Ketika perang dunia II masih berlangsung, pasukan Amerika Serikat yang berada dalam South West Pacific Command (SWPC) di bawah pimpinan Jenderal McArthur berencana untuk mendarat dan “mengamankan” Indonesia. Hal ini dilakukan dengan cara berkaca pada keberhasilan penguasaan Filipina pulau demi pulau.

Tetapi karena luasnya wilayah Indonesia serta kemungkinan perlawanan dari rakyat Indonesia yang telah memiliki senjata lebih lengkap hasil rampasan dari tentara Jepang yang kalah perang, maka rencana itu tidak jadi dilaksanakan. Akhirnya penanganan Indonesia diserahkan kepada pasukan Inggris yang saat itu bergabung bersama South East Asia Command (SEAC) yang dipimpin oleh Laksamana Lord Mountbatten.

Namun, melihat kegigihan bangsa Indonesia dalam melawan Jepang yang membuat Jepang hanya mampu menguasai beberapa kota saja seperti Bengkulu, Bandung, Semarang dan Bali. Keadaan ini cukup membuat nyali para petinggi pasukan sekutu ciut. Hal ini dikuatkan oleh laporan utusan pihak sekutu yang telah berada di Indonesia sebagai pasukan pendahulu. Pasukan sekutu, khususnya Belanda yang telah merasakan kegigihan rakyat Indonesia yang melawannya selama ratusan tahun, merasa khawatir atas kondisi ini.

Meskipun merasa khawatir, tapi Belanda memiliki percaya diri yang cukup tinggi. Terbukti Belanda menyatakan bahwa cukup hanya dengan 75.000 tentara seluruh wilyah Indonesia bisa dikuasai. Tetapi Inggris memilih untuk lebih berhati-hati, Inggris menyatakan butuh sekitar 6 divisi tentara hanya untuk menguasai Jawa dan Sumatra saja, sementara 2 divisi tentara untuk Kalimantan dan Indonesia Timur. Jenderal Christison (panglima AFNEI) diperingatkan oleh rekannya, Jenderal Dempsey (panglima pasukan Sekutu di Asia Tenggara), Dempsey mengatakan bahwa utuk bisa menandingi para pejuang Indonesia di Jawa Barat, maka AFNEI harus memusatkan seluruh pasukannya di Jawa Barat.

Faktor lain pun menjadi pertimbangan sekutu, yaitu kemungkinan melawannya sisa-sisa pasukan Jepang yang masih berada di Indonesia. Karena tidak ada jaminan tentara Jepang ini akan menyerah begitu saja kepada sekutu walaupun negaranya sudah diporak-porandakan oleh bom atom Amerika. Belum lagi semangat para pejuang Indonesia yang baru saja bertambah berkali-kali lipat setelah Soekarno-Hatta membacakan pernyataan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Melihat faktor-faktor itu, tentara sekutu yakin jika mereka asal masuk saja ke wilayah Indonesia bukan mustahil mereka akan pulang tinggal nama.

Akhirnya, setelah mempertimbangkan hal-hal tadi hingga kemungkinan terburuk. Tentara sekutu memutuskan membentuk kekuatan baru yang khusus dikirim ke Indonesia. Kekuatan baru ini jumlahnya sudah dilipatgandakan serta terdiri dari tentara-tentara yang diyakini memiliki kemampuan dan pengalaman perang yang cukup. Tentara-tentara ini berasal dari tentara Inggris, tentara Gurkha (tentara bayaran dari India yang memihak Inggris), tentara Belanda dan gabungan tentara KNIL yang berasal dari Malaya, Filipina, Muangthai, dan Ambon.

Tentara gabungan KNIL ini selanjutnya akan membentuk tentara pemberontak yang disebut APRIS. Selain itu ada pula tentara KNIL yang berasal dari Indonesia, terdiri dari orang-orang sipil, Indo-Belanda dan interniran Belanda yang telah berada di Indonesia sejak Jepang masih berkuasa. Interniran adalah orang atau sekelompok orang (tawaran perang) yang ditempatkan di suatu tempat tertentu dan dilarang untuk meninggalkan tempat tersebut atau berhubungan dengan orang lain. Ditambah dengan sekitar 10.000 orang marinir dari Amerika. Pasukan gabungan khusus ini diberi nama Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI). Pasukan ini dipimpin oleh Letnan Jenderal Sir Philip Christison yang untuk sementara bermarkas di Singapura.

