Ilmu-ilmu Al-Qur’an merupakan disiplin ilmu yang dianggap penting oleh para sahabat Nabi Muhammad saw. Di dalamnya, dibahas seputar Nuzulul Qur’an, Asbabun Nuzul, Makiyyah, dan Madaniyah (urutan diturunkannya ayat dan surat, apakah di Mekkah atau Madinah). Ilmu Al-Qur’an merupakan hal yang sangat krusial terutama saat proses pengumpulan dan penertiban Al-Qur’an dilakukan. Dalam buku berjudul Al-Tanbib ‘Ala Fadll ‘Ulum Aal-Qur’an, Abu al-Qasim al Hasan al Muhammad bin Habib al-Nasyaburi mengatakan bahwa ilmu tentang Nuzulul Qur’an dan tempat turunnya ayat serta surat.

Pengertian Ilmu Makki dan Madani

Ilmu Makki dan Madani berkaitan tentang tempat diturunkannya suatu ayat dan surat, urutan turunnya suatu ayat dan surat, baik di Mekkah dan Madinah. Ilmu ini juga berkaitan tentang ayat dan surat yang diturunkan di Mekkah, tetapi digolongkan ke dalam kategori Madaniah serta tentang ayat dan surat yang diturunkan di Madinah, tetapi digolongkan dimasukkan ke dalam kategori Makkiyah. Ilmu Makki dan Madani pun berkaitan tentang ayat dan surat yang diturunkan di Juhafah, Bayt al-Maqdis, Thaif ,dan di Hudaibiyyah. Kedua ilmu ini pun berkaitan dengan waktu diturunkannya suatu ayat dan surat, apakah suatu ayat dan surat ditutunkan secara bersamaan atau sendiri-sendiri. Ilmu Makki dan Madani meliputi kurang lebih 25 pokok bahasan.

Para ulama dan ahli tafsir membagi surat-surat dalam Al-Qur’an ke dalam dua bagian kelompok, yaitu kelompok Mekkah dan kelompok Madinah. Berikut ini beberapa pendapat para ahli tafsir tentang makna Makkiyah dan Madaniyah dalam pengklasifikasian surat dan ayat Al-Qur’an.

  • Surat dan ayat yang masuk dalam kategori Makkiyah adalah surat yang diturunkan di Mekkah, termasuk wilayah Arafah dan Hudaibiyyah. Sementara itu, yang dimasukkan ke dalam kategori Madaniyah adalah ayat atau surat yang diturunkan di Madinah, termasuk wilayah Badr dan Uhud.
  • Surat dan ayat Al-Qur’an yang masuk dalam kategori Makkiyah karena mengandung dalil hukum (khitab) untuk penduduk Mekkah. Sebaliknya, ayat dan surat yang masuk dalam kategori Madaniyah karena mengandung khitab untuk masyarakat Madinah.
  • Istilah Makkiyah dan Madaniyah sesungguhnya merupakan cara periodesasi tantang sejarah turunnya surat dan ayat Al-Qur’an.

Definisi yang terakhir inilah yang banyak dipegang oleh para ulama. Contohnya, berdasarkan definisi tersebut, surat Al Ma’idah ayat 4 yang diturunkan Allah Swt di Arafah saat Nabi Muhammad saw menjalani Haji Wada’ termasuk dalam kategori Madaniyah. Hal itu karena diturunkan setelah hijrahnya Nabi Muhammad saw ke Madinah. Mengacu pada definisi tersebut, maka periodesasi turunnya Al-Qur’an terbagi menjadi dua periode, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Kedua periode ini dipisahkan oleh peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad saw dan para sahabat dari Mekkah ke Yastrib dan Madinah dari pada 1 Rabiul Awwal sampai 12 Rabiul Awwal 1 Hijriah.

Berikut ini penjelasan mengenai rentang waktu periode Makkiyah dan Madaniyah.

  • Periode Makkiyah, yaitu sejak awal Nabi Muhammad saw ditunjuk sebagai Rasulullah sampai menjelang hijrah ke Madinah atau kurang lebih 12 tahun 5 bulan dan 13 hari.
  • Periode Madaniyah, yaitu terhitung sejak hijrahnya Nabi Muhammad saw ke Madinah sampai dengan turunnya wahyu yang terakhir, yaitu pada 9 Rabiul Awwal 11 Hijariah atau kurang lebih 10 tahun dan 9 hari. Pendapat lainnya menyatakan bahwa turunnya wahyu terakhir ketika Nabi Muhammad saw menjalani Haji Wada’, yaitu pada 9 Dzulhijjah 10 Hijriah atau kurang lebih selama 9 tahun, 9 bulan, dan 9 hari.

roses pengidentifikasian yang dilakukan Ibn Syihâb al-Zuhrî, surat yang masuk dalam kategori Makkiyah berjumlah 85 surah dan kategori Madaniyah berjumlah 29 surah. Perhatikan tabel berikut ini.

Ciri Khas Surah yang Termasuk dalam Surah Makkiyah dan Madaniyah

Masing-masing surat yang termasuk dalam kategori Makkiyah dan Madaniyah memiliki beberapa karakteristik yang berbeda. Berikut ini ciri-cirinya.

