Setiap orang tentu saja mempunyai kenangan. Mulai dari kenangan masa kecil, pengalaman masa-masa sulit, masa-masa bahagia, pengalaman yang menggembirakan, juga pengalaman yang menyedihkan. Tanpa kita sadari, setiap kita bertemu dengan teman dekat atau teman sepermainan, kita lebih banyak saling bercerita. Apalagi jika sudah lama tidak bertemu dengan kawan karib, ketika ada waktu untuk bertemu, akhirnya menghabiskan waktu untuk bertukar cerita. Dan biasanya, pengalaman itulah yang menjadi topik pembicaraan terpanas. Pengalaman apa saja yang telah dilalui selama jangka waktu tidak pernah bertemu.

Pengalaman pribadi adalah peristiwa yang pernah dialami diri sendiri. Pengalaman pribadi juga bisa dilalui diri sendiri, bersama dengan orang lain. Pengalaman pribadi yang mengesankan adalah peristiwa yang pernah dialami diri sendiri dan sulit dilupakan. Pengalaman sudah menjadi bagian dari diri kita, dan tidak dapat dipisahkan. Segala sesuatu tentang pengalaman begitu luas dan banyak diminati, maka tak jarang bertukar pengalaman pun dijadikan sebagai salah satu acara di radio atau televisi.

Tidak ada pengalaman yang sia-sia. Ada pepatah mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Ini berarti kita dapat belajar dari pengalaman, baik pengalaman yang kita alami sendiri maupun pengalaman orang lain. Kita dapat menceritakan berbagai pengalaman, tidak hanya pengalaman yang membahagiakan saja, namun juga pengalaman yang menyedihkan. Agar dapat menceritakan berbagai pengalaman, entah pengalaman yang paling mengesankan atau yang paling menyakitkan, bisa dilakukan dengan menggunakan pilihan kata dan ungkapan peribahasa yang menarik agar pendengar merasa tertarik dan antusias mendengar cerita kita. Apalagi jika kita mampu membawakannya dengan lucu dan bisa menghayati cerita, pastinya cerita akan terlihat lebih hidup dan berkesan bagi orang lain. 

Untuk memulai hal tersebut, bisa dilakukan hal-hal di bawah ini:

  1. Mengamati contoh pengalaman yang menyedihkan, membahagiakan, mengesankan dari teman-teman atau dari orang lain,
  2. Menemukan ciri pengalaman yang menyenangkan, menyedihkan, mengesankan baik dari penyampaiannya maupun dari pilihan katanya,
  3. Memilih pengalaman diri sendiri yang dianggap paling mengesankan dan paling tepat untuk kamu ceritakan,
  4. Membuat kerangka cerita dengan bahasa sendiri yang nantinya akan dikembangkan, dan
  5. Menyampaikan cerita yang telah kamu susun kerangkanya tersebut secara lisan dengan menggunakan pilihan kata yang mengandung ungkapan atau peribahasa.

Banyak manfaat yang dapat kita peroleh dengan melakukan langkah-langkah di atas. Dengan mengamati contoh pengalaman yang membahagiakan, mengesankan, menyedihkan dan juga berbagai pengalaman yang lain, kita bisa menilai bagaimana sebuah cerita disebut sebagai cerita yang menarik. Hal-hal yang menarik dari berbagai macam pengalaman yang kita ceritakan bisa dilihat dari tema cerita, kesungguhan bercerita, pilihan kata ketika bercerita, juga dari gerak-gerik ketika bercerita.

Selain mendengarkan orang lain bercerita, untuk mengumpulkan keberanian kita bercerita di depan umum, kita juga bisa membaca berbagai cerita dari majalah dan juga buku. Bahkan di koran-koran tertentu, kita juga bisa menemukan cerita menyeramkan yang pernah dialami seseorang kemudian diceritakan di media cetak tersebut. Menceritakan berbagai pengalaman memang menyenangkan, tergantung bagaimana kita bisa menceritakan di saat yang tepat dengan cara yang tepat pula.

