Kerajaan Singasari merupakan salah satu kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara. Sumber sejarah Kerajaan Singasari berasal dari prasasti-prasasti setelah tahun 1248, Kitab Pararaton, dan Kitab Negarakretagama. Kerajaan Singasari mungkin salah satu kerajaan di Nusantara yang melegenda, karena di kerajaan ini terjadi berbagai peristiwa tragis yang merenggut elite kerajaan.

Berdirinya Kerajaan Singasari, Raja, dan Keris Mpu Gandring

Cikal-bakal Kerajaan Singasari berasal dari Tumapel, sebuah daerah bawahan Kerajaan Kediri. Tumapel merupakan sebuah daerah yang mulanya bagian dari Kerajaan Jenggala yang diruntuhkan Kerajaan Kediri. Kerajaan Jenggala dan Kediri awalnya merupakan sebuah kerajaan besar yang dipimpin Airlangga.

Dari Tumapel ini muncul seorang akuwu (sekelas bupati zaman sekarang) yang nantinya menjadi raja pertama Singasari. Akuwu tersebut bernama Ken Arok. Ken Arok dahulu adalah mantan perampok yang ditakuti di wilayah Kerajaan Kediri. Kemudian, dia merebut jabatan akuwu Tumapel dari Tunggul Ametung yang dibunuhnya dengan sebilah keris sakti buatan Mpu Gandring sekaligus menikahi istrinya yang bernama Ken Dedes.

Suatu hari, Ken Arok menerima para brahmana dari Kerajaan Kediri yang merasa tersinggung dengan raja Kertajaya, yang menyuruh mereka menyembahnya sebagai dewa. Setali tiga uang, Ken Arok sesungguhnya juga memiliki ambisi untuk memerdekakan Tumapel dari Kediri. Hingga terjadilah pertempuran hebat di Desa Ganter pada tahun 1222. Dalam peperangan itu, Tumapel berhasil mengalahkan Kerajaan Kediri. Pada tahun 1222 berdirilah Kerajaan Tumapel, yang lantas lebih populer disebut Kerajaan Singasari.
Ken Arok memiliki gelar Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi dan dinastinya bernama Girindrawangsa (Dinasti Keturunan Siwa) memerintah pada tahun 1222 sampai 1227. Tujuan mendirikan dinasti ini tidak lain untuk menghilangkan jejak masa lalu Ken Arok, supaya keturunannya tidak mendapatkan imbas dari kejahatannya di masa lalu.

Salah satu yang menjadi legenda warisan Kerajaan Singasari adalah keberadaan kersi Mpu Gandring yang memakan tumbal elite kerajaan. Ken Arok meminta Mpu Gandring untuk membuat sebuah keris sakti yang akan digunakannya membunuh Tunggul Ametung yang kebal senjata. Sebelum keris selesai sempurna, Ken Arok merampasnya dan membunuh Mpu Gandring. Kutukan diucapkan oleh Mpu Gandring sebelum meregang nyawa, yang mengatakan bahwa keris itu akan membunuh Ken Arok sendiri dan tujuh keturunannya. Akhir hidup Ken Arok bisa dibilang tragis. Dia mati dibunuh oleh orang suruhan Anusapati yang merupakan anak dari Ken Dedes dan Tunggul Ametung. Keris Mpu Gandring berhasil mengantarkan Ken Arok ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Setelah itu, Singasari dipimpin oleh Anusapati yang memerintah dari tahun 1227 hingga 1248. Di masa Anusapati, tak banyak yang berubah dari Kerajaan Singasari. Anusapati terlalu tenggelam dalam kegemarannya menyabung ayam. Tohjaya, anak Ken Arok dan istri keduanya Ken Umang akhirnya mengetahui skenario kematian ayahnya itu. Timbullah siasat untuk menghabisi nyawa Anusapati. Suatu hari di tahun 1248, Tohjaya mengundang Anusapati untuk menyabung ayam di Gedong Jiwa, kediaman Tohjaya. Saat Anusapati larut perhatiannya dalam menyabung ayam, Tohjaya dengan cepat mencabut keris Mpu Gandring yang dibawa Anusapati dan secepat kilat menusukkannya ke punggung Anusapati.

Sepeninggal Anusapati, Tohjaya otomatis memegang takhta Kerajaan Singasari. Namun, pemerintahannya cuma berjalan beberapa bulan. Wisnuwardhana Ranggawuni, anak Anusapati mengetahui kalau ayahnya dibunuh Tohjaya. Lantas, Rangawuni yang didukung oleh Mahesa Cempaka menuntut hak kerajaan. Jelas saja Tohjaya menolaknya. Dia lalu mengirimkan pasukan untuk menangkap Ranggawuni dan Mahesa Cempaka. Tapi, rencana Tohjaya ini sudah diketahui, hingga Ranggawuni dan Mahesa Cempaka melarikan diri.

Tohjaya kemudian mengirimkan Lembu Ampal untuk menyelidiki persembunyian Ranggawuni. Namun, Lembu Ampal berbalik mendukung Ranggawuni karena sadar bahwa yang berhak atas takhta kerajaan adalah Ranggawuni. Mereka lalu berkomplot untuk menggulingkan kekuasaan Tohjaya. Tohjaya pun kalah dalam peperangan dan tewas di pelariannya.

