Kerajaan Kuripan memang mirip dengan Kahuripan, tetapi ternyata kerajaan ini tidak berada di Kediri. Kerajaan Kuripan merupakan salah satu kerajaan Hindu tertua yang terletak di Kalimantan Selatan. Kerajaan Kuripan ini adalah yang akan menurunkan raja-raja Pasir saat ini.

Bukti-bukti Keberadaan Kerajaan Kuripan

Adanya kerajaan Kuripan didukung dengan beberapa bukti, di antaranya:

1. Kerajaan Kuripan disebutkan dalam kitab Negara kertagama karangan Mpu Prapanca.
2. Ceret, tempat air, pinggan melawen, batil dari tembaga sebagai penghargaan diangkatnya Putri Betung sebagai Ratu.
3. Cerita penduduk sekitar, terutama suku Maanyan.
4. Hikayat Banjar Versi II.

Letak Kerajaan Kuripan

Pusat atau letak kerajaan Kuripan masih belum dapat dipastikan. Berikut adalah beberapa perkiraan tempat kerajaan Kuripan:

1. Berada di Kecamatan Danau Panggang, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan.

2. Berada di sebelah hilir dari negeri Candi Agung (Amuntai Tengah).

3. Menurut Tutur Candi, Kerajaan Kuripan adalah kerajaan yang diwariskan pada Empu Jatmika. Empu Jatmika memang bukan penduduk asli, tetapi seorang pendatang dari Jawa. Beliau memperoleh kekuasaan sebab Raja Kuripan amat menyayanginya.

Selama pemerintahan Empu Jatmika, Kerajaan Kuripan mengalami beberapa kali perpindahan pusat pemerintahan, yaitu:

- Di Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Tabalong. Kabupaten Tabalong terletak di sebelah hulu dari Kabupaten Hulu Sungai Utara, karena di kawasan Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah sungai Bahan (sungai Negara)

- Memiliki cabang yang terbelah menjadi dua, yakni daerah aliran sungai Tabalong dan daerah aliran sungai Balangan. Sesuai dengan kebiasaan yang terjadi di Kalimantan, pemberian nama dari sebuah sungai biasanya berdasarkan nama pada kawasan yang ada di sebelah hulunya. Maka dari itu, untuk penamaan sungai Tabalong ini diambil berdasarkan nama daerah yang ada di sebelah hulu dari sungai tersebut. Pada zaman Belanda, wilayah ini dikenal dengan Distrik Tabalong. Sungai Tabalong sendiri adalah anak sungai Bahan dan sungai Bahan adalah anak sungai Barito yang bermuara ke laut Jawa.

Asal Nama Kerajaan Kuripan

Kerajaan Kuripan disebut juga dengan kerajaan Tabalong. Hal tersebut tertuang dalam kitab Negara kertagama yang ditulis pujangga Majapahit, yakni Mpu Prapanca pada 1365. Penamaan Kerajaan Tabalong berdasarkan nama kawasan di mana kerajaan tersebut berada. Penamaan Kuripan diduga adalah nama lama kota Amuntai di Kabupaten Hulu Sungai Utara yang terletak di sekitar muara sungai Tabalong.

Kerajaan ini diduga adalah kerajaan yang sama dengan Kerajaan Tanjungpuri atau Kerajaan Nan Sarunai. Namun, dapat pula untuk penyebutan Kerajaan Nan Sarunai adalah kerajaan bawahan Kerajaan Kuripan. Kekuasaan Kerajaan Kuripan oleh orang pribumi tidak dapat bertahan lama, kemudian dilanjutkan oleh pendatang dari jawa terutama dari Kerajaan Majapahit.

Perang Di Kerajaan Kuripan

Perang dengan Majapahit

Serangan dari Kerajaan Majapahit terjadi sebanyak dua kali. Kisah penyerangan ini disebut orang Maanyan (penduduk asli Kerajaan Kuripan) dengan istilah Nan Sarunai Usak Jawa. Akibat penyerangan ini suku Maanyan mengungsi ke pedalaman, pada daerah yang dihuni suku Lawangan. Tidak semua suku Maanyan turut mengungsi, sebagian kecil menjadi bagian prajurit Kerajaan Majapahit.

Perang dengan Negara Dipa

Perang ketiga ini terjadi sebab Pangeran Sutya Nata I telah mengokohkan kedudukannya sebagai Raja Negara Dipa. Beliau melakukan penyerangan setelah menikah dengan Putri Junjung Buih.

Kerajaan Kuripan Menurunkan Raja-raja Pasir

Kerajaan Kuripan ini diduga adalah kerajaan yang sama dengan Kerajaan Nan Sarunai. Kerajaan Nan Sarunai adalah bawahan dari Kuripan. Selanjutnya kekuasaan kerajaan orang pribumi kemudian digantikan penguasa baru daerah ini, yaitu Dinasti Negara Dipa yang berdarah Majapahit. Dari dinasti Negara Dipa dan seterusnya menjadi pemerintahan yang memimpin daerah Kalimantan Selatan. Turun temurun kekuasaan tersebut sehingga dapat dipastikan bahwa Kerajaan Kuripan adalah Kerajaan yang menurunkan raja-raja kerajaan paser hingga saat ini.