Langkah kedua di atas adalah menemukan ciri pengalaman yang menyenangkan, menyedihkan, mengesankan baik dari penyampaiannya maupun dari pilihan katanya. Untuk dapat mengetahui berbagai pengalaman yang mengesankan, kita juga harus mengetahui ciri-ciri cerita bisa disebut sebagai cerita yang menarik atau tidak. Ciri-ciri tersebut adalah ciri yang menyebabkan sebuah cerita disebut sebagai cerita yang menarik untuk dibagikan ke orang lain.

Bagi sebagian orang yang pandai bercerita dengan menarik perhatian orang lain, cerita yang kurang menarik pun, akan terlihat menarik dengan gaya penceritaan yang khas. Begitu pula sebaliknya, dengan tema yang menarik walaupun dengan gaya penceritaan yang sederhana, juga bisa membuat sebuah cerita tentang pengalaman menjadi sangat menarik. Hal ini yang bisa kita lihat dan kita temukan dalam cerita. Tandai hal-hal yang kira-kira bisa dijadikan ciri dan kunci sebuah cerita pengalaman menjadi cerita yang menarik.

Langkah nomor tiga adalah memilih pengalaman diri sendiri yang dianggap paling mengesankan dan paling tepat untuk kamu ceritakan. Setiap orang tentu saja tidak hanya memiliki satu pengalaman saja, namun bisa puluhan pengalaman yang mampu kita ingat. Oleh karenanya, ketika akan bercerita kita juga harus mampu secara tepat memilih pengalaman dari sekian banyak pengalaman yang kita miliki.

Tak jarang pula, pengalaman yang kita alami sama dengan pengalaman orang lain. Hal tersebut jangan sampai terjadi, agar kita tidak mengulang cerita orang lain dan terkesan hanya meniru. Pilihlah pengalaman yang tidak pernah dialami oleh orang lain. Pengalaman yang biasanya juga dialami oleh orang lain adalah pengalaman tentang liburan atau tentang mudik di hari lebaran. Pilihlah cerita yang mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Cerita tersebut bisa berupa larangan, informasi, ajakan dengan menggunakan peribahasa. 

Langkah keempat adalah membuat kerangka cerita dengan bahasa sendiri yang nantinya akan dikembangkan. Kerangka cerita akan memudahkan kita dalam becerita. Fungsi dari kerangka cerita agar kita tidak kehilangan arah ketika bercerita. Kerangka cerita adalah rambu-rambu yang harus kita patuhi ketika bercerita, supaya tidak salah arah dan tidak melebar ke mana-mana ketika bercerita.

Langkah yang terakhir adalah menyampaikan cerita yang telah disusun kerangkanya tersebut secara lisan dengan menggunakan pilihan kata yang mengandung ungkapan atau peribahasa. Langkah ini adalah langkah terakhir dari serangkaian langkah. Sebaiknya pergunakan intonasi dan juga vokal yang bisa didengar oleh semua pendengar. Beri penekanan pada cerita-cerita yang menarik dan menjadi kunci dari cerita kita. Selain itu, alangkah baiknya jika kita juga bisa menggunakan gerak-gerik anggota badan ketika menceritakan pengalaman kita.

Banyak nilai yang bisa kita dapatkan dari cerita yang kita ceritakan kepada orang lain. Pengalaman orang lain dan pengalaman diri sendiri selalu terdapat pelajaran di dalamnya jika kita bisa mengambil hikmah dari berbagai kejadian. Pengalaman yang baik adalah pengalaman yang mampu kita ceritakan secara baik. Untuk menjadikan cerita pengalaman menjadi menarik, kita harus mampu menceritakan pengalaman dengan wajah yang penuh ekspresi sesuai dengan pengalaman yang kita ceritakan. Jika kita menceritakan cerita sedih, tunjukkan ekspresi wajah orang bersedih, ketika menceritakan pengalaman yang menyenangkan, tunjukkan wajah orang yang terlihat bahagia.

Selain kelima cara di atas, kita juga harus memperhatikan beberapa hal di bawah ini agar pengalaman yang kita ceritakan menjadi cerita berbagai pengalaman yang mengesankan bagi orang lain. Yang pertama adalah jangan mengarang cerita dengan menceritakan cerita yang dibuat-buat atau ditambah jalan ceritanya agar terlihat menarik. Yang kedua, pergunakan gerakan badan sesuai dengan jalan cerita pengalaman. Ketiga adalah mengingat seluruh kerangka cerita agar cerita kita tidak melenceng, dan yang terakhir adalah menghayati cerita pengalaman yang kita ceritakan.

