Kerajaan Sunda Galuh adalah dua kerajaan yang berbeda. Galuh didirikan oleh Wretikandayun, asalnya adalah bawahan dari Kerajaan Tarumanegara. Sunda adalah perubahan dari Tarumanegara. Oleh karena pendeklarasian menjadi negara sendiri yang dilakukan oleh Kerajaan Galuh, maka kedua kerajaan ini menjadi kerajaan kembar yang terpisah oleh Sungai Citarum. Dalam perjalanan bertetangganya, Sunda dan Galuh sempat pisah nyambung selama beberapa periode hingga akhirnya benar-benar bersatu di bawah Prabu Siliwangi. Kerajaan Sundah Galuh kemudian menjelma menjadi Kerajaan Pajajaran.

Asal Mula Kerajaan Sunda Galuh

Berdirinya kerajaan Galuh bermula dari eksodus seorang brahmana India bernama Manikmaya, yang oleh raja ke 7 Tarumanagara, Suryawarman, difasilitasi untuk membangun Kerajaan Kendan. Karena watak rata-rata dari kerajaan tatar sunda yang memperlakukan kerajaan-kerajaan bawahannya sebagai kerajaan otonom, maka Kerajaan Kendan pun diwariskan secara turun-temurun. Dari Manikmaya diteruskan oleh Rajaputra Suraliman Sakti, diteruskan oleh Kandiawan, yang kebetulan sudah mempunyai kerajaan sendiri, yaitu Medang Jati. Setelah Kandiawan lebih memilih untuk jadi petapa, kekuasaan diserahkan kepada anak bungsunya, yaitu Wretikandayun (612-702). Wretikandayun lebih tertarik mendirikan kerajaan baru, yang dinamakan Galuh, yang artinya adalah permata.

Di bawah kepemimpinan Wretikandayun, Galuh berkembang pesat, dari segi perdagangan dan terutama pasukan kerajaan. Keistimewaan lain adalah sang raja dikaruniai umur panjang hingga 110 tahun. Setara dengan pergantian enam kali Raja Tarumanagara, mulai dari Kertawarman sampai raja terakhir Linggawarman, sehingga ia paham betul lika-liku Tarumanagara.
Sementara itu Tarumanagara sebagai kerajaan induk mulai mengalami masa-masa redup pada era Linggawarman. Sehingga ketika wafat Linggawarman, Tarus Bawa (669-723) menantu raja yang ditunjuk sebagai penerus tahta mengambil inisiatif untuk mengubah nama kerajaan menjadi Kerajaan Sunda. Tindakan tersebut disambut baik oleh Wretikandayun dengan mendeklarasikan pemisahan Kerajaan Galuh dari Sunda, yang dulunya Tarumanagara. Kedudukan Sunda dan Galuh menjadi sejajar, hanya dipisahkan oleh Sungai Citarum.

Proses Pergantian Kekuasaan di Kerajaan Sunda Galuh

Pergantian Kekuasaan di Kerajaan Sunda relatif lebih tenang. Tarus Bawa mempunyai seorang putera yang wafat sebelum beliau, sehingga namanya tidak tercatat dalam sejarah. Namun beliau memiliki dua orang puteri yaitu Sekar Kencana dan Mayangsari.
Sementara di Galuh, Wretikandayun mempunyai tiga orang putera yaitu Sempak Jaya, Jantaka, dan Amara. Dua orang putera Wretikandayun, yaitu Sempak Jaya  dan Jantaka mempunyai cacat fisik, sehingga Amara yang dipersiapkan menjadi putera mahkota. Sempak Jaya menjadi raja di Kerajaan Galunggung, dan Jantaka menjadi raja di Kerajaan Denuh.

Rencana Wretikandayun tidak berjalan sebagaimana yang ia inginkan. Amara kemudian mempunyai putera dengan kakak iparnya, istri dari Sempak Jaya. Amara menamai puteranya Bratasenawa atau Sena (Sang Salah). Kemudian Amara meninggalkan Galuh dengan perintah dari ayahnya. Amara meninggalkan Galuh menuju Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah. Di Kalingga ia dijodohkan dengan Dewi Parwati, puteri dari Raja Kartikeyasinga dengan Maharani Shima. Dari hasil perkawinan ini, lahirlah anak perempuan yang diberi nama Sanaha.

