Kerajaan Negara Daha merupakan rangkaian dari kerajaan-kerajaan di Banjar (Kalimantan Selatan). Kerjaan ini merupakan kerajaan bercorak Hindu, rangkaian dari kerajaan Nan sarunai (Kuripan), kemudian kerajaan Negara Dipa. Kerajaan Negara Daha ini merupakan cikal bakal berdirinya Kesultanan Banjar yang bercorak Islam.

Asal Usul Kerajaan Negara Daha

Riwayat berdirinya Kerajaan Negara Daha sangat bersinggungan dengan sejarah dua kerajaan lain yang menjadi cikal-bakal kemunculan kerajaan bercorak Hindu di Kalimantan Selatan. Dua kerajaan yang menjadi pendahulu Kerajaan Negara Daha tersebut adalah Kerajaan Kuripan dan Kerajaan Negara Dipa. Kerajaan Nan Sarunai adalah suatu pemerintahan purba yang diperkirakan sudah eksis sejak zaman sebelum Masehi. Bukti arkeologis yang ditemukan menyebutkan bahwa kerajaan ini mulai muncul antara tahun 242-226 Sebelum Masehi dan dikelola oleh orang-orang Suku Dayak Maanyan.

Eksistensi Kerajaan Nan Sarunai bertahan cukup lama.Memasuki abad ke-14, benih-benih keruntuhan kerajaan ini mulai muncul. Kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan (Mojokerto, Jawa Timur), berambisi untuk menguasainya. Pada sekitar tahun 1355 Masehi, Hayam Wuruk, penguasa Kerajaan Majapahit waktu itu, memerintahkan panglimanya yang bernama Empu Jatmika untuk menaklukkan Kerajaan Nan Sarunai (Tajuddin Noor Ganie, 2009).

Akhirnya, Kerajaan Nan Sarunai menjadi bagian dari kekuasaan imperium Majapahit. Peristiwa ini dikenang oleh para seniman lokal dalam tutur wadian atau puisi ratapan yang dilisankan dalam bahasa Maanyan. Para seniman lokal mengenang keruntuhan Kerajaan Nan Sabunai sebagai peristiwa Usak Jawa atau Penyerangan oleh Kerajaan Jawa (Ganie, 2009). Sementara itu, Fridolin Ukur (1977) menyebutnya sebagai kerajaan orang Dayak Maanyan yang telah rusak oleh Jawa (Ukur, 1977:46).

Kerajaan Negara Daha adalah salah satu kerajaan bercorak Hindu (Syiwa-Buddha) yang pernah ada di Kalimantan Selatan, kurang lebih satu zaman dengan kerajaan Islam Giri Kedaton. Ibu kota kerajaan Negara Daha berada di Muhara Hulak/kota Negara (kecamatan Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan), sedangkan bandar perdagangan dipindahkan dari pelabuhan lama Muhara Rampiau ke pelabuhan baru pada Bandar Muara.

Kerajaan Negara Daha adalah kerajaan lanjutan dari Kerajaan Negara. Kerajaan tersebut saat itu memiliki pusat pemerintahan (ibu kota) di Kuripan. Dilakukan pemindahan ibu kota dari Kuripan, untuk menghindari banyaknya bencana karena dianggap daerah Kuripan sudah kehilangan tuahnya (kesaktian/keramat). Pusat pemerintahan tersebut dipindah ke arah hilir sungai Negara (sungai Bahan) sehingga nama kerajaan pun berubah mengikuti letak ibu kotanya, yaitu Kerajaan Negara Daha.
    
Cikal Bakal Kerajaan Negara Daha Berawal Dari Pernikahan

Peralihan dari Kerajaan Negara Dipa menjadi Negara Daha disebutkan dalam Hikayat Banjar, yang mengisahkan pernikahan Putri Kalungsu dengan anaknya sendiri, yakni Raden Sekar sungsang.

Dikisahkan, Putri Kalungsu melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Raden Sekar Sungsang. Pada suatu hari, ketika sang pangeran berusia enam tahun, Putri Kalungsu sedang membuat kue (tercantum dalam Hikayat Banjar disebutkan dengan nama juadah) dan Raden Sekar Sungsang sesekali mendekati ibundanya untuk meminta makan.

