Kerajaan Kalingga atau disebut juga dengan Kerajaan Holing, merupakan salah satu kerajaan yang diperintah seorang ratu. Ratu yang terkenal adalah Ratu Shima. Kerajaan ini cukup terkenal dengan kisah penduduknya yang jujur. Kondisi tersebut membuat Kerajaan Kalingga mampu menciptakan kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Bukti Keberadaan Kerajaan Kalingga

Keberadaan Kerajaan Kalingga dibuktikan oleh beberapa hal, sebagai berikut:

1. Berita Cina dari I-Tsing, menceritakan bahwa pada tahun 644 masehi, ada seorang pendeta Budha bernama Hwi-Ning datang ke Holing dan tinggal di Holing selama 3 tahun.

2. Terlihat dari adanya Prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760. Terangkum bahwa pada tahun 664 Masehi Kerajaan Kalingga dipindahkan ke arah Timur oleh Ki-Yen ke arah Timur hingga akhirnya berkembang dengan nama Kerajaan Kanjuruhan.

3. Dari berita Cina, diceritakan bahwa pada abad ke 7 di Jawa Tengah terdapat sebuah kerajaan yang menggantungkan kehidupannya pada kegiatan pertanian atau bercocok tanam.

Letak Kerajaan Kalingga

Kerajaan ini terletak di bagian utara Jawa Tengah, jika diukur, saat ini wilayah tersebut dikenal sebagai Jepara. Berdasarkan berita Cina, kerajaan ini disebut Holing. Dalam cerita tersebut dijelaskan bahwa di bagian utara Jawa Tengah berdiri sebuah kerajaan yang kehidupan masyarakatnya cukup makmur. Sejak abad ke 7, masyarakat dari kerajaan tersebut sudah memiliki sumber air asin, serta hasil bercocok tanam yang melimpah. Masyarakat kerajaan tersebut juga hidup cukup tentram. Sama sekali tidak ada kebohongan maupun kejahatan. Masyarakatnya juga sudah mengenal ilmu perbintangan sebagai pedoman untuk mulai bercocok tanam.

Kerajaan Holing seharusnya memang terletak di tepi Selat Malaka tepatnya di Semenanjung Melayu. Karena Selat Malaka merupakan selat yang cukup ramai. Di selat tersebut terdapat berbagai aktivitas pelayaran serta perdagangan.  Selain itu, ditemukannya sebuah daerah di Semenanjung Melayu bernama daerah keling juga semakin menguatkan alasan mengapa Kerajaan Holing sesungguhnya memang berada di Selat Malaka. Ia menyebutkan bahwa ada seorang temannya bernama Hui-ning dan pembantunya bernama Yunki  pergi ke Holing pada 664 / 665 M untuk belajar seluk-beluk tentang Budha. Diceritakan bahwa ia juga menerjemahkan kitab suci agama Budha berbahasa Sansakerta ke dalam bahasa Cina. Ketika melakukan hal tersebut, itu ia di bantu oleh Janabhadra, seorang pendeta dari Holing.  Menurut keteranggan dari Dinasti Sung, bagian kitab yang diterjemahkan oleh Hui-ning adalah bagian terakhir dari kitab Parinirfana yang berkisah tentang pembukaan jenazah sang Budha.

Kehidupan Politik Kerajaan Kalingga

Berdasarkan berita Cina di sebutkan bahwa Kerajaan Holing diperintah oleh seorang raja wanita bernama Ratu Shima. Pemerintahan Ratu Shima sangat keras, meskipun demikian sang ratu dikenal cukup adil dan bijaksana. Rakyat tunduk dan taat terhadap segala perintah Ratu Shima, bahkan tidak ada seorangpun rakyat ataupun penjabat kerajaan yang berani melanggar perintahnya. Hal ini membuktikan bahwa Ratu Shima sangat taat pada tatakrama aturan kerajaan. Dengan pemerintahan yang keras dan berwibawa Ratu Shima yakin bahwa kerajaannya akan menjadi sebuah kerajaan yang terdidik dan taat terhadap peraturan.

Sistem dan Struktur Sosial Kerajaan Kalingga

Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Holing sudah teratur dengan amat rapi. Hal ini disebabkan karena sistem pemeritahan yang keras dari Ratu Shima. Selain itu juga sangat adil dan bijaksana dalam memutuskan suatu masalah. Rakyat sangat menghormati dan menaati segala peraturan yang dibuat oleh Ratu Shima. Ratu Shima juga mempunyai sifat bijaksana dalam memutuskan suatu permasalahan. Ratu Shima tidak pernah memihak dalam sosialnya ia hanya membina dan berperan sebagai penguasa kerajaan.

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Kalingga

Perdagangan dan pelayaran di Kerajaan Kalingga cukup lancar karena terletak di Semenanjung Melayu. Bukan hanya faktor letak, ketegasan Ratu Shima dalam menegakkan peraturan dan hukum juga menjadi faktor penentu keberhasilan bidang perdagangan dan pelayaran pada kerajaan ini. Pelayaran menjadi moda transportasi yang paling banyak digunakan dan berkembang pesat di Kerajaan Kalingga. Tentu saja hal tersebut terjadi karena letak Kalingga yang berada di Semenanjung Melayu.

Kerajaan Kalingga berkembang dengan pesat menjadi pusat perdagangan dan menjadi tujuan dari banyak pedagang negara lain. Dalam hubungannya dengan negara lain, Kerajaan Kalingga secara khusus melakukan ekspedisi. Ekspedisi ini dilakukan guna membuat hubungan antara Kerajaan Kalingga dengan negara atau kerajaan lain lebih baik. Kondisi ini membuktikan Ratu Shima memang mampu membawa Kerajaan Kalingga ke dalam perkembangan ekonomi yang cukup pesat.