Saat Raja dan Ratu Kalingga wafat, kerajaan di bagi dua; wilayah utara, Bumi Mataram, dan wilayah selatan, Sembara. Bumi Utara diserahkan kepada pasangan Amara-Dewi Parwati. Saat Wretikandayun wafat pada usia 111 tahun, Amara dipanggil pulang, dan dinobatkan sebagai raja dengan gelar Mandiminyak. Sementara sang istri, Dewi Parwati tetap di Kerajaan Bumi Mataram, dan menjadi penguasa di sana.

Putera dan puteri kandung Amara dari ibu yang berlainan, Sena dan Sanaha  dijodohkan. Dari pasangan itu lahir Sanjaya, pada tahun 683 M. Pada 703 M, Sanjaya dinikahkan dengan dengan Sekar Kencana, cucu Tarus Bawa.  Pada tahun 709, Amara wafat.
Setelah Amara wafat dan Bratasenawa naik tahta, timbul kontroversi  tentang siapa yang berhak menduduki tahta Galuh.

Bratasenawa dianggap tidak berhak menduduki tahta kerajaan, sebab lahir dari hubungan yang tidak sah. Anak Sempak Waja yaitu Purbasora dan Demunawan merasa lebih berhak atas tahta Galuh. Pada 716 Masehi, Purbasora berhasil menyingkirkan Sena (Sang Salah) dengan didukung Kerajaan Indraprahasta (mertua Purbasora), Kerajaan Kuningan (mertua Demunawan), dan Bimaraksa (putera Jantaka dari Kerajaan Denuh). Perang saudara dahsyat terjadi. Sena melarikan diri ke Bumi Mataram, berlindung ke mertua sekaligus ibu tirinya, Dewi Parwati dan bertemu kembali dengan anaknya, Sanjaya.

Hampir terjadi perang antara Galuh dan Sunda. Namun karena kudeta sudah terjadi, dan Sena dinyatakan selamat, pasukan Sunda urung bertempur. Legitimasi pasukan Sunda mengerahkan pasukan karena Bratasenawa adalah besan Tarus Bawa. Kekisruhan di Galuh bukan karena anak-anak Wretikandayun, tetapi diakibatkan oleh cucu-cucunya Purbasora, Demunawan, Bimaraksa, dan Bratasenawa. Berlanjut hingga cicitnya Sanjaya, Wijayakusuma, bahkan hingga penerus selanjutnya, Premana Dikusuma, Tamperan Bramawijaya, bahkan setelah itu, Manarah dan Banga.

Purbasora berhasil memduduki tahta Galuh (716-726) dan Kerajaan Sunda dipimpin Tarus Bawa yang sudah uzur. Pada tahun itu Tarus Bawa wafat. Sanjaya kemudian naik tahta menggantikan Tarus Bawa. Sanjaya yang lama memendam dendam terhadap Purbasora, Raja Galuh yang telah menggulingkan ayahnya, Bratasena, langsung mengerahkan pasukan untuk menggempur Galuh. Di bantu Kerajaan Bumi  Sembara, dan Bumi Mataram (pecahan Kerajaan Kalingga, Jawa tengah sekarang) Galuh porak-poranda, dan Purbasora tewas di tangan Sanjaya. Peristiwa ini terjadi tahun726 M.

Dengan demikian penyatuan pertama Galuh Sunda terjadi pada zaman Sanjaya. Mahkota Galuh diserahkan kepada Premana Dikusuma (726-732), Cucu Purbasora sendiri. Namun pemerintahan sehari-hari diserahkan kepada Tamperan Bramawijaya, buah perkawinan Sanjaya dengan cucu Tarus Bawa, Sekar Kencana.

Sebagaimana kakeknya, Sanjaya memiliki rencana untuk menjamin stabilitas Kerajaan Galuh. Sanjaya kemudian menjodohkan Premana Dikusumab dengan Dewi Pangreyep, keponakannya yang juga cicit Tarus Bawa. Namun suasana istana negeri jajahan, membuat Premana lebih banyak meluangkan waktu untuk bertapa di tepi timur Sungai Citarum. Kondisi ini membuat Dewi Pangreyep dan Tamperan Brawijaya lebih akrab daripada dengan suaminya sendiri.

