Dibanding zaman Batu, kehidupan di zaman Logam sudah mengalami banyak sekali perubahan yang sangat signifikan. Mengapa demikian? Karena manusia prasejarah sudah mulai mengenal aneka peralatan yang harus melewati serangkaian pengolahan yang lebih rumit.

Sebelumnya, manusia hanya menggunakan bebatuan sebagai bahan dasar untuk menciptakan peralatan. Mulai dari senjata hingga perabotan rumah. Bahkan, di awal zaman Batu, mereka belum mengenal kegiatan “mengasah”. Alhasil, peralatan di masa itu demikian kasar dan tentunya sulit untuk digunakan. Ini mendorong manusia untuk menjadi semakin kreatif dalam banyak hal. Salah satunya adalah menciptakan peralatan yang mudah untuk digunakan. Karena saat itu, kondisi alam yang sangat sulit dan tidak adanya teknologi telah cukup menyusahkan.

Pengetahuan manusia kian berkembang, terutama setelah ditemukannya bijih besi. Namun, memanfaatkan logam tidaklah mudah. Tidak seperti batu yang dapat ditemukan di banyak tempat, logam sangat berbeda. Mulailah manusia prasejarah megnembangkan pengetahuan melebur logam. Setelah melalui serangkaian percobaan demi percobaan yang memakan waktu sangat panjang, akhirnya manusia prasejarah menemukan dua teknik pembuatan logam.

Kedua teknik yang dimaksud adalah bivalve dan a cire perdue. Teknik bivalve menggunakan cetakan dari batu, sementara teknik a cire perdue memakai cetakan yang berasal dari tanah liat dan lilin. Inilah masa-masa ketika manusia meningkatkan keterampilan tangannya dalam membuat peralatan.

Periodisasi Zaman Logam

Di masa ini, masih dibedakan lagi atas tiga periode, yaitu zaman Tembaga, zaman Perunggu, serta zaman Perak. Zaman Tembaga kurang dikenal di dunia, karena hanya digunakan di tempat tertentu saja. Begitu juga peninggalan yang kemudian ditemukan. Tidak banyak ditemukan dan hanya ada di beberapa daerah saja. Di wilayah Asia Tenggara, zaman Tembaga tidak dikenal sama sekali.

Di zaman Perunggu, timah memegang peranan yang sangat penting bagi masyarakat prasejarah. Dengan mencampur timah dan tembaga, maka terciptalah bahan yang sama sekali baru dan disebut perunggu. Perunggu adalah logam yang kondisinya lebih keras. komposisi timah dan tembaga membuat perunggu menjadi bahan yang dianggap lebih bagus. Kekuatannya membuat benda-benda dari perunggu bertahan lama dan sangat dibutuhkan saat itu.

Seiring perkembangannya, manusia prasejarah pun terus berubah dan menemukan hal-hal baru lagi. Yang sangat mencolok adalah penemuan dan peleburan bijih besi. Penemuan ini dapat dikatakan mengubah drastis kehidupan masyarakat kala itu. Dengan ditemukannya bijih besi, manusia akhirnya mengenal zaman Perak. Dan ini merupakan sebuah periode baru yang sangat menarik.

Perak dianggap bahan yang lebih menjanjikan dibanding dengan Perunggu. Kekuatan dan kelenturannya lebih baik. Salah satu pemicu diciptakannya perak adalah karena kesulitan untuk menemukan timah di masa itu. Setelah dipakai untuk pembuatan perunggu, belakangan timah justru mengalami kelangkaan.

Peleburan bijih besi sebenarnya tidak mudah. Namun dianggap sepadan dengan hasil yang didapatkan kemudian. Untuk melebur bijih besi, dibutuhkan suhu yang sangat panas, mencapai kurang lebih 3500 derajat Celcius. Entah bagaimana cara manusia prasejarah mengukur dengan tepat suhu yang dibutuhkan.

Yang pasti, tentu saja hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah. Masa itu dipenuhi keterbatasan dan minimnya pengetahuan manusia. Sehingga segalanya menjadi sulit dan membutuhkan kerja keras yang luar biasa. Dan tentu saja membutuhkan serangkaian percobaan panjang yang memakan waktu pula. Barulah kemudian tercipta teknik yang pas untuk peleburan bijih besi.

Peninggalan Zaman Logam

Jika diuraikan lebih detail, ada beberapa sisa peninggalan zaman Logam yang cukup terkenal. Berikut keterangan selengkapnya. Pertama adalah nekara. Benda ini merupakan sebuah benda dari perunggu dengan model berpinggang di bagian tengahnya. Sementara sisi bagian atasnya tertutup. Nekara adalah semacam gendang besar dengan ukiran orang menari di atasnya. Alat ini juga banyak digunakan dalam upacara keagamaan.

