Zaman Batu adalah suatu zaman ketika manusia belum mengenal peralatan dan perkakas modern. Semuanya masih sangat sederhana, sesuai dengan pola pikir masyarakat kala itu yang juga masih sangat sederhana. Di zaman Batu, semua peralatan dibuat dari Batu. Belum ada pengenalan terhadap logam.

Jika dibayangkan, tentu bisa kita rasakan sulitnya kehidupan di zaman Batu ini. Kondisi saat itu serba terbatas. Semuanya sangat sederhana. Peralatan hanya mampu dibuat dari batu, belum ada teknologi lagi untuk menciptakan sesuatu yang lebih canggih. Bahkan, banyak yang menduga kalau manusia prasejarah yang hidup di zaman Batu pun belum berbicara. Mereka hanya saling memberi isyarat dengan gerakan tangan atau bahasa tubuh. Kondisi alam saat itu pun sangat berat. Mereka harus menghadapi sejumlah hewan yang selalu mengancam. Dengan ukuran tubuh yang lebih besar dibanding hewan yang ada saat ini.

Zaman Batu masih dibedakan menjadi 3, yaitu sebagai berikut :

1. Kebudayaan Palaeolithikum atau Batu Tua

Palaeo berarti tua, dan lithos bermakna batu. Jadi, Palaeolithikum diartikan sebagai Batu Tua. Di Indonesia, hasil dari kebudayaan Batu Tua ini banyak ditemukan di daerah Ngandong dan Pacitan. Keduanya berlokasi di provinsi Jawa Timur. Namun, tentu saja ada perbedaan di antara peralatan yang ditemukan sehingga muncullah istilah kebudayaan Ngandong dan kebudayaan Pacitan.

Sisa peralatan dari zaman Palaeolithikum di Indonesia ditemukan pertama kali oleh von Koenigswald di tahun 1935. Temuannya berupa kapak genggam di daerah Pacitan. Mengapa disebut kapak genggam? Karena secara umum bentuknya mirip kapak. Hanya tidak memiliki pegangan dan harus digunakan dengan cara digenggam. Nama lain dari kapak genggam antara lain kapak perimbas atau kapak penetak.

Ketika pertama kali ditemukan, kapak genggam ini berada di permukaan bumi sehingga ada keraguan yang beralasan mengenai umurnya. Kapak ini dibuat dengan cara memapas salah satu sisi batu hingga menjadi tajam. Kemudian, sisi satunya lagi dibuat sedemikian rupa sehingga bisa digenggam. Setelah diadakan penelitian berkelanjutan yang memakan waktu panjang, akhirnya dipastikan bahwa kapak genggam ini dulunya digunakan oleh homo erectus.

Selain kapak genggam, ditemukan juga peralatan yang berasal dari tulang dan tanduk. Diperkirakan peralatan dari tanduk dan tulang itu dipakai untuk mengorek umbi-umbian yang menjadi makanan. Selain itu juga, dipakai untuk menangkap ikan. Fungsinya mirip dengan belati atau tombak.

Untuk menguliti hewan buruannya, manusia zaman Palaeolithikum menggunakan alat serpih. Alat serpih atau flakes ini berukuran kecil yang terbuat dari batu. Fungsinya adalah untuk memudahkan tugas menguliti hewan. Juga biasa dipakai untuk memotong daging. Begitulah cara manusia masa itu menciptakan pisau.
    
2. Kebudayaan Mesolithikum

Kebudayaan Mesolithikum sebenarnya tidak banyak berbeda dengan Palaeolithikum. Memang manusia mengalami perkembangan, tapi tidak terlalu drastis. Masih banyak kemiripan di sana-sini. Yang agak menyolok adalah hidup nomaden yang sudah mulai ditinggalkan masyarakat primitif kala itu. Sebagai imbasnya, berkembanglah abris sous roche. Juga adanya sampah dapur.

Abris sous roche adalah aktivitas yang menjadikan gua-gua sebagai tempat tinggal manusia Mesolithikum. Gua dijadikan rumah yang akan melindungi mereka dari cuaca dingin serta serbuan binatang buas. Dr. Van Stein Callenfels adalah orang pertama yang melakukan penyelidikan di gua Lawa, Ponorogo. Selain itu, sisa-sisa abris sous roche juga ditemukan di Sulawesi Selatan, Timor dan Rote.

Lalu, apa itu sampah dapur? Ada istilah lain untuk menyebut sampah dapur, yaitu kjokkenmoddinger. Kata ini berasal dari bahasa Denmark yang merujuk pada fosil yang berasal dari tumpukan kulit kerang dan siput. Sampah dapur ini mencapai ketinggian hingga 7 meter. Penemuan itu menunjukkan bahwa manusia prasejarah kala itu sudah hidup menetap. Sampah dapur ini ditemukan membentang dari Langsa (Nanggroe Aceh Darussalam) hingga Medan (Sumatera Utara).