Tamperan kemudian menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi Premana yang sedang bertapa. Lalu disusun skenario bahwa Tamperan berhasil menewaskan pembunuhnya. Kemudian mengambil tindakan 'heroik' dengan mengawini sekaligus dua janda Premana. Dia kemudian dinobatkan menjadi Raja Galuh, sekaligus Raja Sunda. Suatu tindakan yang dianggap cerdik pada mulanya.
Manarah, adalah putera dari perkawinan Premana Dikusuma dengan Naganingrum, cucu Bimaraksa. Ayahnya terbunuh, tetapi kemudian Manarah mempunyai bapak tiri karena ibunya dinikahi Tamperan Bramawijaya yang naik tahta menjadi Raja Galuh sekaligus Sunda. Namun Bimaraksa mengabarkan padanya bahwa ayahnya sesungguhnya telah dibunuh Tamperan Brawijaya dengan cara cara licik. Maka rencana balas dendam pun disusun.

Di bawah bimbingan Bimaraksa, ditentukan bahwa kudeta akan dilakukan saat acara sabung ayam. Kudeta berhasil, Tamperan Bramawijaya dan Dewi Pangreyep tewas, sementara Banga, putera mahkota ditawan. Kabar tewasnya Tamperan Brawijaya membuat Sanjaya yang bertahta di Bumi Mataram mengerahkan pasukan menyerang Galuh. Kerajaan Galuh yang telah bersiap diri dan didukung Kerajaan Kuningan dapat menahan laju pasukan Sanjaya.  Pertempuran berlangsung berhari-hari, tak ada yang menang, tak ada yang kalah.

Melihat situasi yang membahayakan kedua belah pihak, Demunawan (anak Sempak Waja, cucu Wretikandayun, pendiri Galuh), turun gunung dari Saung Galah. Dalam perundingan damai yang diadakan di Galuh, disepakati beberapa hal sebagai berikut:

• Manarah menguasai Kerajaan Galuh
• Banga mengusai Kerajaan Sunda
• Sanjaya tetap menjadi Raja Bumi Mataram
• Demunawan Menguasai Kerajaan Kuningan

Demikianlah perang kembali memecah Kerajaan Sunda dan Galuh, hal tersebut terjadi pada tahun 739. Manarah kemudian dikenal sebagai Ciung Wanara dalam legenda Ciamis.

Kerajaan Sunda Galuh Bersatu

Setelah mengalami masa peperangan selama empat generasi, Kerajaan Sunda Galuh memasuki era damai sejak Galuh dipimpin Manarah alias Ciung Wanara ( 739-783) dan Sunda dipimpin Rakeyan Banga (739-766). Berikut ini adalah berturut turut nama raja-raja Sunda dan Galuh:

