Secara etimologis, ada beberapa pendapat tentang asal usul nama Inderapura, yaitu Indera berarti dewa, yakni dewa tertinggi Batara Indera atau Dewa Indera, Sri Maharaja Indera Dewa. Sementara, Pura artinya tempat atau negeri. Jadi, Inderapura adalah negeri tempat kedudukannya Dewa Indera, Negeri Sri Maharaja Inderawarman Dewa. Kerajaan Inderapura berlokasi di wilayah Kabupaten Pesisir Selatan, sekarang Sumatera Barat. Daerah tersebut merupakan pusat perdagangan dengan komoditi unggulan berupa emas dan lada. Kerajaan Inderapura berbasis pelabuhan Samuderapura dan memiliki armada yang kuat. Pelabuhan tersebut ramai dikunjungi kapal dagang dan menjadi rebutan kekuatan asing. Secara resmi, Kerajaan Inderapura pernah menjadi bawahan dari Kerajaan Pagaruyung. Namun, dalam perkembangannya, Kerajaan Inderapura baru benar-benar merdeka saat Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511.

Arus perdagangan yang tadinya melalui Selat Malaka sebagian besar beralih ke pantai barat Sumatera dan Selat Sunda. Perkembangan dan ekspansi Kerajaan Inderapura terutama ditunjang komoditi lada. Raja Inderapura diidentifikasikan sebagai putra Raja Alam atau Yang Dipertuan Pagaruyung.

Pada masa kejayaan, kekuasaan Kerajaan Inderapura meliputi wilayah pantai barat Sumatera mulai dari Padang di utara sampai Sungai Hurai di selatan. Secara resmi, Kerajaan Inderapura pernah menjadi bawahan Kerajaan Pagaruyung. Kerajaan Inderapura berdiri di atas reruntuhan Kerajaan Inderapura Lama, yakni periode Kerajaan Teluk Air Pura pada abad 9 hingga 12. Kerajaan Inderapura Lama didirikan oleh anak cucu Iskandar Zulkarnain (356 SM-324 SM), putra Pilipeaus (raja ke-2 Masedonia) pada 382 SM hingga 336 SM. Kemudian, pada 134 SM lahirlah Indo Juita (keturunan Iskandar Zulkarnain).

Pada 110 SM, Indo Juita menikah dengan Inderajati Moyang dari Inderapura (asal Parsi – Turki) dan melahirkan keturunan raja-raja. Pada generasi berikutnya, Zatullahsyah (anak cucu dari Iskandar Zulkarnain) datang ke Air Pura dan mendirikan Kerajaan Teluk Air Pura pada awal abad ke-12. Wilayah kekuasaannya meliputi Muara Campa, Air Puding, Air Pura dekat Muara Air Sirah, dan Sungai Bantaian Inderapura sekarang. Basis perekonomian rakyat adalah bertani dan nelayan serta mencari hasil di hutan.

Pada masa pemerintahan Zatullahsyah, datang 3 orang anak saudara kandungnya (Hidayatullahsyah), yaitu Sri Sultan Maharaja Alif, Sri Sultan Maharaja Depang dan Sri Sultan Maharaja Diraja, dari Rum lewat Bukit Siguntang-guntang. Tidak lama di Air Pura, Sri Sultan Maharaja Diraja mendapat perintah Zatullahsyah, pergi ke Gunung Merapi, didampingi temannya, Cati Bilang Pandai dan dibantu putra sepupunya, Sultan Muhammadsyah (putra Zatullahsyah – Dewi Gando Layu). Di sana, dia mendirikan Kerajaan di Parahyangan yang disebut sebagai nagari asal seperti Air Pura. Sri Sultan Maharaja Diraja kawin dengan Puti Jamilan dan melahirkan Datuk Ketumanggungan. Setelah Sri Sultan wafat, Puti Jamilan dikawini temannya, Cati Bilang Pandai dan melahirkan Datuk Parpatih Nan Sabatang.

Di Kerajaan Air Pura, kepemimpinan berlanjut dalam beberapa episode sejarah, yaitu Episode Kerajaan Air Pura – Era Indrajati dan Episode Kesultanan Inderapura – Era Regen. Dua episode lagi Kerajaan Air Pura dilanjutkan kepemimpinan Kerajaan Indrajati (Indra di Laut) pada abad 12 hingga abad 16. Berawal dari datangnya, Indrayana disebut putra mahkota Kerajaan Sriwijaya yang terusir karena masuk Islam, kemudian menetap di Pasir Ganting dan mendirikan Kerajaan Inderajati. Dia merupakan raja ke-1 dan raja ke-2 anaknya bernama Indrasyah Sultan Galomatsyah.

