Begitu banyak pementasan drama yang dipentaskan. Pementasan drama yang dipentaskan oleh kelompok seni, oleh grup, dan juga bidang akademik. Pementasan drama yang dipentaskan oleh kelompok seni, biasanya mereka menampilkan secara rutin. Sehingga kelompok seni tertentu bisa sering tampil dari kota ke kota untuk memperlihatkan pementasan dramanya. Pementasan drama yang dipentaskan dalam bidang akademik, biasanya dipentaskan oleh siswa yang sedang mendalami mata pelajaran drama, juga mahasiswa di perguruan tinggi yang juga sedang mendalami mata kuliah drama.

Jika ingin menonton pementasan drama, biasanya taman budaya atau balai budaya kota setempat sering mengadakan pementasan drama. Selain dapat dinikmati pertujukannya, juga bisa mengomentari pementasan drama. Namun sebelum berbicara tentang menanggapi pementasan drama, terlebih dulu mari mengenal drama.

Mendengar kata drama, mungkin banyak orang yang asing, apalagi orang yang tidak pernah bersinggungan dengan drama maupun membaca informasi tentang drama. Namun jika mendengar ketoprak atau wayang orang, tentu saja hal tersebut tidak asing terdengar di telinga. Ketoprak dan wayang orang juga merupakan drama, namun drama yang berasal tradisional. Sejak jaman dulu ketoprak sudah ada dan berkembang di masyarakat, meskipun kini ketenaran ketoprak sudah tidak seperti dulu lagi. Drama sendiri berarti perbuatan atau tindakan suatu aksi atau perbuatan. Orang yang memainkan drama disebut aktor atau lakon.

Selain ketoprak dan wayang orang, drama sebagai salah satu bentuk tontonan sering kita sebut dengan istilah teater atau sandiwara. Dengan melihat drama, bisa mengetahui jika yang menjadi ciri drama adalah dialog dari awal sampai akhir cerita. Selain dialog, drama juga mempunyai unsur-unsur yang lainnya.

Drama ketika dalam bentuk naskah, sangat berbeda ketika sudah dipentaskan. Karena ada unsur-unsur yang berbeda ketika drama itu sebagai naskah atau drama yang dipentaskan. Jika sebuah naskah drama menjadi pementasan drama, unsur-unsur yang awalnya ada pada naskah drama pun menjadi bertambah pada pementasan drama. 

Unsur-unsur drama yang belum dipentaskan mempunyai unsur sebagai berikut.

  1. Dialog
  2. Alur
  3. Tokoh
  4. Latar
  5. Tata busana
  6. Tata panggung
  7. Gerak
  8. Lighting
  9. Sutradara (pemimpin pementasan)
  10. Penulis naskah (penulis cerita)
  11. Penata musik (pengatur musik, pengiring, dan efek-efek suara)
  12. Penata kostum (perancang pakaian sesuai dengan peran)
  13. Penata rias (perancang rias sesuai dengan peran)
  14. Penata tari/koreografer (penata gerak dalam pementasan)
  15. Pemain (orang yang memerankan tokoh)

Semua unsur-unsur yang ada di dalam pementasan drama mempunyai fungsi, salah satu contoh fungsi dialog adalah sebagai berikut.

  • Melukiskan watak tokoh-tokoh dalam cerita.
    Watak tokoh dalam pementasan drama terlihat dari percakapan antar pelaku.
     
  • Mengembangkan plot dan menjelaskan isi cerita kepada pembaca atau penonton.
    Dialog adalah kunci di dalam pementasan drama dan menjadi ciri dengan jenis karya sastra yang lain. Oleh karenanya, lewat drama maka juga akan menjelaskan isi drama berikut permasalahannya melalui dialog yang diucapkan.
     
  • Penggerak alur
    Dialog merupakan penggerak alur, tanpa dialog, maka alur di dalam pementasan drama tidak akan berjalan.