Raja-raja Sunda sampai Sri Jayabupati

No

Raja

Masa pemerintahan

1

Maharaja Tarusbawa

669-723

2

Sanjaya Harisdarma

723-732

3

Tamperan Barmawijaya

732-739

4

Rakeyan Banga

739-766

5

Rakeyan Medang Prabu Hulukujang

766-783

6

Prabu Gilingwesi

783-795

7

Pucukbumi Darmeswara

795-819

8

Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus

819-891

9

Prabu Darmaraksa

891-895

10

Windusakti Prabu Dewageng

895-913

11

Rakeyan Kemuning Gading Prabu Pucukwesi

913-916

12

Rakeyan Jayagiri Prabu Wanayasa

916-942

13

Prabu Resi Atmayadarma Hariwangsa

942-954

14

Limbur Kancana

954-964

15

Prabu Munding Ganawirya

964-973

16

Prabu Jayagiri Rakeyan Wulung Gadung

973-989

17

Prabu Brajawisesa

989-1012

18

Prabu Dewa Sanghyang

1012-1019

19

Prabu Sanghyang Ageng

1019-1030

20

Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati

1030-1042



Raja-raja Galuh sampai Prabu Gajah Kulon

No

Raja

Masa pemerintahan

1

Wretikandayun

670-702

2

Rahyang Mandiminyak

702-709

3

Rahyang Bratasenawa

709-716

4

Rahyang Purbasora

716-723

5

Sanjaya Harisdarma

723-724

6

Adimulya Premana Dikusuma

724-725

7

Tamperan Barmawijaya

725-739

8

Manarah

739-783

9

Guruminda Sang Minisri

783-799

10

Prabhu Kretayasa Dewakusalesywara Sang Triwulan

799-806

11

Sang Walengan

806-813

12

Prabu Linggabumi

813-852

13

Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus

819-891


Pada masa Rakeyan Wuwus, Kerajaan Sunda dan Galuh bersatu, karena Raja Galuh Linggabumi tidak punya keturunan. Akhirnya tahta diserahkan kepada suami adiknya, yang adalah Raja Sunda, Rakeyan Wuwus (819-891). Dengan demikian ini adalah penyatuan kedua sejak Sanjaya. Rakyat Sunda Galuh mengalami masa penyatuan yang damai sejak Manarah hingga Banga dalam rentang waktu 150 tahun. Penyatuan kerajaan kemudian menimbulkan perebutan kekuasaan dalam Kerajaan Sunda Galuh.

Akibat perbuatan ilegal Arya Kedaton ( 891-895) merebut tahta Sunda, selama hampir 100 tahun Kerajaan Sunda didera prahara saling membunuh dan menjatuhkan. Kudeta yang satu dibalas dengan kudeta yang lebih dahsyat. Bahkan kudeta di Kerajaan Sunda sempat menyeret peperangan dengan kerajaan kembarnya, Galuh. Bagi Kerajaan Galuh sendiri, masa seratus tahun juga tidak dilalui dengan mudah.Walaupun relatif tidak terjadi kudeta berdarah darah, beberapa kali Galuh mengalami kekosongan kekuasaan karena ketiadaan putera mahkota.Sehingga beberapa kali terpaksa mengambil raja raja dari Sunda.

Adalah Arya Kedaton yang mengambil alih kekuasaan saat Rakeyan Wuwus wafat. Sangat tidak lazim karena Arya bukan putera mahkota, dia adalah ayahanda putera mahkota sendiri, Rakeyan Windu Sakti. Seorang bapak mengudeta tahta anaknya sendiri. Akibat tindakannya itu, Arya harus menebus dengan nyawanya sendiri. Ia dibunuh oleh salah satu menterinya. Maka naiklah Rakeyan Windusakti (895-913), menggantikan ayahnya. Masa pemerintahan sampai wafatnya dilalui dengan aman. Tahta diteruskan oleh anaknya, Kemuning Gading. Kemunig Gading hanya berkuasa selama tiga tahun, dijatuhkan oleh Rakeyan Jayagiri, adiknya sendiri. Tampaknya perilaku sang kakek, Arya Kedaton,  ditiru sang cucu, Jayagiri.

Kudeta ini memicu perang dengan Kerajaan Galuh, karena Raja Galuh, Jayadatra adalah anak Kemuning Gading. Perang mengakibatkan Sunda dan Galuh kembali berpisah. Dengan demikian penyatuan Sunda Galuh oleh Rakean Wuwus dihapuskan oleh cucu cicitnya. Akhirnya kekuasaan Jayagiri benar-benar terhenti setelah dibunuh oleh Lembur Kencana, adik Jayadatra, putera kedua Kemuning Gading. Kerajaan Sunda kembali berdamai dengan Kerajaan Galuh.

Limbur Kencana naik tahta dengan membunuh raja sebelumnya, Jayagiri. Ini merupakan rangkaian panjang pembunuhan yang dimulai ketika Arya Kedaton melakukan kudeta, dan kemudian dibunuh salah satu menterinya. Arya Kedaton digantikan anaknya Windu Sakti, dan Windu Sakti diteruskan oleh anaknya, Kemuning Gading. Tragedi terjadi lagi, Kemuning disingkirkan Jaya Giri, adiknya sendiri. Jaya Giri kemudian dibunuh Limbur Kencana, anak Kemuning Gading.

Limbur Kencana yang kemudian naik tahta dibunuh Dewi Ambawati, anak Jaya Giri. Suami Dewi Ambawati, Watu Ageung kemudian menjadi Raja. Watu Ageung tidak lama memimpin karena kemudian dibunuh Sunda Sembawa, putera Lembur Kencana. Sampai di sini, bunuh membunuh berhenti. Total terdapat 5 raja yang dibunuh dalam era rebutan kekuasaan ini. 100 tahun yang sia-sia dilewatkan hanya untuk memenuhi nafsu berkuasa. Setelah itu suksesi relatif berjalan normal.

