Indonesia merupakan wilayah yang memiliki kekayaan sumber daya alam berlimpah. Kenyataan ini banyak dijadikan alasan oleh negara-negara barat yang ingin menaklukkan Indonesia. Tidak terkecuali dengan Jepang. Alasan Jepang menjajah Indonesia adalah karena hal yang sama. Kekayaan sumber daya alam. Bagaimana sebenarnya kisah dibalik alasan Jepang menjajah Indonesia? Mari kita simak.

Jepang Merupakan Negara Fasis

Paham fasisme di Jepang telah tumbuh sejak diadakannya restorasi Meiji oleh Tenno Meiji yang mengangkat dan mengobarkan kembali semangat ajaran Hakko Ichiu. Hakko Ichiu merupakan suatu ajaran yang ditemukan oleh Kaisar Jimmu yang menyatakan bahwa Jepang merupakan pemimpin bangsa-bangsa di dunia.

Pada Masa Kekaisaran Meiji, Ajaran Hakko Ichiu telah dimodifikasi dan dipropagandakan dengan situasi pada saat itu, yang intinya antara lain sebagai berikut.

1. Jepang adalah pusatnya dunia dan Kaisar adalah pemimpinnya. Kaisar adalah dewa di dunia yang merupakan perwujudan dari Amiterasu Omikami (Dewi Matahari).

2. Jepang dilindungi oleh kekuatan Kami (dewa) secara utuh sehingga Jepang merupakan negara yang kuat, istimewa, dan lebih baik dari negara-negara lain di dunia.

3. Dengan demikian, Jepang mempunyai hak dan kewajiban untuk menyatukan bangsa-bangsa di dunia menjadi satu keluarga, di mana Jepang sebagai pemimpinnya.

Ajaran Hakko Ichiu telah berhasil mengobarkan semangat bangsa Jepang, sehingga Jepang menjadi bangsa yang ultranasionalis atau sangat mencintai bangsa dan negaranya dengan sangat militan. Selain itu, dalam diri bangsa Jepang pun telah tumbuh suatu kepercayaan bahwa menaklukkan bangsa lain merupakan suatu tugas suci dan mulia sepertinya halnya berbakti kepada kaisar.

Semangat Hakko Ichiu juga telah menjadikan Jepang sebagai negara yang imperialis, hal ini dibuktikan dengan beberapa invasi Jepang ke negara-negara berikut.

1. Merebut Semenanjung Liao Tsung dari  Cina dan Pulau Formosa dari Korea pada tahun 1894-1895.
2. Merebut Manchuria, Port Arthur, dan Pulau Sachalin dari Rusia tahun 1904-1905.
3. Merebut beberapa wilayah jajahan Jerman di Asia pada saat Perang Dunia I tahun 1914-1918.
4. Menguasai Asia Timur dan Asia Selatan tahun 1927 pada masa pemerintahan Perdana Menteri Baron Tanaka.
5. Menguasai Manchuria pada tahun 1931 dan mendirikan Kerajaan Manchuria dengan mengangkat Henry Pu-Yi sebagai rajanya pada tahun 1932.

Keberhasilan Jepang dalam merebut beberapa wilayah dalam setiap aksi invasinya, telah menjadikan negara Jepang sebagai negara yang disegani oleh bangsa-bangsa di dunia dan berhasil menyejajarkan dirinya dengan bangsa-bangsa barat.

Restorasi Meiji, tidak hanya terbatas pada masalah industri dan militer, namun juga pada masalah-masalah lain seperti masalah ekonomi. Kemajuan industri di dalam negeri Jepang, telah memaksa Jepang untuk mencari negara yang dapat dijadikan tempat tujuan pemasaran, sumber bahan mentah dan bahan baku, serta tenaga kerja yang murah. Sayangnya, cara-cara yang ditempuh Jepang pada saat itu tidak pada mestinya. Bukannya dilakukan perjanjian perdagangan antara negera seperti yang dilakukan pada saat ini, melainkan melakukan upaya-upaya yang tetap mengarah pada tindakan imperialisme.

Adapun beberapa tindakan yang dilakukan Jepang dalam bidang perekonomiannya, antara lain sebagai berikut :

1. Mencari wilayah jajahan untuk dijadikan tempat pemasaran, sumber bahan mentah, sumber bahan baku, dan tenaga kerja yang murah.

2. Melakukan politik dumping, yaitu suatu kebijakan di mana harga jual suatu barang di dalam negeri lebih mahal dibandingkan harga jual di luar negeri. Politik dumping merupakan politik yang tidak terpuji dalam perdagangan internasional karena dapat menjatuhkan harga barang dari negera lain untuk produk yang sama.

3. Meningkatkan kualitas produknya sehingga produk Jepang disukai oleh negara-negara lain dan membanjiri pasar, terutama pasar-pasar di kawasan Asia Tenggara. Hal tersebut dikarenakan selain barangnya berkualitas, namun harganya juga murah. Keadaan tersebut sempat memicu ketegangan dengan negara-negara barat sebab Jepang telah melanggar batas kuota ekspor.

4. Melakukan kerjasama di bidang industri dengan negara-negara yang tidak mungkin ditaklukan oleh Jepang seperti dengan Inggris.