Menanggapi Pementasan Drama

Untuk bisa menanggapi pementasan drama, maka sebelumnya harus menonton pementasan drama. Nantinya setelah menonton pementasan drama dapat menanggapi dengan unsur-unsur yang ada di dalamnya.

Dalam menanggapi pementasan drama ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu unsur drama dan unsur pendukung pementasan drama. Hal yang ditanggapi mulai dari pemain, akting, bloking, tatarias, dan unsur-unsur yang lain. Berbeda jika hanya mengomentari naskahnya saja, maka tidak akan mengomentari pemain, akting, bloking, kostum, dll.

Perhatikan baik-baik ketika akan mengomentari pementasan drama, maka harus benar-benar memperhatikan detailnya. Jika mengomentari pemain, maka juga harus melihat apakah pemain benar-benar menghayati menjadi tokoh yang dimainkan.

Di bawah ini ada naskah drama yang bisa dipentaskan secara kelompok dan dikomentari unsur-unsur yang ada di dalam pemantasan drama.

Kartini Berdarah

Amanatia Junda. S

Tokoh:

  1. Kartika; seorang gadis berusia 17 tahun. Berambut panjang dikepang dua, berkacamata besar, seorang kutu buku, pendiam dan kurang pergaulan.
  2. Kartini; sahabat khayalan Kartika. Seorang wanita berusia sekitar 20 tahun-an, rambut bersanggul, memakai kebaya, wajah keibuan, seperti sosok pengganti ibu sekaligus sahabat bagi Kartika
  3. Friska; seorang gadis kaya. Berusia 17 tahun. Berambut ikal, cantik, ramping, tinggi. Ketua geng Perfume. Mempunyai sifat sombong, dan sewenang-wenang.
  4. Lena; seorang gadis berusia 16 tahun, anggota geng Perfume. Jangkung, berambut pendek. Agak tomboy. Sering main tangan.
  5. Windi; seorang gadis berusia 17 tahun, anggota geng Perfume. Seorang playgirl, centil, kurang pandai dalam pelajaran.
  6. Resnaga; sahabat Kartika sejak kecil. Seorang pemuda berusia 17 tahun. Tinggi sedang, berpenampilan sederhana. Ramah, setia, dan baik hati.
  7. Malvin: seorang idola sekolah, berusia 18 tahun, tampan, angkuh, berpenampilan keren. Kekasih Friska.
  8. Bu Sartika; Ibu Kartika. Berusia sekitar 45 tahun, seorang wanita karier, janda, penuntut pada anak semata wayangnya, dan over protektif.

Setting:

Panggung dibagi menjadi 2 bagian, kanan dan kiri. Bagian kanan merupakan kamar Kartika. Didominasi warna putih. Terdapat sebuah ranjang kayu kecil bersprei putih motif bunga-bunga, sebuah meja belajar kayu dengan lampu duduk dan tumpukan buku biografi RA. Kartini, dan kursi putar putih. Keduanya menghadap ke penonton. Latar belakang adalah dinding kamar berwarna putih dengan gambar-gambar RA Kartini ukuran A3. Di awal cerita akan ditambahkan sebuah cermin ukiran dari Jepara. Terbuat dari bingkai kayu berukir dengan cermin yang dapat membuka dan menutup, untuk tempat keluar masuk Kartini dari belakang panggung.

Bagian kiri, 2 kali lipat luasnya daripada kamar Kartika. Sebuah ruang kelas dengan bangku-bangku kayu, papan tulis dan meja guru. Latar belakang dinding kelas bercat biru muda dengan jendela-jendela besar dan gambar-gambar pahlawan. Terdapat pintu di salah satu sisi dinding samping yang menghubungkan ke belakang panggung.

ADEGAN 1                                                

Narator : (Mengutip salah satu penggalan surat Kartini yang tidak dipublikasikan. Diiringi suara dentingan gitar, pelan)

Daripada mati itu akan tumbuh kehidupan baru. Kehidupan baru itu tiada dapat ditahan-tahan, dan meskipun sekarang dapat juga ditahan-tahan, besoknya akan tumbuh juga dia, dan hidup makin lama makin kuat makin teguh.

