Kekhilafahan Ummayah merupakan era baru pemerintahan Islam setelah masa khulafurrasyidin. Latar belakang berdirinya kekuasaan yang bertahan selama 90 tahun (660-750 M) ini adalah pemberontakan dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan (Mu’awiyah I) terhadap Ali bin Abu Thalib (khulafurrasyidin keempat).

Pemberontakan tersebut berhasil. Ali dapat digulingkan dan kekuasaan atas umat Islam berada di tangannya. Muawiyah yang sebelumnya adalah Gubernur Syam (Syiria) kemudian menjadikan Kota Damaskus sebagai ibukota pemerintahan. Sejak saat itu, umat Islam diperintah oleh khalifah yang tidak dipilih secara musyawarah (seperti pada masa khulafurrasyidin), tetapi berdasarkan keturunan (dinasti/monarki). Karena Mu’awiyah merupakan keturunan dari Bani Ummayah, maka pemerintahannya dinamakan Kekhilafahan Ummayah.

Berikut ini daftar khalifah dari Dinasti (khilafah) Ummayah:

  1. Mu’awiyah I bin Abu Sufyan (660-680 M).
  2. Yazid I bin Mu’awiyah (680-683 M).
  3. Mu’awiyah II bin Yazid (683-684 M).
  4. Marwan I bin al-Hakam (684-685 M).
  5. Abdul-Malik bin Marwan (685-705 M).
  6. Al-Walid I bin Abdul-Malik (705-715 M).
  7. Sulaiman bin Abdul-Malik (715-717 M).
  8. Umar II bin Abdul-Aziz (717-720 M).
  9. Yazid II bin Abdul-Malik (720-724 M).
  10. Hisyam bin Abdul-Malik (724-743 M).
  11. Al-Walid II bin Yazid II (743-744 M).
  12. Yazid III bin al-Walid (744 M).
  13. Ibrahim bin al-Walid (744 M).
  14. Marwan II bin Muhammad (744-750 M).

Konflik Internal

Pada masa akhir pemerintahan khulafurrasyidin, yaitu masa pemerintahan Ali bin Abu Thalib, kondisi politik umat Islam tercabik oleh pertikaian sesama muslim. Ada dua perang sipil yang terjadi, akibat dari ketidakpuasan atas kebijakan khalifah. Salah satunya adalah Perang Shiffin yang dikobarkan oleh Mu’awiyah.

Konflik yang berlarut-larut kemudian menelan korban dengan terbunuhnya Ali bin Abu Thalib. Mu’awiyah lalu menyatakan dirinya sebagai khalifah pengganti Ali. Namun, sebagian umat Islam memilih Hasan (putra Ali) sebagai khalifah. Dualitas kepemimpinan Islam pun terjadi.

Mempertimbangkan kemaslahatan umat, Hasan memutuskan menyerahkan jabatan khalifah kepada Mu’awiyah. Keputusan ini diikuti dengan perjanjian bahwa setelah Mu’awiyah tidak lagi memimpin, maka jabatan khalifah dikembalikan kepada umat untuk memilihnya. Dengan kata lain, Hasan menghendaki mekanisme pemilihan khalifah seperti pada masa khulafurrasyidin pasca kepemimpinan Mu’awiyah.  

Tetapi, Mu’awiyah melanggar kesepakatan tersebut. Bukannya mengembalikan mandat kekhalifahan kepada umat, sebaliknya Mu’awiyah mengangkat anaknya, Yazid bin Mu’awiyah, sebagai khalifah. Sejak saat itu, khalifah diangkat atas dasar keturunan dan menjadi jabatan turun-temurun (bersifat monarki).

Pengangkatan Yazid menimbulkan konflik dalam umat Islam. Mayoritas penduduk Madinah menolak memberikan baiat kepada Yazid. Dua tokohnya, Hussein bin Ali (putra Ali bin Abu Thalib) dan Abdullah bin Zubair (sahabat Nabi Muhammad SAW) melakukan perlawanan. Perlawanan kedua tokoh ini berujung pada tewasnya mereka berdua. Hussein terbunuh di Padang Karbala (dekat Kota Kufah) dalam sebuah pertempuran yang tidak seimbang pada tahun 680 M. Adapun perlawanan Abdullah bin Zubair baru dapat dihentikan dengan tewasnya sahabat nabi itu pada masa kekuasaanAbdul Malik bin Marwan (khalifah kelima) tahun 692 M.

