Kerajaan Kediri dikenal pula dengan sebutan Kerajaan Panjalu. Mulanya, nama Panjalu memang lebih sering dipakai. Namun, salah satu kerajaan Hindu terbesar di Nusantara ini lebih populer dengan nama Kerajaan Kediri. Selain menganut agama Hindu, sebagian masayarakat Kerajaan Kediri sudah ada yag menganut agama Buddha.

Berdirinya Kerajaan Kediri

Kerajaan Kediri di Jawa Timur terbentuk akibat pembagian Kerajaan Mataram kuno. Mengenai bagaimana kerajaan ini dipecah dan menjadi berapa bagian, tidak pernah ditemukan bukti yang benar-benar terang. Versi babad menyebutkan kalau kerajaan ini dipecah menjadi empat atau lima bagian. Namun, sumber-sumber yang lainnya menyebutkan kerajaan hanya dipecah menjadi dua saja.
Prasasti Mahaksubya yang bertarikh 1289, Kitab Nagarakertagama yang dibuat pada 1365, dan Kitab Calon Arang yang dibuat pada 1540 mengisahkan peristiwa pembagian kerajaan ini. Pembagian ini dilakukan atas inisiatif Raja Airlangga pada tahun 1041, dibantu oleh seorang Brahmana bernama Mpu Bharada yang terkenal sakti. Kedua kerajaan itu bernama Jenggala dan Panjalu. Batas dua kerajaan adalah Gunung Kawi dan sungai Brantas.

Sebelumnya, pada tahun 1019 Airlangga dinobatkan menjadi raja Medang atau Mataram kuno. Hal yang pertama dilakukan Airlangga adalah memulihkan keadaan dan kewibawaan Kerajaan Medang. Airlangga lalu memindahkan pusat pemerintahan kerajaan dari Medang Kamulan ke Kahuripan. Menjelang akhir hayatnya, Airlangga memutuskan untuk mundur dari pemerintahan dan menjadi pertapa dengan sebutan Resi Gentayu. Airlangga wafat pada 1049. Nah, sebelum jadi pertapa ini Airlangga membagi kerajaan menjadi dua.

Lantas, mengapa Airlangga membagi kerajaan menjadi dua? Keputusan ini tidak lepas dari usaha Airlangga agar dua anaknya tidak bertikai memperebutkan takhta kerajaan. Kerajaan Jenggala daerah kekuasaannya, antara lain Malang, sungai Brantas, Rembang, dan Pasuruan. Pusat pemerintahannya ada di Kahuripan.Kerajaan ini diserahkan keapda putra Airlangga yang bernama Mapanji Garasakan. Sedangkan, Kerajaan Panjalu memliki daerah kekuasaan, antara lain Kediri dan Madiun. Pusatnya ada di Dahanaputra (Daha). Sri Samarawijaya sebagai pewaris sah kerajaan mengubah nama kerajaan menjadi Pangjalu atau dikenal juga sebagai Kerajaan Kediri.

Namun, perang saudara tetap saja terjadi. Dua kerajaan ini merasa yang paling berhak mewarisi semua kekuasaan Airlangga. Awalnya, Kerajaan Panjalu takluk oleh Kerajaan Jenggala. Namun, akhirnya, Kerajaan Panjalu mampu memenangkan peperangan. Saat itu, Kerajaan Panjalu diperintah oleh Sri Jayabhaya, dengan semboyannya yang terkenal: Panjalu jayati (Panjalu menang). Semoyan ini tertera dalam prasasti Ngantang bertarikh 1135.

Dengan begitu, Kerajaan Panjalu berhasil menguasai seluruh takhta Airlangga sepenuhnya.Dan, berdirilah Kerajaan Kediri di Jawa Timur.Kemenangan Kerajaan Panjalu yang lebih dikenal sebagai Kerajaan Kediri ini banyak tertulis dalam prasasti dan kitab-kitab sastra. Kitab Kakawin Bharatayudha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh merupakan karya sastra yang tegas menyebut kemenangan Panjalu atas Jenggala.