Selanjutnya dengan pengalaman buruk suksesi kekuasaan berdarah, Sunda Galuh melakukan disiplin pergantian kekuasaan. Tampaknya mereka telah belajar banyak dari era 100 tahun penuh makar dan peperangan yang tidak perlu, mulai dari era Sunda Sembawa (964-973) Kerajaan Sunda Galuh benar-benar berada dalam perdamaian dan masa keemasan.

Kerajaan Sunda Galuh Mengalami Kejayaan

Meskipun tidak tercatat melakukan ekspansi memperluas wilayah, kala itu kerajaan mempunyai angkatan perang yang kuat baik angkatan darat maupun angkatan laut. Sebagaimana diketahui, beberapa pelabuhan penting saat itu di bawah otoritas Sunda Galuh, terutama Banten, Cirebon, dan tentu saja Kalapa ( Sunda Kalapa, Jayakarta, dan akhirnya Batavia, Jakarta ).

Peperangan antara negara-negara sekitarnya (Sriwijaya, Kediri, Samudra Pasai) tidak memengaruhi perdamaian di Kerajaan Sunda Galuh. Bahkan pada masa Raja Darmasiksa (1175 - 1297), Kerajaan Sunda Galuh -tepatnya di bekas ibukota Sundapura - menjadi tempat perundingan damai segitiga antara Kekaisaran China, Sriwijaya, dan Kediri. Perlu dicatat, Darmasiksa mempunyai seorang cucu yang bernama Raden Wijaya. Raden Wijaya, setengah Sunda, setengah Jawa, kemudian  mendirikan Majapahit yang terkenal itu. Darmasiksa memang raja visioner. Dia mendirikan banyak kabuyutan, di antaranya Ciburuy (Garut), Sanghyang Tapak (Sukabumi), dan Kanekes (Banten). 800 tahun kemudian, kini, kita masih dapat menyaksikan miniatur Kerajaan Sunda di Kanekes.

Pada era Prabu Lingga Dewata (1311-1333), Kerajaan Sunda Galuh mempunyai ibukota baru, yaitu Kawali (=kuali, belangga). Selama ini ibukota kerajaan berada bolak-balik antara Pakuan, Galuh, atau Saung Galah (sekitar Gunung Galunggung). Mulai saat itu orang mengenal era  Kawali dalam perjalanan sejarah Sunda Galuh. Pada saat yang sama, Mahapatih Gajah Mada mengucapkan sumpah palapa  dihadapan Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhana di Majapahit. Hampir 400 tahun berlalu sudah sejak Raja Sunda Sembawa memerintah. Masa keemasan terus berlanjut hingga Prabu Maharaja Lingga Buana (1350-1357) naik tahta.

Tragedi Bubat

Tragedi Bubat terjadi pada Selasa Wage, tanggal 4 September 1357 yaitu penyerbuan terhadap iring-iringan pengantin. Kala itu adalah masa keemasan Kerajaan Sunda Galuh, namun juga masa keemasan kerajaan tetangganya yang sangat ekspansif, Majapahit.

Dua kerajaan besar, dua kerajaan yang sejajar, dua raja dengan satu nenek moyang. Seorang raja, Lingga Buana, seorang puteri, Dyah Pitaloka, dan iring-iringan pengantin harus gugur karena nafsu penaklukan. Seorang raja berkuasa, Hayam Wuruk, harus terpukul hingga menderita sakit. Dan karir sang Mahapatih harus berakhir tidak jelas. Dari generasi ke generasi, peristiwa kelam ini selalu dikenang dan beban sejarah yang berat harus dipikul seorang Bunisora.

Bunisora, adik Lingga Buana, harus memimpin rakyat Pasundan Galuh melewati semua ini. Dialah seorang pendeta tingkat satmata, tingkat lima, yang karena kecelakaan sejarah dinobatkan menjadi raja. Saat itu putera mahkota baru berusia 9 tahun. Dialah yang harus membimbing calon penerus, Anggalarang, terutama bersikap bijak terhadap tragedi Bubat.

