Kerajaan Aceh berdiri pada 1514 sampai 1528. Kerajaan Aceh didirikan oleh Sultan Ibrahim yang bergelar Ali Mughayat Syah. Kerajaan Aceh merupakan penyatuan dari dua kerajaan kecil, yaitu Kerajaan Lamuri dan Kerajaan Aceh Dar Al-Kam. Karena kemunduran Kerajaan Samudera Pasai dan berkembangnya Kerajaan Malaka, akhirnya para pedagang kemudian lebih sering datang ke Aceh. Kerajaan Aceh berdiri dan terletak di ujung utara Sumatera. Pusat pemerintahan Kerajaan Aceh ada di Kutaraja (Banda Acah sekarang). Corak pemerintahan di Kerajaan Aceh terdiri dari dua sistem, yaitu Pemerintahan Sipil dan Pemerintahan atas dasar agama. Pemerintahan sipil yang berada di bawah kaum bangsawan disebut golongan teuku, sedangkan pemerintahan atas dasar agama berada di bawah kaum ulama disebut golongan tengku atau teungku.

Ali Mughayat Syah memulai kampanye militernya untuk menguasai wilayah bagian utara Sumatera pada 1520. Menurut sejarahm hal ini merupakan kampanye pertamanya dilakukan di Daya, di sebelah barat laut, yang menurut Time Pires belum mengenal Islam. Selanjutnya, Ali Mughayat Syah meluaskan wilayah kekuasannya sampai ke pantai timur yang terkenal kaya akan rempah-rempah dan emas.

Ali Mughayat Syah juga meluaskan wilayah kekuasaannya ke daerah Pidie yang  bekerja sama dengan Portugis, kemudian ke Pasai pada 1524 M. Dengan kemenangannya terhadap dua kerajaan tersebut, Kerajaan Aceh dengan mudah melebarkan sayap kekuasaannya ke Sumatera Timur. Untuk mengatur wilayah Sumatera timur, Ali Mughayat Syah mengirim panglima-panglimanya, salah satu Gocah, pahlawan yang menurunkan sultan-sultan Deli di Serdang.

Usaha untuk memperkuat perekonomian rakyat dan kekuatan militer laut, Ali Mughayat Syah mendirikan banyak pelabuhan. Penyeberangan ke Deli dan Aru merupakan perluasan terakhir yang dilakukan oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Akhirnya, sultan mampu juga mengusir Portugis dari wilayah Deli, yang meliputi daerah Pedir dan Pasai. Namun, saat penyeberangan terhadap Aru pada 1824, tentara Sultan Ali Mughayat Syah dapat dikalahkan oleh Armada Portugis.

Selain mengancam Portugis, yang pada saat itu sebagai pemilik kekuatan militer laut di kawasan itu. Aksi militer Sultan Ali Mughayat Syah ternyata juga mengancam Kesultanan Johor. Kesultanan Aceh diperluas sampai wilayah Pidie pada 1521 dan pada 1524 ke Pasai dan Aru, kemudian menyusul Perlak, Tamiang, dan Lamuri.

Kerajaan Aceh Darusalam merupakan kelanjutan dari Kerajaan Samudera Pasai yang hancur pada abad 14. Kesultanan Aceh Darussalam membawahi enam kerajaan kecil yaitu Kerajaan Perlak, Kerajaan Samudera Pasai, Kerajaan Tamiang, Kerajaan Pidie, Kerajaan Indrapura, dan Kerajaan indrajaya. Kitab Bustanus Salatin, kitab kronik raja-raja Aceh, menyebut Sultan Ali Mughayat Syah sebagai Sultan Aceh yang pertama. Ia mendirikan Kesultanan Aceh dengan menyatukan beberapa kerajaan kecil tersebut. Pusat kesultanan adalah Banda Aceh yang juga disebut Kuta Raja.