Di bawah Sri Jayabhaya, Kerajaan Kediri mengalami masa keemasan. Seluruh Jawa dan beberapa pulau di Nusantara menjadi wilayah kerajaan. Ling Wai Tai Ta sebuah kronik Cina karya Chou Ku Fei yang dibuat pada tahun 1178 mengemukakan kebesaran Kerajaan Kediri ini. Kronik ini menjelaskan, kalau masa itu ada tiga negeri yang sangat kaya di luar Cina, yakni Arab, Jawa, dan Sumatra. Dilihat dari masanya, yang berkuasa di tanah Arab saat itu adalah Bani Abbasiyah, di Sumatra tentu saja Kerajaan Sriwijaya, dan di Jawa adalah Kerajaan Kediri.

Raja Jayabhaya yang bergelar Shri Maharaja Shri Kroncarryadipa Handabhuwanapalaka Parakramanindita Digjayotunggadewanama Shri Gandra memiliki kemampuan menjadi pemimpin politik ulung. Pernah dengar ramalan Jayabaya? Nah, ramalan ini dimulai ketika Jayabhaya memerintah. Dia terkenal dengan ramalannya yang kemudian dikumpulkan menjadi sebuah kitab berjudul Jongko Joyoboyo.

Keadaan Masyarakat Kerajaan Kediri

Kronik Cina Ling Wai Tai Ta Chou Ku Fei yang dibuat pada tahun 1178 memuat kehidupan sosial rakyat Kerajaan Kediri pada masa itu. Dalam kitab tersebut, rakyat Kediri digambarkan sudah memakai kain hingga ke lutut dan rambut mereka diurai. Keadaan rumah-rumah tertata rapi dan sangat bersih. Lantainya berbahan ubin yang memiliki warna kuning dan hijau. Berdasarkan kedudukan dalam pemerintahan kerajaan, golongan masayrakatnya terbagi menjadi tiga, yakni golongan masyarakat pusat (kerajaan), golongan masyarakat thani (daerah), dan golongan masayarakat nonpemerintah.

Golongan masyarakat pusat (kerajaan) terdiri dari kaum kerabat raja, pelayan, dan masayrakat di sekitar lingkungan raja. Golongan masyarakat thani (daerah) terdiri dari para pejabat pemerintahan di daerah. Golongan masyarakat nonpemerintah terdiri dari masyarakat yang tak punya jalinan hubungan dengan pemerintahan secara resmi.

Di Kerajaan Kediri, ada 300 lebih pegawai yang tugasnya mengurus seluruh pemasukan kerajaan. Ada pula 1.000 pegawai rendah yang tugasnya mengurus benteng dan sanitasi kota, fasilitas kerajaan, dan gedung tempat persediaan makanan. Roda perekonomian Kerajaan Kediri berputar dari hasil pertanian, peternakan, dan perdagangan. Komoditas andalan Kerajaan Kediri, yakni kapas, ulat sutra, dan beras. Karya sastra berkembang pesat. Hal ini tidak lepas dari keadaan ekonomi Kerajaan Kediri yang mapan dan kehidupan sosial yang damai.

Banyak karya sastra yang tercipta, antara lain kitab Hariwangsa dan Gatotkacasraya karya Mpu Panuluh saat Jayabhaya berkuasa, kitab Simaradahana karya Mpu Darmaja, kitab Lubdaka dan Wertasancaya karya Mpu Tan Akung, kitab Kresnayana karya Mpu Triguna, dan kitab Sumanasantaka karya Mpu Monaguna. Yang paling banyak dihasilkan pada masa pemerintahan Sri Kameswara (1182).

