Sebelum masuk pada pembahasan mengenai lembaga agama, sebelumnya kita harus mengetahui dan memahami pengertian agama. Seorang Sosiolog Agama, Emile Durheim, mengemukakan bahwa agama adalah suatu sistem terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik-praktik yang berhubungan dengan hal-hal suci dan mempersatukan semua penganutnya dalam suatu komunitas moral yang dinamakan umat.

Pengertian dan Hubungan

Dari pengertian mengenai agama, yang dimaksud dengan lembaga agama adalah lembaga yang terdapat di masyarakat dengan beragam variasi, yang biasanya terpusat pada suatu pola yang sudah tetap dan mapan. Lembaga agama berkaitan dan berhubungan pula dengan supernatural, artinya berbagai konsep perihal sesuatu yang bersifat supernatural adalah konsep-konsep yang memiliki fungsi prinsip dari agama atau religi.

Sosiologi mempelajari dan tertarik hubungan yang terjadi antara agama dengan masyarakatnya, sama halnya dengan melihat hubungan yang lain. Namun sosiologi tidak bermaksud menghakimi atau menjustifikasi kebenaran ajaran suatu agama, namun tugas sosiologi adalah mencari, menemukan dan memahami bagaimana menemukan pengaruh sosial dari berbagai macam keyakinan dan kebiasaan yang terdapat dalam agama tertentu yang berkembang dalam kondisi dan pada situasi sosial. Hubungan antara agama dengan institusi lain yang ada di masyarakat adalah sebagai berikut:

a. Lembaga dengan Keluarga

Agama memiliki peranan yang sangat besar dalam institusi keluarga, Misalnya, masuknya agama Islam di Indonesia dianggap faktor yang menghilangkan kegiatan pelanggaran norma dan moral, seperti: kemaksiatan, perjudian, dan lain-lain.

Begitu pula dengan masukknya agama Kristen di Flores yang dianggap sebagai faktor yang menghapuskan secara bertahap praktik poligami dan menghalangi terjadinya perceraian dalam keluarga. Agar terwujud kehidupan keluarga yang berlandaskan agama ada beberapa hal yang bisa dijadikan tuntunan dalam kehidupan berumah tangga, yaitu:

  • Kedudukan suami dan istri tidak dibeda-bedakan, dalam arti keduanya sama-sama memiliki tanggung jawab.
  • Mampu saling mengisi, melengkapi dan menyelesaikan permasalah dengan baik.
  • Menciptakan suasana rumah tangga penuh kasih sayang dan cinta dengan berlandasan agama sehingga dapat tercipta suasana yang rukun, damai dan tentram.

b. Agama dengan Ekonomi

Apakah agama akan memengaruhi ekonomi? Dalam perilaku bisnis seringkali tidak terlihat secara jelas pengaruh agama. Namun kenyataannya, agama memengaruhi kehidupan dan perilaku ekonomi. Keyakinan umat beragama akan memengaruhi bagaimana cara kerja, konsumsi, bagaimana penerimaan dan penolakan pada suatu produk, dan lain sebagainya.

Dalam kasus jual beli, contohnya akan tampak jelas perdagangan yang mempunyai dasar iman dengan yang tidak punya. Salah satu contohnya, yang memiliki dasar keimanan akan berbuat jujur karena mengikuti aturan ketentuan yang ada dalam agamanya. Sedangkan yang tidak memiliki agama, atau kurang keimanannya hanya akan berprinsip pad mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cara apapun.

c. Agama dengan Masyarakat

Perubahan masyarakat terutama perkembangan dan kemajuan tekhnologi mengakibatkan perubahan persepsi, gaya hidup yang semakin mewah dan memunculkan ketegangan-ketegangan dalam masyarakat. Dengan adanya perubahan tersebut harus diikuti pula dengan adaptasi mental dan sosial. Ketegangan mental tersebut ternyata tidak bisa diselesaikan dengan teknologi itu sendiri, dalam situasi dan kondisi seperti ini peranan agama sangat dibutuhkan. Agama sebagai pedoman dan landasan pokok dalam hidup. memberikan dasar dan pembentukan nilai-nilai dan estetika, menyatukan nilai dan etika menjadi prinsip etika, menyediakan pedoman untuk pengambilan keputusan sosial dan memberikan ketentraman jiwa dan rohani para umatnya.

Fungsi Agama

Pada masyarakat Indonesia dikenal dan diakui lima agama, yaitu: agama Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik,Hhindu dan Budha. Walaupun ada lima agama, pemerintah tidak membeda-bedakan dan mengutamakan satu agama, yang diutamakan adalah menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, kerukunan antarumat beragama dalam mewujudkan cita-cita nasional.