Ratu Belanda berjanji, jika proyek AFNEI ini berhasil, maka pihak Belanda akan mengirimkan 5.000 orang marinir, 27 batalyon, 10.000 unit tank, artileri dan geni. Kemudia pada bulan Oktober akan dikirimkan lagi satu divisi dengan persenjataan lengkap serta 12.000 orang bekas tentara KNIL interniran. Sehingga total tentara yang akan dikirim sekitar 75.000 orang tentara.
Tetapi kekhawatiran tetap menyelubungi pasukan sekutu, sehingga pasukan AFNEI yang sedianya akan dikirim pada tanggal 8 September 1945 dibatalkan. AFNEI memutuskan untuk menyelediki lebih lanjut kondisi Indonesia yang sebenarnya. Akhirnya dikirimlah 7 orang perwira khusus dengan kemampuan intelejen yang merupakan bawahan langsung Letnan Jenderal Sir Philip Christison untuk melakukan misi rahasia di Indonesia. Misi ini dibawah komando Mayor Greenhalgh.

Akhirnya didapatkanlah kondisi lebih jelas tentang Indonesia. Para intel ini melaporkan kondisi Jakarta, kekuatan dan pengaruh para pimpinan bangsa seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, dan lain-lain. Juga didapatkan informasi tentang pasukan di bawah pimpinan Sudirman. Selain itu kekuatan parajurit bekas tentara PETA dan Heiho pun dianggap penting. Sementara tentara Jepang dilaporkan sudah tidak lagi memiliki kekuasaan atas Indonesia dan wilayah Indonesia sepenuhnya berada di bawah kendali tentara dan para pemimpin Republik Indonesia.

Mayor Greenhalgh berhasil mendapatkan kontak yang berasal dari lingkungan tentara Jepang, yaitu dari Pimpinan Kenpetai Nippon di Jakarta. Dari kontak ini Greenhalgh mendapat informasi bahwa Jepang tidak lagi memiliki pengaruh yang cukup kuat untuk mengendalikan kondisi Indonesia. Jepang pun tidak bisa menjamin bahwa pasukan pejuang Indonesia akan mau untuk diajak bekerjasama, jika tentara sekutu bermaksud melucuti senjata pasukan Jepang, maka yang bisa diberikan oleh tentara Jepang hanyalah senjata yang tersisa yang belum sempat diambil alih oleh para pejuang Indonesia dan tidak ada jaminan senjata yang sudah berpindah tangan kepada para pejuang Indonesia bisa diambil oleh tentara Sekutu.

Infromasi dari Pimpinan Kenpetai Nippon itu menjadikan Sekutu harus merubah lagi strateginya. Hingga diputuskanlah untuk tidak secara terang-terangan membawa masuk pasukan tentara Belanda ke Indonesia agar tidak membuat marah para pejuang Indonesia. Maka dari itu, pasukan Belada yang ikut harus dikamuflase sedemikian rupa hingga terlihat seakan-akan itu hanyalah beberapa gelintir petugas sipil yang bertujuan untuk membawa pulang para mantan tawanan perang yang ditahan oleh pasukan Jepang. Maka dibentuklah Netherlands Indies Civil Administration (NICA), yang terlihat bagai serombongan orang sipil, tetapi sebenarnya mereka adalah pasukan tentara Belanda yang dikamuflase.

Untuk memperkuat pasukannya, Inggris meminta bantuan dari pasukan Amerika yang kala itu menduduki Filipina di bawah pimpinan Jenderal McArthur. Christison dan McArthur membuat kesepakatan untuk mengirim misi rahasia. Mereka mengirimkan persenjataan dengan menggunakan kapal-kapal kecil agar tidak membuat curiga tentara Indonesia, mereka memasuki wilayah Maluku. Persenjataan dan logistik kemiliteran yang diselundupkan akan digunakan untuk mempersenjatai tentara KNIL yang terdiri atas orang-orang Indonesia yang membelot, para keturunan Indo-Belanda, juga para interniran yang telah bebas dari tahanan Jepang. Mereka dilatih kemiliteran secara khusus untuk selanjutnya melawan para pejuang Indonesia.

