Manusia adalah makhluk Allah yang sangat luar biasa dan unik. Berbagai kajian tentang manusia telah banyak dibahas dalam berbagai kajian studi. Bahkan, dalam khazanah ilmu pengetahuan, kita mengenal salah satu cabang ilmu yang khusus membahas tentang manusia, yaitu cabang Ilmu Antropologi.
Lalu, bagaimana pandangan Islam tentang manusia? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita bisa melihat dan menemukannya dalam kitab suci Al-Quran yang sekaligus merupakan panduan hidup atau way of life bagi umat Islam.

Kedudukan Manusia Menurut Al-Quran

Dalam Al-Quran, kita bisa menemukan beberapa penyebutan tentang manusia, di antaranya:

1. Surat Al-Isra’ Ayat 70

Dalam Surat Al-Isra’ ayat 70, Allah Swt menyebut manusia sebagai bani Adam atau anak-anak Adam. Hal ini tidak lain adalah karena kita seluruh manusia sesungguhnya berasal dari keturunan Nabi Adam as.

2. Surat Al-Kahfii Ayat 110

Dalam ayat tersebut, Allah Swt menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw adalah manusia sebagaimana manusia yang lainnya. Dalam ayat ini pun, Allah Swt menyebut manusia dengan sebutan basyar.

3. Surat Al-Insan Ayat 1

Dalam ayat ini Allah menyebut manusia dengan kata Al insan.

4. Surat An-Nas Ayat 1

Di dalam ayat ini, Allah Swt., menyebut manusia dengan kata an naas.

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.”

Bagaimana Al-Quran Mendifnisikan Manusia?

Selanjutnya, bagaimana Al-Quran mendefinisikan manusia? Melalui Al-Quran juga, kita bisa mengenal manusia atau diri kita sendiri lebih jauh, karena Al-Quran adalah firman Allah yang Maha Menciptakan manusia. Karena Allah yang menciptakan, sudah pasti Dia (Allah) jauh lebih mampu untuk menjelaskan ciptaan-Nya dengan rinci dan sempurna.

Nah, dalam Al-Quran ini, Allah menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang unik dengan ciri-ciri utama sebagai berikut.

1. Diciptakan dengan Sebaik-baik Bentuk

Dalam Al-Quran Surat At-Tin ayat 4, dikatakan bahwa manusia itu diciptakan oleh Allah Swt., dengan sebaik-baik bentuk. Manusia adalah makhluk unik dan berbeda dengan makhluk Allah yang lainnya. Hal itu bisa dilihat dari struktur tubuh, proses pertumbuhan, mekanisme kerja organ-organ tubuh, kemampuan berpikir, keahlian memimpin serta mengelola alam, gejala-gejala yang ditimbulkan oleh jiwa, dan seterusnya.

Secara fisik, manusia memiliki struktur tubuh yang memungkinkannya untuk melakukan banyak hal. Hal ini sangat sejalan dengan anugerah akal yang dikaruniakan Allah pada manusia. Dengan akalnya, manusia berpeluang untuk berpikir dan bereksplorasi untuk melakukan banyak hal. Untuk melakukan banyak hal, tentunya manusia butuh struktur tubuh yang mendukungnya untuk menerjemahkan semua keinginan dan eksplorasi akal tersebut.

2. Memiliki Potensi untuk Beriman dan Percaya pada Allah Swt

Secara fitrah, sesungguhnya semua manusia terlahir sebagai makhluk yang beriman. Saat masih berada di alam ruh, manusia sudah menyatakan keimanannya kepada Allah Swt. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran Surat Al-A’raf ayat 172. Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa sebelum ruh dipertemukan dengan jasad manusia, Allah bertanya kepada ruh tersebut: “Alastu bi rabbikum?” Yang artinya “Apakah kalian mengakui bahwa Aku sebagai Tuhan kalian?” Semua ruh manusia itu serentak menjawab dan mengakui Allah sebagai Tuhan mereka dengan jawaban: “Bala syahidna.” yang artinya “Ya, kami akui (kami saksikan), Engkau adalah Tuhan kami.”
Pengakuan ini menunjukkan bahwa semenjak dalam bentuk ruh, seluruh manusia sebenarnya sudah beriman kepada Allah. Manusia terlahir sebagai seorang hamba yang beriman sehingga ketika hidup di bumi, ia berpotensi untuk kembali pada keimanan yang telah diikrarkannya saat masih di alam ruh.

3. Diciptakan dengan Tujuan Mulia (Mengabdi kepada Allah Swt)

Manusia itu diciptana dengan tujuan yang mulia, yaitu mengabdi kepada Allah Swt. Hal ini disampaikan oleh Allah Swt dalam Al-Quran Surat Az-Zariyat ayat 56 yang artinya lebih kurang menyatakan bahwa sesungguhnya penciptaan jin dan manusia tidak lain adalah dengan tujuan untuk mengabdi (beribadah) kepada Allah Swt.
Bagaimana cara mengabdi kepada Allah? Inilah yang menjadi inti utama dakwah para Nabi dan Rasul, yaitu mengajarkan kepada manusia cara mengabdi kepada Allah Swt di atas bumi ini. Secara umum, ada dua jenis cara pengabdian kepada Allah Swt., yaitu sebagai berikut.

  • Pertama, pengabdian secara khusus, yaitu pengabdian kepada Allah Swt., yang dilaksanakan melalui segala bentuk upacara peribadatan kepada-Nya. Cara dan waktu pelaksanaannya sudah ditentukan oleh Allah yang disampaikan melalui firman-Nya dalam Al-Quran dan dijelaskan secara rinci oleh rasul-Nya. Contohnya ibadah sholat, zakat, haji, dan puasa.
  • Kedua, pengabdian secara umum, yaitu pengabdian yang diwujudkan dalam bentuk amal saleh dan segala bentuk kebaikan yang memberi kemaslahatan, baik bagi diri sendiri maupun manusia lain dan  makhluk Allah lainnya.