Meninggalnya kedua tokoh tersebut tidak lantas mendatangkan perdamaian di tubuh umat Islam. Sebaliknya sepanjang masa kekhilafahan Ummayah berkuasa, konflik antara kelompok-kelompok yang tidak menyukai pemerintahan terus terjadi. Kelompok Syiah, Khawarij, Mawali (umat Islam bukan bangsa Arab) senantiasa mengadakan perlawanan. Puncaknya pada masa pemerintahan Marwan bin Muhammad (khalifah keempat belas), kekhilafahan Ummayah berhasil digulingkan oleh Bani Abbasiyah pada 750 M.

Zaman Keemasan

Kegemilangan kekhalifahan Ummayah dimulai dari kepemimpinan Mu’awiyah (khalifah pertama) dan mencapai puncaknya saat Umar II bin Abdul-Aziz (khalifah kedelapan) menjadi khalifah. Wilayah kekuasaan membentang luas yang diikuti pula makin luasnya penyebaran dakwah Islam. Bidang militer, pemerintahan, sosial, ekonomi dan budaya pun berkembang pesat. Kondisi ini membuat masyarakat Islam menjelma sebagai peradaban dunia.

1. Perluasan Wilayah

Ekspansi wilayah pada masa khalifah Ali bin Abu Thalib yang sempat terhenti, oleh Mu’awiyah dilanjutkan. Pada awal pemerintahannya, wilayah Islam terbentang luas. Daerah-daerah sebelah barat Damaskus hingga berbatasan dengan Byzantium (Romawi Timur) dapat dikuasai. Bahkan, Konstantinopel (ibukota Byzantium) beberapa kali diserang. Meskipun belum berhasil menguasai kota tersebut, tapi serangan-serangan ini menjadi ancaman serius bagi Byzantium.

Adapun sebelah timur dari Damaskus, wilayah kekuasaan Islam membentang hingga mencapai kawasan India. Tak hanya itu, sebagian daerah di Afrika Utara juga telah menjadi bagian dari imperium Islam. Perluasan wilayah ini terus berlanjut pada masa khalifah-khalifah setelah Mu’awiyah. Puncaknya pada masa Walid bin Abdul Malik (khalifah keenam). Seluruh Afrika utara, daratan Iberian (Andalusia/Spanyol), dan sebagian besar kawasan Laut Tengah berada dalam kedaulatan Islam.

Umat Islam dapat menguasai daerah-daerah tersebut dalam waktu relatif singkat dikarenakan beberapa faktor, yaitu:

  • Semangat jihad yang menggelora. Perang yang dilakukan umat Islam bukan atas dasar nafsu untuk menaklukkan, tetapi membebaskan masyarakat dari kekuasaan menindas. Kemudian kepada mereka diserukan agar menerima Islam sebagai agama (didakwahi). Seruan ini bersifat sukarela, tanpa ada paksaan sedikit pun.
  • Penerimaan positif dari masyarakat yang daerahnya dikuasai umat Islam. Ini karena kedatangan Islam dipandang lebih baik daripada kedatangan bangsa lain yang tujuannya untuk menjajah. Islam sebagai agama dianggap cocok dengan nilai-nilai kemanusiaan dan semangat keberagamaan. Akibatnya, banyak masyarakat di daerah taklukan yang kemudian memeluk Islam.    
  • Melemahnya kekuasaan Romawi (Byzantium) sebagai kekuatan super power ketika itu. Begitu pun dengan kekuatan dari peradaban dunia lainnya, seperti Persia yang pada masa pemerintahan khulafurrasyidin telah dapat ditumbangkan.    

2. Pengembangan

Keberhasilan menguasai banyak wilayah pastinya ditopang oleh kekuatan militer yang solid. Tidak hanya angkatan darat, kekhalifahan Ummayah juga dikenal memiliki armada laut pilih tanding. Jumlahnya pun luar biasa. Contohnya pada masa Mu’awiyah, kapal perang yang dimiliki umat Islam mencapai 1700 buah.

Selain bidang militer, aspek sosial ekonomi masyarakat meningkat hingga mencapai suatu kondisi yang belum pernah terjadi pada masa sebelumnya. Pajak diturunkan, volume perdagangan ekspor-impor meningkat pesat, dan kebebasan beragama dijamin. Bahkan ketika Umar II bin Abdul-Aziz memerintah, kemiskinan menjadi hal yang langka dan umat Islam dapat menikmati suasana perdamaian setelah sebelumnya sering mengalami konflik peperangan.