1. Ciri Surat Makkiyah

Berikut ini ciri-ciri dari surat Makkiyah.

  • Setiap surah dalam Al Qur’an yang mengandung ‘sajadah’.
  • Mengandung ayat-ayat ijaz (pendek) dan bersajak.
  • Mengandung ajaran tauhid, ajakan bagi umat manusia agar berakhlak sholeh, seruan untuk beriman kepada Allah Swt dan hari akhir, serta membahas tentang keadaan surga dan neraka.
  • Mengandung lafal kalla yang disebutkan sebanyak 33 kali dalam 15 surah dalam Al Qur’an.
  • Mengandung kalimat ya ayyuhal lazina amanu, kecuali Surat Al Hajj yang mengandung ya ayyuhal lazina amanur-ka’u wasjudu pada akhir surat.
  • Mengandung kisah para nabi dan umat manusia terdahulu, kecuali Surah Al Baqarah.
  • Mengandung kisah Nabi Adam dan iblis, kecuali Surat Al-Baqarah.
  • Setiap surat yang mengandung kata pembuka berupa huruf singkatan (al-ahruf al-muqattha'ahatau huruf tahajji) misalnya Alif Lam Mim, Alif Lam Ra, Ha Mim dan lainnya, kecuali surah Al-Baqarat dan Al-‘Imran.

2. Ciri Khas Surat Madaniyah

Berikut ini ciri khas dari surat madaniyah.

  • Mengandung ayat-ayat yang panjang dan memiliki kedalaman bahasa.
  • Mengandung isi seputar kewajiban, sanksi (had), hukum ibadah, muamalah, berkenaan masalah hubungan sosial dan kenegaraan.
  • Mengandung dialog yang dilakukan dengan ahli Kitab.
  • Mengandung kalimat ياايهاالدينءامنوا kecuali Surat Al-Jinn.

Menentukan Surat Makkiyah dan Madaniyah

Lantas, bagaimana menentukan apakah suatu ayat atau surat masuk ke dalam kategori Makkiyah atau Madaniyah? Berikut ini penjelasannya.

  • Sima’i Naqli, yaitu melalui pendengaran seperti apa adanya saat ayat atau surat tersebut diturunkan. Sebagian besar surat yang dimasukkan ke kategori Makkiyah dan Madaniyah ditentukan dengan metode ini. Hal ini berdasarkan riwayat yang telah diakui kesahihannya dari para sahabat yang hidup pada masa saat diturunkan wahyu serta berdasarkan riwayat para tabi’in yang menerima informasi atau mendengar berita dari para sahabat.
  • Qiyasi Ijtihadi (Qiyas dari hasil ijtihad), yaitu jika suatu ayat dalam surat Makkiyah mengandung unsur sifat Madani atau membahas peristiwa yang bersifat Madani, ayat tersebut adalah ayat Madani. Begitu juga sebaliknya, apabila suatu ayat dalam surat Madaniyah mengandung unsur sifat Makki atau membahas peristiwa yang bersifat Makki, ayat tersebut adalah ayat Makki. Jadi, walaupun suatu surat dimasukkan ke dalam kategori Makkiyah atau Madaniyah, tidak berarti keseluruhan surat mengandung unsur Makkiyah atau Madaniyah. Patokannya, jika sebagian besar ayat-ayat dalam suatu surat mengandung lebih banyak unsur Makkiyah atau Madaniyah.

Manfaat atau Faedah Mempelajari Ilmu Makki dan Madani

Berikut ini manfaat yang dapat kita ambil dalam mempelajari Ilmu Makki dan Madani.

  • Merupakan alat bantu dalam proses penafsiran Al-Qur’an secara benar. Seorang munfasir dapat membedakan antara ayat yang nasikh dan mansukh apabila terdapat makna kontradiktif dalam kedua ayat tersebut. Hal ini dikarenakan ayat atau surat yang diturunkan belakangan merupakan nasikh dari ayat atau surat yang diturunkan pertama kali atau terdahulu.
  • Untuk memahami dan mempelajari sejarah hidup Nabi dan Rasul melalui ayat-ayat Al-Qur’an.
  • Mempelajari gaya bahasa Al-Qur’an dalam menyampaikan dakwah dengan topik bahasan serta metode penyampaian yang berbeda-beda disesuaikan dengan kondisi lingkungan kala itu. Hal ini dapat dilihat secara jelas dari perbedaan gaya bahasa dalam Al-Qur’an saat menyerukan kebenaran pada orang yang beriman, kaum munafiqqin, kaum musyrikin, dan ahli kitab.

Ilmu-ilmu Al-Qur’an merupakan ilmu penting yang setidaknya harus diketahui umat muslim pada umumnya agar pada kemudian hari tidak sembarangan dalam menafsirkan suatu ayat ataupun surat. Selain itu, dalam memaknai sesuatu pun harus diperhatikan konteksnya, korelasinya dengan yang lain, dan peristiwa yang melatarbelakangi sesuatu hal tersebut.

Semoga penjelasan yang disampaikan ini bermanfaat bagi Anda!