Putri Kalungsu meminta anaknya pergi sejenak sambil menunggu matangnya juadah. Namun, rupanya Raden Sekar Sungsang tidak dapat lagi menahan seleranya, juadah yang belum matang itu dimakannya. Sontak Putri Kalungsu menjadi marah dan kemudian memukul kepala Raden Sekar Sungsang dengan sendok. Akibat kemurkaan sang ibu, Raden Sekar Sungsang melarikan diri dengan kepala yang masih bercucuran darah menuju pelabuhan. Seorang saudagar dari Jawa bernama Juragan Balaba melihat Raden Sekar Sungsang yang sedang kalut, kemudian mengajaknya untuk ikut berlayar ke Jawa. Juragan Balaba merasa anak muda yang dilihatnya itu bukan anak sembarangan karena dari tubuhnya mengeluarkan cahaya yang tergolong terang.

Di istana, Putri Kalungsu memerintahkan pencarian Raden Sekar Sungsang ke seluruh pelosok negeri. Akhirnya diperoleh kabar tentang sebuah kapal yang berlayar dengan membawa anak kecil, namun belum dapat dipastikan apakah anak yang dimaksud adalah Raden Sekar Sungsang atau bukan. Mangkubumi (patih/perdana menteri) Kerajaan Negara Dipa, Lambung Mangkurat, kemudian mengirim empat buah kapal untuk mengejar kapal tersebut. Empat buah kapal milik Kerajaan Negara Dipa itu akhirnya tiba di seberang lautan, tepatnya di sebuah tempat yang sekarang dikenal dengan nama Surabaya (Jawa Timur). Akan tetapi, meskipun Lambung Mangkurat telah mengirim sejumlah penyidik untuk mencari tahu keberadaan Raden Sekar Sungsang, namun keberadaan sang pangeran masih belum dapat diketahui juga.

Sebenarnya Raden Sungsang ada Surabaya. la diangkat anak oleh Juragan Balaba dan memakai nama Ki Mas Lelana (Kiai Mas Lalana). Setelah ayah angkatnya meninggal dunia, Ki Mas Lelana tetap tinggal di Surabaya bersama ibu angkatnya.
Pada suatu hari, Ki Mas Lelana mengungkapkan keinginannya ingin pergi ke Kerajaan Negara Dipa dengan menumpang kapal Juragan Dampu Awang, teman Juragan Balaba. Pada awalnya, ibu angkat Ki Mas Lelana keberatan. Akan tetapi, melihat ketetapan hati anak angkatnya yang kuat itu maka janda Juragan Balaba itu mengizinkan Ki Mas Lelana untuk pergi ke Kerajaan Negara Dipa bersama Juragan Dampu Awang.

Setelah sampai di pelabuhan Muara Bahan, Juragan Dampu Awang yang dibantu Ki Mas Lelana mulai berdagang. Kebetulan, Lambung Mangkurat sedang berada di pelabuhan.Lambung Mangkurat tampaknya tertarik pada kecakapan Ki Mas Lelana dan kemudian membujuk Ki Mas Lelana untuk tinggal di istana Kerajaan Negara Dipa. Rupanya, Lambung Mangkurat yang tidak mengetahui bahwa Ki Mas Lelana sebenarnya adalah Raden Sekar Sungsang, berniat menjodohkan anak muda itu dengan Ratu Kalungsu yang telah lama menjanda. Pada waktu itu, Ratu Kalungsu adalah penguasa Kerajaan Negara Dipa.

Singkat cerita, digelarlah pesta perkawinan antara Ki Mas Lelana dengan Ratu Kalungsu. Pada suatu waktu, ketika Ratu Kalungsu sedang membersihkan kepala Ki Mas Lelana, ia melihat tanda bekas luka di kepala suaminya itu. Ratu Kalungsu kemudian bertanya mengapa luka itu bisa terjadi. Mula-mula Ki Mas Lelana menerangkan bahwa ia sendiri pun tidak mengetahuinya. Akan tetapi, ketika istrinya terus-menerus mendesak, akhirnya ia menceritakan kisahnya.

Ki Mas Lelana berkisah, saat masih kecil ia pernah mendapat pukulan di kepala dari ibunya hingga terluka. Diceritakan juga oleh Ki Mas Lelana bahwa ia kemudian lari dan beberapa tahun tinggal di Jawa, ikut dengan Juragan. Alangkah terkejutnya Ratu Kalungsu mendengar cerita tersebut. Ki Mas Lelana pun sama terperanjatnya dan memohon ampun serta meminta supaya Ratu Kalungsu membunuhnya. Ratu Kalungsu memutuskan bahwa mereka harus bercerai untuk selama-lamanya. Selain itu, Ratu Kalungsu mengganti nama Ki Mas Lelana atau Raden Sekar Sungsang dengan Raden Sari Kaburangan.