Kamar Kartika

Kartika : (memakai piyama, sedang membaca buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang disusun oleh Armin Pane, di meja belajar. Airmuka serius, lampu duduk menyala.)

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dan suara panggilan untuk Kartika.

Bu Sartika : Kartika? Kartika?! Buka pintunya! Hari masihlah sore, gemarkah kau untuk tidur? Bukalah! Lekas!

Kartika : Menghela napas panjang, kemudian menutup bukunya dan bangkit untuk membuka pintu.

Bu Sartika : Astaga! Sesore ini kau sudah siap berpiyama? Bisakah kau tidak bermalas-malasan saja? (Menatap Kartika tak percaya, tangannya membawa tas tangan kecil. Dibelakangnya 2 orang pesuruh menggotong sebuah benda setinggi 2 meter  berbungkus kertas cokelat.)

Kartika : Ma, Kartika sedang baca buku, bukan sedang tidur. (Bela Kartika pelan, sambil mengangkat buku Habis Gelap Terbitlah Terang)

Bu Sartika : Oh terserahlah, kau pasti membaca buku cerita. Itu sama saja dengan tidur. Sia-sia belaka. Pak, bawa masuk kesini (masuk ke dalam dan menunjuk dinding) Letakkan disini saja, ya bagus, kalian bisa keluar. Terimakasih.

Setelah 2 pesuruh tersebut keluar.

Kartika : Apa ini Ma? (Menghampiri benda tinggi bungkusan cokelat tersebut, penasaran)

Bu Sartika       : (Duduk di tepi ranjang sambil melepas sepatu hak tingginya) Mama bawakan oleh-oleh untukmu. Bukalah, kau pasti suka. Itu dari Jepara. Asli! (Tersenyum sambil menunjuk bungkusan tersebut pada Kartika.)

Kartika : lukisan RA Kartini, Ma?! (segera menyobek bungkusan tersebut dengan bersemangat).

Sartika : Bukan, itu lebih bermanfaat buatmu.

Kartika  : (Tertegun mendapati sebuah bingkai kayu jati. Selebar setengah meter dan setinggi 2 meter. Sekeliling tepinya penuh dengan ukir-ukiran berbentuk sulur-sulur. Kaki cermin juga berukir berbentuk bonggol akar yang kokoh. Warna bingkai cokelat tua berpelitur mengkilat.)

Sartika : Kenapa? Kau tak suka cermin itu?

Kartika : Buat apa Ma? Tika rasa cermin ini terlalu besar untuk kamar ini. (berkata lirih sambil melirik bingkai kayu tersebut tanpa minat) Oh ya! (serunya mendadak) Kartika sedang baca buku RA Kartini, Ma… bagus sekali ceritanya. Mama mau baca? (menyodorkan buku Habis Gelap Terbitlah Terang dengan wajah berseri)

Bu Sartika : Tika! Berhentilah baca buku-buku konyol seperti ini! Sekarang bukan saatnya kau mengenang jasa Kartini. Tapi manfaatkanlah jasanya sebaik mungkin. Mana prestasi yang dapat kau berikan buat Mama? Kerjakan tugasmu dan belajarlah yang tekun. Harusnya kau bersyukur emansipasi menjadikanmu pelajar sampai sekarang dan mama seorang manager perusahaan besar.” (berucap lantang)

Kartika :  Mama sama sekali tak berminat baca ini? (masih menyodorkan buku tersebut)

Sartika : Ya.. ya..ya.. Mama akan baca jika mama sudah pulang dari dinas ke Bandung 2 minggu ini. Oke? 

