Tanah adalah lapisan kulit bumi yang paling luar dan biasanya meruakan hasil dari pelapukan dan pengendapat batuan.Tanah mengandung berbagai macam bahan, mulai dari bahan organik hingga bahan anorganik, bahan organik yang terkandung dalam tanah misalnya sisa-sisa hewan atau tumbuhan yang telah mati, bahan anorganik misalnya, batuan, dan mineral.

Tanah Vertikal

Persebaran tanah vertika bisa disaksikan ketika dilakukan penggalian, misalnya penggalian parit atau sumur. Ketika penggalian telah mencapai kedalaman tertentu, maka akan terlihat perbedaan warna yang menandai perbedaan lapisan tanah, penampakan lapisan tanah ini bisa mirip dengan kue lapis.Perbedaan lapisan tanah ini disebut profil tanah.

Menurut garis besarnya, profil tanah terbagi atas empat bagian, yaitu:

1. Topsoil (lapisan tanah atas)

Tanah pada lapisan ini biasanya merupakan tanah yang paling subur.Warnanya secara umum adalah coklat kehitaman, warna gelap ini disebabkan oleh kandungan humusnya yang cukup tinggi.Humus adalah timbunan sisa-sisa organisme baik hewan maupun tumbuhan yang mati dan membusuk di lapisan tanah atas.Tanah pada lapisan ini biasanya memiliki ketebalan sekitar 30 cm.

2. Subsoil (lapisan tanah bawah)

Subsoil adalah lapisan berikutnya setelah topsoil. Sifat dari lapisan ini adalah tidak begitu subur karena kandungan zat hara pada lapisan ini tidak banyak. Warna subsoil adalah kemerahan atau lebih terang. Lapisan ini teksturnya lebih padat, ketebalannya antara 50-60 cm. Pada lapisan ini hanya ada sedikit aktivitas organisme, akar tanaman yang berjenis serabut tidak bisa menjangkaunya, hanya tanaman berkayu keras yang berakar tunggang yang bisa menembusnya.

3. Regolith (lapisan bahan induk tanah)

Lapisan tanah ini merupakan bahan asal atau bahan induk dari lapisan tanah bagian bawah.Lapisan regolith ini berwarna kelabu keputih-putihan, sifatnya lebih tidak subur dibanding dengan lapisan subsoil, karena kandungan zat haranya yang sedikit sekali. Strutur regolith sangat keras, hingga akar pun sulit untuk menembusnya. Lapisa tanah ini sering terlihat di lereng-lereng bukit, patahan atau lipatan tanah. Tetapi, karena sifat-sifatnya itu, tanah ini tidak bisa dibudidayakan, kalaupun ada tumbuhan yang hidup di atasnyanya maka pertumbuhannya akan sangat terhambat, dan tumbuh sebagai tanaman kerdil yang tak bisa berkembang baik.

4. Bedrock (lapisan batuan induk)

Bedrock merupakan lapisan selanjutnya yang berbentuk batuan bersifat pejal dan belum mengalami proses pelapukan atau pemecahan. Letak bedrock terdapat pada lapisan paling bawah, sehingga jarang sekali kita temui, biasanya hanya tercapai secara tidak sengaja ketika dilakukan penggalian sumur yang dalam.Apabila ketika melakukan penggalian dan belum terlalu dalam sudah menemukan lapisan jenis ini, maka bisa dipastikan kondisi tanah di wilayah itu tandus dan tidak dapat ditanami.

Tanah Horizontal

Tanah horizontal merupakan tanah lapisan paling atas dari tanah vertikal. Tanah ini jenisnya berbeda di setiap wilayah. Jenis dan persebaran tanah horizontal di Indonesia dibedakan seperti berikut ini:

1. Organosol (tanah gambut)

Tanah gambut memiliki kandungan air yang cukup banyak, begitu pula dengan kandungan bahan organiknya, warnanya hitam, dengan tingkat keasaman atau pH yang sangat tinggi, hanya mengandung sedikit unsur hara sehingga tingkat kesuburannya rendah.

Tanah gambut atau organosol ini banyak ditemukan di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Riau, Jambi, serta Papua bagian Selatan.

Tanah ini biasanya dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan terbatas untuk jenis tanaman tertentu saja, seperti karet, kelapa serta beberapa jenis tanaman palawija.

2. Latosol

Pada dasarnya, tanah ini merupakan hasil dari pelapukan batuan vulkanis, memiliki pH 6-7 atau netral menuju asam, berwarna merah kecoklatan, profil tanah yang cukup dalam, mudah menyerap air, kandungan posfat yang tinggi dan mudah bersenyawa dengan unsur besi dan aluminium. Kesuburannya tidak menentu karena kadar humusnya mudah sekali menurun.

Tanah latosol ini tersebar di beberapa wilayah Nusantara seperti: Papua, Sulawesi, Bali, Jawa, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sumatera (sekitar kawasan Bukit barisan). Tanah seperti ini jarang sekali dimanfaatkan.

3. Regosol

Tanah regosol merupakan tanah yang berasal dari hasil erupsi gunung berapi, butirannya kasar, kaya unsur hara pH sekitar 6-7 (netral), gembur, daya serap air yang tinggi, tetapi mudah terkikis (erosi).