Pada abad 16, Banda Aceh sebagai bandar niaga tidak terlalu kecil untuk pelabuhan kapal-kapal. Pelabuhan Banda Aceh mudah dimasuki oleh berbagai jenis kapal dagang. Hal ini membuat Aceh semakin ramai. Apalagi sejak Malaka jatuh ke tangan Portugis sehingga pada akhirnya para saudagar muslim lebih memilih berlabuh di Banda Aceh. Pedagang asing non Portugis pun turut juga meramaikan pelabuhan Banda Aceh. Hal inilah yang membuat Kesultanan Aceh mendapatkan banyak keuntungan.

Menurut sejarah, selama masa pemerintahannya, Kesultanan Aceh telah perintah oleh banyak sultan. Berikut ini sultan-sultan yang pernah memerintah Kerajaan Aceh.

• Sultan Ali Mughayat Syah (1514 – 1530)
• Sultan Salahuddin (1530 – 1538)
• Sultan Alauddin Ri’ayat syah Al-Qahhar (1538 – 1571)
• Sultan Husain (1571 – 1579)
• Sultan Muda (masih kanak-kanak) (1579, hanya beberapa bulan)
• Sultan Sri Alam (1579)
• Sultan Zainul Abidin (1579)
• Sultan Buyung (1586 – 1588)
• Sultan Alauddin Ri’ayat Syah Sayid al-Mukammal (1589 – 1604)
• Sultan Ali R’ayat Syah (1604 – 1607)
• Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636)
• Sultan Iskandar Tsani (1636 – 1641)
• Sultanat Safiatuddin Tajul Alam (1641 – 1675)
• Sultanat Naqiyatuddin Nurul Alam (1675 – 1678)
• Sultanat Inayat Syah (1678 – 1688)
• Sultanat Kamalat Syah (1688 – 1699)
• Sultan Badrul Alam Syarif hasyim jamaluddin (1699 – 1702)
• Sultan Perkasa Alam syarif Lamtury (1702 – 1726)
• Sultan Jauharul Alam badrul Munir (1703 – 1726)
• Sultan Jauharul Alam Aminuddin (hanya beberapa hari)
• Sultan Syamsul Alam (hanya beberapa hari)
• Sultan Johan (1735 – 1760)
• Sultan Mahmud Syah (1760 – 1781)
• Sultan Badruddin (1764 – 1765)
• Sultan Sulaiman Syah (1773)
• Sultan Alauddin Muhammad (1781 – 1795)
• Sultan Alauddin Jauharul Alam (1795 – 1815)
• Sultan Saiful Alam (1815 – 1818)
• Sultan Jauharul Alam (1818 – 1824)
• Sultan Muhammad Syah (1838 – 1870)
• Sultan Mansyur Syah (1838 – 1870)
• Sultan Mahmud Syah (1870 – 1874)
• Sultan Muhammad Daud Syah (1878 – 1903)

Sebagai sebuah kerajaan, Aceh juga mengalami masa maju dan mundur. Kerajaan Aceh mengalami kemajuan pesat dan zaman keemasan pada periode kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636). Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Kerajaan Aceh mencapai zaman keemasannya. Kerajaan Aceh bahkan dapat menguasai Johor, Pahang, Kedah, Perak di Semenanjung Melayu dan Indragiri, Pulau Bintan, dan Nias.

Di samping itu, Iskandar Muda juga menyusun undang-undang tata pemerintahan yang disebut Adat Mahkota Alam. Sultan Iskandar Muda juga memegang kendali produksi beras. Pada masa Kesultanan Iskandar Muda Kerajaan Aceh Darussalam mengekspor beras ke luar wilayah. Sultan Iskandar Muda juga memperketat pajak kelautan bagi kapal-kapal asing yang masuk serta mengatur pajak perniagaan, bahkan juga mengenakan pajak untuk harta kapal haram.