Berbagai fasilitas atau bangunan bagi masyarakat juga banyak didirikan. Seperti dinas pos atau jasa pengiriman yang diperkenalkan pertama kali pada masa Mu’awiyah, panti asuhan atau panti jompo dengan dikelola langsung oleh pemerintah, kubah megah berarsitektur barat atau ‘The Dame of The Rock’ di al-Quds (Jerussalem) pada pemerintahan Abdul-Malik bin Marwan, pembangunan serta renovasi masjid berarsitektur indah seperti Masjid Cordoba di  Spanyol, Masjid Mekah dan Madinah, pembuatan lambang kekhilafahan dan mata uang Islam (dinar dan dirham) sebagai simbol kekuatan ekonomi umat.

Pembenahan administrasi pemerintahan menjadi lebih efisien dan penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa resmi kekhalifahan, menggantikan bahasa Yunani dan Pahlawi. Hal ini membuat bahasa Arab dikenal olah bangsa-bangsa lain dan budaya Arab tersebar luas seiring dengan penyebaran agama Islam.

Pada zaman keemasan khilafah Ummayah, bermunculan ulama atau intelektual Islam dalam ilmu agama seperti ilmu fikih,tafsir, hadis, dan kalam. Hasan al-Basri, Abu Amru Abdurrahman Al-Auza’i, Abdullah bin Abi Malikah at-Tayammami al-Makky,Washil bin Atha, dan Ibnu Shihab al-Zuhri adalah contoh dari ulama/intelektual Islam tersebut. Mereka berpusat di Kota Kufah dan Bashrah yang terkenal sebagai pusat intelektual umat Islam.

Begitu pula ilmu pengetahan (science) dan sastra. Salah satu karya sastra monumental pada masa ini adalah kisah Majnun Laila yang ditulis Qays Ibnu al-Mulawwah. Sedangkan ilmu pengetahuan seperti filsafat, ilmu pasti atau eksakta, dan ilmu kedokteran berkembang seiring dengan penerjemahan buku-buku filsafat Yunani dan naskah-naskah kuno dari peradaban lainnya. Contohnya buku Categoris, Hermeneutica, dan Analityca Posterior karangan Aristoteles, Isagoge karya Porphyrius (keduanya adalah filosof Yunani), dongeng berbahasa sansekerta (Kalilah wa Dimnah) karya Bidpai.

Zaman Kemunduran

Semenjak meninggalnya khalifah Umar bin Abdul-Aziz (720 M), perlahan tapi pasti kekhilafahan Ummayah menampakkan tanda-tanda kemunduran. Tidak cakapnya kepemimpinan khalifah selanjutnya, dan moral khalifah yang jauh dari nilai-nilai Islam, membuat kedamaian dan ketenteram berubah menjadi kekacauan.

Puncak kemunduran terjadi pada masa khalifah Hisyam ibn Abdul Malik (khalifah kesepuluh) dan terus berlanjut hingga khalifah terakhir Bani Ummayah, Marwan II bin Muhammad. Kekuasaan politik khalifah tergerus oleh kekuatan oposisi yang semenjak Mua’wiyah berkuasa selalu menunggu kesempatan merebut tampuk kepemimpinan. Kebencian sebagian kalangan umat Islam dari golongan Syiah, Khawarij, Mawali (non Arab) dan ketidakmampuan para khalifah merangkul kaum oposisi tersebut, jadi salah satu faktor kemunduran kekhilafahan.

Berikut ini faktor-faktor penyebab kemunduran khilafah Ummayah:

  • Pola suksesi (pergantian kepemimpinan) yang bersifat turun-temurun. Pola ini tidak dikenal olah bangsa Arab maupun pada masa pemerintahan khulafurrasyidin. Akibatnya, timbul ketidaksenangan umat Islam terhadap para khalifah Ummayah.
  • Cara merebut kekuasaan kekhalifahan yang penuh intrik politik dan tipu muslihat. Hal ini membuat khalifah memiliki musuh-musuh politik yang keras menentang dan pada akhirnya mampu menggulingkan kekuasaan khilafah Ummayah.
  • Kecenderungan hidup mewah dan berfoya-foya para khalifah. Kondisi ini sangat terlihat setelah meninggalnya khalifah Umar bin Abdul-Aziz. Khalifah-khalifah penerus Umar gagal menampilkan pemimpin bersahaja dan sesuai nilai-nilai Islam. Kewibawaan khalifah pun jadi hilang di mata rakyat yang dipimpinnya.
  • Menurunnya dukungan dari para ulama yang menganggap khalifah telah melupakan urusan umat. Ini merupakan efek dari moral para khalifah yang melenceng dari ajaran Islam.
  • Muncul kekuatan oposisi baru di bawah kepemimpinan Abul Abbas as-Shaffah (keturunan Abbas bin Abdul Muthalib yang merupakan paman dari Nabi Muhammad SAW). Abul Abbas berhasil menggalang dukungan dari sebagian besar umat Islam yang kecewa terhadap kepemimpinan khalifah. Ia pun kemudian berhasil mengalahkan kekuatan militer khalifah Ummayah terakhir, Marwan bin Muhammad.