Tanah regosol tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang memiliki gunung berapi, baik yang masih aktif maupun yang sudah mati, terutama pada lereng gunungnya. Tanah regosol biasanya dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.

4. Aluvial

Tanah ini adalah tanah endapan yang terbawa oleh banjir.Sifat umum dari tanah alluvial sangat dipengaruhi oleh sumber asalnya, begitupun dengan tingkat kesuburannya. Misalnya, tanah yang berasal dari pegunungan kapur memiliki tingkat kesuburan yang rendah, sedangkan tanah yang berasal dari gunung berapi cenderung memiliki tingkat kesuburan yang cukup tinggi. Tanah alluvial bisa ditemukan pada lembah-lembah di sepanjang sungai besar di seluruh Indonesia.

Sifat tanah alluvial yang subur dan mudah menyerap air, menjadikan pemanfaatan tanah ini sangat fleksibel, bisa ditanami oleh berbagai macam tanaman pertanian.

5. Litosol

Tanah litosol seringkali disebut sebagai lapisan tanah muda karena lapisan induknya tergolong dangkal, yaitu hanya sekitar 45 cm dan sering muncul ke permukaan sebagai lapisan batuan yang padat dan padu. Litosol merupakan tanah yang belum lama terbentuk dari pelapukan batuan dan belum berkembang sama sekali.

Tanah litosol tersebar hampir di banyak wilayah Indonesia, meliputi Maluku Selatan, Nusa Tenggara, Madura, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera. Di Sumatera, tanah litosol terdapat pada daerah yang memiliki susunan batuan kuarsa, batuan konglomerat dan batuan granit serta batuan lapis.

Tanah ini bisa dimanfaatkan sebagai lahan pertanian jika dilakukan pengolahan terlebih dahulu.Pengolahan yang diperlukan terutama adalah dengan mengusahakan agar pelapukannya bisa labih cepat terjadi.

6. Grumusol

Jenis tanah grumusol biasanya memiliki tekstur yang liat, dengan pH netral hingga alkalis, berwarna kelabu sampai hitam, pada musim kemarau tanah ini mudah pecah. Di Indonesia, tanah jenis ini bisa ditemukan pada daerah dengan ketinggian sekitar 300 m di atas permukaan laut dan memiliki topografi yang bergelombang hingga berbukit-bukit. Tanah grumusol berada di wilayah yang memiliki temperatur sekitar 25 derajat Celcius, curah hujan di atas 2500 mm, dan mengalami pergantian musim yang jelas antara musim hujan dan musim kemarau (jarang mengalami musim pacaroba).

Tanah grumusol banyak ditemui di Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur (sekitar Bangil, Madiun, Bojonegoro, Ngawi dan Tuban), Jawa Tengah (Daerah Grobogan dan Demak), Jawa Barat (sekiatar wilayah Cianjur), serta di Sumatera Barat. Tanah grumusol biasanya dimanfaatkan sebagai tempat pembudidayaan tanaman keras semusim saperti pohon jati dan untuk vegetasi jenis tanaman rumput-rumputan misalnya padi.

7. Andosol

Tanah andosol adalah tanah yang terbentuk dari endapan debu vulkanik yang merupakan hasil dari letusan gunung berapi.Warnanya coklat kehitaman.Tanah jenis ini sangat subur.

Keberadaan tanah ini tersebar di pulau-pulau Nusantara yang memiliki gunung berapi aktif dan memiliki suhu yang sedang hingga cenderung dingin, seperti di Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Bali, Pulau Nusa Tenggara, dan lain-lain. Tanah andosol banyak dimanfaatkan sebagai tanah pertanian, perkebunan, dan hortikultura.

8. Podzolik merah-kuning

Tanah ini memiliki induk batuan kuarsa pada zona beriklim cukup basah dengan curah hujan sekitar 2500 hingga 3000 mm/tahun.Memiliki sifat mudah basah dan mudah larut oleh air hujan sehingga kesuburan cenderung menurun. Di Indonesia, persebaran tanah podzolik merah-kuning ini paling luas. Tersebar di dataran tinggi Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara, dan Jawa. Tanah podzolik merah-kuning ini biasa dimanfaatkan untuk usaha persawahan dan perkebunan.

9. Rendzina

Tanah rendzina adalah tanah pad padang rumput yang tipis dan memiliki warna gelap, tanah ini terbentuk dari batuan kapur lunak, batuan mergel, dan gips. Secara umum, kandungan Ca dan Mg nya cukup tinggi serta memiliki pH antara 7,5 hingga 8,5 serta peka terhadap erosi.

Tanah rendzina tidak tersebar terlalu luas di wilayah Indonesia.Persebarannya meliputi pegunungan kapur di Pulau Jawa, daerah Lampung, Sulawesi Selatan, papua, Maluku, dan Aceh.

Tahan jenis rendzina ini tidak baik jika digunnakan untuk lahan pertanian, tetapi bisa digunakan untuk budidaya tanaman keras semusim seperti pohon jati, serta memungkinkan untuk ditanami tanaman palawija.

Pemanfaatan tanah setelah diketahui jenis, kelebihan serta kekuranggannya, tentu bisa dilakukan dengan lebih maksimal, segala sesuatu yang tersedia di alam ini tidak ada yang sia-sia, tinggal bagaimana kita memperlakukannya.