Fastabiqul khairat adalah satu prinsip penting untuk meningkatkan kualitas hidup seorang muslim. Ayat ini memberi keterangan bahwa setiap kelompok masyarakat memiliki acuan atau kiblat mengenai sumber rujukan perilaku. Dengan kata lain, setiap masyarakat memiliki rujukan pedoman perilaku hidupnya masing-masing.

Dalam sejarah kehidupan manusia, setiap kurun peradaban manusia memiliki sumber rujukan atau pedoman hidup masing-masing. Pada zaman Nabi Musa, sumber rujukan nilainya adalah Kitab Suci Taurat, pada zaman Nabi Daud bersumber pada Kitab Zabur, sedangkan pada masa Nabi Isa bersumber pada Kitab Suci Injil. Hal ini menunjukkan keterangan bahwa Al Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 148 mengandung uraian sejarah yang tepat dan ada buktinya.

Kebenaran maksud dari kalimat “tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya” dibuktikan dalam kehidupan manusia zaman sekarang. Orang Islam memiliki sumber rujukannya sendiri, begitu pun orang-orang nonmuslim.

Menghadapi kenyataan seperti ini, Al Qur’an memberikan keterangan bahwa setiap muslim perlu mengedepankan sikap yang siap berkompetisi dalam hal kebajikan. Artinya, setiap di antara kita perlu mengutamakan semangat kompetisi atau semangat berlomba untuk kebajikan. Inilah nilai hakiki dari ayat yang dikemukakan Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 148.

Ayat ini pun memberi keterangan bahwa berbuat baik itu tidak mesti karena kita sedang berada di satu tempat (misalnya di masjid atau di sekolah). Dimanapun kita berada, bila ada kesempatan untuk berbuat baik, seorang muslim harus senantiasa memanfaatkannya sebagai peluang atau lahan ibadah.

Berbuat baik atau berlomba dalam kebaikan tidak mesti hanya di lingkungan sekolah, di rumah, atau di masjid. Pada tempat-tempat tersebut, kita tetap untuk menjunjung tinggi dan berlomba dalam kebaikan, namun di lingkungan RT/RW, kelurahan, lapangan sepakbola, pasar, mall atau di tempat kerja pun, semangat berlomba dalam kebajikan ini harus terus dijunjung tinggi. Hal ini dikarenakan sesungguhnya, Allah Swt akan tetap mengumpulkannya sebagai bagian dari amal sholeh seorang muslim. Berikut ini penjelasan Al Qur’an Surat Al-Fatir ayat 32.

Dalam ayat tersebut, terkandung tiga pelajaran yang menarik. Pertama, Al Qur’an ini diwariskan kepada orang-orang yang dipilih. Secara umum, Al Qur’an memang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia. Namun dalam pelaksanaannya,isi dan kandungan dalam Al Qur’an ini hanya berguna bagi mereka yang meyakini kebenaran Al Qur’an itu sendiri. Orang-orang yang beriman kepada kandungan isi Al Qur’an itulah yang disebut sebagai kelompok pilihan sebagaimana yang dinyatakan pada awal ayat.

Kedua, Al Qur’an membagi tiga kelompok manusia dalam menghadapi Al Qur’an, yaitu:

  • Mereka yang menolak Al Qur’an. Kelompok ini disebut sebagai kelompok yang menzalimi diri sendiri. Artinya, kelompok orang yang menganiaya dirinya sendiri ialah orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya.
  • Kelompok yang menerima Al Qur’an setengah-setengah atau disebut muqtashid, yaitu orang-orang yang memilih-milih ajaran Al Qur’an sesuai dengan kepentingan nafsunya sendiri.
  • Kelompok orang yang menerima Al Qur’an sepenuhnya dan mereka berlomba-lomba dalam kebajikan.

Perilaku Kompetisi

Semenjak dulu sampai masa modern ini, semangat berlomba-lomba merupakan kata kunci utama seseorang untuk meraih hasil yang terbaik. Orang yang memiliki semangat kompetisi, dia akan berusaha keras untuk mewujudkan cita-cita atau impiannya. Orang yang memiliki semangat kompetisi inilah, yang mampu menunjukkan diri sebagai orang yang berjiwa optimis dan pekerja keras.

Sementara itu, mereka yang tidak memiliki semangat kompetisi adalah mereka yang kalah, pesimis, atau tidak punya cita-cita mulia. Orang seperti ini cenderung akan menjadi orang yang tersisihkan atau mengalami kegagalan dalam hidup.

Mari perhatikan sekeliling hidup kita, adakah sesuatu hal yang tidak menunjukkan semangat perlombaan? Seekor hewan untuk mendapatkan makanan dia harus berlomba dan berkompetisi dengan kawanan hewan yang lainnya. Begitu pun kita sebagai manusia.