Kartika : Tapi Mama kan baru saja pulang dari Semarang? (meletakkan buku itu kembali ke meja belajar)

Bu Sartika : Mama mendadak ditugaskan atasan untuk mengurusi proyek yang baru. Sudahlah, mama capek. Mama hendak istirahat (bangkit, sambil menguap) Oh ya, cermin itu gunakan baik baik. Kau harus banyak merias diri, berlatih berbicara di depan umum dan menjadi seorang gadis teladan yang menyenangkan.

Kartika : Maksud Mama?

Bu Sartika : Bulan depan ada pesta peresmian kantor baru Mama. Kau harus ikut, mama ingin mengenalkanmu dengan anak kolega mama. Malam Sayang.. (mengecup kening Kartika lalu beranjak keluar)

ADEGAN 2

Pagi hari. Sebuah kelas dengan bangku-bangku yang masih kosong dan beberapa bungkus bekas jajan berserakan. Seorang pemuda tampan sedang duduk di meja guru sambil mendengarkan sebuah lagu dari Ipod. Seorang pemuda sederhana membawa sapu menghampirinya.

Resnaga : Malvin, hari ini piketmu. (menyodorkan sapu)

Malvin  (Acuh, Kepalanya bergoyang-goyang menikmati lagu)

Resnaga : Malvin, hari ini piketmu! (berteriak lebih nyaring)

Malvin : (Masih tetap acuh. Bahkan lebih keras menggoyang-goyangkan kepalanya)

Kartika : Biar aku saja, mana sapunya? (tiba-tiba muncul dari balik pintu)

Resnaga : Mengapa kau begitu baik hati? Malvin tak pernah piket, kau tahu? (protes, agak keras menunjuk Malvin. Sedangkan Malvin melepas earphone)

Kartika : Karena aku.. aku… (gugup, terbata-bata saat melihat Malvin menatapnya tajam)

Friska : Karena dia memang seorang pembantu! Ha.. ha.. ha.. (tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan suara yang nyaring. Dibelakang, Lena dan Windi mengikutiku sambil terkikik)

Windi : Oh, sungguh malang.. udah kuper, culun, kacamata pantat botol, pembokat lagi! Hi..hi..hi..

Lena : Nih, sekalian ngepel lantai! (melempar kain lap yang ada di salah satu bangku)

Resanaga : Kalian jangan seenaknya pada Kartika. (merebut sapu dari tangan Kartika)  Malvin, piketlah! Apa kau tak malu kewajibanmu diambil alih Kartika?

Malvin : Bah! Aku laki-laki. Menjijikan sekali aku harus menyapu. Itu memang tugas perempuan! (Melempar sapu ke lantai) Ayo kita pergi! (menggandeng Friska, keluar diikuti Lena dan Windi yang menyibir ke arah Resnaga dan Kartika)

Resnaga  : (Mendesah panjang, menatap Kartika dengan iba) Aku tak habis pikir. Mengapa kau selalu mengerjakan tugas-tugas Malvin dengan ringan tangan?

Kartika : (terdiam beberapa saat) Res, apa kau tak pernah mendengar cinta itu butuh pengorbanan? (berujar pelan kemudian beranjak pergi)

Resnaga : (Mengambil sapu, dan menyapu perlahan) Aku telah lama berkorban untukmu Kartika… Hanya saja kau tak pernah tahu. (bergumam lirih)

ADEGAN 3

Sore hari, Kamar Kartika…

Kartika masuk ke dalam kamar, masih mengenakan seragam sekolah. Menghampiri meja untuk meletakkan tas dan bukunya. Kemudian berjalan menghampiri cermin Jepara.