Selain hidup dari perdagangan dan pelayaran, rakyat Kerajaan Kalingga juga melakukan usaha pertanian. Pertanian di Kalingga cukup maju, karena memiliki daerah yang subur. Tak heran rakyat Kalingga hidup sejahtera sebab sumber daya alam yang melimpah dan dipimpin seorang ratu yang bijaksana.

Kehidupan Sosial Kerajaan Kalingga

Ratu Shima terkenal dengan perangainya yang sangat keras. Meskipun demikian. Ia membanggun sebuah lembaga masyarakat yang sudah jelas fungsi dan tugasnya. Ratu Shima mendirikan lembaga masyarakat ini untuk membantu dirinya dalam mengatasi rakyatnya. Selain lembaga yang sudah terbentuk, Ratu Shima juga memberlakukan sistem perundang-undangan. Beliau telah membuat dan menyusun perundang-undang yang sempurna. Dengan dibantu lembaga masyarakat, hadirnya sistem perundang-undangnya tersebut berjalan dengan baik .

Kebudayaan Keagamaan Kerajaan Kalingga

Budha adalah sistem kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Holing. Informasi mengenai hal ini didapat dari berita yang ditulis I-Tshing. Ia menjelaskan bahwa pada 644 Masehi, ada seorang pendeta Budha bernama Hwi-Ning (Hui-ning) datang dari Cina. Pendeta tersebut tinggal di kerajaan ini selama kurang lebih 3 tahun. Hwi-Ning kemudian menerjemahkan salah satu kitab suci agama Budha Hinayana berbahasa Sanksekerta ke dalam bahasa Cina. Ketika menerjemahkan kitab tersebut, pendeta Budha ini dibantu oleh Janabrada, seorang pendeta dari Kerajaan Holing.

Kehidupan Budaya Kerajaan Kalingga

Mayoritas masyaraka Kalingga memeluk agama Budha. Faktor kepercayaan ini lah yang banyak berpengaruh terhadap kebudayaan mereka. Budaya India sangat kental terasa pada setiap budaya yang dimiliki. Hal ini berpengaruh pada Ratu Shima. Ratu Shima menerima dengan baik kebudayaan India masuk di Kerajaan Holing.

Raja-raja Kerajaan Kalingga

Raja yang terkemuka dari kerajaan ini adalah Ratu Shima. Ia mulai memerintah di sekitaran 674 masehi. Ratu Shima menerapkan peraturan-peraturan secara disiplin. Kepada siapapun yang melanggar, sangsi tegas akan selalu diberikan.

Menurut cerita, suatu saat ada seorang saudagar Arab yang ingin membuktikan seberapa taat rakyat Kalingga terhadap hukum yang sudah ditetapkan. Ia kemudian sengaja menyimpan beberapa jumlah uang di tengah jalan kota. Terbukti bahwa tidak ada satu pun masyarakat yang menyentuh uang tersebut, hingga suatu hari Putra Mahkota secara tak sengaja menyentuhnya dengan kaki.

Mengetahui hal tersebut, Ratu Shima memerintahkan untuk memotong kaki sang putra.  Para penasihat ratu merasa bahwa hukuman ini terlalu berat. Mereka pun memohon kepada ratu untuk memperingan hukuman. Ratu tetap bersikeras. Hingga ia pun terdesak dan memperingan hukumannya. Ia memutuskan untuk tidak memotong kaki anaknya. Hukuman diganti dengan memtong jari-jari sang Putra Mahkota.

Putri dari Maharani Shima yang bernama Parwati menikah dengan putera mahkota dari Kerajaan Galuh bernama Mandiminyak. Mandiminyak inilah yang kemudian menjadi raja kedua dari Kerajaan Galuh. Maharani Shima kemudian memiliki cucu bernama Sanaha yang kemudian menikah dengan raja ketiga dari Kerajaan Galuh, bernama Brantasenawa.

Sanaha dan Bratasenawa selaku raja ketiga Kerajaan Galuh memiliki anak bernama Sanjaya yang nantinya ia akan menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732 M). Maharani Shima meninggal di tahun 732 M. Posisinya pun digantikan oleh buyutnya, Sanjaya. Sanjaya kemudian menjadi raja dari Kerajaan Kalingga Utara atau Bumi Mataram. Selain itu, ia juga  mendirikan Dinasti/Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno.

Sementara, kekuasaan di Jawa Barat ia serahkan kepada putranya dari pihak Tejakencana, bernama Tamperan Barmawijaya alias Rakeyan Panaraban. Kemudian dikisahkan bahwa Raja Sanjaya menikah dengan Sudiwara, puteri Dewasinga, Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara. Pernikahan Sanjaya dan Sudiwara dikarunia seorang putra bernama Rakai Panangkaran.

Kerajaan Kalingga tidak berumur panjang, ini disebabkan oleh keturunan Ratu Shima yang justru banyak mendirikan wangsanya sendiri. Kalingga tidak berkembang menjadi pusat pemerintahan yang besar, tetapi kerajaan ini patut dijadikan contoh bahwa ketegasan pemberlakuan hukum kerajaan akan memberi pembelajaran tata negara yang baik. Akhirnya sepeninggal Ratu Shima, Kerajaan Kalingga pun bagai lenyap ditelan kebesaran kerajaan-kerajaan lain di Pulau Jawa.