Perkembangan angkatan kesusastraan Indonesia seringkali dipengaruhi oleh perubahan kekuasaan politik bangsa yang mendominasi pada saat itu, seperti angkatan balai pustaka dan pujangga baru yang hadir sebagai kelompok yang mendukung dan mengacu kepada dunia barat. Angkatan 45 yang lahir sebelum angkatan 1950-1966 juga merupakan angkatan yang lahir akibat perubahan suasana politik bangsa, di mana semangat juang dan cita-cita merdeka bangsa dapat terlihat dalam karya-karya yang lahir pada angkatan tersebut, hal ini di dorong oleh keinginan masyarakat yang besar untuk bisa terlepas dari segala bentuk penjajahan. Hal ini juga terjadi  dengan angkatan 1950 -1966, kesusastraan Indonesia pada masa ini pun juga tidak terlepas dari perpolitikan bangsa.

Kesusastraan angkatan 1950 didominasi oleh para sastrawan yang berkecimpung dalam kesusastraan angkatan 45 dan beberapa sastrawan yang baru. Jika pada angkatan 1945 kita memiliki Chairl Anwar dengan syair-syair individualisnya, maka pada angkatan 1950 kita akan melihat Ajip Rosidi sebagai salah satu sastrawan yang bersinar pada angkatan 1950.

Angkatan 1950 hingga 1966 dikenal sebagai angkatan yang produktif , karena para sastrawan yang tergabung dalam angkatan ini secara terus menerus menghasilkan karya-karyanya hingga 15 tahun. Cerita pendek menjadi santapan pilihan para penikmat sastra, sehingga jumlahnya bahkan melebihi jumlah produksi roman dan novel. Topik-topik yang menjadi pilihan utama para sasatrawan biasanya berkisar antara nilai-nilai dalam kehidupan sehari hari.

Komunisme dalam Kesusastraan Indonesia

Angkatan 1950 merupakan angkatan kesusastraan yang mendapatkan pengaruh besar dari praktik komunisme yang ada di Indonesia pada tahun-tahun tersebut. Perkembangan politik komunis di Indonesia memberikan dampak negatif langsung terhadap karya-karya yang dihasilkan oleh para sastrawan pada masa itu. Hal ini terjadi karena faham komunis yang mulai tersebar di Indonesia juga mulai menggerogoti faham-faham dari para sastrawan Indonesia seperti Sitor Situmorang.

Perkembangan politik komunisme di Indonesia juga menghalang-halangi kesusastraan luar untuk dapat menjamah pasar nasional. Hal tersebut mengakibatkan pertumbuhan yang lamban pada karya sastra Indonesia, sehingga mengakibatkan kualitas kesusastraan semakin lama semakin menurun, belum lagi campur tangan pemerintah dalam menentukan karya-karya apa saja yang boleh dipublikasikan.

Sitor Situmorang, yang sebelum masa angkatan 45 kariernya tidak begitu menjulang tinggi seperti Chairil Anwar, kemudian menjadi sosok yang berpengaruh dalam kesusastraan 1950. Sitor Situmorang selain sebagai sastrawan juga dikenal sebagai pendiri LEKRA atau yang juga dikenal dengan sebutan Lembaga Kebudayaan Rakyat. Organisasi ini menampung para sastrawan Indonesia dalam sebuah organisasi, namun sayangnya organisasi ini berdiri di bawah naungan PKI.

Keberadaan LEKRA tak lantas menjadi lembaga yang berfungsi sebagai pemberdayaan para sastrawan, namun malah berubah menjadi kelompok paham komunis yang cukup ekstrem. Keberadaannya kemudian hari malah menjadi bumerang kelumpuhan kesusastraan Indonesia. LEKRA menjadi organisasi yang hanya mendukung para penulis yang setuju dengan ide-ide komunis yang dianut oleh bangsa Indonesia pada masa itu, mereka bahkan tidak segan-segan mengasingkan para penyair yang tidak sependapat dengan nilai-nilai komunis yang ada pada badan organisasi LEKRA. Hadirnya LEKRA malah memberikan tekanan pada kesusastraan Indonesia, dengan memberikan batasan terhadap kebebasan beraspirasi dari sastrawan.