Kartika : Indah nian kau cermin.. wahai benda antik dari Jepara. (mengelus ukir-ukiran di tepian cermin, perlahan)  Kau ingatkanku pada Ibu Kartini.. andaikan kau adalah penghubung masa ini ke masa lalu, akan kutemui Ibu Kartini.. akan kuceritakan semua jasanya telah mengubah zaman dan nasib perempuan. Namun aku masih terkukung disini.. layaknya Ibu kita dipingit dan tak kuasa menanggung senyap… (bernada sedih, meratap) Oh, betapa sunyinya hidupku. Tak pernah dicinta dan Malvin tak pernah menoleh padaku, haruskah aku mengubah diriku menjadi gadis gadis seperti geng Parfume? Andaikan, Ibu Kartini kemari… mungkin aku akan menjadi gadis paling beruntung di dunia.

Tiba-tiba lampu kamar padam, cahaya merah berkerlap-kerlip, terdengar suara desauan angin.

Kartika : (tersentak kaget) Oh, ada apakah ini? (ketakutan, berlari naik ke atas ranjang)

Sesosok wanita muncul dari bingkai cermin Jepara, melangkah keluar. Menghampiri ranjang. Lampu kembali menyala terang dan suasana kembali normal.

Kartini : Nduk, tenanglah… iki ibumu. (tersenyum lembut)

Kartika : Siapa kau?! (semakin duduk menyudut di ranjang, memeluk kedua lututnya. Wajahnya luar biasa ketakutan)

Kartini : Aku Kartini. Aku yang selama ini kau tuturkan di lembaran-lembaran kertas buku harianmu. Aku yang selama ini kau rayakan setiap tanggal 21 April, sama dengan hari lahirmu juga kan, Nduk?

Kartika : (Mulai tenang, mengendurkan pelukan lututnya.) Kau Kartini? Raden Ajeng Kartini? Benarkah? Bagaimana kau bisa tahu aku?

Kartini : (Tersenyum lebih ramah) Ya, aku Raden Ajeng Kartini. Namun, apalah arti sebuah status ningrat jika Raden Ajeng harus hidup di penjara sangkar emas? Dikelilingi 4 tembok serasa kebebasan adalah kebahagiaan terbesar.

Kartika : Bagaimana Ibu bisa datang kemari? Sudikah ibu bersahabat dengan gadis memalukan seperti saya ini?

Kartini : Oh, Nduk… tiada boleh kau berkata seperti itu.

Ingin benar hatiku berkenalan dengan seorang anak gadis modern, gadis yang berani, yang sanggup tegak sendiri, gadis yang aku sukai dengan hati jantungku. Anak gadis yang melalui jalan hidupnya dengan langkah tangkas, yang berdaya upaya bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk bangsa… Ibu datang dari jauh untuk mendengarkan segala kegundahan hatimu. Anggaplah aku sahabat penamu yang akhirnya berkunjung menengok seperti tatkala aku bersua dengan Nyonya Abendanon.

Kartika : (Menghambur, memeluk Kartini, terisak-isak) Ibu…! Kartika rindu sekali pada Ibu. Setiap malam Kartika diam-diam membaca buku tentang Ibu. Berhati-hati kalau Mama sampai menangkap basah Kartika, dan membuang segala yang Kartika koleksi tentang Ibu.

Kartini : Sshh… (membelai rambut Kartika) Yakini, ibu juga merindukan sosok gadis berhati suci sepertimu. Tidurlah, besok kau sekolah bukan? Betapa beruntungnya dirimu yang hidup di dunia pencinta kebebasan. Bukankah begitu, Nduk?

Kartika : (Mengangguk lemah) Ibu benar. Emansipasi menghapus diskriminasi untuk golongan kita. Dan ibu pasti senang melihat jasa ibu terlampau besar untuk Indonesia.

Kartini : Aku tahu jalan yang hendak aku tempuh itu sukar, banyak duri dan onaknya dan lubang-lubangnya. Jalan itu berbatu-batu, berlekuk-lekuk, licin, jalan itu.. belum dirintis! Dan biarpun aku tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, aku akan mati dengan merasa bahagia, karena jalannya kini telah terbuka lebar.

Setelah naskah drama ini dipentaskan, kalian bisa mengomentari unsur-unsur yang terdapat di dalamnya. Selamat mementaskan drama!