannya. Dia juga dapat membuktikan bahwa penyandang cacat seperti dia dapat membawa nama baik Indonesia.

I Wayan Paramartha memang hobi dalam bermain bulu tangkis sejak muda. Beliau sering bermain bulu tangkis di gedung kesenian Amlapura. Dari sinilah beliau dilirik oleh seorang pegawai Dinas Sosial Karangasem yang bernama Pak Mika. Pak Mika lah yang mengajak I Wayan Paramartha untuk pertama kalinya mengikuti turnamen di Malang pada tahun 1988 karena pada saat itu permainan bulu tangkis I Wayan Paramartha dapat menarik perhatian pegawai Dinas Sosial tersebut.

Pada saat itu Paramartha mengiyakan saja tawaran yang diberikan oleh Pak Mika. Karena menurut dia ini adalah tantangan bagi dia. Walaupun pada saat itu Pak Mika memberikan tiga syarat pada Paramartha, yaitu Paramartha harus bisa olahraga menembak, catur dan bulu tangkis. Tetapi paramartha pun saat itu yakin bahwa beliau juga bisa menembak dan bermain catur. Tekad dia sangat bulat untuk menerima tawaran Pak Mika. Sebelum berangkat ke Malang Paramartha sempat berada di Yayasan Anak Cacat (YPAC) di Badung.

Tetapi sampai di Malang Paramartha hanya memilih olahraga bulu tangkis saja dan mengenyampingkan dua olahraga lainnya. Karena sebelum berangkat ke Malang, Pak Mika sempat memberi tahu bahwa ia boleh memilih salah satu olahraga yang disyaratkan tersebut. Akhirnya Paramartha memilih untuk menggeluti olahraga bulu tangkis saja yang sesuai dengan hobinya. Pada turnamen di Malang, untuk pertama kalinya Paramartha meraih medali emas sekaligus tiket menuju Olimpiade Penyandang Cacat yang berlangsung di Kobe, Jepang. Pada saat itu dia sangat merasa bangga pada dirinya. Ternyata dia pun bisa melakukan kegiatan yang bisa dilakukan oleh orang normal kebanyakan. Semangatnya bertambah untuk terus maju dan berjuang walaupun dengan keterbatasan fisik yang ia miliki.

Selepas dari Olimpiade tersebut Paramartha tetap aktif dalam bermain bulu tangkis. Dalam seminggu dia rutin empat kali bermain bulu tangkis di gedung kesenian. Karena menurut dia bulu tangkis adalah dunianya dan dia mengenal serta menyukai olahraga ini sejak kecil. Sehingga dia seakan-akan tidak mau ingin meninggalkan olahraga bulu tangkis. Jika ada kesempatan atau waktu luang maka ia pergunakan untuk bermain bulu tangkis bersama teman-temannya. Dia tidak pernah malu dengan kondisi fisik dia. Olahraga bulu tangkis sudah mendarah daging pada dirinya. Berkat olahraga bulu tangkis inilah yang bisa membawa dirinya sampai di Kobe, Jepang.

Menurut I Wayan Paramartha dulu permainan bulu tangkis disebut taplak-taplakan. Sebelum ada gedung kesenian, biasanya Paramartha bermain di jalan yang banyak lalu lalang orang lewat. Jika ada kendaraan yang mau lewat mereka dengan terpaksa harus menghentikan permainan sebentar kemudian melanjutkan lagi setelah kendaraan tersebut lewat. Walaupun permainan mereka terganggu dengan lalu lalang orang bahkan kendaraan yang lewat mereka tetap menikmati permainan tersebut. I Wayan Paramartha pun juga cuma menggunakan alat seadanya dalam bermain bulu tangkis. Biasanya dia  menggunakan papan atau tulang paha sapi sebagai pengganti raket. Karena pada saat itu harga raket sangat mahal. Orang tua I Wayan Paramartha tidak sanggup membelikannya. Sekalipun memakai raket dan shuttle cock itupun hanya dikasih orang atau bekas orang yang sudah setengah pakai. Paramartha mengaku dia memakai raket pertama kalinya karena dikasih penggede yang suka main di gedung tersebut.

Walaupun Paramartha mengalami keterbatasan fisik sejak lahir tetapi  ia merupakan sosok yang gigih dan suka bekerja keras. Buktinya sejak tamat SMP sampai sekarang beliau tetap bekerja  walaupun sebagai tukang servis jam. Kegigihan beliau sangat membuat bangga keluarganya dan masyarakat sekitar. Beliau tidak pernah malu atau pun sungkan untuk tetap berusaha atau bekerja walaupun mengalami cacat fisik yaitu cacat kaki.

Paramartha tidak mau mengharap belas kasihan dari orang lain ataupun santunan dari pemerintah. Paramartha juga mengaku walaupun dia kerap mendapat santunan dari pemerintah tetapi dia tidak berharap terlalu banyak dengan hal tersebut. Terakhir beliau mendapat santunan sebesar 5 juta dari Gubernur Bali Dewa Beratha pada 2004 silam. Itu pun dia pergunakan untuk membeli raket seharga 900 ribu dan sekarang raket itu sudah patah.

Dua cerita di atas, dapat dijadikan contoh dan dapat dibaca di depan kelas dengan intonasi, ekspresi serta penghayatan yang tepat.