Ranggawuni naik takhta dan bergelar Sri Jaya Wisnuwardhana pada 1248, dan berakhir pada 1268. Wisnuwardhana pada tahun 1254 mengangkat putranya yang bernama Kertanegara sebagai raja muda, untuk mempersiapkan warisan takhta kelak. Wisnuwardhana Ranggawuni merupakan satu-satunya raja yang meninggal dengan wajar, tanpa terbunuh. Pada tahun 1268, Ranggawuni meninggal dunia dan digantikan oleh Kertanegara yang memerintah dari 1268 hinffa 1292. Raja Kertanegara ini merupakan raja terakhir Singasari.

Kembali ke kisah kutukan keris Mpu Gandring, ternyata kutukan yang mengatakan akan terbunuh tujuh turunan Ken Arok dari keris itu tidak terjadi. Coba kita perhatikan lagi. Ternyata yang meninggal di ujung keris Mpu Gandring hanya enam orang. Pertama, Mpu Gandring sendiri. Kedua, Kebo Ijo, rekan Ken Arok. Ketiga, Tunggul Ametung. Keempat, Ken Arok sendiri. Kelima, Anusapati. Keenam, Ki Pengalasan, pengawal Anusapati yang membunuh Ken Arok. Sedangkan Thjaya, anak Ken Arok dan Ken Umang, tewas karena luka yang disebabkan lembing, bukan karena keris Mpu Gandring.

Sejarah pergantian takhta Kerajaan Singasari diwarnai pertumpahan darah turun-temurun. Hanya Wishuwardhana Ranggawuni saja yang mengalihkan takhtanya kepada Kertanegara dengan damai. Ada perbedaan raja-raja Kerajaan Singasari dalam kitab Pararaton dan Negarakretagama. Di dalam kitab Pararaton, disebutkan raja-raja Singasari adalah Ken Arok, Anusapati, Tohjaya, Ranggawuni, dan Kertanegara. Sedangkan dalam kitab Negarakretagama disebutkan raja-rajanya antara lain Ken Arok, Anusapati, Ranggawuni, dan Kertanegara.

Keadaan Masyarakat, Kejayaan, dan Runtuhnya Kerajaan Singasari

Saat pemerintahan Ken Arok, banyak kaum Brahmana yang hijrah ke Kerajaan Singasari. Awalnya, mereka datang untuk mencari perlindungan kepada Ken Arok karena menentang Kertajaya, Raja Kediri, yang ingin disembah sebagai dewa. Saat masa pemerintahan Anusapati, Kerajaa Singasari terabaikan, karena kegemaran Anusapati menyabung ayam. Pada masa Wisnuwardhana Ranggawuni barulah kehidupan sosial diperhatikan dan tertata rapi.

Kehidupan ekonomi Kerajaan Singasari kurang bisa diketahui. Namun, karena letaknya berada di tepian Sungai Brantas, diduga kehidupan ekonomi berjalan lancar. Bidang budaya, Kerajaan Singasari banyak menghasilkan bangunan dan patung. Seni bangunan candi banyak dihasilkan, antara lain Candi Kidal, Candi Jago, dan Candi Singosari. Seni patung yang ditemukan, peninggalan kerajaan ini, antara lain patung Ken Dedes yang berwujud Dewi Prajnaparamita lambang kesempurnaan ilmu, patung Kertanegara bentuk Joko Dolok, patung Amoghapasa perwujudan Kertanegara.

Masa pemerintahan Kertanegara merupakan masa kejayaan Kerajaan Singasari. Di masa ini, Kerajaan Singasari memperluas pengaruhnya hingga ke luar Pulau Jawa. Pada tahun 1275, Kertanegara mengirimkan pasukan untuk menaklukkan Kerajaan Sriwijaya, dan menjalin kerja sama atau bersekutu dengan Kerajaan Campa (Kamboja). Ekspedisi pengiriman pasukan ini dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu. Pengaruh Kerajaan Singasari berhasil ditancapkan di Campa dengan jalan menikahkan raja Campa dan seorang adik perempuannya. Beberapa daerah di Nusantara yang pernah menjadi bagian dari Kerajaan Singasari, yakni Sumatra, Bakulapura (Kalimantan Barat), Sunda, Madura, Bali, dan Gurun (Maluku).

Kerajaan Singasari hancur akibat serangan tentara Mongol. Sebelum terjadi serangan besar-besaran, Kerajaan Singasari didatangi seorang utusan Kubilai Khan, penguasa Mongol dan Cina, yang bernama Meng Shi pada tahun 1289. Meng Shi diutus untuk menyampaikan pesan, agar Kerajaan Singasari tunduk di bawah Kubilai Khan dan membayar upeti. Jika menolak, Singasari akan diserang. Hal ini membuat Kertanegara marah besar. Utusan Kubilai Khan itu lalu dicap wajahnya memakai besi panas, sebuah hukuman yang mirip dengan hukuman seorang pencuri atau perampok. Pasukan Pamalayu disiapkan Kertanegara untuk menangkal serangan Mongol, yang cepat atau lambat pasti terjadi.

Setahun sbelum tentara Mongol benar-benar menyerang, Kertanegara lebih dahulu tewas dibunuh oleh Jayakatwang, cicit Kertajaya yang dahulu memerintah Kerajaan Kediri sebelum diruntuhkan oleh Ken Arok. Pada tahun 1293 tentara Mongol menyerang kerajaan ini. Namun, yang diserang ketika itu bukan Kerajaan Singasari, melainkan Kerajaan Kediri yang dibangun kembali oleh Jayakatwang.
Demikianlah kisah sejarah Kerajaan Singasari. Semoga kita bisa mengambil makna dan wawasan dari sejarah Kerajaan ini.

Loading...