Berkat bimbingan sang paman, Anggalarang tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana. Pada waktu dinobatkan ia berusi 23 tahun, dan bergelar Mahaprabu Niskala Wastukencana, dikenal juga dengan nama Wangisutah, seorang raja besar telah dilahirkan. Pada waktu itu untuk pertama kalinya Keluarga Kerajaan Sunda Galuh mempunyai anggota keluarga beragama Islam yang baru saja pulang Haji. Dia adalah kakak ipar raja sendiri, putera dari Bunisora, pamannya. Tidak terjadi intrik atas perbedaan agama ini. Bratalegawa atau Haji Purwa Galuh setelah masuk Islam, justru diberi tanah di Cirebon untuk mengembangkan agamanya.

Pada saat itu juga sebuah tim ekspedisi dari Negeri China dipimpin Laksamana Cheng Ho mengunjungi Pelabuhan Muara Jati di Cirebon, dan menghadiahkan  sebuah mercusuar di sana. Sementara itu, untuk pertama kalinya berdiri pesantren di tatar Sunda yang digagas oleh Syekh Hasanudin bin Yusuf di daerah Karawang, tentunya atas izin Mahaprabu. Sementara sebuah padepokan agama Budha didirikan di Kerajaan Talaga, Majalengka sekarang.

Mahaprabu Wastukencana yang berkuasa atas Kerajaan Sunda dan Galuh menjelang akhir hayatnya membagi kerajaan menjadi dua bagian, sebelah barat Citarum, Kerajaan Sunda diberikan kepada Haliwungan atau Prabu Susuktunggal, anak dari istri Ratna Sarkati. Sebelah timur Citarum, Kerajaan Galuh kepada Dewa Niskala, anak dari istri Mayangsari. Kedua Kerajaan berdiri sejajar. Kerajaan Sunda Galuh kembali ke masa pemecahan, kali ini karena amanat Wastukencana.

Akhir Masa Kerajaan Sunda Galuh

Perang Bubat ternyata masih menyisakan soal. Diawali dengan pelarian pembesar Majapahit ke Galuh. Waktu itu memang sedang terjadi huru-hara akibat perebutan kekuasaan di Majapahit. Pelarian di sambut baik di Galuh. Yang jadi soal adalah Dewa Niskala mengawini salah seorang pembesar Majapahit tersebut, sesuatu yang diharamkan sejak Bubat. Lebih-lebih lagi wanita itu telah bertunangan.

Akibat pelanggaran kode etik itu, Prabu Susuktunggal menjadi murka dan berniat menyerbu Galuh. Namun perang dapat dicegah, dan pihak-pihak bersengketa duduk di meja perundingan. Hasil kesepakatan adalah baik Susuktunggal ataupun Dewa Niskala harus mengundurkan diri sebagai raja di kerajaan masing masing. Sebagai gantinya mereka menunjuk Jayadewata yang merupakan anak Dewa Niskala sekaligus mantu Susuktunggal. Akhirnya Kerajaan Sunda Galuh kembali dilebur dengan Raja Jayadewata, Sribaduga Maharaja, Prabu Siliwangi, dengan ibukota Pakuan. Maka lahirlah Kerajaan Pajajaran.

Raja-raja Sunda-Galuh setelah Sri Jayabupati
No Raja Masa pemerintahan
1

Darmaraja

1042-1065

2

Langlangbumi

1065-1155

3

Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur

1155-1157

4

Darmakusuma

1157-1175

5

Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu

1175-1297

6

Ragasuci

1297-1303

7

Citraganda

1303-1311

8

Prabu Linggadéwata

1311-1333

9

Prabu Ajiguna Linggawisésa

1333-1340

10

Prabu Ragamulya Luhurprabawa

1340-1350

11

Prabu Maharaja Linggabuanawisésa

1350-1357

12

Prabu Bunisora

1357-1371

13

Prabu Niskala Wastu Kancana

1371-1475

14

Prabu Susuktunggal

1475-1482


Keberadaan raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Sunda Galuh mengajarkan kita tentang bagaimana kerasnya mempertahankan kedudukan. Bahwa nyawa menjadi hal lumrah yang diberikan jika ingin mempertahankan apa yang sudah dimiliki. Termasuk kekuasaan.

Loading...