Sistem Pemerintahan Kerajaan Negara Daha

Kedudukan raja dalam sistem pemerintahan Kerajaan Negara Daha diwarisi secara turun-temurun sesuai dengan garis geneologi atau kekerabatan. Posisi raja bersifat keramat karena dianggap mempunyai kesaktian yang dapat menambah wewenang (Anis, 1994:76). Wewenang raja pada dasarnya merupakan salah satu komponen kekuasaan.

Kerabat raja berada pada tataran kedudukan tinggi yang juga berhak menguasai rakyat sebagai hambanya. Jika dicermati, wewenang yang dimiliki oleh sang raja memungkinkan sekali baginya untuk bertindak absolut (Ideham, [eds.], 2003). Namun, meskipun memiliki wewenang yang cukup besar, belum berarti seorang raja dapat menguasai seluruh kekuasaan karena faktor kekayaan turut menentukan kedudukan raja (Anis, 1994:82).

Proses suksesi kekuasaan yang berlaku di Kerajaan Negara Daha diterangkan dalam Hikayat Banjar. Menurut penelitan yang dilakukan oleh Ras (1968), berdasarkan Hikayat Banjar, ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi oleh kandidat raja atau putra mahkota, yakni (1) pangeran yang dipilih sebagai putra mahkota harus benar-benar keturunan raja dari permaisuri, (2) dapat berbuat adil kepada rakyat dan keluarga, (3) terbuka untuk menerima saran dan kritik, (4) tidak boleh memiliki sifat iri dan dengki, (5) bersedia menyelesaikan setiap persoalan yang ada melalui mufakat (Ras, 1968:276).

Apabila putra mahkota dianggap belum cukup umur untuk menjabat sebagai raja, maka untuk sementara kendali pemerintahan kerajaan dijalankan oleh sistem perwalian. Perwalian tersebut terdiri dari kerabat raja (Ideham, 2003). Orang yang biasanya bertindak sebagai pemimpin sementara sembari menunggu putra mahkota dewasa dan dirasa berhak memimpin pemerintahan adalah Mangkubumi (Patih), jabatan yang setara dengan perdana menteri.

Penobatan seorang putra mahkota menjadi raja dilakukan melalui suatu ritual upacara. Ritual upacara suci yang dianggap sebagai simbol kekuasaan raja ini dikenal sebagai upacara badudusan. Anis (2004) menyebutkan bahwa upacara ini dimulai ketika seluruh kerabat sudah berkumpul. Putra mahkota atau calon raja duduk di sebelah kursi lalu diperciki dengan air suci oleh keluarga yang sedarah dengan raja. Selanjutnya, air suci itu dibawa ke dalam istana dan ditimbang sebanyak tiga kali. Jika sudah diketahui beratnya maka calon raja diukur dengan benang emas dan perak. Setelah itu, diadakan pesta selama tujuh hari tujuh malam. Selanjutnya adalah hari penobatan putra mahkota sebagai raja, yakni dilakukan pada hari ke delapan.

Raja-raja Kerajaan Negara Daha

1. Maharaja Sari Kaburangan/Raden Sakar Sungsang/Panji Agung Rama Nata/Ki Mas Lelana putera Putri Kalungsu, ratu terakhir Negara Dipa.

2. Maharaja Sukarama/Raden Paksa, kakek dari Sultan Suriansyah (Sultan Banjar I)

3. Maharaja Pangeran Mangkubumi

4. Maharaja Pangeran Tumenggung/Raden Panjang

Wilayah Kekuasaan Kerajaan Negara Dipa

Luas wilayah kekuasaan kerajaan ini meliputi provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Batas wilayah sebelah barat berbatasan dengan Kerajaan Tanjungpura, dan sebelah timur berbatasan dengan Kerajaan Kutai Kartanegara.

Kedatangan Islam ke daerah ini diperkirakan pada masa Maharaja Sari Kaburangan (Raden Sekar Sungsang). Raden Sekar Sungsang pernah merantau ke pulau Jawa dan memiliki anak bernama Raden Panji Sekar. Raden Panji Sekar menikahi putri dari Sunan Giri, kemudian bergelar Sunan Serabut. Dengan begitu, pembawa pengaruh Islam di daerah ini adalah daerah Giri. Namun, Islam baru menjadi agama negara pada 1526, yaitu pada masa kekuasaan Pangeran Samudera (Sultan Suriansyah). Penggunaan aksara Arab-Melayu telah dilakukan sebelum berdirinya Kesultanan Banjar.

Terjadinya kemelut di Kuripan/Negara Dipa, mengakibatkan beberapa tumenggung melarikan diri ke negeri Paser, negeri tersebut berbatasan dengan Kerajaan Kutai Kartanegara. Mereka yang melarikan diri kemudian mendirikan Kerajaan Sadurangas di daerah tersebut.