Kerja sama merupakan salah satu bentuk hubungan asosiatif, artinya hubungan yang bernilai positif dan menguntugkan kedua belah pihak. Munculnya kerja sama tidak bisa dipisahkan dari fungsi manusia sebagai makhluk sosial, yaitu manusia senantiasa membutuhkan orang lain untuk melaksanakan fungsi sosialnya.

Manusia dan Kerja Sama

Penulis pernah menulis tentang beberapa contoh kasus ketergantungan manusia terhadap manusia lainnya dalam berbagai kondisi. Beberapa kutipannya adalah sebagai berikut.

Kasus 1

Pak Ahmad adalah seorang anggota masyarakat yang sangat miskin. Dia mempunyai seorang anak dan seorang istri yang menjadi tanggungannya. Oleh karena itu, Pak Ahmad berusaha untuk mencari nafkah dengan bekerja sebagai buruh serabutan kepada orang lain yang membutuhkan tenaganya untuk mengerjakan apa saja yang bisa dilakukannya. Dari hasil usahanya tersebut, Pak Ahmad akan mendapatkan upah beberapa ribu rupiah yang kemudian dipergunakannya untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Kasus 2

Pak Bunyamin adalah seorang tuan tanah yang sangat kaya di kampungnya. Pak Bunyamin mempunyai ribuan hektar tanah yang dipergunakannya sebagai lahan perkebunan dan pertanian. Pak Bunyamin juga mempunyai beberapa pabrik dan perkantoran. Rumahnya sangat megah, besar, dan luas. Sayangnya, Pak Bunyamin tidak mempunyai istri maupun anak padahal usianya sudah memasuki 40-an. Untuk menjalankan perusahaanya, dia mempunyai sekitar seribu karyawan yang bekerja di bidang pertanian, perkebunan, pabrik, dan perkantoran dengan berbagai level jabatan.

Belum lagi pembantu rumah tangga yang bertugas untuk merapikan dan membersihkan rumah. Begitu juga dengan juru masak khusus dan supir pribadi. Tidak lupa Pak Bunyamin pun mempunyai sekitar 15 orang petugas satuan pengamanan (satpam) yang ditugaskanya untuk berjaga di perusahaan-perusahaannya.

Karena tidak mempunyai istri dan anak, kadang-kadang Pak Bunyamin pergi ke sebuah diskotek atau tempat hiburan untuk menghilangkan rasa sepinya. Tidak jarang pula, Pak Bunyamin mengundang teman-temannya hanya untuk sekadar minum kopi atau jamuan makan di rumahnya. Dia mengakui bahwa meskipun kaya raya, tetapi hatinya merasa kesepian.

Kasus 3

Noni adalah seorang anak tunggal dari orangtua yang kaya raya. Sebagai orang yang kaya raya, orangtua Noni memenuhi berbagai macam kebutuhan Noni, termasuk berbagai jenis mainan mahal dan modern. Orangtua Noni mengangkat seorang baby sitter untuk menjaga Noni dan memenuhi segala macam kebutuhannya. Kasih sayang pun tidak pernah hilang dari orang-orang terdekatnya. Noni pun bersekolah di salah satu sekolah modern dan mahal. Oleh karena itu, orangtua Noni melarang Noni untuk bermain dengan teman sebayanya.

Apakah Noni sudah merasa puas dengan berbagai fasilitas mewah dari orangtuanya? Ternyata tidak! Noni terlihat sangat ceria ketika berada di sekolah, karena dia bisa bermain dengan teman-teman yang sebaya dengannya. Di sekolah, Noni bisa bermain kejar-kejaran, bahkan berteriak-teriak sampai tertawa terpingkal-pingkal. Noni tidak pernah terlihat seceria ketika berada di sekolah. Pertanyaannya, mengapa demikian? Jawabannya cukup sederhana. Noni membutuhkan teman bermain yang sebaya.

