Kerajaan Mataram kuno memiliki nama lain, yaitu Medang. Istilah Medang sendiri lazimnya digunakan saat pusat kekuasaan berpindah ke Jawa Timur. Namun, berdasarkan prasasti-prasasti peninggalan kerajaan, nama Medang sendiri sudah digunakan saat pemerintahan ada di Jawa Tengah. Nama Mataram merujuk pada ibu kota kerajaan ini di Jawa Tengah. Mataram kuno digunakan untuk membedakan nama Kerajaan Mataram Islam yang ada pada abad ke-16.

Kerajaan Mataram Kuno & Kehidupan Masyarakatnya

Kerajaan Mataram kuno berdiri pada abad ke-8. Kerajaan ini menganut agama Hindu. Raja pertamanya bernama Sanjaya yang bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Prasasti Canggal yang bertarikh 732, menjelaskan asal-usul Kerajaan Mataram kuno. Di prasasti tersebut, Sanjaya menjelaskan ada raja lain yang memerintah di pulau Jawa bernama Sanna (dikenal pula dengan nama Sena atau Bratasenawa). Sanna memerintah sebelum dirinya menjadi raja. Setelah Sanna turun takhta, negara kacau-balau. Lalu, berkat dukungan ibunya yang bernama Sannaha, yang merupakan saudara perempuan Sanna, tampuk kekuasaan diambilalih oleh Sanjaya.

Sanna adalah raja dari Kerajaan Galuh yang bertakhta mulai 709. Saat Sanna dikudet pada 716 oleh saudaranya sendiri yang bernama Purbasora, ia melarikan diri ke Pakuan. Di sana ia meminta bantuan Tarusbawa, raja Kerajaan Sunda. Galuh dan Sunda sendiri merupakan dua kerajaan pecahan Kerajaan Tarumanegara. Sanjaya akhirnya menjadi raja Sunda, setelah dia menikah dengan anak Tausbawa, dan melaksanakan misi balas dendam pada Purbasora. Setelah itu, Sanjaya menguasai tiga kerajaan sekaligus, yakni Kerajaan Sunda, Kerajaan Kalingga, dan Kerajaan Galuh. Pada tahun 732, Sanjaya mulai memerintah di Kerajaan Mataram, warisan takhta ayahnya. Lalu, dia meninggalkan wilayah Jawa Barat, dan memberi takhta beberapa kerajaan di Jawa Barat kepada anaknya.

Pusat Kerajaan Mataram atau Medang ada di I Bhumi Mataram (seakrang Yogyakarta). Namun, pada perjalanannya, sempat berpindah-pindah beberapa kali di masa raja-raja setelahnya. Misalnya saja, pada masa Rakai Pikatan pusatnya ada di I Mamrati (sekarang daerah Kedu), di masa Dyah Balitung pusatnya di I Poh Pitu (daerah Kedu), di masa Dyah Wawa kembali lagi ke I Bhumi Mataram, di masa Mpu Sindok sempat dua kali berpindah, yakni ke I Tamwlang (sekarang Tembelang) dan I Watugaluh (sekarang Megaluh), serta di masa Dharmawangsa Teguh pusatnya di I Wwatan (Wotan terletak di Madiun).

Lantas, bagaimana dengan keadaan masyarakat di Kerajaan Mataram kuno ini? Masyarakat di sini bermatapencaharian sebagai petani. Mataram kuno atau Medang dikenal sebagai negeri agraris. Selain itu, konon tambang emas sangat berpengaruh mengangkat perekonomian masayrakat saat itu. Hal ini diperkuat oleh temuan Wonoboyo yang berupa artefak berbahan dasar emas.
Pada masa Sanjaya berkuasa, agama Hindu beraliran Siwa menjadi agama resmi kerajaan. Saat wangsa Sailendra memegang kekuasaan, agama resmi beralih ke Buddha dengan aliran Mahayana. Namun, masayrakat Kerajaan Mataram kuno hidup dengan rukun dan damai, menempatkan toleransi di antara mereka.

Wangsa Sanjaya dan Sailendra

Ada dua wangsa (dinasti) yang pernah berkuasa di Kerajaan Mataram kuno, yakni wangsa Sanjaya dan wangsa Sailendra. Wangsa Sanjaya didirikan oleh Raja Sanjaya. Sedangkan wangsa Sailendra didirikan oleh Rakai Panangkaran, raja yang memerintah Kerajaan Mataram kuno setelah Sanjaya wafat pada 770-an. Saat kerajaan dipegang oleh wangsa Sailendra, keturunan Sanjaya, hanya menjadi raja bawahan wangsa Sailendra. Agama Buddha aliran Mahayana dijadikan agama resmi kerajaan. Konon, di masa itu wangsa Sailendra mampu menguasai Kerajaan Sriwijaya.

Slamet Muljana mengungkapkan, raja-raja Mataram kuno berdasarkan prasasti Mantyasih dimulai dari Rakai Panangkaran hingga kekuasaan Rakai Garung merupakan wangsa Sailendra. Rakai sendiri merupakan istilah di Kerajaan Mataram kuno yang mengacu pada istilah “penguasa.” Istilah ini mirip dengan Bhre di masa Kerajaan Majapahit. Artinya, nama Rakai Garung sama dengan Penguasa di Garung. Slamet Muljana juga mengidentifikasikan Rakai Panunggalan hingga Rakai Garung dengan semua nama penguasa dari wangsa Sailendra yang sudah diketahui. Semisal Samaratungga, yang dianggap bukan bagian dari daftar nama-nama raja berdasarkan prasasti Mantyasih.

