Membaca dimulai dengan hobi yang berasal dari kebiasaan yang secara sengaja atau tidak dibentuk dalam diri seseorang. Ada berbagai macam bentuk jenis bacaan yang disajikan baik itu berupa fiksi dan non fiksi. Bacaan fiksi seperti novel, cerpen, dongeng, hikayat, cerita rakyat dan lainnya. Sedangkan untuk karya non fiksi seperti artikel, biografi, sejarah, essai dan masih banyak lagi. Pada bahasan kali ini akan lebih difokuskan terhadap tips dan trik yang jitu dalam membaca salah satu karya sastra fiksi, yaitu cerpen.

Apa Itu Cerpen?

Cerpen adalah singkatan dari cerita pendek, biasanya terdiri dari 5-10 halaman. Cerita yang ditampilkan juga hanya menampilkan satu tema dan satu konflik utama dan ceritanya langsung selesai, tanpa banyak pengaruh dari hal-hal yang lain. Dalam membaca cerpen ada dua hal yang harus diperhatikan, di antaranya unsur intrinsik dan ektrinsik dari cerpen itu sendiri.

Walaupun sebenarnya membaca cerpen itu lebih kepada membaca secara ekspresif. Ada yang mudah dipahami dan ada juga yang tidak, sepenuhnya bergantung kepada persepsi pembaca. Tapi bukan berarti semua hal yang ada dalam cerpen bisa ditentukan sendiri oleh pembaca, karena dua faktor tadi.

Faktor Intrinsik dan Ekstrinsik Cerpen

Faktor pertama yang harus diperhatikan dalam membaca cerpen adalah faktor intrinsik yang terdiri dari tema, tokoh, amanat, latar, sudut pandang, alur dan gaya bahasa.

  • Tema adalah permasalahan utama yang dihadirkan dalam cerpen, misalnya apakah itu keluarga, percintaan, agama, lingkungan dan sebagainya.
  • Tokoh dan penokohan adalah individu yang dihadirkan dalam cerita. Amanat merupakan pesan yang ingin disampaikan melalui cerita.
  • Latar/setting adalah keterangan mengenai waktu, tempat dan suasana dalam cerpen. Sudut pandang menunjukkan posisi pengarang dalm cerpen, apakah ia terlibat atau tidak.
  • Alur merupakan jalan atau rangkaian cerita yang dihadirkan. Alur ada tiga jenis alur maju, alur mundur dan alur maju mundur.
  • Gaya bahasa adalah cara pengarang ingin menyampaikan pesannya lewat cerita, baik menggunakan idiom, kata-kata indah atau majas.

Faktor kedua adalah faktor ekstrinsik, yaitu hal yang terkait dengan kondisi pengarang di luar hal yang berkaitan langsung dengan cerpen. Adapun faktor ekstrinsik terdiri dari nilai-nilai yang ada di dalam cerpen, latar belakang penulis dan kondisi sosialnya. Nilai-nilai yang ada dalam cerpen merupakan nilai yang bisa diambil baik secara langsung atupun tidak oleh pembaca, apakah itu disadari atau tidak oleh penulis sendiri.

Latar belakang penulis juga merupakan salah satu faktor yang bisa dilihat dari sebuah cerpen, bisa jadi ada hal yang berkaitan dengan latar belakangnya sehingga bisa menciptakan cerpen, begitu juga dengan kondisi sosial pengarang saat membuat cerpen itu.

Ada banyak hal yang terkait dengan kondisi-kondisi di luar pengarang itu sendiri seperti norma dan nilai. Walaupun kadang pengarang tidak bermaksud menyampaikan hal tersebut, tetapi tetap saja ada pembaca yang mengambil nilai dari cerpennya. Bisa dilihat dari segi religinya, pendidikan, estetika, budaya dan sebagainya.

Teknik dan Metode Membaca Cerpen

Membaca cerpen merupakan aktivitas imajinatif, karena apa yang dituliskan dalam cerpen bisa jadi akan diimajinasikan berbeda oleh setiap pembacanya. Jadi, hal terpenting yang harus dilihat ketika membaca cerpen adalah faktor intrinsiknya. Ketika faktor intrinsiknya sudah ada terkonsep di kepala ketika membaca cerpen, maka akan sangat mudah untuk menangkap apa saja yang terjadi dalam cerpen tersebut. Kalau cerpennya disajikan dalam bentuk dialog akan lebih memudahkan kita melihat setiap alur yang disampaikan.

Ada juga jenis cerpen yang disajikan dalam bentuk narasi tanpa ada sisi dialog sedikit pun, atau ada juga gabungan dari jenis keduanya, disajikan dalam dialog dan juga narasi yang saling mendukung satu sama lainnya. Ada kutipan dari cerpen yang berbentuk dialog.