Dalam bidang militer, Sultan Iskandar Muda membangun angkatan perang yang sangat kuat. Seorang asing bernama Beaulieu mencatat jumlah pasukan darat Aceh sekitar 40 ribu orang. Untuk armada laut diperkirakan memiliki 100 – 200 kapal, diantaranya kapal selebar 30 meter dengan awak 600 – 800 orang yang dilengkapi dengan tiga meriam. Ia juga mempekerjakan seorang asing kulit putih yaitu penasehat militer yang berasal dari Perancis , yang mengenalkan teknik perang bangsa Eropa. Dengan kekuatan militer yang begitu ampuh, Kerajaan Aceh mampu menjebol benteng Deli. Beberapa kerajaan lain juga ditaklukkan, seperti Johor (1613), Pahang (1618), Kedah (1619), dan Tuah (1620).

Seperti yang telah diketahui bahwa Sultan Iskandar Muda berhasil memukul mundur kekuatan Portugis dari tanah Aceh. Permusuhan Aceh dengan Portugis tidak berhenti di situ saja. Sebab pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, Kerajaan Aceh Darussalam menyerbu Portugis di Selat Malaka. Penyerangan besar-besaran terhadap Portugis di Malaka terjadi pada tahun 1629. Dengan armada yang terdiri atas ratusan kapal perang dan puluhan ribu tentara laut, Aceh menghantam Portugis. Serangan dilakukan dalam upaya memperluas pengaruh politik dan perdagangan Aceh atas selat Malaka dan Semenanjung Melayu.

Sayang sekali, meski Aceh telah berhasil mengepung Malaka dari segala penjuru, penyerangan ini berhasil ditangkis Portugis. Selain dalam bidang militer, Aceh pada zaman Sultan Iskandar Muda juga berjaya di lapangan ilmu pengetahuan. Dalam sastra dan ilmu agama, Aceh melahirkan beberapa ulama ternama. Dua yang menonjol adalah Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani. Keduanya merupakan ilmuwan-ilmuwan yang mendalami ilmu-ilmu tasawuf atau mistik Islam.

Sultan Iskandar Muda lebih menitikberatkan pembangunan negerinya pada masalah keagamaan ketimbang kekuasaan. Sultan Iskandar Muda meninggal dunia pada 29 rajab 1046 H atau 27 Desember 1636. Dua tahun sebelumnya, Sultan Iskandar Muda telah menunjuk Iskandar Tsani sebagai penggantinya. Sang pengganti tersebut  adalah menantu Sultan Iskandar Muda.
Kerajaan Aceh mengalami kemunduran di bawah pimpinan Sultan Iskandar Tsani (1636-1641). Faktor-faktor yang menyebabkan surutnya kekuasaan Kerajaan Aceh adalah perang melawan Portugis pada 1629 menguras banyak harta kekayaan Kerajaan Aceh.

• Timbulnya perselisihan antara para ulama dengan bangsawan.
• Penguasa tidak cakap dalam memimpin.
• Timbulnya perselisihan di bidang agama antara Nuruddin Ar-Raniri dengan Syamsudin.

Sultan Iskandar Tsani kemudian digantikan oleh permaisurinya, Putri Sri Alam Permaisuri (1641- 1675). Sejarah mencatat Kerajaan Aceh makin hari makin lemah akibat pertikaian antara golongan teuku dan teungku, serta antara golongan aliran syiah dan sunnah sal jama’ah. Akhirnya, Belanda berhasil menguasai Aceh pada 1904.

Sebenarnya, dalam kehidupan ekonomi, Kerajaan Aceh berkembang dengan pesat pada masa kejayaannya. Dengan menguasai daerah pantai barat dan timur Sumatera, Kerajaan Aceh menjadi kerajaan yang kaya akan sumber daya alam, seperti beras, emas, perak dan timah serta rempah-rempah. Demikianlah Kerajaan Aceh yang merupakan salah satu kerajaan bercorak islam di Indonesia khususnya di sebelah utara Sumatera.