Sering terjadi konflik antara wangsa Sanjaya dengan wangsa Sailendra. Saat Samaratungga (812-833), Raja Mataram kuno dari wangsa Sailendra yang berkuasa, terjadi perlawanan oleh wangsa Sanjaya. Untuk meredamnya, Samaratungga menikahkan putrinya, Pramodawarddhani, dengan Rakai Pikatan yang merupakan keturunan Sanjaya. Rakai Pikatan kemudian menjadi raja Mataram kuno selanjutnya. Lalu, ia memindahkan pusat pemerintahan ke Mamrati.

Di masa pemerintahan Rakai Pikatan ini disebut-sebut sebagai kebangkitan wangsa Sanjaya. Anak Samaratungga yang juga adik Pramodawarddhani, bernama Balaputeradewa mencoba mengadakan perlawanan atas kekuasaan wangsa Sanjaya. Namun, gagal dan kalah berperang. Karena kekalaha tersebut, Balaputeradewa melarikan diri ke Sumatra, dan akhirnya menjadi raja Sriwijaya.

Perpindahan Pusat Kerajaan dan Keruntuhannya

Pada masa kekuasaan Rakai Sumba Dyah Wawa, Kerajaan Mataram kuno habis disapu letusan gunung Merapi yang sangat dahsyat. Sebagian puncak Merapi, karena sangat dahsyatnya konon sampai hancur. Lapisan tanah bergeser ke arah barat daya yang membentuk lipatan, dan menjadikan gunung baru, seperti gunung Gendol dan lempeng pegunungan Menoreh.

Bencana alam yang meluluhlantakan Mataram ini dianggap sebagai Pralaya (kehancuran semesta). Lalu, sesuai dasar kosmologi, harus dibangun sebuah kerajaan di wilayah baru dan wangsa yang baru pula. Mpu Sindok mengambilalih kekuasaan pada 929, dan memindahkan pusat pemerintahan ke Jawa Timur. Semula di Tamwlang, lalu dipindah ke Watugaluh. Perpindahan kerajaan ini tidak diawai dengan penaklukan terlebih dahulu, karena sejak masa Rakai Watukura Dyah Balitung, kekuasaan Mataram kuno sudah meluas hingga Jawa Timur, bahkan sampai Bali. Mpu Sindok juga merupakan pendiri wangsa baru yang bernama wangsa Isana.

Menurut sebagian sejarawan Kerajaan Mataram kuno berakhir tahun 1006, sebagian lagi menyebut tahun 1016. Raja terakhir Kerajaan Mataram adalah Dharmawangsa Teguh, cicit Mpu Sindok. Runtuhnya Kerajaan Mataram kuno karena serangan mendadak. Permusuhan dengan Kerajaan Sriwijaya, yang penguasanya berasal dari wangsa Sailendra, berlanjut terus sampai kerajaan berpindah ke Jawa Timur. Dharmawangsa teguh, sejak ia menjadi raja pada 991, mengirimkan pasukan untuk menyerang pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya.

Permusuhan semakin memuncak. Sampai akhirnya Dharmawangsa tewas karena serangan mendadak pasukan Aji Wurawaru dari Lwaram yang diduga sekutu Sriwijaya. Peristiwa ini terjadi saat Dharmawangsa mengadakan pesta pernikahan putrinya. Setelah peristiwa yang disebut Mahapralay atau kehancuran istana itu, muncul seorang pangeran berdarah Jawa-Bali bernama Airlangga. Dia mengaku ibunya masih punya garis keturunan dengan Mpu Sindok. Lalu, dia pun membangun kerajaan baru yang diberi nama Kerajaan Kahuripan.

Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Mataram kuno, antara lain Sanjaya, rakai Panangkaran, Rakai Panunggalan (Dharanindra), Rakai Watak (samaragrawira), Rakai Garung (Samaratungga), Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi (Dyah Lokapala), Rakai Watuhumalang, Rakai Watukura Dyah Balitung, Mpu Daksa, Rakai Layang Dyah Tulodong, Rakai Sumba Dyah Wawa, Mpu Sindok, Sri Lokapala, Makuthawangsawardhana, dan Dharmawangsa Teguh. Dalam Kerajaan Mataram kuno, sering terjadi silih berganti kekuasaan, akibat konflik dua wangsa, yang menyebabkan perang saudara ataupun kudeta. Kerajaan Mataram kuno banyak meninggalkan artefak.

Selain prasasti-prasasti yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Kerajaan Mataram kuno juga meninggalkan bangunan berupa candi. Candi-candi yang bercorak Hindu dan Buddha ini, yaitu Candi Kalasan, Candi Plaosan, Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Mendut, Candi Pawon, dan Candi Borobudur. Selain itu, pada tahun 1990 ditemukan artefak berupa emas di Wonoboyo, Klaten, Jawa Tengah. Hasil temuan ini disebut Temuan Wonoboyo. Peninggalan berupa emas ini menunjukkan betapa hasil kebudayaan dan kesenian Kerajaan Mataram kuno sudah menampakan nilai estetika tinggi.

Loading...