Sayangnya, nekara yang ditemukan di Indonesia pada umumnya tidak dalam keadaan utuh lagi. Nekara banyak ditemukan di Sumbawa, Jawa, Bali, Pulau Roti, Selayar, Pulau Kei, Sumatera, serta Pulau Sangean. Selain yang berukuran besar, ditemukan juga nekara berukuran kecil. Nekara jenis ini dikenal dengan sebutan moka atau maka.

Peninggalan selanjutnya adalah kapak. Di zaman Perunggu, dikenal beberapa jenis kapak, misalnya kapak corong dan kapak upacara. Kapak corong dikenal juga dengan nama kapak sepatu. Disebut demikian karena bagian atasnya berbentuk mirip corong. Kapak sendiri memiliki beberapa jenis. Ada yang bentuknya mirip burung stiti, dengan ujung yang tajam dan cembung. Ada yang bertangkai pendek dengan mata kapak yang gepeng. Ada pula yang berbentuk bulan sabit, di mana bagian tengah cukup lebar.

Sementara kapak corong banyak ditemukan di Sumatera Selatan, Bali, Jawa, Pulau Slayar, Sulawesi Tengah dan Selatan, serta sekitar danau Sentani. Meskipun kapak banyak ditemukan, bukan berarti kapak selalu digunakan sebagai senjata. Ada yang hanya digunakan saat upacara atau sebagai tanda kebesaran suatu suku.

Di Indonesia juga ditemukan peninggalan zaman perunggu yang disebut dengan bejana. Ada dua jenis bejana di Indonesia, yaitu yang ditermukan di Sumatera dan yang ditemukan di Madura. Bejana terbuat dari lempengan dua buah perunggu yang bentuknya cembung. Bejana yang ditemukan di Sumatera mirip dengan periuk, hanya saja lebih langsing dan gepeng. Sementara bejana yang berasal dari Madura lebih besar dan lebih tinggi. Namun, keduanya memiliki persamaan, yaitu dihiasi dengan ukiran yang sangat indah.

Peninggalan zaman Batu lainnya adalah patung. Sudah ditemukan arca berbentuk orang atau binatang. Patung berbentuk orang umumnya menggambarkan seorang penari yang sedang bergaya. Lalu ada perhiasan berupa kalung, gelang, atau bentuk lainnya. Hal itu menunjukkan adanya perkembangan terhadap seni yang sangat signifikan di masa itu. Perhiasannya memang tidak serumit yang kita temukan sekarang. Namun tetap saja indah dan menawan.

Selain benda-benda di atas, masih terdapat berbagai benda lainnya yang menjadi peninggalan di zaman Logam. Misalnya saja mata kapak atau sejenis beliung yang diikat secara melintang pada sebilah tangkai kayu. Juga ada alat bermata panjang dan gepeng yang tidak diketahui apsti apa manfaatnya.

Namun, para ahli menduga kalu alat itu kemungkinan digunakan untuk merapatkan benang-banang kain tenun. Mata pisau yang tajam sudah diciptakan. Demikian juga dengan mata sabit yang berbentuk melingkar. Lalu ada juga mata khusus untuk alat penyiang rumput. Tidak ketinggalan mata pedang dan mata tombak sebagai alat penting bagi persenjataan.

Seperti sudah disinggung sebelumnya, Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara tidak mengenal era zaman Tembaga. Akan tetapi langsung memasuki zaman Perunggu dan zaman Besi dalam waktu yang tidak terlalu berjauhan. Dan dari benda-benda yang ditemukan di negara kita, yang dominan adalah benda-benda yang terbuat dari perunggu. Sehingga di Indonesia lebih popoler dengan nama zaman Perunggu.

Di Eropa yang terjadi sebaliknya. Setiap fase mengalami perubahan yang sangat signifikan. Sehingga terlihat jelas perubahan demi perubahan yang sedang terjadi kala itu. Ada pergeseran pengetahuan dan kecakapan manusia kala itu. Sekaligus menunjukkan bagaimana manusia berkembang karena sudah mampu melakukan produksi barang, meski dalam bentuk yang masih sangat sederhana.

Dengan segala keterbatasannya, manusia zaman prasejarah telah mencatatkan kegemilangan tersendiri. Semua alat yang telah mereka hasilkan patut mendapat apresiasi dan penghargaan yang seluas-luasnya dari manusia modern. Mereka telah menunjukkan bahwa kemauan keras dan usaha yang tidak kenal lelah telah mendorong manusia menciptakan banyak benda di tengah segala keterbatasan dan kesulitan.

Benda-benda peninggalan zaman logam ini telah memberi banyak sekali petunjuk bagaimana kehidupan masyarakat kala itu. Meski tidak bisa dijelaskan secara mendetail, namun cukup memberi gambaran apa yang dialami masyarakat prasejarah.
Demikianlah artikel tentang kebudayaan zaman logam ini, semiga bermanfaat.