Setelah kita mengetahui tentang pembabakan zaman prasejarah, muncul pertanyaan lain. Bagaimanakah penghuni bumi di masa itu? Bagaimana mereka menjalani kehidupannya yang masih sangat primitif dan belum mengenal berbagai peralatan modern? Sulitnya lagi, masa itu belum ada tulisan. Artinya, kita tidak akan mendapat informasi melalui bukti tertulis. Maka harapan satu-satunya adalah mempelajari dari fosil dan peralatan yang mereka gunakan di masanya.

Di Indonesia banyak ditemukan fosil berupa tengkorak manusia dan peralatannya. Jika dibandingkan dengan tengkorak manusia zaman sekarang, ada beberapa perbedaan yang sangat jelas terlihat. Antara lain : volume otak dan bentuk rangka tengkorak.

Menurut ahli sejarah asal Indonesia, R.P. Soejono, pembabakan zaman Prasejarah terbagi atas tiga periode. Yaitu : periode berburu dan meramu, periode bercocok tanam, serta periode perundagian. Dari periode ini kita bisa mempelajari lebih jauh tentang kehidupan manusia prasejarah, terutama di Indonesia.

Ketika berada di masa berburu dan meramu, manusia prasejarah tinggal di tempat terbuka. Mereka belum mengenal tempat tinggal yang tetap dan memburu hewan untuk dijadikan makanan. Makanan dikumpulkan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ketika persediaan makanan sudah habis, mereka akan berpindah ke tempat yang dianggap lebih subur.

Kehidupan manusia prasejarah saat itu sudah dalam kelompok kecil, dengan hubungan yang tergolong erat. Mereka bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mempertahankan diri dari serangan kelompok lain atau binatang buas. Ada pemimpin yang dihormati oleh seluruh anggota kelompoknya. Mereka juga telah mengenal pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan.

Manusia prasejarah diduga berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat. Yang kemungkinan besar mengalami perubahan sepanjang waktu. Sementara jejak kesenian bisa dilihat dari lukisan babi hutan di dinding gua Leang-Leang, Sulawesi Selatan, misalnya. Juga di pulau Seram dan Papua.

Selanjutnya, manusia pun memasuki periode bercocok tanam. Di masa ini manusia sudah hidup menetap dan mulai mengenal kegiatan bercocok tanam. Mereka menggunakan lahan yang terbatas dan mengolah tanah. Kehidupan masyarakat menjadi lebih teratur dan membentuk semacam desa dengan kepala suku yang dipilih. Masyarakat ini juga sudah mulai mengenal sistem barter.

Kepercayaan mulai berkembang kala itu, yaitu animisme (kepercayaan kepada roh) dan dinamisme (kepercayaan kepada benda yang berkekuatan gaib). Hal itu ditandai dengan didirikannya bangunan besar untuk tempat pemujaan. Selanjutnya masyarakat prasejarah Indonesia mulai memasuki periode perundagian. Masa ini adalah saat yang sangat penting mengingat sudah mulai terjadi hubungan di antara daerah-daerah yang berada di wilayah kepulauan Indonesia. Kehidupan masyarakat saat itu sudah tergolong makmur dan teratur.

Sektor pertanian mengalami perkembangan yang cukup pesat dan berdampak pada perekonomian. Hal itu ditandai dengan terjadinya perkembangan pelayaran dan perdagangan. Kehidupan beragama pun kian maju pesat. Jumlah bangunan untuk menghormati dan memuja roh nenek moyang mengalami peningkatan yang signifikan.

Sampai saat ini, telah ditemukan enam jenis manusia prasejarah di Indonesia. Mereka adalah pithecantropus erectus, pithecantropus mojokertensis, meganthropus palaeojavanicus, homo sapiens soloensis, homo sapiens wajakensis, dan homo floresiensis. Untuk lebih detail lagi, kita akan membahas satu persatu. Namun, di sini akan dibuat pengelompokan untuk memudahkan.

1. Meganthropus palaeojavanicus

Adapun ciri makhluk ini adalah sebagai berikut.

• Memiliki tulang pipi yang cukup tebal,
• Sudah mempunyai otot kunyah yang tergolong kuat,
• Memiliki tonjolan di area kening yang cukup mencolok,
• Memiliki tonjolan belakang yang tajam,
• Dapat dikatakan tidak memiliki dagu,
• Berperawakan tegap,
• Masih mengonsumsi jenis tumbuhan busuk.

Penemu fosil ini adalah Ralph von Koenigswald. Dia melakukan penelitian di dekat desa Sangiran, sebelah utara Surakarta. Penemuan ini terjadi pada tahun 1941. Fosil yang ditemukannya berupa tulang rahang yang diduga jauh lebih kuat dan lebih besar dibanding jenis pithecantropus. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa makhluk ini memiliki ukuran yang lebih besar dibanding pithecantropus. Itulah sebabnya diberi nama meganthtopus. Mega berarti besar.