Kasus 4

Nenek Siti adalah seorang jompo yang sudah sangat tua dan umurnya sudah mencapai 80 tahunan. Nenek Siti hidup sebatang kara. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, Nenek Siti hanya mengandalkan pemberian dari orang lain. Hingga pada suatu hari, Nenek Siti meninggal dunia. Lalu, siapakah yang mengurus jenazahnya? Masyarakat di sekitar tempat Nenek Siti tinggal ternyata tidak tinggal diam. Masyarakat merawat jenazah Nenek Siti dengan baik. Mereka pun merasa berduka dan mendoakan Nenek Siti dengan tulus dan ikhlas.

Kasus-kasus tersebut membuktikan bahwa manusia sebagai makhluk sosial, apa pun kondisinya, tentunya senantiasa membutuhkan orang lain. Bahkah, Allah Swt telah berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 13 yang artinya sebagai berikut.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujurat: 13)

Ayat tersebut memberikan suatu pengertian bahwa sejak awal penciptaan manusia, Allah Swt telah menakdirkan manusia untuk hidup secara berkelompok, bukan sendiri-sendiri. Jadi, alangkah sangat aneh jika ada manusia yang masih mempunyai sifat egois dan indvidualis.

Dalam Surat Al-Ashr ayat 3, Allah Swt pun berfirman yang artinya sebagai berikut.

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 3)

Kata nasihat-menasihati dalam ayat tersebut mengandung pengertian adanya suatu pekerjaan yang dilakukan oleh sekurang-kurangnya dua orang. Artinya, ayat ini pun mengisyaratkan adanya hubungan saling ketergantungan di antara manusia.

Arti Kerja Sama

Berdasarkan uraian-uraian sebelumnya, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa dalam melaksanakan kehidupannya, manusia senantiasa melakukan kerja sama dengan manusia lainnya, baik kerja sama yang sengaja dibentuk dalam suatu ikat formal maupun kerja sama yang terjalin secara alami.

Kerja sama dapat diartikan sebagai suatu hubungan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan suatu tujuan untuk mencapai tujuan bersama secara mudah, ringan, dan cepat. Kata kerja sama sangat identik dengan pepatah “berat sama dipikul ringan sama dijinjing”. Pepatah tersebut memberikan suatu pengertian bahwa pekerjaan yang berat apabila dikerjakan secara bersama-sama, akan terasa ringan dan mudah. Dengan demikian, kerja sama memberikan suatu dampak yang positif bagi kelangsungan hidup manusia dalam bermasyarakat.

Orang-orang yang melakukan kerja sama idealnya akan bahu-membahu untuk mencapai tujuan yang telah disepakatinya. Dalam proses pencapaian tujuan tersebut, akan tumbuh saling pengertian di antara anggotanya mengenai kemampuan masing-masing sehingga terjadi pembagian tugas yang meringankan bagi para anggotanya. Orang-orang tersebut akan semakin solid dan kompak apabila ada sesuatu yang bersifat menganggu atau menghambat tercapainya tujuan bersama. Mereka akan berusaha sekuat tenaga mempertahankan eksistensi keberadaan organisasi mereka demi tercapainya tujuan bersama.

Bentuk Kerja Sama

Berikut ini adalah bentuk-bentuk dari kerja sama.

1. Berdasarkan Tempat

Berdasarkan tempat terjadinya, kerja sama dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

a. Kerja Sama Primer

Kerja sama primer yaitu kerja sama yang terjadi di dalam keluarga. Para pelaku kerja primer adalah seluruh anggota keluarga yang ada di dalam lingkungan keluarga. Contohnya ayah, ibu, anak, kakek, nenek, pembantu, dan sanak-saudara yang terdapat di lingkungan keluarga.

Kerja sama primer biasanya bersifat spontan dan tidak ada perencanaan terlebih dahulu. Pembagian tugas berlangsung secara alami tanpa batasan job description yang jelas. Meskipun demikian, setiap anggota akan berusaha menyelesaikan tugasnya sesuai dengan peran dan kedudukan yang secara alami telah terbentuk dalam keluarga. Setiap individu berusaha meleburkan diri dengan orang-orang yang ada di dalam lingkungan tersebut dan berusaha untuk menjadi bagian dari kelompoknya.