Setelah orang-orang ini dianggap siap, secara bertahap akan dikirimkan ke temapat-tempat strategis untuk mendukung misi tentara AFNEI di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Makasar. Tentara KNIL ini pada akhirnya akan bergabung membentuk APRIS dan melakukan pemberontak di beberapa kota di Indonesia.

Rencana penyerangan yang awalnya telah disusun oleh SWPC akhirnya berubah. Penyerangan dilakukan dengan kedok misi perdamaian di Indonesia. Tentara AFNEI di bawah komando Christison menghubungi para pemimpin bangsa Indonesia di Jakarta dan menyatakan bahwa kedatangan mereka adalah dengan maksud damai. Bahkan Christison menyatakan mengakui kekuasaan Republik Indonesia secara de facto. Misi mereka ke Indonesia hanyalah untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Memindahkan dan memberikan perlindungan pada para tawanan perang dan interniran Belanda yang semula di tahan oleh tentara Jepang. Proses ini akan dilaksanakan oleh Rehabilitation Allied Prisoners of War and Interneers (RAPWI).

2. Melucuti persenjataan dari tentara Jepang serta memulangkan mereka kembali ke negaranya.

3. Melakukan tindakan pengamanan dan menjaga ketertiban umum agar misi pada point 1 dan 2 bisa terlaksana dengan lancar.

Strategi manipulasi ini sukses, para pemimpin Indonesia bisa dikelabui. Bahkan mereka dengan senang hati menyambut pasukan Sekutu dan sepakat untuk membantu agar misi Sekutu itu bisa terlaksana dengan baik.

Pada tanggal 15 September 1945, kapal-kapal perang Sekutu dibawah pimpinan Laksamana Muda Peterson wakil Panglima SEAC yang diperbantukan untuk AFNEI mulai merapat di pelabuhan Jakarta. Tentara Belanda yang ikut adalah Jenderal Van Straten dan Dr. Ch. O. Van der Plas yang berlagak sebagai orang sipil perwakilan dari NICA. Pendaratan-pendaratan pasukan Sekutu lainnya di Medan, Palembang, Padang, Bandung, Semarang dan Surabaya pun berlangsung dengan lancar.

Lalu malapetaka pun datang. Setelah semua misi dilakukan oleh Sekutu. Mereka tidak kembali lagi ke markasnya. Bahkan para interniran pun tidak dipulangkan ke Belanda dan dipersenjatai, malah tentara berkekuatan besar yang berasal dari Singapura dan Manila mulai berdatangan. Belum habis rasa heran para pemimpin Indonesia, tiba-tiba saja sekutu mulai melakukan penyerangan di berbagai tempat lalu menguasainya untuk kemudian diserahkan kepada NICA yang telah berubah menjadi angkatan perang yang tak asing lagi bagi para pejuang kemerdekaan Indonesia, yaitu para penjajah Belanda yang telah membuat bangsa Indonesia menderita lebih dari 300 tahun lamanya.

Sejak awal para pemimpin bangsa Indonesia memang sudah curiga pada kedatangan AFNEI yang dibarengi oleh NICA, tetapi para utusan Sekutu ini berhasil meyakinkan para tokoh pemimpin Indonesia bahwa misi mereka adalah misi perdamaian.
Akhirnya para pejuang sadar, bahwa mereka sudah benar-benar dibodohi. Tetapi malapetaka telah terjadi, terror, penyerangan, penangkapan, pembunuhan dan pendudukan sudah terjadi di berbagai kota. Menyaksikan ini, para pejuang kembali mengangkat senjata untuk mengusir kembali mereka dan mengembalikan kemerdekaan ke bumi pertiwi. Pertempuran dahsyat pun tak bisa dihindari lagi. Kota Surabaya, Bandung, Jakarta, Ambara, Medan, Palembang dan berbagai kota lainnya menjadi lautan api.