Semua bentuk pengabdian ini harus dilandasi dengan niat ikhlas hanya semata-mata mengharap rida Allah Swt.

4. Diciptakan untuk Menjadi Khalifah di Muka Bumi

Terkait dengan hal ini, bisa kita lihat dalam AlQuran Surat Al-Baqarah ayat 30. Dalam ayat ini, Allah menegaskan bahwa Allah Swt., menciptakan manusia sebagai khalifah (wakil Allah) di atas muka bumi ini. Menjadi khalifah di sini bermakna bahwa Allah menjadikan manusia sebagai wakil Allah untuk mengurus atau memakmurkan dunia dengan melakukan segala hal yang disyariatkan dan diridai oleh-Nya.

Nah, untuk menjalankan tugas yang mulia sekaligus berat ini, kemudian Allah menganugerahkan kepada manusia seperangkat potensi yang tidak diberikan kepada makhluk lain, yaitu akal pikiran dan hati. Dengan akal pkiran ini, manusia mampu mengamati dan mempelajari gejala-gejala yang ada di alam kemudian merangkainya dalam ilmu pengetahuan. Benih-benih ilmu pengetahuan itu sebenarnya sudah ditanamkan oleh Allah pada manusia sewaktu Allah mengajarkan nama-nama benda pada manusia pertama (Nabi Adam).

Dengan memanfaatkan dan menumbuhkembangkan akal pikiran inilah, manusia kemudian mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan melahirkan teknologi-teknologi yang bermanfaat untuk memakmurkan bumi.

Selain potensi akal, manusia juga dianugerahi dengan potensi kalbu (hati/ruhani). Potensi kalbu inilah yang akan membimbing manusia pada jalan kebaikan sekaligus membantu manusia untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan begitu, langkah dan gerak manusia dalam mengemban amanah sebagai khalifah Allah di muka bumi menjadi terarah dan sesuai rida Allah.

5. Manusia Dibekali dengan Perasaan, Kemauan, dan Kehendak

Selain akal, manusia juga dikaruniai dengan perasaan, kemauan, dan kehendak. Dengan semua potensi yang dimilikinya ini, Allah kemudian memberi kebebasan pada manusia untuk memilih sesuai pengetahuan dan kehendaknya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-Insan ayat 3.

“Sesungguhnya Kami telah menunjuki jalan yang lurus, ada manusia yang bersyukur tapi ada pula yang kafir.”

Artinya, Allah melalui para Nabi dan Rasul-Nya serta kitab suci yang diturunkannya, telah memberikan petunjuk jalan mana yang harus dilalui oleh manusia. Namun, manusia dengan anugerah akal dan kehendak yang ada pada dirinya diberi kebebasan untuk memilih jalan yang lurus itu atau tidak. Namun, tentu saja setiap pilihan itu ada konsekuensinya dan manusia bertanggung jawab penuh atas pilihan-pilihan yang telah diambilnya di dunia.

6. Bertanggung Jawab Penuh Atas Segala Perbuatannya

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, manusia dengan akal dan kehendak yang dimilikinya kemudian tergerak untuk melakukan sesuatu dalam hidupnya. Tentu saja atas pilihannya itu, kemudian manusia dimintai pertanggungjawabannya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran Surat At-Thur bagian akhir ayat 21 yang artinya: “….Setiap manusia terikat (bertanggung jawab)atas apa-apa yang telah dilakukannya.”

7. Berakhlak

Ciri selanjutnya adalah berakhlak. Akhlak adalah ciri utama yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Dengan akhlak, manusia berpotensi memiliki kepribadian dan perilaku yang indah.

Demikian uraian tentang ciri-ciri manusia dalam pandangan Al quran. Melalui berbagai studi tentang manusia berdasarkan Al-Quran dan hadis, kemudian dibuat kesimpulan berupa rumusan ringkas bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki potensi untuk beriman dan percaya kepada Allah dengan menggunakan seluruh potensi yang dimilikinya, bertanggung jawab terhadap semua perbuatan, dan berakhlak.

Satu hal yang tidak kalah penting, yaitu Allah dalam Al-Quran mendudukkan manusia sebagai makhluk mulia dan terhormat. Titel khalifah fil ard adalah titel yang tiada duanya bagi manusia, mengandung konsekuensi, serta tanggung jawab yang berat. Namun demikian, masih dalam Al-Quran, Allah juga mewanti-wanti bahwa manusia berpotensi turun derajatnya menjadi hina atau bahkan lebih hina dari binatang ternak apabila ia tidak mampu mempergunakan semua potensi yang dianugerahkan kepadanya sesuai tuntunan syariat.

Peringatan tersebut bisa kita lihat dalam Al-Quran surat Al-A’raf ayat 179 yang intinya isi neraka jahannam itu adalah dari golongan (jin dan manusia) yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

  • Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah Swt.
  • Mereka memiliki mata, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah.
  • Mereka memiliki telinga, tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah.

Manusia yang memiliki ciri-ciri seperti tersebut kemudian martabatnya disamakan dengan hewan, bahkan lebih rendah lagi dari itu. Dengan demikian, bisa kita pahami bahwa manusia itu adalah makhluk Allah yang unik. Ia berpotensi menjadi makhluk yang lebih mulia dari malaikat. Namun, pada saat yang sama juga berpotensi menjadi makhluk rendah dan hina. Bahkan, derajatnya lebih rendah dari hewan peliharaan.

Semoga kita termasuk dalam golongan hamba Allah yang mulia dan dimuliakan oleh Allah swt. Amin.