Ada banyak faktor yang mempengaruhi terhadap munculnya berbagai permasalahan angkatan kerja dan tenaga kerja di Indonesia, antara lain sebagai berikut.

1. Jumlah angkatan kerja yang tidak seimbang dengan kesempatan kerja;

2. Kualitas tenaga kerja yang relatif rendah;

3. Penyebaran tenaga kerja yang tidak merata;

4. Pengangguran;

5. Adanya ketidaksesuaian antara kemampuan tenaga kerja dengan pekerjaannya;

6. Rendahnya tingkat upah;

7. Masih minimnya perlindungan terhadap tenaga kerja;

8. Membanirnya tenaga kerja asing.

Jumlah Angkatan Kerja

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Jumlah penduduk yang besar di satu sisi bisa merupakan dijadikan modal dasar yang sangat menguntungkan, karena tersedianya tenaga kerja untuk berbagai sektor usaha. Namun demikian, jika jumlah penduduk yang besar tidak diimbangi dengan lapangan kerja yang memadai dapat menimbulkan permasalahan. Indonesia merupakan salah satu negara yang menghadapi masalah tersebut.

Salah satu tujuan negara Indonesia yang tercantum di dalam pembukaan UUD 1945 adalah mencerdasakan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, pemerintah telah berupaya menerapkan program wajib belajar 9 tahun, pemberian dana BOS (bantuan operaisonal sekolah), pemberian bea siswa, dan lain-lain. Program tersebut setidaknya telah memberikan hasil yang cukup menggembirakan.

Hal tersebut ditandai dengan semakin banyaknya penduduk Indonesia yang bisa sekolah sampai ke jenjang perguruan tinggi dan mendapat gelar sarjana. Sayangnya keberhasilan di bidang pendidikan tersebut belum bisa diikuti oleh kerbehasilan di bidang lapang kerja. Jumlah lapangan kerja yang tersedia masih sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah lulusan tenaga terdidik.

Akibat adanya ketidakmampuan pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja, angka pengangguran di Indonesia semakin tinggi. Tentu saja hal tersebut menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan agar cita-cita pembangunan seperti yang diamanatkan oleh UUD 1945 tersebut dapat segera tercapai.

Kualitas Tenaga Kerja

Semakin banyaknya lulusan tenaga terdidik dari jenjang pendidikan perguruan tinggi, tidak menjadikan otomatis para lulusan dapat memenuhi kriteria yang ditawarkan oleh perusahaan. Tidak bisa dipungkiri bahwa kualitas para lulusan perguruan tinggi di Indonesia masih rendah. Sehingga para perusahaan lebih suka mengisi kekosongan lowongan di perusahaannya dengan tenaga kerja yang sudah berpengalaman. Meskipun demikian, tentu ada para lulusan yang berkualitas dan dapat memenuhi kriteria yang dibutuhkan oleh perusahaan namun jumlahnya relatif lebih sedikit.

Penyebaran Tenaga Kerja

Salah satu sebab terjadinya ketidamerataan tenaga kerja adalah adanya keberatan dari para orang tua untuk melepaskan putra-putrinya pergi merantau. Mereka lebih merelakan putra-putrinya berkerja di daerahnya meskipun dengan kompensasi yang kecil, atau bahkan berkeja pada lapangan kerja yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Falsafah “makan tidak makan yang penting ngumpul” telah menghambat aliran tenaga kerja secara merata.

Padahal jika saja mereka mau merantau maka kompensasi upah atau gaji yang diterima akan jauh lebih besar sehingga tingkat kesejahteraanpun akan meningkat. Selain itu, dengan adanya keberanian untuk meninggalkan kampung halaman akan menambah wawasan dan pengalaman yang sangat baik bagi putra-putrinya.

Ketidaksesuaian Tenaga Kerja

Salah satu fungsi manajemen adalah ketepatan perusahaan untuk menempatkan pekerja agar sesuai dengan pekerjaannya. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh F.W. Taylor “the right man in the right place” atau seseorang seharusnya bekerja sesuai dengan kemampuannya. Seorang tenaga kerja yang dapat bekerja sesuai dengan keahliannya, maka ia akan dapat bekerja dengan efektif, efisien, dan merasa nyaman, sehingga ia dapat memberikan kualitas dan kuantitas yang baik bagi perusahaan. Namun faktanya di Indonesia, masih banyak sekali ditemukan orang-orang yang bekerja tidak sesuai dengan keahliannya. Hal ini terjadi karena adanya permasalahan seperti kurangnya lapangan kerja, sehingga seorang tenaga kerja mengorbankan pengetahuan dan keterampilannya hanya dengan alasan “untuk mengisi waktu daripada menganggur”.

Upah Tenaga Kerja

Indonesia sebagai negara dengan penduduk yang sangat tinggi, mempunyai jumlah angkatan kerja yang melimpah. Namun sayangnya hal tersebut tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja yang memadai. Hal tersebut telah mengakibatnya tingginya tingkat penawaran tenaga kerja dan menurunkan tingkat permintaan tenaga kerja. Berdasarkan hukum penawaran dan permintaan, jika jumlah penawaran lebih besar daripada permintaan maka harga yang diberikan akan turun. Begitu juga dengan kondisi ketenagakerjaan di Indonesia. Upah yang diterima oleh para pegawai di Indonesia masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan upah para pegawai di negara-negara lain.

Perlindungan Tenaga Kerja

Seorang tenaga kerja, ketika bekerja tentunya berhadapan dengan berbagai resiko yang harus dihadapi dan diterimanya. Baik itu resiko kecelakaan kerja maupun resiko pemutusan hubungan kerja (PHK). Negara Indonesia masih terkatagori sebagai negara yang belum baik dalam memberikan perlindungan kepada para pekerja, baik pekerja yang berkerja di dalam negeri maupun di dalam negeri. Biasanya, pemerintah baru akan memberikan reaksi setelah resiko kerja yang dialami oleh para pekerja tersiar melalui media massa.

Tenaga Kerja Asing

Benarkah Indonesia dibanjiri tenaga asing? Bukankah justru sebaliknya Indonesia banyak mengirimkan tenaga kerjanya ke luar negeri untuk menjadi TKI atau TKW? Globalisasi telah memungkinkan apapun di dunia ini, termasuk masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia. Biasanya, masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia bersamaan dengan masuknya perusahaan asing ke Indonesia. Jika Indonesia banyak mengirimkan tenaga kerjanya ke luar negeri untuk menempati posisi sopir atau pembantu rumah tangga, maka tenaga kerja asing yang datang ke Indonesia untuk menempati posisi jabatan tenaga ahli. Ironis, bukan?

Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, semoga kita dapat mengambil hikmah. Setidaknya tumbuh motivasi di dalam hati kita untuk menjadi tenaga ahli di negeri sendiri. Setuju?