Kecenderungan manusia berperilaku boros terhadap harta memang sudah ada di dalam dirinya.  Ditambah  lagi  perilaku  boros merupakan salah satu tipu daya setan terkutuk yang membuat harta yang kita miliki tidak efektif mengangkat derajat kita. Harta yang dimiliki justru akan menjerumuskan, membelenggu, dan menjebak kita dalam kubangan tipu daya harta karena kita salah dalam menyikapinya.

Hal ini dapat kita perhatikan dalam hidup keseharian. Orang yang punya harta, memiliki kecenderungan yang besar untuk menjadi pecinta harta. Makin bagus, makin mahal, makin senang, maka makin cintalah dia pada harta yang dimilikinya. Lebih dari itu, dia pun malah ingin memamerkannya. Terkadang, apa saja ingin dipamer-pamerkan. Ada yang pamer kendaraan, pamer rumah, pamer mebel, pamer pakaian, dan lain-lain.

Sifat ini muncul karena salah satunya kita ini ingin tampil lebih wah, lebih bermerek, atau lebih keren dari orang lain. Padahal, makin bermerek barang yang dimiliki justru akan menyiksa diri. Ayat 26-27 Surah Al Isra’ memberikan keterangan tentang kewajiban moral seorang muslim untuk memperhatikan kaum kerabat, orang miskin, dan keadaan masyarakat yang ada di sekitarnya.

Kedua ayat tersebut memang berbentuk kepedulian atau kesetiakawanan sosial dalam bidang ekonomi. Hal ini merujuk pada firman Allah Swt yang berbunyi:

Pada ayat tersebut, ditemukan mengenai informasi yang sangat jelas bahwa kebaikan itu bukan shalat menghadap timur dan barat, melainkan dalam bentuk perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan kiblat dari timur ke barat, sesungguhnya merupakan salah satu hak Allah Swt. Namun, dengan tegas Allah Swt berfirman bahwa perubahan itu jangan dijadikan percekcokan atau perdebatan karena sesungguhnya kebaikan dalam Islam merupakan perbuatan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Merujuk pada ayat tersebut, setidak-tidaknya ada sebelas ciri perilaku kebaikan, yaitu:

  • Beriman kepada Allah.
  • Beriman kepada hari Kemudian.
  • Beriman kepada malaikat-malaikat.
  • Beriman kepada kitab-kitab.
  • Beriman kepada nabi-nabi.
  • Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), orang-orang yang meminta-minta.
  • Dan (memerdekakan) hamba sahaya.
  • Mendirikan shalat.
  • Menunaikan zakatDan orang-orang yang menepati janjinya apabila dia berjanji.
  • Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.

Dengan melaksanakan sebelas kegiatan itulah, mereka disebut sebagai orang-orang yang benar imannya dan diposisikan sebagai orang yang bertakwa. Bahkan, Hatim  al-Asham  seperti  dikutip  Ibnu  Hajar  al-Asqalani  berpendapat  bahwa “Barangsiapa mengakui kecintaan kepada nabi, tapi dia membenci fakir miskin (tidak menyantuni mereka), maka pengakuannya adalah dusta.”

Dalam kehidupan di dunia ini, Allah Swt memberikan panorama kehidupan yang tidak sama. Banyak hal yang terjadi dalam kehidupan ini berpasang-pasangan, ada siang dengan malam, laki dengan perempuan, dan kaya dengan miskin.

Dengan hukum pasangan tersebut, muncul pula kelompok orang-orang yang kurang beruntung, baik secara fisik, ekonomi, intelektual ataupun kekuasaan (politik). Kelompok-kelompok yang kurang beruntung ini dalam Al Quran disebut sebagai kaum dhuafa (kaum lemah atau kurang beruntung). Munculnya kaum dhuafa ini dapat disebabkan karena beberapa hal. Setidaknya ada tiga faktor umum yang potensial menyebabkan munculnya kelompok lemah.

Pertama, lahirnya kaum lemah karena unsure fisik atau biologis. Ketidaksempurnaan fisik potensial menjadi penyebab seseorang menjadi orang lemah. Memang benar, tidak semua orang cacat fisik dapat dikategorikan sebagai orang lemah karena di dunia ini sempat melahirkan orang cacat menjadi terhormat, baik sebagai pelukis dunia, penyanyi maupun pemimpin politik.

Bagi kalangan muslim, mungkin mengenal pemikir Mesir yang menjadi Menteri Pendidikan, yaitu Dr. Thoha Husein. Orang ini adalah cendikiawan muslim yang buta, tapi memiliki kemampuan intelektual yang tinggi. Namun demikian, di lingkungan masyarakat kita pada umumnya, mereka yang memiliki keterbatasan fisik menjadi kelompok masyarakat yang lemah.

