Kajian pragmatik mengacu pada penggunaan bahasa berdasarkan konteks. Bidang kajian yang berkenaan dengan pragmatik ini adalah deiksis (dexis), praanggapan (presupposition), tindak tutur (speech act), dan implikatur percakapan (conversational inplicature). Masing bidang kajian di atas dibahas secara singkat berikut ini.

Deiksis (Dexis)

Deiksis adalah gejala semantik yang terdapat pada kata atau konstruksi (padu padan kata) yang hanya dapat ditafsirkan acuannya dengan mempertimbangkan konteks pembicaraan. Misalnya, kata ‘sini’, ‘sekarang’, atau ‘saya’, tidak memiliki makna yang jelas kecuali jika kita mendengarkan konteks pembicaraan secara utuh.  Kita simak contoh kalimat berikut ini:

  1. Saya ingin sekali mengambil laptop secara kredit. Nama saya Rifan.
  2. Sini. Kemari. Kamu bisa satu tempat duduk dengan saya di kursi sebelah.
  3. Kamu harus ke kantor sekarang. Tepatnya jam 9 pagi.

Kata “saya”, “sini”, “sekarang”, tidak memiliki acuan yang tetap melainkan bervariasi bergantung pada berbagai hal. Acuan dari kata saya menjadi jelas setelah diketahui siapa yang mengucapkan kata itu. Dalam kalimat a, “saya” yang dimaksud adalah Rifan, yang ingin mengambil kredit laptop. Kata “sini” memiliki rujukan yang nyata setelah diketahui di mana kata itu diucapkan. Dalam kalimat b, kata “sini” ternyata merujuk pada kursi atau tempat duduk yang disediakan Demikian pula, kata “sekarang” ketika diketahui pula kapan kata itu diujarkan. Dengan demikian, kata-kata di atas termasuk kata-kata yang deiktis. Berbeda halnya dengan kata-kata seperti gelas, piring, meja, kursi, atau lainnya, yang memiliki acuan arti yang jelas.

Contoh deiktis lainnya adalah jika kita menemukan stiker bertuliskan “Hari ini bayar, besok gratis” di sebuah warung makan atau warteg. Stiker itu bisa jadi hanyalah sebuah stiker ‘penghias’ atau tak sengaja masih tertempel tanpa memiliki maksud atau acuan tertentu. Artinya, bukan berarti kita bisa makan gratis setiap kali datang. Namun, acara makan gratis itu hanya berlaku jika yang mengatakan “hari ini bayar, besok gratis” adalah sang penjaga atau pemilik warung nasi itu sendiri.

Deiksis juga dapat dibagi menjadi lima kategori, yaitu deiksis orang (persona), waktu (time), tempat (place), wacana (discourse), dan sosial (social). Berikut ini contohnya dalam kalimat.

  1. Deiksis persona. Yakni deiksis yang berkenaan dengan penggunaan kata ganti persona. Misalnya “saya” adalah kata ganti persona pertama, “kamu” adalah kata ganti persona kedua. Contohnya:
    Apakah saya bisa memesan kue pelangi kepadamu?
    Acuan kata “saya” dan “-mu” dapat dipahami hanya apabila diketahui siapa yang mengucapkan kalimat itu, dan kepada siapa ujaran itu ditujukan. Misalkan yang mengatakan adalah Fadli kepada lawan bicaranya, Asti. Maka “saya” adalah Fadli, dan kamu adalah Asti.
     
  2. Deiksis waktu. Yakni deiksis yang berkenaan dengan penggunaan keterangan waktu, seperti kemarin, hari ini, dan besok. Contohnya:
    Bukankah besok ada cerdas cermat?
    Kata besok memiliki rujukan yang jelas hanya apabila diketahui kapan kalimat itu diucapkan. Misalnya, kalimat itu diutarakan pada Sabtu, 2 Juli 2012, maka besok yang dimaksud adalah Minggu, 3 Juli 2012.
     
  3. Deiksis tempat. Yakni deiksis yang berkenaan dengan penggunaan keterangan tempat, seperti di sini, di sana, dan di depan. Contohnya:
    Makanlah di sini!
    Kata di sini memiliki acuan yang jelas hanya apabila kita mengetahui dimana kalimat itu diujarkan. Misalnya, kalimat itu diucapkan penutur di rumahnya. Maka si penutur mengajak lawan bicaranya untuk makan bersama di rumah si penutur.
     