5. Mempropagandakan ajaran Hakko Ichiu untuk membentuk persemakmuran Asia Timur Raya dengan Jepang sebagai pemimpinnya.

Indonesia Merupakan Negara yang Kaya Raya

Kawasan Asia Tenggara sudah sejak lama dikenal sebagai negara yang kaya dengan sumber daya alam, baik sumber daya alam tambang, mineral, maupun sumber daya hayati. Apalagi Indonesia, kita tentunya sudah sangat tahu bahwa alasan kedatangan Portugis, Spanyol, Inggris, dan penjajahan Belanda yang demikian lama dikarenakan kekayaan sumber daya alam yang kita miliki. Begitu juga dengan Jepang, apapun alasannya tetap saja alasan utamanya untuk menguasai Indonesia adalah dikarenakan Indonesia kaya dengan sumber daya alam.

Beberapa fakta yang menunjukkan ketertarikan bangsa asing untuk datang dan menguasai Indonesia, antara lain sebagai berikut.

1. Rempah-rempah Maluku

Cengkeh, lada, biji pala, dan beragam jenis rempah-rempah lainnya menyebabkan bangsa Eropa rela menjelajahi samudera demi menemukan dari mana sumbernya. Sejarah telah mencatat empat negara Eropa seperti Belanda, Inggris, Spanyol, dan Portugis telah menyebabkan terjadinya pertumpahan darah di tanah Maluku dengan satu alasan untuk menguasai tanah penghasil rempah-rempah terbaik di dunia yang konon per kilogramnya melebihi harga emas batangan.

Sejarah kuno pun telah mencatat bahwa Maluku merupakan penghasil rempah-rempah dunia. Hal ini dibuktikan dengan tulisan yang terdapat dalam kitab Summa Oriental karangan Tome Pirez. Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa Kerajaan Mesir Kuno sekitar 4.000 tahun silam pada masa pemerintahan Sesoteri III yang merupakan dinasti ke-12, telah melakukan kerja sama perdagangan dengan kerajaan-kerajaan dari negeri yang disebut sebagai negeri Punt. Kerajaan Mesir Kuno mengimpor dupa, kayu eboni, dan kemenyan. Kemungkinan besar yang dimaksud dengan negeri Punt tersebut adalah Maluku, sebab pada masa itu, yaitu sekitar 1.700 SM rempah-rempah tersebut hanya ada di Maluku.

Begitu juga dengan Jepang, mereka tertarik dengan Kepulauan Maluku tidak hanya sebatas pada kekayaan rempah-rempahnya. Tetapi juga karena Maluku menyimpan kekayaan lain seperti kekayaan laut dan tanahnya yang subur sehingga sangat menunjang pada produksi pertanian.

2. Kesuburan tanah Pulau Jawa

Pada zaman penjajahan Belanda, Belanda menempatkan pusat pemerintahannya di Batavia (Jakarta) yang secara geografis dan kewilayahan berada di Pulau Jawa. Mengapa Belanda memilih Pulau Jawa? Pada zaman dahulu kala, dalam bahasa Sansakerta Pulau Jawa dikenal dengan sebutan Jawadwipa yang berarti Pulau Padi. Sedangkan Ptolomeus, ahli geografi Yunani, menulis tentang adanya Pulau Iabadiu (Pulau Padi) yang tidak lain adalah Jawadwipa atau Pulau Jawa.

Raffles dalam bukunya The History of Java menuliskan ketakjubannya terhadap kesuburan tanah di Pulau Jawa. Beliau menuliskan bahwa jika seluruh tanah di Pulau Jawa dikelola dengan baik, tentunya tidak akan ada daerah di belahan dunia manapun yang dapat menandingi kuantitas, kualitas, dan variasi tanaman yang dihasilkan oleh Pulau Jawa.

Alasan lainnya, Pulau Jawa selain memiliki keseburan tanah yang luar biasa, juga di pulau ini banyak ditemukan aneka tambang dan bahan galian seperti emas, perak, minyak bumi, pasir, dan lain-lain. Jadi, tidak salah jika Belanda menjadikan pulau ini sebagai pusat pemerintahan.

Lalu, apa ketertarikan Jepang terhadap pulau ini? Alasannya tentunya tidak berbeda dengan Belanda, sebab kedatangan penjajah bertubuh kate ke Indonesia ini, tentunya dengan mempelajari dan memahami terlebih dahulu apa yang telah dilakukan oleh Belanda di negeri ini selama 350 tahun lamanya.

3. Kekayaan emas Pulau Sumatera

Dalam bahasa sansakerta, Pulau Sumatera dikenal sebagai Suwarnadwipa yang berarti pulau emas atau Suwarnabhumi yang berati tanah emas. Istilah-istilah tersebut terdapat di dalam naskah-naskah India Kuno. Dalam sebuah manuskrip Yahudi Purba diceritakan bahwa sumber emas yang dipergunakan oleh Nabi Sulaiman untuk membangun kerajaannya berasal dari kerjaan Ophir yang terletak di timur jauh. Ophir kemungkinan berada di Sumatera Barat karena di sana terdapat gunung Ophir.

Cerita dan pendapat ini sangat mungkin, sebab salah satu alasan Belanda untuk menguasi Pulau Sumatera adalah karena pulau ini sangat kaya dengan tambang emas dan barang tambang mineral lainnya seperti batu bara dan timah hitam. Jadi tidak mengherankan jika Jepang pun ingin menguasai Pulau Sumatera.

Demikian pula dengan kekayaan-kekayaan yang terdapat pada pulau-pulau lainnya, sangat berharga dan mempesona. Kalimantan tidak hanya terkenal dengan sumber daya alam hutannya, tetapi di sana terdapat tambang intan, batu bara, minyak bumi, dan sumber daya alam lainnya. Kepulauan Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua pun tidak kalah kaya dengan wilayah-wilayah lainnya di nusantara. Jadi sangat tidak mengherankan jika bangsa asing termasuk Jepang begitu berkeinginan untuk menguasai Indonesia.