Permasalahan agama dan kepercayaan menyangkut hubungan pribadi dengan Tuhan Yang Maha Esa yang dipercayai. Agama memiliki fungsi yang pokok bagi kehidupan manusia di dunia yaitu menjadi dan memberikan pedoman hubungan dengan Tuhannya, selain itu lembaga agama juga memiliki fungsi lain yang dibentuk oleh masyarakat.

Borton dan Hunt membedakan fungsi agama menjadi sebagai berikut:

1. Fungsi Manifes Agama

Fungsi manifes agama meliputi tiga lingkup, yaitu:

  • Menjadi doktrin atau pola keyakinan yang menentukan hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan sesamanya.
  • Ritual atau kegiatan-kegiatan keagamaan. Kegiatan ritual melambangkan suatu ajaran atau doktrin yang mengingatkan manusia mengenai ajaran tersebut.
  • Seperangkat norma mengenai perilaku yang kontinyu dan konsisten hubungannya dengan ajaran.

Agar fungsi manifest agama bisa berjalan maka di setiap agama terdapat satuan tugas yang memerlukan investasi dan personal yang besar yang bertujuan untuk menjelaskan, membela doktrin, melaksanakan ritual, bagaimana perilaku yang diharuskan dan diinginkan dalam suatu cara atau pola pemujaan, pengajaran agama dan lain sebagainya.

2. Fungsi Laten Agama

Bagi sejumlah orang barangkali tidak menampik fungsi manifest agama, namun beberapa fungsi laten agama akan membawa konsekuensi yang tidak hanya mengagetkan banyak orang namun juga mengagetkan orang-orang yang beriman.

Pada negara atau masyarakat yang tidak memiliki batasan atau perbedaan yang tipis antara negara dan agama, mungkin fungsi pemerintahannya dijalankan oleh para fungsionalis agama. Dalam negara atau masyarakat yang seperti ini akan terlihat bagaimana seorang kepala negara merangkap sekaligus sebagai kepala masyarakat agama. Dan seringkali kekuasaan yang terdapat dalam negara adalah representasi atau penjelmaan dari kekuasaan lembaga agama. Hal ini terjadi pada abad-abad pertengahan, pada zaman tersebut para fungsionalis agama yang membentuk, menentukan kebijakan dan peraturan politik .

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa fungsi lembaga agama selain sebagai perdoman manusia untuk berhubungan dengan Tuhannya, memiliki fungsi pula sebagai institusi agama yang memberikan dasar untuk berperilaku dalam masyarakatnya. Para ahli hukum adat menyatakan bahwa hukum-hukum adat terdiri atas unsur-unsur asli (budaya) dan unsur agama.

Dengan adanya teori dari ahli hukum tersebut, teori bahwa agama memberikan pedoman perilaku dan pembentukan perilaku yang terpola semakin kuat. Selain itu lembaga agama memiliki fungsi sebagai lembaga yang menyatukan nilai-nilai dan etika yang menjdi prinsip-prinsip dan menyediakan pedoman yang digunakan dalam pengambilan kebijaksanaan sosial.

Selain fungsi yang disebutkan di atas, lembaga keagamaan memiliki fungsi lain yaitu,sebagai tempat yang memberikan bantuan terhadap pencarian identitas moral, memberikan dan menjelaskan mengenai tafsir yang terjadi  di lingkungan alam maupun keadaaan sosial; dan meningkatkan bagaimana cara bergaul dengan baik, misalnya ramah-tamah, bagaimana bersilaturahmi, solidaritas sosial atau kelompok dan kohensi sosial.

Lembaga dan fungsi lembaga keagamaan di Indonesia harus benar-benar menjalankan fungsinya dengan adil sesuai dengan undang-Undang dan peraturan yang berlaku. Di Indonesia fungsi lembaga agama berjalan dengan baik, kegiatan keagamaan dilindungi oleh pemerintahan sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945.

Hal ini terbukti dengan terbentuknya organisasi keagamaan yang ada, seperti: MUI (Majelis Ulama Indonesia), DGI (Dewan Gereja-Gereja Indonesia), MAWI (Majelis Agung Wali Gereja Indonesia), PHDP (Parisada Hindu Dharma Pusat), WALUBI (Perwakilan Umat Budha Indonesia). Dengan adanya organisasi-organisasi keagamaan tersebut diharapkan dapat mewujudkan kerukunan hidup antara umat beragama.