2. Pithecantropus

Ciri umum manusia jenis pithecantropus adalah sebagai berikut.

• Tinggi badan diperkirakan berkisar antara 165 – 180 cm,
• Volume otak diduga sekitar 750 – 1350 cc,
• Bentuk tubuh dan anggota badan secara keseluruhan cukup tegap. Hanya saja tidak setegap meganthropus,
• Alat pengunyah dan alat tengkuk sangat kuat,
• Ukuran gigi geraham cukup besar dengan rahang yang sangat kuat,
• Tonjolan di kening cukup tebal, dengan bentuk melintang di dahi dari sisi ke sisi,
• Hidung tebal,
• Bagian belakang kepala tampak menonjol,
• Muka menonjol ke arah depan,
• Dahi miring ke arah belakang.

Ada dua jenis pithecantropus yang ditemukan di Indonesia. Yang pertama adalah pithecanthropus erectus yang disebut juga manusia kera yang berjalan tegak. Ini adalah jenis manusia prasejarah yang diduga hidup sekitar 1,5 juta tahun yang lalu di Pulau Jawa. Penemu fosilnya adalah Eugene Dubois pada tahun 1890. Fosil ini ditemukan di daerah Trinil, sebuah desa di sekitar Bengawan Solo. Untuk jenis kera, pithecanthropus erectus ini jauh lebih unggul tingkatannya jika dibanding dengan kera lain.

Jenis pithecantropus kedua adalah pithecantropus mojokertensis. Penemunya adalah Ralph von Koenigswald yang melakukan penelitian di sepanjang lembah kali Solo. Fosil ini ditemukan di dekat Mojokerto, merupakan tengkorak anak-anak. Pithecantropus mojokertensis diduga sebagai manusia purba tertua di Pulau Jawa.

3. Homo

• Tinggi badannya berkisar antara 130 hingga 210 cm,
• Volume otaknya sekitar 1000 sampai 1200 cc,
• Dapat berdiri tegak,
• Mampu berjalan sempurna,
• Otot tengkuk mengalami penyusutan,
• Wajah tidak menonjol ke arah depan.

Untuk jenis homo, ada 3 jenis yang ditemukan di Indonesia. Homo sapiens, homo soloensis, serta homo wajakensis. Para ahli menggolongkan homo kepada manusia prasejarah yang ada di Indonesia selain pithecantropus. Kata homo berasal dari bahasa latin yang berarti manusia. Jenis homo dianggap memiliki beberapa ciri seperti manusia sekarang. kebudayaan homo pun dianggap lebih tinggi.

Homo sapiens memiliki bentuk tubuh yang sama dengan manusia sekarang. begitu juga dengan sifat-sifatnya. Hanya saja, homo sapiens masih hidup mengembara dan nomaden. Kehidupan mereka pun masih sangat sederhana.

Antara tahun 1931 hingga 1934 ditemukan fosil di desa Ngandong. Daerah ini berada di lembah Bengawan Solo. Fosil ini disebut juga homo soloensis atau manusia dari Solo. Sayangnya, kebanyakan fosil tersebut dalam kondisi yang sudah hancur. Penemunya adalah Ter Haar dan Oppennoort. Penemuan mereka kemudian diteliti lebih lanjut oleh Ralph von Koenigswald dan Weidenreich. Hasilnya menunjukkan bahwa homo soloensis ini tingkat hidupnya sudah lebih maju dibanding pithecantropus. Mereka sudah menggunakan berbagai peralatan dari tulang dan tanduk.

Selanjutnya adalah fosil homo wajakensis yang ditemukan sejak tahun 1889 oleh Eugene Dubois. Fosil ini ditemukan di desa Wajak yang letaknya tidak jauh dari kota Tulung Agung, Jawa Timur. Homo wajakensis sendiri berarti manusia dari Wajak.
Namun, homo wajakensis ini digolongkan sebagai bangsa Australoide. Karena memiliki kesamaan dengan tengkorak penduduk asli benua Australia. Secara umum, tidak ada kemiripan dengan tengkorak bangsa Indonesia.

Penemuan terbaru seputar fosil manusia di Indonesia terjadi pada tahun 2003. Penemunya adalah arkeolog dari Indonesia dan Australia. Pemimpin kelompok peneliti ini bernama Mike Morwood yang berasal dari Universitas New England, Australia. Fosil ini ditemukan di Liang Bua, Flores.

Fosil tersebut kemudian diberi nama homo floresiensis yang berarti manusia dari Flores. Tengkorak yang ditemukan cukup kecil, seukuran anak-anak yang berusia lima tahun. sehingga dianggap sebagai manusia kerdil dan diperkirakan hidup sekitar 13.000 tahun silam. Dari penelitian lanjutan ditemukan fakta bahwa tengkorak ini milik seorang perempuan dengan tinggi hanya sekitar satu meter. Sementara beratnya hanya mencapai 25 kilogram.

Demikianlah sekilas pembahasan mengenai manusia prasejarah di Indonesia. Semoga artikel ini bermanfat.