  4. Deiksis wacana. Yakni deiksis yang berkaitan dengan penggunaan ungkapan dalam suatu ujaran untuk mengacu pada bagian dari ujaran yang mengandung ungkapan itu (termasuk ungkapan itu sendiri), seperti berikut ini, pada bagian lalu, dan ini. Contohnya:
    Pada bagian ini, kita akan melihat bagaimana perbedaan hasil penelitian tahun lalu dan tahun ini.
    Pada bagian ini dalam kalimat di atas tergantung dengan konteks wacana yang dibicarakan. Artinya, harus mengetahui wacana secara utuh untuk mengetahuinya. Pada bagian ini bisa jadi merupakan bagian halaman sebuah penelitian atau makalah. Dan, si penutur adalah pembuat penelitian.
     
  5. Deiksis sosial berkenaan dengan aspek ujaran yang mencerrminkan realitas sosial tertentu pada saat ujaran itu dihasilkan. Penggunaan kata Bapak pada kalimat “Bapak dapat memberi kuliah hari ini?” Yang diucapkan oleh seorang mahasiswa kepada dosennya mencerminkan deiksis sosial. Dalam contoh di atas, dapat diketahui tingkat sosial pembicara dan lawan bicara. Lawan bicara memiliki tingkat sosial yang lebih tinggi dari pada pembicara.

Praanggapan (Presupposition)

Praanggapan (pra-anggapan) adalah sesuatu yang digunakan penutur sebagai dasar bersama bagi para peserta percakapan lain. Maksudnya, si penutur bisa mengetahui kemungkinan tanggapan dari lawan bicaranya. Sebagai ilustrasi, berikut contoh percakapan praanggapan.

  1. Bagaimana jika kita mengunjungi Budi malam ini?
  2. Ide bagus. Dengan begitu Budi bisa ikut memberi tumpangan untuk Reza.

Praanggapan yang terdapat dalam percakapan di atas antara lain:

  1. Bahwa A dan B kenal dengan Budi dan Reza
  2. Bahwa Budi memiliki kendaraan bermotor yang dapat memberi Reza tumpangan. Besar kemungkinan kendaraan bermotor yang dimaksud adalah mobil.
  3. Reza tidak memiliki kendaraan, sehingga ia harus menumpang untuk pulang.

Dari contoh tersebut, dapat dipahami bahwa apabila suatu kalimat diucapkan, selain dari makna yang dinyatakan dengan pengucapan kalimat itu, turut disertakan pula tambahan makna, yang tidak dinyatakan dengan pengucapan kalimat itu.

Tindak Tutur

Tindak tutur adalah suatu tuturan atau ujaran yang merupakan satuan fungsional dalam komunikasi. Jika seorang guru memberikan sanksi untuk muridnya dengan mengatakan, “Bapak  memberikan kamu sanksi berupa skors tidak masuk sekolah selama tiga hari”, maka artinya guru tersebut melakukan tindakan memberikan vonis atau keputusan mengubah hidup sang murid. Kata-kata yang diucapkan oleh guru itu menandai diskorsnya sang murid. Artinya, murid tersebut tidak akan diskors jika sang guru tidak mengatakan. Tindak tutur terdiri dari kalimat perlakuan atau pernormative, dan kalimat pernyataan atau constative.

Contoh kalimat perlakuan:

Saya akan membeli sayuran di warung Bu Tanti.

Artinya, si penutur atau ‘saya’ akan membeli sayuran di warung Bu Tanti keesokan harinya. Ada perlakuan untuk dirinya dan orang lain dalam tuturannya.

Contoh kalimat pernyata:

Bandung adalah ibu kota Jawa Barat.

Artinya, memaparkan pernyataan berupa fakta.

Tindak tutur juga memiliki klasifikasi yang terdiri dari versi Austin, Searle dan versi Leech. Klasifikasi tindak tutur menurut Austin mengurai tiga aspek yang dipandang lemah oleh peneliti bahasa lain. Tiga aspek itu adalah kekuatan lokusi, kekuatan ilokusi, dan  kekuatan perlokusi. Sementara, klasifikasi tindak tutur Searl dipandang lebih nyata oleh beberapa ahli. Searle menggunakan ide-ide Austin sebagai dasar mengembangkan teori tindak tuturnya. Bagi Searle, semua komunikasi bahasa melibatkan tindak. Pada awalnya, Searle membagi tindak tutur menjadi empat jenis. Namun kemudian, dirombak menjadi lima jenis, yakni asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklarasi.

Yang terakhir adalah tindak tutur Leech yang menuntut adanya jenis-jenis kata kerja berbeda dan derajat sopan santun yang berbeda juga. Dia mengelompokkan tindak tutur menjadi empat, yakni kompetitif, convivial, collaborative, dan conflictive.