Selain LEKRA masih terdapat beberapa organisasi kesusastraan lainnya, bahkan ada yang mencoba untuk membangun lembaga yang bertentangan dengan LEKRA yang mendominasi kesusastraan masa itu, namun kelompok-kelompok tersebut tidak bertahan lama karena tidak sanggup melawan arus komunisme yang memang menjamur. Meskipun perkembangan kesusastraan Indonesia pada angkatan 1950 tidak terlalu pesat, namun pada masa ini kita dapat menemukan beberapa penulis yang namanya bahkan masih dikenang hingga sekarang ini seperti AA Navis, Rendra, dan NH Dini.

Angkatan 1966

Angkatan 1966 adalah angkatan kesusastraan berikutnya yang juga terbentuk akibat perubahan suasana politik bangsa yang berkembang. Berbeda dengan angkatan 1950 yang lebih mengedepankan nilai-nilai komunis dalam perkembangan kesusastraannya, angkatan 1966 hadir sebagai pemberontakan dari kaum muda terhadap pemerintah. Perkembangan kesusastraan angkatan 1966 diilhami dari kebangkitan pemuda yang dipelopori oleh KAMI dan KAPPI pada tahun 1966.

Pemberontakan ini merupakan salah satu usaha dalam menumbangkan pemerintahan orde lama yang saat itu dipimpin oleh presiden pertama Indonesiam Soekarnom dengan pengaplikasian nilai-nilai komunisnya. Dengan perubahan suasana politik yang terjadi di ranah bumi pertiwi, mau tidak mau hal ini juga menjadi salah satu faktor penting yang secara tidak langsung mempengaruhi perkembangan karya sastra.

Pada aliran 1966, karya-karya yang dihasilkan oleh sastrawan Indonesia lebih berbentuk karya-karya surealistik. Para sastrawan melihat karya sastra sebagai alat untuk melihat hubungan antara sastra dan perjuangan politik bangsa. Kesusastraan Indonesia tidak lagi terkekang oleh aturan-aturan komunis yang mengekang perkembangan kesusastraan. Pada masa ini, para pengarang lebih memiliki kesempatan yang terbuka untuk ikut bergabung dalam kancah kesusastraan Indonesia. Sastrawan Indonesia yang cukup sukses pada masa perkembangan kesusastraan angktan 1966 ini adalah Taufik Ismail, Goenawan Muhammad, Titi Said Sadikun, Mansur Sanim, dan lain-lain.

Angkatan Reformasi

Sama dengan angkatan kesusastraan periode sebelumnya, angkatan kesusastraan periode reformasi juga terbentuk akibat pergolakan politik yang dialami oleh bangsa Indonesia. Pergolakan politik ini dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan masyarakat dengan sistem pemerintahan orde baru, sehingga menggiring terjadinya pergolakan politik yang puncaknya terjadi pada tahun 1998.

Pada masa ini, beberapa penulis memang memfokuskan karya-karyanya pada tema-tema politik seperti yang dilakukan oleh Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat. Penyebaran karya sastra tersebut tidak semata-mata dipublikasikan dalam sebuah buku, tetapi lebih sering menjamah media-media online dan koran sebagai akses informasi yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat.

Selain tema-tema politik, terdapat beberapa penulis kesusastraan yang sengaja menuliskan kembali pengalamannya ketika peristiwa 1998 terjadi seperti pada karya Marga T yang berjudul Sekutu Nozomi. Karya sastra yang dihasilkan oleh Marga T ini bisa dibilang menarik. Alasannya, Marga T dalam bukunya secara tidak langsung menceritakan pengalamannnya pada masa pergolakan 1998.  Sebagai seorang penulis keturunan Tionghoa tentu saja pandangannya mengenai reformasi ini akan menjadi sangat menarik, karena sebagaimana kita ketahui pada masa 1998 terjadi banyak pelanggaran HAM yang beberapa di antaranya menjadikan kaum-kaum minoritas seperti kaum Tionghoa sebagai korban.

Indonesia merupakan negara yang tanpa henti melakukan perkembangan politik dari masa ke masa, perubahan suasana pada perpolitikan Indonesia juga mau tidak mau mempengaruhi perkembangan kesusastraan yang berkembang di tanah air. Pada masa sekarang ini, para pengarang kesusastraan sudah mulai secara terang-terangan menyampaikan ide ide politiknya dengan bahasa yang gamblang, tidak jarang diantara mereka yang secara terang-terangan mengkritik tindakan pemerintah dalam karya sastra yang mereka hasilkan. Karya sastra masa kini tidak hanya berceritakan kisah-kisah romantis yang diiming-imingi kebahagiaan yang imajinatif saja. Beberapa penulis lebih memilih melakukan penggambaran nyata sesuai dengan yang terjadi di sekitar masyarakat kita.

Loading...