Dalam perjalanannya, kerajaan ini pernah diincar, ekspedisi Pamalayu I (1247) di samping Darmasyraya, Siguntur yang kemudian menjadi Kerajaan Pagaruyung (1343). Episode Kesultanan Inderapura pada abad 16 hingga 19. Kemudian, dilanjutkan era kepemimpinan Regen abad 19 hingga abad 20. Episode sejarah sampai naik takhtanya raja ke-11 Kerajaan Indrajati Cumatang Sultan Sakelab Dunia gelar Sultan Iskandar Johan Berdaulatsyah, kerajaan berubah menjadi Kesultanan Inderapura dengan raja ke-1 Cumatang sendiri.

Penggalan sejarah berikutnya masa Sultan Usmansyah. Pada masa pemerintahanya, wilayah kerajaan meliputi Airbangis-Batang Toru (Batak), Taratak Air Hitam Muara Ketaun, Durian Ditakuak Rajo, Nibuang Balantak Mudik Lingkaran Tanjung Simeledu (sepadan Jambi) dan Laut Leba Ombak Badebu (Samudra Indonesia). Wilayah semakin menyusut diawali berberapa daerah Kesultanan Inderapura pro Inggris, yakni Mukomuko, Banta, Seblat dan Ketaun memisahkan diri pada 1695 menjadi Kerajaan Anak Sungai dengan ibu negeri Mukomuko, dipimpin Sultan Gelomatsyah.

Menurut laporan dari Belanda, pada 1616, Kerajaan Inderapura digambarkan sebagai sebuah kerajaan yang makmur di bawah pemerintahan Raja Itam, serta sekitar 30.000 rakyatnya terlibat dalam pertanian dan perkebunan yang mengandalkan komoditi beras dan lada. Selanjutnya, pada masa Raja Besar sekitar 1624, VOC berhasil membuat perjanjian dalam pengumpulan hasil pertanian tersebut langsung dimuat ke atas kapal tanpa mesti merapat dulu di pelabuhan, serta dibebaskan dari cukai pelabuhan. Begitu juga pada masa Raja Puti, pengganti Raja Besar. Kerajaan Inderapura tetap menerapkan pelabuhan bebas cukai dalam mendorong perekonomiannya.

Setelah ekspedisi penghukuman pada 1633 oleh Kesultanan Aceh sampai 1637, Kerajaan Inderapura tetap tidak mampu mendongkrak hasil pertaniannya untuk mencapai hasil yang telah diperoleh pada masa-masa sebelumnya. Pada saat pengaruh Aceh menurun, Sultan Muzzaffar Syah mulai melakukan konsolidasi kekuatan, yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya Sultan Muhammad Syah yang naik tahta sekitar tahun 1660 dan mulai kembali menjalin hubungan diplomatik dengan Belanda dan Inggris.
Pada akhir abad ke-17, pusat wilayah Kerajaan Inderapura mencakup lembah sungai Airhaji dan Batang Inderapura, terdiri atas dua puluh koto, yang masing-masing koto diperintah oleh seorang Menteri yang memiliki fungsi seperti penghulu di wilayah Minangkabau lainnya. Sementara pada daerah Anak Sungai yang mencakup lembah Manjuto dan Airdikit (disebut sebagai Negeri Empat Belas Koto), dan Muko-muko (Lima Koto), sistem pemerintahannya tidak jauh berbeda.

Untuk kawasan utara, disebut dengan Banda Sapuluah (Bandar Sepuluh) yang dipimpin oleh Rajo nan Ampek (4 orang yang bergelar raja; Raja Airhaji, Raja Bungo Pasang, Raja Kambang, Raja Palangai). Wilayah ini menggambarkan semacam konfederasi dari 10 daerah atau negeri yang juga masing-masing dipimpin oleh 10 orang penghulu. Pada kawasan bagian selatan, sistem pemerintahan yang terdiri dari desa-desa berada di bawah wewenang peroatin (kepala yang bertanggung jawab menyelesaikan sengketa di muara sungai). Pada awalnya, peroatin berjumlah 59 orang. Para menteri dan peroatin tunduk dan patuh pada kekuasaan Raja atau Sultan.

Pada penghujung abad ke-17, para peroatin masih berfungsi sebagai kepala wilayah. Namun, tugas-tugas Menteri mulai bergeser seiring dengan proses terlepasnya Kerajaan Inderapura menjadi kerajaan terpisah dari Pagaruyung. Menteri 20 Koto di Inderapura bertindak sebagai penasihat kerajaan. Menteri 14 Koto bertugas mengatur rumah tangga di istana, sedangkan Menteri 5 Koto bertanggung jawab atas pertahanan kerajaan. Walaupun pada 1691 kawasan Anak Sungai di bawah Raja Adil, melepaskan diri dari Kerajaan Inderapura dan menjadi kerajaan sendiri, yang pada awalnya didukung oleh Inggris. Namun tidak lama berselang, beliau wafat, lalu digantikan oleh anaknya yang bergelar Sultan Gulemat (1691-1716). Sultan Gulemat tidak berhasil dalam kepemimpinannya. Beliau gagal membawa kawasan itu stabil dan akhirnya kehilangan dukungan dari para menteri yang ada pada kawasan tersebut.

Itulah sepenggal sejarah Kerajaan Inderapura. Semoga bermanfaat.