Gonjang-ganjing Politik dan Keruntuhannya

Pertentangan dengan kaum Brahmana yang terjadi pada masa pemerintahan Raja Kertajaya menyeret Kerajaan Kediri diambang keruntuhan. Kaum Brahmana atau kaum agamawan menganggap Raja Kertajaya sudah melanggar batas-batas dalam agama, yang memintanya untuk menyembah sebagai dewa. Lalu, kaum Brahmana meminta seorang akuwu Tumapel untuk melindungi mereka. Akuwu Tumapel itu bernama Ken Arok. Gayung bersambut. Ternyata Ken Arok juga punya misi untuk menumbangkan Kerajaan Kediri dan memerdekakan Tumapel yang saat itu menjadi daerah bawahan Kediri.

Pada tahun 1222 perang hebat terjadi di Desa Ganter antara Tumapel dengan Kerajaan Kediri. Hebatnya, Ken Arok berhasil mengalahkan Raja Kertajaya. Dan, Kerajaan Kediri runtuh. Kerajaan Kediri pun diambilalih dan menjadi daerah taklukan bawahan Tumapel atau Singasari. Pada 1222 itu Kerajaan Singasari berdiri, dengan Ken Arok sebagai rajanya. Di Kediri, Ken Arok menempatkan putra Kertajaya bernama Jayasabha sebagai bupati. Di Kediri, kedudukan bupati turun-temurun dijabat oleh keturunan Kertajaya. Setelah Jayasabha, pada tahun 1258, Sastrajaya yang merupakan anak Jayasabha dan cucu Kertajaya memegang jabatan bupati. Kemudian pada tahun 1271, cicit Kertajaya yang bernama Jayakatwang memerintah di sana. Nah, saat Jayakatwang menjadi bupati ini dendam masa lalu kembali membucah.

Suatu hari, Jayakatwang berhasil membunuh Kertanegara, Raja Singasari. Akhirnya, dia memegang tampuk kerajaan. Setelah itu, dia membangun kembali kerajaan leluhurnya, yakni Kerajaan Kediri. Raden Wijaya, yang merupakan salah seorang pemimpin pasukan Kerajaan Singasari, berhasil melarikan diri ke Madura. Jayakatwang lalu mengizinkan Raden Wijaya untuk membuka hutan Tarik yang bisa dijadikan sebuah desa untuk ditinggalinya. Malang bagi Jayakatwang. Sebab, dia seudah memelihara anak harimau yang sewaktu-waktu bisa memangsanya.

Benar saja. Pada tahun 1293, tentara Mongol kiriman Kubilai Khan datang untuk membalas dendam pada Kertanegara. Sebelumnya, di masa pemerintahan Kertanegara, Meng Shi yang merupakan utusan Kubilai Khan ke Jawa, dilukai dengan mengecap wajahnya memakai besi panas. Kertanegara marah besar, karena maksud utusan Mongol tersebut untuk menyampaikan pesan agar tunduk dan membayar upeti kepada Mongol.

Kedatangan pasukan Mongol yang berjumlah besar ini dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk menggempur Jayakatwang. Raden Wijaya pun menjalin kerja sama dengan pasukan Mongol, ditambah pula pasukan Madura pimpinan Arya Wiraraja, untuk meluluhlantakan Kerajaan Kediri. Sudah bisa ditebak, dengan tentara gabungan ini Kerajaan Kediri di bawah Jayakatwang mudah sekali dikalahkan. Setelah kekalahan ini, Kerajaan Kediri tak ada lagi beritanya alias benar-benar runtuh.

Kerajaan Kediri termasuk kerajaan Hindu terbesar di Nusantara. Berikut ini nama-nama raja yang pernah memerintah Kerajaan Kediri: Sri Samarawijaya, Sri Jayawarsa, Sri Bameswara, Sri Jayabhaya, Sri Sarweswara, Sri Aryeswara, Sri Gandra, Sri Kameswara, Sri Kertajaya, dan Jayakatwang. Semoga artikel ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita soal sejarah kerajaan Hindu-Buddha yang ada di Indonesia.