Dr. Van Stein Callenfels juga yang menemukan kapak genggam yang berbeda dengan kapak di zaman sebelumnya. Kapak di antara sampah dapur itu diberi nama kapak Sumatera. Bentuknya sudah lebih baik, dengan kehalusan yang berbeda. Bahan bakunya adalah batu kali yang sudah dipecah. Juga masih ada kapak pendek yang digunakan dengan cara digenggam.
Di dalam sampah dapur atau kjokkenmoddinger ditemukan tulang belulang manusia. Dari serangkaian hasil penelitian, disimpulkan bahwa manusia yang hidup di masa itu adalah dari golongan homo sapiens. Dari berbagai penemuan, disimpulkan bahwa peninggalan kebudayaan Palaeolithikum di Indonesia sangat terbatas. Berbeda dengan kebudayaan Mesolithikum yang meninggalkan cukup banyak jejak.

3. Kebudayaan Neolithikum

Dari zaman Mesolithikum, manusia prasejarah pun berkembang ke peradaban yang lebih kompleks. Sehingga kemudian disebut Neolithikum. Neo berarti baru. Jadi, Neolithikum dapat dimaknai sebagai zaman Batu Baru. Pada zaman Neolitihikum ini manusia prasejarah sudah berkembang sedikit lebih maju lagi. Ada perbedaan yang cukup mencolok pada peralatan yang berasal dari zaman tersebut. Hasil kebudayaan yang sangat dikenal pada zaman Neolithikum ini adalah  kapak persegi dan kapak lonjong.

Van Heine Heldern memberi nama :kapak persegi. Itu karena dasar penampangnya berbentuk persegi. Ukurannya cukup beragam, ada yang kecil ada pula yang besar. kapak persegi kecil disebut tarah atau tatah, yang berfungsi untuk memahat. Sementara kapak persegi yang berukuran besar dipakai sebagai cangkul.

Kapak persegi diyakini berasal dari daratan Asia, berhasil mencapai Indonesia melalui jalur barat. Mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Bahan bakunya adalah batu api atau batu biasa.
Seiring dengan penyebaran kapak persegi, terjadi juga penyebaran kapak lonjong. Umumnya kapak yang satu ini berwarna kehitaman dibuat dari batu kali. Bagian ujungnya bebentuk lancip, dilengkapi dengan tempat khusus untuk tangkainya. Menariknya, seluruh permukaan kapak sudah diasah dengan baik sehingga tergolong halus. Kapak lonjong besar biasa disebut dengan istilah Walzenbeil. Sementara yang berukuran kecil dikenal dengan nama Kleinbeil. Karena kapak lonjong menyebar dari Papua hingga ke Kepulauan Melanesia, kapak ini disebut juga Neolithikum Papua.

Zaman Neolithikum tidak hanya berhubungan dengan peralatan serba kapak. Karena di saat itu, manusia prasejarah sudah mulai menciptakan barang-barang lainnya. Misalnya saja pakaian, perhiasan, serta gerabah. Pakaian di masa ini tentu saja masih sederhana. Jangan bayangkan bahan pakaian seperti yang kita kenakan saat ini. Pakaian manusia prasejarah umumnya dibuat dari kulit kayu. Bahkan, hingga saat ini masih ditemukan pakaian dari kulit kayu di segelintir penduduk Indonesia.
Perhiasan di masa itu terbuat dari batu-batuan. Ada yang hanya dibentuk dari batu biasa, namun tidak sedikit pula yang dibuat dari batu permata. Kadang bahkan mereka memanfaatkan kulit kerang untuk dijadikan perhiasan. Seusai dengan manusia zaman itu yang masih sangat sederhana, model perhiasannya pun tidaklah rumit. Karena mengerjakan dengan tangan bukanlah hal yang mudah. Keterampilan tinggi saja tidak cukup, karena kadangkala dibutuhkan dukungan dari teknologi.

Lalu ada gerabah. Gerabah dibuat dengan peralatan yang seadanya dan teknik yang sangat sederhana. Peralatannya pun masih sangat terbatas. Sehingga mustahil menghasilkan gerabah yang halus dan berbentuk sempurna. Namun meski demikian, bentuknya sudah terlihat dengan jelas.

Di zaman Neolithikum memang terjadi penambahan peralatan yang cukup signifikan. Namun, cara pengerjaan tentu saja masih sangat sederhana. Karena manusia di masa itu benar-benar mengandalkan tangannya sendiri untuk menciptakan sesuatu. Berbeda dengan zaman sekarang yang sudah mendapat pertolongan luar biasa dari teknologi.
Demikianlah uraian singkat tentang kebudayaan zaman Batu yang terjadi di Indonesia. Semoga memberi manfaat untuk pembaca.