Berdirinya Kerajaan Banten diawali ketika Kerajaan Demak memperluas pengaruhnya ke Jawa Barat pada 1524. Sunan Gunung Jati alias Syarif Hidayatullah bersama pasukan Demak menaklukkan penguasa Banten dan mendirikan Kerajaan Banten yang berada di bawah pengaruh Demak. Kerajaan Banten yang terletak di barat Pulau Jawa ini pada awalnya bagian dari Kerajaan Demak. Banten direbut oleh pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahillah yang merupakan menantu dari Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati.

Sunan Gunung Jati adalah salah seorang wali yang diberi kekuasaan oleh Kerajaan Demak untuk memerintah di Cirebon. Sunan Gunung Jati memiliki 2 putra laki-laki, yaitu Pangeran Pasarean dan Pangeran Saba Kingkin. Pangeran Pasareaan berkuasa di Cirebon pada tahun 1522 sedangkan Pangeran Saba Kingkin yang kemudian lebih dikenal dengan nama Hasanuddin diangkat menjadi Raja Banten.

Letak geografis Kerajaan Banten terletak di pesisir Selat Sunda dan merupakan pintu gerbang yang menghubungkan Pulau Sumatra dan Pulau Jawa. Posisi Kerajaan Banten yang sangat strategis ini banyak menarik perhatian Kerajaan Demak untuk menguasainya. Pada 1525 sampai dengan 1526, pasukan dari Kerajaan Demak bersama Sunan Gunung Jati berhasil menguasai Banten.
Sebelum Banten berdiri sebagai kesultanan, wilayah ini termasuk bagian Kerajaan Pajajaran yang beragama Hindu. Menurut berita Joad Barros (1616), wartawan dari Portugis menyatakan bahwa di antara pelabuhan yang tersebar di wilayah Pajajaran adalah Pelabuhan Sunda Kelapa dan Pelabuhan Banten yang merupakan dua pelabuhan terbesar yang sering dikunjungi oleh para saudagar dari dalam dan luar negeri. Dari Pelabuhan Sunda Kelapa dan Pelabuhan Banten sebagian besar lada dana hasil negeri lainnya diekspor.

Pada zamannya, Banten merupakan kota metropolitan. Kerajaan Banten menjadi pusat perkembangan pemerintahan Kesultanan Banten. Kerajaan Banten sempat mengalami masa keemasan selama kurang lebih tiga abad. Berdasarkan babad Pajajaran, agama Islam masuk di Banten dimulai ketika Prabu Siliwangi sering melihat cahaya yang menyala-nyala di langit. Untuk mencari tahu tentang arti itu, ia mengutus Kian Santang, penasehat Kerajaan Pajajaran yang mengatakan bahwa cahaya di atas Kerajaan Banten adalah cahaya Islam.

Kian Santang pun memeluk Islam dan kembali ke pajajaran untuk mengislamkan masyarakat. Upaya Kian Santang hanya berhasil untuk beberapa orang saja, sedangkan yang lainnya menyingkirkan diri. Akibatnya, Kerajaan Pajajaran menjadi kacau balau. Gabungan pasukan Demak dan Cirebon pada 1526 bersama dengan laskar marinir Maulana Hasanuddin putra dari Sunan Gunung Jati alias Syarif Hidayatullah tidak banyak mengalami kesulitan dalam menguasai wilayah Banten. Bahkan, Prabu Pucuk Umum yang berkuasa di Banten saat itu menyerahkan Banten secara suka rela pada Demak.

Pusat pemerintahan Kerajaan Banten yang semula berkedudukan di Banten akhirnya dipindahkan ke wilayah Surasowan. Pemindahan pusat pemerintahan ini bertujuan agar memudahkan hubungan antara pesisir melalui Selat Sunda dan Selat Malaka. Peristiwa ini dikaitkan dengan situasi Asia Tenggara pada saat itu. Karena Malaka telah berada dibawah kekuasaan Portugis, mengakibatkan pedagang enggan untuk datang atau berkunjung. Hal ini membuat Portugis harus mengalihkan rute perniagaan ke Selat Sunda.

Sejak peristiwa itu, pelabuhan yang ada di Banten semakin ramai karena banyak dikunjungi oleh para pedagang dan pelau ekonomi lainnya. Pada 1526, Maulana Hasanuddin diangkat sebagai Adipati Banten atas penunjukan dari Sultan Demak. Pada 1552, Banten diubah menjadi negara bagian Demak, namun tetap menunjuk Maulana Hasanuddin sebagai pemimpinnya. Pada waktu Kerajaan Demak mengalami keruntuhan dan diganti dengan Kerajaan Pajang (1568), akhirnya Maulana Hasanuddin memproklamasikan bahwa Kerajaan Banten sebagai Negara Merdeka.