Kedua, kelemahan yang disebabkan karena faktor kultural. Orang yang pemalas merupakan ciri dasar dari kelemahan individu atau masyarakat karena masalah kultural. Orang (atau masyarakat) seperti ini lemah bukan karena cacat fisik, tapi lemah karena mentalnya merupakan mental pemalas dan tidak memiliki semangat dalam hidup.

Ketiga, kelemahan individu atau masyarakat karena faktor struktural. Pada zaman colonial dulu, rakyat Indonesia banyak yang miskin, sakit-sakitan dan bodoh. Nasib yang diderita rakyat kita tersebut, bukan karena keterbatasan fisik atau mental rakyat Indonesia yang lemah, tapi lebih disebabkan karena kekuasaan kaum kolonial yang refresif (memaksa, menekan dan menjajah) kaum pribumi supaya tetap bodoh, miskin dan tidak berdaya.

Dalam konteks seperti inilah, maka kaum muslimin pada zaman modern ini dituntut untuk memiliki kepekaan dan kesetiakawanan yang tinggi kepada kaum yang lemah. Hal ini dikarenakan mereka adalah bagian dari umat, bagian dari bangsa, dan bagian dari masyarakat kita sendiri.

Kebutuhan untuk menyantuni kaum yang lemah atau teraniaya ini, selain menjadi kewajiban moral sebagai sesama anggota masyarakat, juga dapat dikaitkan dengan tujuan untuk menghindari petaka dari Allah Swt. Dalam hadis qudsi, Allah Swt berfirman:

Allah Swt memberitahukan kepada kita bahwa Dia akan mengambil tindakan balasan kepada orang yang melakukan penganiayaan atau penindasan dan akan memberi hukuman baik di dunia maupun di akherat. Hal yang paling mengerikan adalah Allah Swt akan memberikan peringatan (hukuman) kepada mereka yan melihat penganiayaan, tapi malahan membiarkannya.

Terkait dengan masalah ini, dalam membangun masyarakat Islam yang sejahtera tidak cukup hanya dengan prihatin atau peduli. Setiap muslim sudah saatnya untuk menunjukkan perilaku nyata dalam melakukan pembelaan dan perlindungan terhadap kaum dhuafa. Bentuk kepedulian dan kesetiakawanan   seorang muslim, ternyata dapat dilakukan dalam dua bentuk.

Pertama, santunan  dalam bentuk ekonomi. Hal  ini ditunjukkan dalam memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta.

Kedua, santunan dalam bentuk perlindungan dan pembebasan. Hal ini ditunjukkan dalam perintah untuk (memerdekakan) hamba sahaya. Santunan dalam bentuk ini cocok dengan pentingnya santunan untuk melakukan pembebasan kaum dhuafa dari struktur atau sistem yang tidak menguntungkannya.
Selain kedua bentuk santunan tersebut, seorang muslim pun dapat melakukan santunan kepada kaum dhuafa dengan tujuan untuk membebaskan masyarakat atau kaum lemah dari kebodohan.

Semenjak awal, Islam adalah agama yang memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan. Hal ini ditunjukkan oleh surat dan ayat pertama yang diwahyukan kepada Muhammad Saw yang sarat dengan makna pendidikan. Oleh karena itu, usaha dan tanggung jawab seorang muslim terhadap orang lemah bisa dilakukan dalam berbagai bentuk di antaranya dalam bidang ekonomi untuk pemberdayaan daya beli masyarakat, dalam bidang pendidikan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan dalam perlindungan hukum atau struktural dari sistem kekuasaan yang memperbudak.

Dari pembahasan di atas, dapatlah kita simpulkan sebagai berikut.

  1. Kaum dhuafa, yaitu mereka yang memiliki kelemahan baik secara ekonomi, fisik, maupun intelektual.
  2. Setiap  muslim  memiliki  kewajiban  untuk  memberikan  perhatian,  menunjukkan kesetiakawanan, dan kedermawanan kepada kaum dhuafa.
  3. Seorang muslim perlu membudayakan hidup dermawan kepada sesama manusia, khususnya pada kaum dhuafa.
  4. Dermawan dan peduli pada kaum dhuafa merupakan ciri dari amal perbuahan yang baik.
  5. Contoh menyantuni orang lemah, yaitu menyumbangkan buku dan pakaian layak pakai, memberikan infak dan sedekah, serta mencintai yatim piatu.

Nah, itulah penjelasan mengenai ayat Al Qur’an mengenai pentingnya menyantuni kaum dhuafa. Semoga penjelasan yang disampaikan bermanfaat bagi Anda.