Pernahkah kalian melihat pameran lukisan salah satu pelukis, atau melihat karya seni dari para perupa. Apakah niat kalian datang ke tempat pameran. Ingin melihat-lihat hasil karya pelukis dan perupa, ataukah ingin melakukan hal lain. Karena selain melihat karya seni tersebut, kita juga bisa mengkritik atau memuji karya seni. Kita dapat mengkritik dan memuji karya seni ketika melihatnya dengan mendiskusikan dengan teman yang pada saat itu juga sedang melihat pameran atau melihat karya seni lainnya di suatu tempat.

Mengkritik dan memuji karya seni sendiri bukan merupakan hal yang asing lagi. Karena karya seni tidak muncul begitu saja. Karya seni merupakan hasil imajinasi dan hasil karya dari pembuatnya. Karya seni seni merupakan penuangan dari ide atau gagasan. Aliran yang terdapat dalam karya seni pun berbagai macam. Sebagai contoh aliran seni lukis ada beberapa macam, ada aliran surealisme, kubisme, romantisme, realisme, dadaisme dan masih banyak lain. Begitu pula dengan aliran seni rupa, ada aliran naturalisme, realisme, romantisme, ekspresionisme, kubisme, abstrasionisme, dan masih banyak lainnya. Dari sekian banyak aliran tersebut, tentu saja mempunyai penikmat sendiri-sendiri. Tidak semua orang dapat menikmati sekian banyak dari aliran karya seni tersebut.

Tanpa kita sadari, ketika kita sedang melihat hasil karya seni tersebut, di pameran, maupun di tempat lain, kita mengomentari dengan kata-kata pujian, ataupun kritikan. Dengan kata-kata sederhana, semisal, “Wah lukisan ini bagus sekali, perpaduan warnanya menarik dan terlihat menggambarkan aslinya”, kita sudah melakukan proses mengkritik dan memuji karya seni. Namun sebenarnya, apakah mengkritik dan memuji karya seni tersebut? Mengkritik  karya seni dapat diartikan sebagai kegiatan mengemukakan pendapat atau tanggapan terhadap sesuatu hal mengenai karya sastra yang dilihat.

Kritikan tersebut juga disertai dengan uraian dan pertimbangan mengenai kritikan dengan mengemukakan baik buruknya karya seni yang kita lihat tersebut. Bagi sebagian orang, mengkritik dianggap sebagai hal yang negatif, atau dengan kata lain, mengkritik karya seni adalah mencela karya seni. Padahal, mengkritik karya seni tidak selalu menghasilkan kritikan yang negatif, namun juga positif. Yang terjadi di masyarakat mengkritik karya seni dikaitkan dengan hal-hal yang buruk saja yang berisi tentang kelemahan-kelemahan dari karya yang dilihat. Menurut masyarakat juga, lawan dari kritik adalah pujian, yang biasanya disampaikan sebagai bentuk rasa puas setelah melihat karya seni.

Mengkritik ataupun memuji karya seni adalah merupakan bentuk apresiasi dari penikmat seni. Baik ketika mengkritik dan memuji karya seni hendaknya selalu diutarakan  dengan bahasa yang santun. Sehingga kritikan yang bernada negatif tidak terdengar menyinggung orang lain. Alasan mengkritik disertai dengan alasan yang logis adalah agar jangan terkesan kita memberi kritikan hanya main-main saja karena kita tidak bisa memberi alasan yang logis dan dapat diterima oleh si pendengar.

Sepintas, mengkritik dan memuji karya seni terkesan berbeda, walaupun keduanya sama sebagai bentuk apresiasi oleh penikmat karya terhadap karya yang dinikmatinya. Hanya saja, jika pujian hanya sebatas kata-kata memuji yang bersifat positif dan tidak harus disertai dengan alasan yang logis. Sedangkan mengkritik karya seni, baik yang bersifat positif maupun negatif, harus disertai dengan alasan yang logis.

Mengkritik juga bisa diartikan sebagai memberi tanggapan dan juga saran. Menanggapi karya seni sendiri adalah memberi respon pada karya seni ketika kita melihat karya seni. Oleh karenanya ada hal-hal yang harus diperhatikan, yakni:

  1. Logis dan masuk akal
  2. Merupakan fakta
  3. Menyampaikan tanggapan dalam bentuk kalimat yang runtut
  4. Disertai dengan bukti-bukti yang ada.

Sementara itu, mengungkapkan saran pada karya seni adalah menyatakan pendapat atau usul untuk dipertimbangkan oleh si pembuat. Hal ini bisa terjadi, ketika sang pembuat karya seni berada pada tahap belajar. Sehingga dirinya membutuhkan orang lain untuk mengkritik karyanya, baik dalam bentuk saran ataupun pendapat.

Saran sendiri dikemukakan agar karya seni menjadi lebih baik, karena sudah ada proses memperbaiki karya dari yang sebelumnya. Agar tidak menyinggung orang lain, hendaknya saran yang dikemukakan berdasarkan fakta yang ada mengenai hasil dari karya seni. Sama seperti halnya dengan ketika menyampaikan pendapat, ketika menyampaikan saran, juga harus disertai dengan alasan yang rasional untuk mendukung dan meyakinkan pendengar. Lebih luas lagi, mengkritik adalah apresiasi dalam bentuk tanggapan ataupun saran, oleh karenya harus mempertimbangkan hal-hal di bawah ini.

Di bawah ini ada contoh-contoh kalimat yang mengungkapkan sedang mengkritik dan memuji karya seni.

  1. Wah, lukisan ini sangat unik. Objek yang diambil adalah benda yang ada di sekitar kita, namun kita tak pernah menyadarinya.
  2. Lukisan ini bagus, namun menurut saya akan lebih baik jika pelukis hanya menampilkan objeknya saja. Karena dengan begitu lukisan akan semakin fokus. Ketika orang melihat, orang tidak terganggu dengan keadaan di sekitar fokus karya.