Sultan Maulana Hasanuddin memerintah Kerajaan Banten kurang lebih selama 18 tahun (1552 – 1570). Kemudian, Sultan Maulana Hasanuddin digantikan oleh Sultan Panembahan Maulana Yusuf. Ia sangat memperhatikan perkembangan perdagangan dan pertanian. Ia juga giat menyebarkan ajaran Islam. Pada masa pemerintahannya Banten berhasil menaklukkan Pakuan Pajajaran dan menyebarkan Islam lebih luas lagi di Jawa Barat. Panembahan Yusuf wafat karena sakit pada 1580 setelah memerintah selama 10 tahun.

Sultan Maulana Hasanuddin telah memberikan peranan besar di Kerajaan Banten dalam meletakkan fondasi Islam di Nusantara ini. Selain dengan mendirikan masjid dan pesantren, Sultan Maulana Hasanuddin juga mengirim ulama ke berbagai daerah yang telah dikuasainya. Usaha penyebarluasan Islam dan pembangunan di wilayah Banten itu dilanjutkan oleh para penerusnya. Pada masa kejayaannya wilayah kekuasaan Kerajaan Banten meliputi Serang, Pandeglang, Lebak, dan Tangerang, bahkan sampai ke wilayah Palembang dan Bengkulu. Namun, masa kejayaan Kerajaan Banten itu mulai berakhir pada masa Sultan Ageng Tirtayasa. Pada 1812 dapat dikatakan bahwa Kerajaan Banten runtuh. Karena Belanda ( VOC ) merebut kota Jayakarta dan kemudian mengganti nama kota tersebut menjadi Batavia. VOC dengan berbagai cara berusaha menghancurkan Kerajaan Banten.

Kehidupan Sosial dan Ekonomi Masyarakat Banten

Aturan-aturan yang diberlakukan di Kerajaan Banten kala itu menggunakan aturan dan hukum Islam sehingga kehidupan masyarakat Banten bisa hidup secara teratur dan tenang. Banyak orang India, Arab, Cina, Melayu, dan Jawa yang menetap di Banten. Mereka berkumpul dan membuat perkampungan-perkampungan sesuai dengan nama asal mereka, misalnya Pekojan (perkampungan orang Arab), Pecinan (perkampungan orang Cina), Kampung Melayu, Kampung Jawa, dan sebagainya.

Di wilayah Banten juga terdapat orang keturunan dari Madura. Mereka adalah pelarian dari Madura yang meminta perlindungan ke Banten karena tidak mau tunduk kepada Mataram. Selama Sultan Maulana Hasanuddin berkuasa, Kerajaan Banten mengalami perkembangan yang pesat. Kerajaan Banten menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Pada masa inilah, Banten melepaskan diri dari Demak, menjadi kerajaan merdeka.

Oleh karena itu, Hasanuddin lalu dianggap sebagai pendiri dan Raja Pertama di Kerajaan Banten. Kekuasannya meliputi daerah Priangan (Jawa bagian barat), Lampung, hingga Sumatera Selatan. Di bawah pemerintahannya Kerajaan Banten mengalami perkembangan pesat dan banyak dikunjungi pedagang-pedagang asing dari Gujarat, Persia, Cina, Usmani, Pegu (Myanmar), dan Keling.

Sultan Maulana Hasanuddin memberikan peranan besar dalam pembangunan di Kerajaan Banten dan juga beliau mempelopori Pembangunan Istana Surosowan. Yang masih tersisa hingga sekarang hanyalah benteng yang mengelilingi wilayah seluas 4 hektare dan berbentuk presegi panjang. Ketinggian tembok benteng ini berkisah antara 0,5 hingga 2 meter dengan lebar sekitar 5 meter. Dahulu, benteng ini dikelilingi parit pertahanan. Tembok benteng dan gerbangnya ini dibangun pada masa Maulana Yusuf. Bagian yang tersisa dari istana ini selain benteng adalah tempat pemandian, kolam, dan taman.

Kerajaan Banten berada pada posisi yang strategis dalam perdagangan internasional. Berkuasanya Portugis di Malaka mendorong Kerajaan Banten untuk membuat pelabuhan di tepi Selat Sunda dan Teluk Banten. Pelabuhan ini dipakai untuk ekspor lada yang akan dikirim ke luar negeri. Untuk menambah ekspor lada, Maulana Yusuf melakukan penaklukan ke Lampung. Dengan ditaklukkannya Lampung sebagai penghasil lada terbesar, mampu meningkatkan ekspor ke luar negeri dan meningkatkan perekonomian.

Keberadaan dan Kejayaan Kerajaan Banten pada masa lalu dapat dilihat dari peninggalan sejarah, seperti Masjid Agung Banten yang didirikan pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin. Arsitektur masjid tersebut merupakan perpaduan antara arsitektur asing dan Jawa. Bangunan lain yang membuktikan keberadaan Kesultanan Banten masa lampau adalah bekas Istana Surasowan, yang letaknya berdekatan dengan Masjid Agung Banten. Istana Surasowan yang kini tinggal puing-puing itu dikelilingi oleh tembok benteng yang tebal dengan luas kurang lebih 4 hektare, berbentuk persegi empat panjang. Benteng tersebut kini masih tegak berdiri, di samping beberapa bagian kecil yang telah runtuh.