Ada kisah turun temurun mengenai seorang putri yang menurunkan raja-raja Kerajaan Kuripan. Putri tersebut bernama Putri Betung. Kisahnya adalah sebagai berikut.

Saat itu Kerajaan Kuripan dilanda perang saudara. Dengan begitu, membuat Temenggung Duyung dan Temenggung Tukiu, dua orang Panglima Kerajaan tersebut melarikan diri ke daerah timur dengan melintasi desa Batu-Butok dan membawa seorang bayi perempuan.

Bayi tersebut bukan diculik, namun sengaja dilarikan sesuai dengan rencana yang telah diatur sebelumnya. Bayi tersebut adalah putri dari salah satu Panglima Kuripan yang bernama Aria Manau. Temenggung Duyung dan Temenggung Tukiu yang merupakan rekan Aria Manau dengan susah payah melakukan pelarian melalui hutan rimba ini. Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, sampailah mereka ke bagian Timur yang bernama “Sadurangas”. Saat itu daerah tersebut merupakan daerah yang tidak bertuan. Nantinya daerah Sadurangas menjadi daerah paser.

Aria Manau mengetahui bahwa putri kesayangannya telah diselamatkan ke Sadurangas. Dengan segera ia menyusul ke Sadurangas untuk melihat kondisi putrinya tersebut. Setelah menemui putrinya, Aria Manau tinggal di daerah tersebut. Cukup lama ia berada di daerah tersebut sebab penduduk sekitar tidak mengenal nama dan dari mana asal-usulnya. Maka dari itu, oleh penduduk sekitar Aria Manau dikenal dengan sebutan “Kakah Ukop” yang artinya orangtua pemilik kerbau putih yang bernama Ukop. Hal itu dikarenakan Aria Manau memelihara kerbau putih bernama Ukop, sedangkan istrinya sendiri oleh penduduk sekitar dipanggil dengan panggilan “Itak Ukop” dan sang bayi dinamainya dengan “Putri Betung”.

Masyarakat sekitar yang masih primitif dapat menerima kehadiran keluarga Aria Manau (Kakah Ukop) bahkan mengangkatnya menjadi sesepuh desa. Kakah Ukop mengatur desa tersebut dalam waktu yang relatif lama serta dicintai oleh penduduk sekitar. Setelah Kakah Ukop mengakhiri jabatannya sebagai kepala kampong (desa), anaknya Putri Betung ditunjuk untuk menggantikan ayahnya.

Sekitar pertengahan tahun 1575 Masehi, Putri Betung diangkat dan diakui oleh penduduk sekitar sebagai raja pertama di Sadurangas (Pasir) karena wilayah desa tersebut sudah lebih luas sehingga sudah cukup pantas dan mampu untuk mendirikan kerajaan. Sudah menjadi hak Putri Betung sebagai raja menerima barang-barang kerajaan berupa: ceret, tempat air, pinggan melawen, batil dari tembaga.

Barang-barang tersebut disimpan oleh Adjie Lambat. Gong tembaga ada di Batu Butok, sumpitan akek, kipas emas, sangkutan baju,dan sebuah peti dari batu yang berasal dari seseorang yang ditemui “Kakah Ukop” dalam suatu pelayaran yang mengharuskannya menyerahkan barang-barang tersebut jika di Pasir telah memiliki seorang raja. Rakyat di daerah tersebut merasa bahagia mempunyai seorang ratu yang arif bijaksana serta terkenal akan kecantikannya.

Saat Putri Betung Dewasa, Ia dinikahkan dengan seorang raja dari tanah Jawa (Giri), bernama Pangeran Indera Jaya. Pangeran Jawa ini datang dengan kapal layar yang membawa sebuah batu. Setelah perkawinan antara Putri Betung dan Pangeran Indera Jaya maka batu milik Pangeran Indera Jaya dibongkar. Batu yang dibongkar tersebut hingga kini masih ada dan tersimpan dengan baik. Oleh masyarakat sekitar tempat penyimpanan batu tersebut diberi nama “Batu Indera Giri” dan dikeramatkan oleh beberapa orang.
Pernikahan dengan Pangeran Indera Jaya, Putri Betung memiliki dua orang anak,  seorang putra yang diberinya nama Adjie Patih dan seorang putri yang diberinya nama Putri Adjie Meter. Adjie Patih naik tahta hingga menggantikan Putri Betung.

Adjie Patih menikah dan memperoleh seorang putra yang diberinya nama Adjie Anum. Sementara itu, saudaranya Adjie Patih yang bernama Putri Adjie Meter menikah dengan seorang Arab keturunan Ba’alwi dari Mempawah Kalimantan Barat. Suami Putri Adjie Meter inilah yang menyebarkan secara luas agama Islam di daerah Pasir, sekitar 250 tahun silam. Dari hasil pernikahannya dengan seorang Arab inilah, sang Putri Adjie Meter mempunyai dua orang anak yang diberi nama Imam Mustafa dan Putri Ratna Berana.
Anak Putri Adjie Meter yang bernama Putri Ratna Berana ini kemudian dinikahkan dengan sepupunya sendiri, yakni anak Adjie Patih yang bernama Adjie Anum. Dari sinilah diturunkan raja-raja Kerajaan Paser sampai saat ini.

Loading...