Contohnya, seorang suami atau ayah akan langsung menempatkan dirinya pada posisi kepala keluarga yang mempunyai tugas atau kewajiban untuk mencari nafkah dan melindungi anggota keluarganya. Seorang istri atau ibu akan secara alami menempati posisi ibu rumah tangga dengan jabatan kepala rumah tangga yang bertanggung jawab langsung terhadap keteraturan di dalam rumah termasuk mengurus anggota keluarga lainnya.

Anak-anak akan secara suka rela melaksanakan peran mereka untuk belajar dan membantu orangtua sesuai dengan usia dan kemampuannya masing-masing. Begitu juga dengan nenek dan kakek akan dengan ikhlas menempati posisi terhormat sebagai penasihat keluarga, terutama dalam pengambilan keputusan-keputusan penting atau terjadi gonjang-ganjing di dalam keluarga.

b. Kerja Sama Sekunder

Kerja sama sekunder yaitu kerja sama yang terjadi pada kelompok sekunder. Kerja sama yang terjalin lebih bersifat rasional, terencana, dan teratur. Ada garis atau batasan-batasan job description yang jelas di antara setiap anggota kelompoknya. Kerja sama sekunder, tidak hanya terbatas sebuah organisasi, tetapi juga bisa meliputi wilayah yang luas. Beberapa contoh kerja sama sekunder di antaranya RT, desa, perusahaan, lembaga pendidikan, partai politik, lembaha swadaya masyarakat, PBB, ASEAN, OPEC, AFTA, dan lain-lain.

2. Berdasarkan Bentuk

Berdasarkan bentuknya, kerja sama dapat dibedakan menjadi lima, yaitu sebagai berikut.

a. Kerukunan

Kerukunan merupakan salah satu bentuk kerja sama yang paling sederhana dan paling sering dilakukan di dalam lingkungan masyarakat. Contoh kerja sama kerukunan adalah gotong royong mendirikan rumah ibadah, membangun jembatan untuk kepentingan warga, membangun jalan desa, dan lain-lain. Contoh lain dari kerja sama kerukunan adalah musyawarah. Musyawarah biasa dilakukan warga untuk menyelesaikan permasalahan yang ada dalam lingkungan masyarakat seperti bagaimana mencari dana untuk peringatan HUT RI, musyawarah untuk memilih ketua RT, musyawarah untuk memberikan bantuan kepada para korban bencana alam, dan lain-lain.

b. Tawar-menawar (Bargaining)

Kerja sama bargaining merupakan bentuk kerja sama yang diperoleh dari suatu kesepakatan setelah terjadinya tawar-menawar atau kompromi oleh beberapa pihak bersangkutan untuk mencapai satu tujuan. Kerja sama bargaining umumnya terjadi dalam bentuk kerja sama perdangangan, misalnya tercapainya kesepakatan harga setelah adanya proses tawar-menawar antara pembeli dan penjual.

c. Kooptasi (Cooptation)

Kooptasi merupakan salah satu bentuk kerja sama berupa diterimanya unsur-unsur baru dalam suatu organisasi dengan tujuan untuk mencegah terjadinya perpecahan atau keguncangan dalam tubuh organisasi. Contoh nyata kerja sama kooptasi adalah pemerintah Republik Indonesia menyetujui diterapkannya hukum Islam di Nangroe Aceh Darussalam untuk mencegah disintegrasi bangsa.

d. Koalisi (Coalition)

Koalisi merupakan bentuk kerja sama perpaduan atau kombinasi antara dua belah pihak atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama. Contohnya koalisi antarfraksi di DPR, koalisi antara PSSI dan LPI untuk menyelamatkan sepak bola nasional, dan lain-lain.

e. Joint Venture

Joint venture merupakan bentuk kerja sama antara pihak asing dan pihak-pihak setempat dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu. Contoh joint venture adalah kerja sama antara PT Axxon Mobil Co. LTD dan Pertamina dalam mengelola proyek penambangan minyak di Blok Cepu.

Mudah-mudahan artikel kerja sama ini dapat menambah wawasan yang luas tentang definisi dan bentuk-bentuk kerja sama yang terjadi di masyarakat.