Di bawah ini adalah contoh dari pengalaman yang menyedihkan dengan menggunakan peribahasa.

Tahun ini saya naik kelas ke tingkat dua. Di tingkat dua inilah dalam hati saya berjanji untuk melakukan berbagai macam kegiatan di sekolah untuk mengisi waktu saya. Karena tahun pertama saya habiskan untuk mengenal lebih dalam tentang sekolah dan lingkungan saya. Di tahun pertama itu juga mencari teman-teman sebanyak-banyaknya dari berbagai kelas dan angkatan. Karena memang pada dasarnya saya termasuk orang yang suka berkegiatan.

Di tahun kedua itu pulalah, saya terpilih menjadi ketua OSIS. Senangnya hati saya menerima tanggung jawab yang besar tersebut. Dengan bimbingan dari kakak kelas dan guru Pembina, saya melaksanakan tanggung jawab tersebut. Hari-hari saya lalui di sekolah dari pagi sampai sore. Karena banyak kegiatan yang harus saya ikuti selain ekstrakurikuler dan juga berbagai macam rapat untuk persiapan kegiatan. Orang tua saya pun sudah hafal dan mengerti dengan padatnya kegiatan saya, sehingga mereka memberikan kelonggaran bagi saya dan memperbolehkan pulang hingga sore hari.

Saya menyadari, banyak kejadian yang tidak bisa saya ikuti dengan kesibukan saya sebagai ketua. Ditambah lagi, beberapa bulan kemudian wakil ketua saya mengalami sakit dan harus masuk rumah sakit dan istirahat sementara waktu di rumah. Saya pun harus menggantikan tugas yang menjadi tanggung jawab wakil ketua saya.

Semua berjalan sebagai mana mestinya, hingga suatu hari Tante saya memberi kabar jika nenek saya sakit. Tante yang waktu itu tinggal bersama nenek dan kakek, sedangkan ibu saya tinggal agak jauh dengan kampung halamannya. Ibu saya memberi tahu jika nenek sakit, dan mengajak saya menjenguk. Tetapi waktu itu bersamaan dengan persiapan lomba baris-berbaris di tingkat kabupaten. Saya pun menjadi dilema, di satu sisi harus memenuhi tanggung jawab mempersiapkan lomba, di sisi lain saya harus menjenguk nenek saya.

Lantas terbesit dalam ingatan saya, semenjak  saya memasuki sekolah menengah atas, saya jarang sekali pergi ke rumah nenek, bahkan setelah sekian tahun saya sama sekali tidak pernah menginap di rumah nenek. Padahal semasa kecil saya dahulu, tidak pernah tidak menginap di rumah nenek setiap liburan tiba. Teringat masa-masa mandi bersama di sungai sambil menangkap ikan, juga masa-masa aku dan nenek pergi ke kebun untuk memetik buah duku. Nenek juga selalu memijatku jika saya sedang sakit.

Namun, pada akhirnya hingga nenek di ambil oleh-Nya, aku belum bisa menjenguknya. Nasi telah menjadi bubur, saya tidak menyangka jika sakit nenek yang sekarang akan mengambil nyawanya. Saat itu saya hanya bisa memandang tubuh nenek saya yang terbujur kaku, dengan seluruh keluarga di sekitarnya. Air mata saya pun tak bisa terbendung lagi. Ada penyesalan yang sangat mendalam dalam diri saya kenapa saya tidak menjenguk nenek waktu itu. Andai saja waktu itu saya mau diajak oleh ibu untuk menjenguk nenek, dan melimpahkan tugas kepada teman saya, tentu saja saya dapat melihat nenek untuk yang terakhir kali dan dapat memohon maaf pada nenek karena atas semua kesalahan yang telah saya perbuat tersebut. Beberapa hari pun saya masih terlihat sedih di sekolah, mengingat semua kenangan saya dan nenek. Karena saya memang cucu kesayangan nenek, cucu yang paling besar dari anak sulung.

Demikianlah materi mengenai menceritakan berbagai pengalaman. Mudah, bukan? Jika begitu, sekarang tiba saatnya bagi Anda untuk mencoba menceritakan pengalaman yang pernah Anda lalui. Selamat mencoba.