“Bila Kang Sarpin bersungguh-sungguh ingin jadi wong bener, kenapa tidak bisa? Seperti saya bilang tadi, masalahnya bergantung kamu, bukan?”

“Sulit Mas,” potong Sarpin dengan mata berkilat-kilat.“Saya sungguh tak bisa!”

“Kok? Tidak bisa atau tak mau?”

“Tak bisa.” Kang Sarpin menunduk dengan menggeleng sedih.

“Lho, kenapa?”

(Kang Sarpin Minta Dikebiri oleh Ahmad Tohari)

Kalau dilihat dari percakapan yang terjadi bisa disimpulkan bahwa Sarpin menjadi tokoh dalam cerpen ini, maka fokuslah terhadap dialog-dialog yang berhubungan dengan tokoh utamanya tetapi tetap memperhatikan dialog dengan tokoh pembantu yang bisa jadi merupakan satu poin penting dari cerpen tersebut. Selain itu ada juga yang disajikan dalam bentuk narasi, diambil dari cerpen yang sama.

Kang Sarpin meninggal karena kecelakaan lalu lintas pukul enam tadi pagi. Ia sedang dalam perjalanan ke pasar naik sepeda dengan beban sekuintal beras melintang pada bagasi. Para saksi mengatakan, ketika naik dan hendak mulai mengayuh, Kang Sarpin kehilangan keseimbangan. Sepedanya oleng dan sebuah mobil barang menyambarnya dari belakang. Lelaki usia lima puluhan itu terpelanting, kemudian jatuh ke badan jalan. Kepala Kang Sarpin luka parah, dan ia tewas seketika. Satu lagi penjual beras bersepeda mati menyusul beberapa teman yang lebih dulu meninggal dengan cara sama.

(Kang Sarpin Minta Dikebiri oleh Ahmad Tohari)

Ini merupakan paragraf pertama dari cerpen Kang Saprin Minta Dikebiri karya Ahmad Tohari. Dalam penyajiannya, Tohari membuatnya dalam bentuk narasi sebagai pengantar atau pengenalan tokoh dan latar belakang dan asal muasal cerita ini. Kita harus bisa melihat apa sebenarnya yang menjadi inti dari paragraf ini. Pokok atau ide utamanya terletak di awal paragraf yaitu Kang “Sarpin meninggal karena kecelakaan lalu lintas pukul enam tadi pagi”. Maka mulailah untuk mengaitkan ide utama ini ke bagian selanjutnya dalam cerpen ini. Hal ini yang akan mengantarkan kita untuk bisa melihat unsur-unsur yang ada dalam cerpen khususnya unsur intrinsik yang juga akan menyampaikan kita pada konflik utama dalam cerpen.

Biasanya dalam membaca cerpen hampir semua konflik terjadi di bagian akhir cerpen Jadi tidak harus berlama-lama fokus di awal dan tengah cerita karena itu hanya merupakan pengantar cerita menuju konflik. Seperti dijelaskan sebelumnya, cerpen itu hanya fokus kepada satu tema dan satu konflik. Tidak harus membaca setiap kata-kata yang disajikan apalagi jika menemukan satu kata yang tidak dimengerti, diabaikan saja, kalau memang kehadiran kata itu dianggap tidak terlalu penting dan tidak mempunyai pengaruh yang dalam terhadap cerpen.

Ada juga yang membuat orang suka membaca cerpen karena beberapa alasan, di antaranya adalah kata-kata sederhana dan ringan yang disajikan dalam cerpen. Seolah itu menjadi bacaan santai bagi beberapa dari mereka. Tetapi ada juga yang menikmati cerpen sebagai bahan renungan imajinatif yang secara tidak langsung bisa mempengaruhi kondisi pribadi seseorang. Ada banyak alasan kenapa mereka menjadi penikmat jenis karya sastra ini. Mereka mempunyai alasan mereka sendiri. Tapi satu hal yang pasti, membaca sudah menjadi bagian dari kebiasaan yang mereka miliki.

Simpulan yang bisa diambil dalam membaca cerpen ini adalah menikmati setiap bagian cerita tanpa menghilangkan poin yang ingan disampaikan oleh penulis. Poin terpenting yang harus dilihat pertama kali adalah tema cerpen dan tokohnya karena dua hal ini nanti yang akan sangat membantu dalam menentukan faktor-faktor intrinsik lainnya dalam cerpen, terutama dalam mengantarkan tokoh ke dalam konflik yang ada dalam cerpen tersebut. Fokus pada tokoh utama tanpa mengabaikan tokoh pembantu dalam cerpen itu sendiri.