Perbedaan antara hewan dan manusia itu adalah landasan nilai atau etika berlombanya itu sendiri. Hewan berlomba untuk meraih makanannya, namun mereka berlomba dengan kekerasan. Begitu pula orang-orang yang jauh dari nilai-nilai agama. Kelompok manusia yang tidak mengenal etika agama, akan melakukan perlombaan dalam hidupnya dengan semangat yang tidak terpuji, misalnya berlomba dalam bidang bisnis dengan cara korupsi atau melanggar etika agama.

Seiring dengan hal ini, Islam memberikan tuntunan kompetisi dalam hidup ini harus dalam bentuk perlombaan dalam kebajikan (fastabiqul khoirot) dan bukan berlomba dalam bidang keburukan atau kejahatan. Perlombaan yang terakhir itu merupakan perlombaan yang dilarang dalam Islam dan hanya akan merugikan manusia itu sendiri.
Kekeliruan yang sering terjadi dalam hidup ini, yaitu mencontoh pada perilaku keburukan. Kalangan generasi muda modern ini, sering menggunakan alasan, “Ah … anak tetangga yang kaya pun ternyata tidak puasa."

Prinsip yang menginduk atau mencontoh keburukan orang lain seperti ini merupakan prinsip yang tidak sejalan dengan prinsip Islam yang mengajarkan pentingnya berlomba-lomba dalam kebajikan.

Berbagai hal dapat dilakukan dan dapat diraih dengan mengutamakan semangat perlombaan. Bila ingin meraih kesuksesan dalam belajar, kita bisa berujar bahwa “Orang lain makan nasi, saya juga makan nasi. Orang lain bisa pinter dengan menghapal pelajaran 2 kali balikan, maka saya harus belajar 3 kali balikan supaya mampu meraih prestasi lebih baik." Semangat seperti ini adalah semangat yang positif dan sesuai dengan semangat fastabiqul khoirot.

Dalam mengembangkan semangat perlombaan dalam kebajikan ini, seorang muslim harus memiliki beberapa sikap seperti ini.

  • Mencontoh dari orang yang terbaik dan ambil yang terbaiknya,
  • Melihat contoh kerja yang terbaik dan melakukan dengan lebih baik lagi, dan
  • Bila orang lain belum melakukan terobosan yang positif, maka kita yang harus mendahuluinya. Dengan semangat seperti ini, keberhasilan dan kesuksesan akan dapat dengan mudah diraih oleh orang tersebut.

Pada kenyataannya, memang tidak banyak orang yang memiliki kegemaran untuk melakukan kerja-kerja yang terbaik dan berlomba dalam kebajikan. Generasi muda saat ini lebih banyak melakukan hal-hal yang kurang baik dan tidak maksimal sehingga hasil yang dicapainya pun kurang maksimal.

Ketika belajar di kelas misalnya, pada saat guru memberikan tugas belajar, banyak siswa yang hanya mengerjakan tugas dengan “waktu paling tepat dan jumlah pekerjaan paling sedikit." Jarang ada siswa yang memiliki kegesitan yang luar biasa dalam mengerjakan tugas, seperti mengerjakan tugas “lebih cepat” dan “jumlah pekerjaan” lebih banyak dari yang dipersyaratkan.

Padahal, sifat dan sikap yang terakhir tersebut merupakan salah satu bentuk nyata dari pengalaman ajaran Islam tentang berlomba dalam kebajikan. Untuk membangun masyarakat yang rukun dan damai, seorang muslim pun harus menjadi teladan di masyarakat. Al Qur’an surah Ali Imran ayat 133-134, memberikan keterangan bahwa Allah Swt sangat menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan, dan salah satu kebajikan tersebut, yaitu memberikan maaf atas kesalahan orang lain.

Sikap memberikan maaf ini tampaknya merupakan sesuatu hal yang sulit untuk dilakukan. Padahal mengabulkan permohonan maaf itu adalah perbuatan baik, tetapi lebih baik bila memaafkan. Orang  yang  dengan  tulus  memberi  maaf  pada  kesalahan  orang  lain  lebih dewasa, lebih matang, dan lebih mulia dibandingkan dengan orang yang memberi maaf setelah orang lain datang meminta maaf terhadapnya.

Pada konteks ini pun, sesungguhnya pilihan sikap antara memberi maaf secara langsung dan memberi maaf setelah orang lain memohon maaf adalah satu peluang kita untuk berlomba dalam kebajikan.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, semangat fastabiqul khoirat adalah semangat kompetisi dan semangat juang yang bernilai tinggi untuk meraih prestasi hidup. Orang yang memiliki semangat berlomba  dalam  kebajikan  ini  akan  menjadi  pelopor, inisiator atau perintis dalam kehidupan di lingkungan masyarakatnya.

Nah, itulah penjelasan mengenai ayat dalam Al Qur’an mengenai perlombaan melakukan kebaikan. Semoga penjelasan yang disampaikan bermanfaat bagi Anda.