Akhir Kekhalifahan

Pada tahun 749 M, Abul Abbas as-Shaffah berhasil menghancurkan tentara khalifah Marwan bin Muhammad dalam sebuah perang di Kota Kufah. Setahun kemudian, Kota Damaskus direbut. Khalifah Marwan melarikan diri ke Mesir, namun ia akhirnya terbunuh di sana.

Jatuhnya Damaskus sebagai ibukota pemerintahan dan terbunuhnya khalifah Marwan bin Muhammad menandai runtuhnya kekuasan khilafah Ummayah. Abul Abbas dari Bani Abbasiyah lalu mengangkat dirinya sebagai khalifah dan menerapkan pola suksesi serupa seperti khilafah Ummayah, yaitu jabatan khalifah berdasarkan ketururunan. Kepemimpinan Abul Abbas dan keturunannya kemudian dikenal dengan nama Kekhilafahan Abbasiyah. Sebentuk pemerintahan Islam yang berpusat di Kota Baghdad.

Kehancuran khilafah Ummayah di Damaskus, tidak lantas membuat keturunan Bani Ummayah hilang dalam sejarah. Pada tahun 756 M, keturunan Ummayah membangun basis kekuasaan di Andalusia (Spanyol) dan Afrika Utara. Cordoba ditetapkan sebagai ibukotanya. Pemerintahan ini disebut dengan nama Kekhilafahan Cordoba dan berlangsung hingga 1031 M.

Dimulai dari khalifah Abdurrahman I hingga khalifah terakhir yaitu Abdurrahman IV, ada 20 khalifah dari Bani Ummayah yang memimpin. Khalifah-khalifah tersebut adalah:

  1. Abdurrahman I (756-788 M).
  2. Hisham I (788-796 M).
  3. Al-Hakam I (796-822 M).
  4. Abdurrahman II (822-852 M).
  5. Muhammad I (852-886 M).
  6. Al-Mundhir (886-888 M).
  7. Abdallah bin Muhammad (888-912 M).
  8. Abdurrahman III (912-961 M).
  9. Al-Hakam II (961-976 M).
  10. Hisham II (976-1008 M), kembali memerintah (1010-1012 M).
  11. Muhammad II (1008-1009 M).
  12. Sulayman II (1009-1010 M), kembali memerintah (1012-1016 M).
  13. Abdurrahman IV (1017 M).
  14. Ali bin Hammud al-Nasir (1016-1018 M).
  15. Al-Qasim bin Hammud al-Ma'mu (1018-1021M), kembali memerintah (1023 M).
  16. Yahya bin Ali bin Hammud al-Mu'tali (1021-1023 M).
  17. Abdurrahman V (1023-1024 M).
  18. Muhammad III (1024-1025 M).
  19. Yahya bin Ali bin Hammud al-Mu'tali (1025-1026 M).
  20. Hisham III (1026-1031 M).

Puncak keemasan khalifah Ummayah di Cordoba (Andalusia) ini berlangsung pada abad ke-9 dan 10 Masehi. Saat itu, Kordoba dan beberapa kota di Spanyol seperti Granada, Malaga, Toledo menjadi pusat peradaban di daratan Eropa. Jejak kegemilangannya masih tersisa hingga kini berupa bangunan mengagumkan seperti Masjid Besar Cordova (The Great Mosque of Cordoba), Medina Azzahara, dan Istana Alhambra di Granada. Pasca tumbangnya kekhilafahan pada tahun 1031 M, umat Islam di Spanyol terpecah-pecah dan memudahkan Kerajaan Khatolik Spanyol kembali menguasai daratan tersebut beberapa abad kemudian.    

Cerita tentang sejarah Islam hingga ke Negara Spanyol ini menunjukkan pada kita semua sebagai umat muslim, bahwa Islam bukan sebuah agama yang tanpa proses. Islam, berjuang, berkembang, para tokoh-tokoh di balik menyebarnya Islam ke seluruh penjuru dunia merelakan seluruh hidupnya. Semoga para khilafah mendapatkan tempat yang indah di sisi Allah SWT.